
Setelah melalui drama panjang, sepanjang jalan kenangan. Akhirnya, Arumi dan Fahri pun memilih untuk kembali ke rumah karena hari sudah mulai larut malam.
"Kakek, Nenek." Bima langsung memegang tangan Fahri dan Arumi. Pria kecil itu menggelengkan kepalanya, melarang kakek dan neneknya untuk pulang ke rumah.
"Menginaplah di sini, kakek, nenek." Bima menatap kakek dan neneknya itu dengan wajah yang memelas.
"Iya, Ma. Sebaiknya mama dan papa menginaplah di sini. Hari sudah malam, takutnya ada apa-apa di jalan." Alvaro menambahi, menyarankan supaya kedua orang tuanya itu menginap di rumahnya saja.
"Bagaimana Mas? Apakah malam ini kita akan tidur di sini?" tanya Arumi pada suaminya.
"Bagaimana pendapatmu? Aku hanya menuruti ucapanmu saja," timpal Fahri.
"Ya sudah, kalau begitu kita menginap saja di sini. Lagi pula sudah lama kita tidak berkunjung ke sini," ujar Arumi.
Fahri pun mengangguk setuju. Kedua pasangan suami istri itu memutuskan mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah.
Bima mengajak neneknya ke kamar. Meminta pada sang nenek untuk tidur dengannya. Pria kecil itu memang lebih akrab bersama dengan neneknya ketimbang kakeknya. Mungkin karena kakeknya yang jarang sekali menghabiskan waktu bersamanya, sibuk membaca buku di ruang kerja.
Sementara Fahri, pria itu memilih untuk tidur dengan putranya. Kedua pria tersebut berbaring bersebelahan, dengan pandangan menatap ke langit-langit rumah.
"Aku bingung, Pa. Si satu sisi, aku tidak ingin menikah lagi, akan tetapi di sisi lain, Bima selalu saja mendesakku. Aku takut jika nantinya, saat aku menikahi wanita itu, aku gagal menjadi seorang suami," gumam Alvaro yang tak mengalihkan pandangannya.
"Papa tahu apa yang kamu rasakan saat ini. Namun, tidak ada salahnya bagimu untuk mencoba. Dulu papa juga begitu dengan mama mu. Awalnya, kami menikah karena sebuah keterpaksaan. Dan untuk hal ini papa tidak bisa menjelaskannya secara rinci."
"Dan akhirnya, papa jatuh cinta pada mama mu. Papa sadar bahwa seiring berjalannya waktu, papa mulai memiliki rasa pada mama mu. Seorang suami tidak bisa dikatakan gagal jika dia memuliakan istrinya," tutur Fahri memberikan petuah pada anaknya itu.
"Papa paling membenci pria yang bermain tangan terhadap wanitanya. Tanyakan pada mamamu, apakah papa pernah memukulnya? Atau menyakitinya secara fisik? Jawabannya tentu saja tidak," ucap Fahri lagi.
Fahri mendengarkan ucapan ayahnya itu dengan seksama. Pria tersebut hanya bisa tersenyum sembari mengangguk paham.
__ADS_1
"Dengan kamu menikah lagi, bukan berarti bahwa kamu saat ini menyakiti hati Diara. Tentu saja tidak. Diara akan sangat senang jika kamu bisa mendapatkan wanita lain lagi. Ingatlah satu hal, Nak. Yang telah mati, dia tidak akan bisa bangkit lagi. Dan kita yang masih diberikan napas, harus melanjutkan hidup kita sebagaimana mestinya."
"Jika kamu takut, kamu akan menyakiti hati wanita yang akan kamu nikahi nanti. Berikan dia pengertian. Katakan saja bahwa separuh hidupmu telah kamu berikan pada Diara, akan tetapi semua yang tersisa adalah milik istrimu selanjutnya. Jika dia bersedia menerimamu, langsung saja nikahi dia," ujar Fahri panjang lebar sembari tersenyum.
Kini Alvaro mengerti, kenapa ibunya sangat mencintai ayahnya ini. Karena pria yang ada di sampingnya ini merupakan pria yang sangat bijak. Baik itu dalam bertutur kata, ataupun tindakannya.
"Terima kasih Pa, atas semua nasihatnya. Alvaro akan mencoba untuk mengikuti saran papa," ujar Alvaro.
Fahri langsung mengacungkan ibu jarinya, bertanda bahwa ia sangat menyukai putranya yang mencoba untuk menuruti ucapannya tadi.
"Kalau begitu, ayo kita tidur. Papa sudah mengantuk," ucap Fahri yang mulai menarik selimutnya, lalu kemudian memunggungi putranya.
Alvaro tersenyum, ia juga melakukan hal yang sama. Kedua pria itu perlahan memejamkan matanya, dan larut ke dalam alam mimpi.
....
Di lain tempat, Alvira saat itu tengah beradu mulut dengan suaminya. Keributan terjadi saat ayah dan ibunya tidak ada di dalam rumah.
"Jika kamu tidak memiliki wanita lain, mustahil kamu mengacuhkanku seperti ini. Banyak pria yang di luar sana begitu bahagia ketika istrinya tengah mengandung. Sementara kamu ...." Suara Alvira tercekat, air matanya tanpa permisi tumpah begitu saja.
"Kamu bahkan tak sedikit pun mempedulikan aku, Mas . Aku ini istrimu, istri sah mu!!" tekan Alvira.
"Bukankah sudah ku katakan. Aku sibuk, Vira. Urusan kantor cukup memusingkan kepalaku, dan sekarang kamu juga membuatku stres. Kepala ku serasa ingin pecah, asal kamu tahu itu!" ketus Andre.
"Lagi dan lagi alasanmu pasti menyangkut-pautkannya dengan urusan kantor. Sedangkan keuangan perusahaan, selalu saja minus. Seharusnya kamu mikir mas!"
"Cukup Vira!!" bentak Andre.
"Begini saja, kamu ingin kita bagaimana?" tanya Andre.
__ADS_1
"Apa maksud ucapanmu?!" geram Alvira.
"Aku sudah muak dengan semua ini!" Andre mengacak-acak rambutnya karena frustasi.
"Jaga ucapanmu, Mas! Aku saat ini sedang mengandung. Tega kamu berbicara seperti itu!"
Alvira langsung beranjak dari tempat duduknya, lalu kemudian meninggalkan kamar tersebut. Ia tak ingin jika nanti, kalimat lain yang akan menghujam jantungnya, kembali terucap dari bibir suaminya itu.
"Tega kamu, Mas. Kamu benar-benar tega," lirih Alvira yang memilih pergi ke halaman belakang. Wanita itu menangis dalam diamnya. Ia selalu berusaha menghapus air matanya yang jatuh di pipinya.
...****************...
Keesokan harinya, dua pria tampan mengenakan apron. Mereka sibuk memasak di dapur. Sementara Bima dan Arumi, keduanya bernyanyi seraya menyemangati Alvaro dan Fahri yang saat itu tengah memasak di dapur.
"Nenek, kenapa yang masak kakek? Apakah nenek tidak bisa memasak?" tanya Bima dengan wajah polosnya.
"Nenek bisa memasak, tapi sayang nanti masakan nenek tidak.akan ada yang ingin memakannya," timpal Arumi.
"Kenapa Nek?" tanya Bima lagi.
"Nenek kalau memasak sangat boros garam," celetuk Arumi.
Aroma wangi dari masakan keduanya tampak menusuk di hidung. Perut Arumi mulai berbunyi, tak tahan dengan aroma masakan tersebut.
Tak lama kemudian, Fahri pun mulai menghidangkan masakan yang mereka buat di atas meja. Mata Arumi langsung berbinar, ia pun mulai menaruh makanan tersebut ke dalam piring cucunya, setelah itu ia mengambilkan makanan untuk suaminya, dan terakhir baru dirinya.
"Hmmm ... ini benar-benar lezat. Masakan dari chef Fahri dan chef Varo memang tidak diragukan lagi," ujar Arumi kembali menyuapkan makanan tersebut ke dalam mulutnya.
"Enak," tambah Bima seraya mengacungkan kedua ibu jarinya.
__ADS_1
Semua orang yang ada di tempat itu menyantap makanannya dengan suasana bahagia. Terkadang celotehan dari Bima mempermanis suasana pagi itu. Mereka tidak tahu, apa yang sebenarnya telah terjadi di rumah utama.
Bersambung ....