
Alvaro duduk di kursi kebesarannya. Pria itu bersedekap, menatap penampilan sang asisten dari atas hingga ke bawah.
"Katakan padaku? Bagian mana yang salah pada dirimu? Seketika satu kantor membicarakan penampilanmu hari ini."
"Seketika imej ketampananku langsung terhempaskan seketika karena perubahanmu," lanjut Alvaro sembari membenahi dasinya.
"Maafkan jika saya terlalu tampan, Pak." Juni menundukkan kepalanya.
"Cih, kalimatmu itu ...." Alvaro menatap asistennya sembari terkekeh geli.
Alvaro bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan menuju ke jendela kaca yang tertutup tirai, terlihat jelas aktivitas dari luar ruangan. Pria itu menyingkap sedikit tirai itu, melihat kursi Shinta yang belum juga terisi hingga sekarang.
"Ini pula, si Shinta kemana? Kenapa jam sekarang dia belum datang juga," ujar Alvaro.
Juni pun tampak berpikir, ia melihat Shinta dan Daren sudah berangkat sedari tadi. Namun, ejtah mengapa keduanya belum tiba hingga saat ini.
Terdengar suara heels yang memecahkan keheningan. Tak lama kemudian, terdengar pula suara ketukan pintu. Alvaro dan juga Juni langsung mengarahkan pandangannya pada gadis yang baru saja masuk.
"Maafkan saya karena terlambat, Pak." Shinta tampak tergesa-gesa langsung menghadap Alvaro.
"Dari mana saja kamu? Kenapa bisa terlambat?" tanya Alvaro.
"Anu ... tadi ... ada kendala sedikit di jalan. Maafkan atas keterlambatan saya Pak," jelas Shinta.
"Baiklah, saya akan maafkan kamu, tetapi ada syaratnya." Alvaro berjalan mendekat ke arah Shinta dan Juni, lalu kemudian berdiri di antara kedua orang tersebut.
"Syaratnya apa, Pak?" tanya Shinta.
Alvaro mengarahkan pandangannya pada Juni, "Berikan penilaian yang jujur untuk penampilan asistenku hari ini," celetuk Alvaro seraya bersedekap.
Baik Juni maupun Shinta saling menatap ke arah pria yang merupakan atasannya itu. Ekspresi keterkejutan mereka pun terlihat begitu jelas. Bagaimana tidak? Alasan Alvaro untuk memaafkan Shinta yang terlambat itu sangat tidak masuk akal.
"A-apa hubungannya dengan saya Pak," celetuk Juni.
"Ck!" Alvaro berdecak sebal menatap sang asisten yang memang tidak peka. Pria itu pun sedikit mencondongkan tubuhnya pada Juni dan berbisik di depan telinga sang asisten.
"Ikuti saja, tidak usah banyak protes," bisik Alvaro. Juni pun mengangguk paham.
"Bagaimana? Jika kamu memberikan penilaian yang jujur pada Juni," ucap Alvaro mengarahkan pandangannya pada Shinta.
Shinta pun tampak berpikir. Awalnya gadis tersebut hendak mengatakan hal yang sebenarnya, bahwa pria yang ada di hadapannya itu sangat tampan. Namun, Shinta pun mengurungkan niatnya, mengingat saat kejadian di lift tadi. Dimana banyak orang yang memuji ketampanan Juni dan hal tersebut tentunya sangat mengganggu.
__ADS_1
"Buruk, sangat buruk!" tukas Shinta yang langsung membuat Alvaro dan Juni melongo.
"Gaya baru rambutnya, keningnya yang sangat lebar, serta penampilannya yang sok cool, menurut ku semuanya sangat buruk!" cecar Shinta yang tak tanggung-tanggung.
Bersamaan dengan yang disebutkan oleh Shinta tadi, Juni langsung memegang rambutnya, keningnya, serta sedikit membenahi dasi yang melilit lehernya, dan terasa mencekik.
"Ini tidak seperti yang ku harapkan," gumam Alvaro.
"Benarkah? Apakah aku terlihat begitu buruk?" Juni berjalan mendekat ke arah Shinta. Membuat gadis tersebut memundurkan langkahnya.
"Iya, kamu sangat buruk!" kekeuh Shinta.
"Lalu, kenapa pagi tadi kamu tak berhenti menatapku? Apakah aku buruk karena takut jatuh cinta padaku?" bisik Juni tepat di depan telinga Shinta.
"Aku ....." Shinta langsung terbata-bata. Ia bingung hendak menjawab apa karena yang diucapkan oleh Juni memang benar adanya.
"Juni, sepertinya Shinta berkata benar," celetuk Alvaro melihat ekspresi wajah sang sekretaris merasa tertekan.
Juni langsung menatap sang atasan dengan ekspresi keterkejutannya. Seakan tak terima jika penampilannya dikatakan buruk oleh Shinta.
"Sebaiknya kamu mengalah saja, dan terima jika penampilanmu kali ini memang buruk," ujar Alvaro.
"Untuk Shinta ....." pria itu mengarahkan pandangannya pada sang sekretaris.
"Kamu boleh kembali ke meja kerjamu," ucap Alvaro.
"Baik, Pak." Shinta pun merasa terselamatkan oleh atasannya itu .
Setelah kepergian Shinta, Alvaro kembali ke kursinya. Sementara Juni, pria tersebut masih mematung.
"Ada apa? Mengapa kamu terdiam?" tanya Alvaro terkekeh.
"Tidak apa-apa, Pak." Juni menimpali Alvaro seadanya.
"Seharusnya kamu lebih peka dengan bahasa tubuh wanita, Jun." tegur Alvaro.
"Kalau begitu, silakan lanjutkan pekerjaanmu dan aku ingin memberikan sedikit masukan untukmu. Kejarlah tanpa harus menunda, kesempatan itu tidak terjadi untuk kedua kalinya. Jika memang ada kesempatan kedua, berarti karena memang kamu beruntung. Namun, jika kesempatan kedua disia-siakan, pastilah peluang untuk kesempatan ke tiga," tutur Alvaro panjang lebar.
Juni mencerna ucapan sang atasan. Ia pun mengangguk paham dengan maksud dari perkataan pria yang tengah duduk di atas kursi kebesarannya.
"Kalau begitu ... saya permisi dulu, Pak." Juni menunduk hormat, lalu kemudian meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
Sementara Alvaro hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja melihat kelakukan dua bawahannya tadi.
"Sikap yang ditunjukkan oleh Shinta sudah sangat jelas, akan tetapi Juni benar-benar pria yang bodoh, tidak peka sama sekali," gumam Alvaro yang mulai kembali memfokuskan dirinya pada layar laptopnya.
.....
Di lain tempat, Bima baru saja pulang ke sekolah. Ia langsung mengganti pakaiannya dan pergi ke kamar ibu sambungnya.
"Eh, sudah pulang, Nak?" tanya Rania yang tampak bersusah payah untuk bangkit dari pembaringannya.
"Biar Bima saja yang ke sana, Ma." Bima berbaring di samping ibunya. Menatap perut sang ibunda yang semakin lama semakin membesar.
"Pasti berat sekali mama membawa dua adik yang ada di dalam perut," ucap Bima mengusap perut buncit Rania.
"Iya Sayang, meskipun begitu ... mama sangat senang dengan kehadiran mereka. Nantinya pasti Bima tidak akan sendirian lagi," ujar Rania tersenyum.
"Ma, nanti kalau adik sudah lahir, biar Bima saja yang mengasuhnya. Mama boleh beristirahat," celetuk anak laki-laki berambut ikal tersebut.
"Bima bisa mengasuh adik?" tanya Rania sembari tertawa.
"Bisa, Ma. Kecuali nanti kalau menggantikan popok adik, Bima belum bisa melakukannya. Dulu, saat Bima mengasuh Abian, Bima berkata pada Tante Alvira untuk mengajari Bima cara memasangkan popok, tapi kata Tante, Bima masih kecil. Tunggu Bima sudah besar dulu," jelas Bima.
"Iya, Nak. Tunggu Bima besar baru boleh. Takutnya nanti Bima memasangkan popoknya dengan cara yang salah, membuat adik tidak nyaman dan menangis," ujar Rania memberikan pengertian pada putra sambungnya.
"Oh, itu alasannya. Baiklah, Ma. Sekarang Bima mengerti mengapa Tante melarang Bima," ucap anak laki-laki tersebut.
Krukkkk ....
Tiba-tiba perut Rania berbunyi. Hari sudah siang, wajar saja jika cacing yang ada di perutnya kembali minta diisi.
"Perut mama bunyi, Ma. Itu suara adik yang ada di dalam perut ya, Ma?" tanya Bima dengan wajah polosnya.
Rania langsung terkikik geli mendengar hal tersebut. "Bukan, Nak. Itu suara perut mama yang berarti minta diisi nasi," jelas Rania.
"Oh, Bima kira suara adik di dalam perut. Kalau begitu ayo Ma! Kita makan dulu!" ajak Bima.
Rania pun menganggukkan kepalanya. Ia beranjak dari kasur seraya di bantu oleh Bima.
"Terima kasih, Sayang." Rania berucap karena putranya selalu memperhatikan dirinya.
"Sama-sama, Ma."
__ADS_1
Keduanya pun berjalan keluar dari kamar, berjalan menuju ke dapur untuk makan siang bersama.
Bersambung ....