Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 222. Tutup Panci, I Love You!


__ADS_3

Shinta sedari tadi merasa gundah. Pasalnya, ia masih mengingat janjinya dengan Juni, akan tetapi ia juga tidak enak jika harus meninggalkan orang-orang yang ada di sini karena pesta penyambutan ini dibuat untuk dirinya.


Semua orang tampak bersenang-senang, akan tetapi tidak dengan Shinta. Rasa bersalah menyelimuti dirinya. Ia masih berharap jika Juni masih bisa memberikan toleransi pada dirinya nanti.


Shinta dengan setia menunggu dalam kegundahan. Berharap agar kali ini, Juni akan memaafkan dirinya lagi.


Setelah cukup lama, mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Shinta menatap jam tangannya, ia pun cukup terkejut karena waktu telah menunjukkan hampir tengah malam.


"Shinta, ayo naiklah! Aku akan mengantarmu pulang," tawar Alvira menyuruh Shinta untuk masuk ke dalam mobil.


"Maafkan saya, Bu. Saya harus ke suatu tempat. Terima kasih atas tawarannya. Kalau begitu saya pamit pulang terlebih dahulu. Bu Alvira hati-hati di jalan," ucap Shinta menundukkan kepalanya.


Gadis itu pun menghadang taksi, dan masuk ke dalam kendaraan tersebut. Shinta menatap ke arah luar jendela kaca mobil. Ia memainkan kuku jarinya, mencoba untuk menenangkan diri dari sesuatu yang mengganggu pikirannya saat ini. Sudah pasti jika di dalam kepalanya itu adalah Juni.


Shinta meminta untuk taksi berhenti di sebuah taman kota, tepatnya tempat janji temu mereka sebelumnya. Di taman itu, semuanya tampak sepi, dan Shinta pun tak menemukan keberadaan Juni.


Cukup lama gadis itu mengedarkan pandangannya, hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk pulang ke apartemen.


Shinta kembali menghadang taksi, membawanya menuju ke apartemen. Sesampainya di sana, gadis tersebut tergesa-gesa berlari masuk ke dalam lift.


Tinggg ...


Pintu lift terbuka. Ia pun segera berjalan menuju ke apartemen milik Juni. Beberapa kali ia menekan bel apartemen tersebut, akan tetapi tidak ada sahutan sama sekali dari dalam.


Shinta pun tetap nekat, untuk menunggu pintu itu dibuka. Ia benar-benar ingin meminta maaf pada kekasihnya karena tak bisa datang tepat waktu.


Tak lama kemudian, pintu itu terbuka. Namun, tampaknya Juni hanya membukanya saja tanpa berbicara sama sekali. Pria itu langsung menyelonong masuk begitu saja.


Shinta masuk ke dalam apartemen Juni. Ia melihat pria tersebut menjatuhkan bokongnya di sofa, membuat Shinta pun juga mendudukkan dirinya di kursi empuk tersebut.


"Jun, maaf karena ak ...."


"Sudah cukup, Shin." Juni langsung memotong pembicaraan Shinta yang belum terselesaikan.

__ADS_1


"Aku tadi makan malam bersama Bu Alvira dan yang lainnya. Mereka mengadakan ...."


"Mari kita putus," ujar Juni sesaat kemudian yabg membuat Shinta langsung membeku.


Ia terpaku menatap Juni dengan mata yang berkaca-kaca. "Jun, ...."


"Sebaiknya kamu pulanglah! Ini sudah malam dan besok kamu harus kembali bekerja." Juni mulai beranjak dari tempat duduknya.


Greppp ...


Pria itu terkejut saat Shinta tiba-tiba memeluknya dari belakang. Gadis itu menangis, baju Juni basah saat itu juga.


"Kamu tidak serius kan, Jun? Aku tahu kamu hanya main-main dengan ucapanmu. Sungguh, aku bukan tidak mengingatnya. Hanya saja aku merasa tidak enak jika harus meninggalkan mereka," jelas Shinta.


Juni sebenarnya merasa tak tega pada gadis itu. Namun, kesabarannya sudah benar-benar habis. Ia lelah menghadapi hubungan yang tidak memiliki waktu sama sekali.


Pria itu berbalik menatap Shinta. Ia menyeka air mata yang jatuh di pipi wanita yang ia cintai itu.


"Istirahatlah! Aku sudah mengantuk," ucap Juni yang kemudian melangkahkan kakinya kembali pergi meninggalkan Shinta.


"Maafkan aku, Jun. Semoga setelah ini kamu mendapatkan pengganti yang lebih baik dariku," batin Shinta yang kemudian memilih untuk keluar dari apartemen tersebut.


Shinta masuk ke dalam unitnya. Ia menangis sejadi-jadinya karena baru saja diputuskan oleh pria yang begitu ia cintai.


Di waktu yang bersamaan, Juni juga tak bisa tidur. Ia merasakan sakit yang sama, akan tetapi dirinya juga tidak tahan jika terus menerus diperlakukan seperti itu.


.....


"Oeekkk ... Oeekkk ...."


Suara salah satu bayi yang ada di box bayi itu pun menangis. Rania yang baru saja terlelap dari tidurnya langsung terbangun setelah mendengar tangisan salah satu bayinya itu.


"Delani terbangun ya, Nak. Cup ... cup ...."

__ADS_1


Rania menggendong bayinya dengan berhati-hati. Ia pun memberikan ASI kepada putri kecilnya itu agar kembali tertidur.


Namun, sesaat kemudian Dilan juga terbangun, yang tentunya membuat Rania gelagapan menghadapi kedua anak tersebut. Dengan terpaksa, ia pun harus meminta tolong pada suaminya yang saat ini tidur pulas sembari mendengkur.


"Pa ... Pa ...," panggil Rania menyenggol tubuh Alvaro.


"Hmmmm ...." Alvaro menimpali dengan malas dan masih mengantuk.


"Pa, bangun dulu sebentar. Tolong gendong Dilan. Mama masih memberi makan Delani," ujar Rania.


Alvaro pun bangun dari tidurnya. Ia mengusap matanya sejenak sebelum akhirnya beranjak dari posisinya dan langsung menggendong Dilan.


"Malam-malam kenapa bangun semua, Nak?" gumam Alvaro seraya menggendong putranya.


Pria tersebut duduk di samping istrinya yang tengah memberikan ASI pada Delani. Mata Alvaro tak lepas dari sesuatu yang tampak kenyal, tengah asik di hisap oleh putri kecilnya.


"Sekarang semuanya jatah kalian, Nak. Sedangkan papa untuk sementara harus berpuasa dulu," ujar Alvaro seraya menghela napasnya.


"Ckckck papa ada-ada saja. Lagi pula mengalah demi anak tidak ada salahnya," balas Rania bersuara pelan.


"Harus menunggu 40 hari dulu ya?" tanya Alvaro.


"Mas?!" Rania langsung melemparkan tatapan tajam pada sang suami.


"Iya ... iya ... Papa akan menunggu sampai mama bisa kembali servis papa," ujar Alvaro.


Mendengar penuturan suaminya itu, membuat Rania hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia membuang wajahnya, akan tetapi sudut bibirnya tertarik sempurna tatkala mendengar kalimat yang tadi dilontarkan oleh sang suami. Karena menurutnya sangat lucu jika Alvaro sudah memohon untuk meminta dilayani sementara dirinya belum bisa memberikan hak tersebut pada Alvaro.


Setelah cukup lama memberikan asi pada Dilan, akhirnya jagoan kecilnya itu tertidur pulas. Ia mengembalikan Dilan ke dalam box bayi. Matanya menangkap suaminya yang tengah tertidur bersama Delani seraya menepuk-nepuk pelan sang bayi agar tertidur. Alvaro terpejam akan tetapi tangannya masih bekerja menepuk-nepuk pelan bedongan Delani.


Rania tersenyum, ia pun mengambil Delani dan langsung kembali meletakkan putri kecilnya itu di tempat tidurnya. Setelah itu, Rania membaringkan tubuhnya tepat di samping Alvaro. Ia menatap seksama wajah tampan sang suami yang menurutnya tetap menawan walaupun sudah memiliki anak 3.


Rania mencium pipi Alvaro, ia pun tidur dengan memeluk suami tampannya itu. "Tutup panciku, suamiku, ayah dari anak-anakku. I love you," gumam Rania pelan. Wanita itu pun menutup matanya, kembali tenggelam ke alam bawah sadarnya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2