Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 146. Terlalu Bodoh


__ADS_3

Hari sudah menunjukkan pukul 9 malam. Juni pun memutuskan untuk menyudahi pekerjaannya. Pria tersebut membereskan dokumen yang ada di atas meja, lalu mematikan komputernya. Lalu kemudian melangkahkan kakinya pergi dari ruangan tersebut.


Juni masuk ke dalam mobilnya, melajukan kendaraan tersebut menuju ke jalanan. Ia membuka jendela kaca mobilnya, mengeluarkan sedikit tangannya untuk merasakan udara dingin malam itu.


Setelah cukup lama menempuh perjalanan, mobil yang dikendarainya pun tiba di apartemen. Pria tersebut baru saja hendak keluar dari mobil, akan tetapi tiba-tiba matanya menangkap kendaraan yang baru saja terhenti tak jauh dari tempatnya parkir. Seketika Juni mengerutkan keningnya, melihat Shinta bersama dengan pria lain turun dari mobil tersebut. Pria yang sempat menolongnya di pantry tadi.


"Ini obatnya, jangan lupa untuk terus mengoleskannya supaya tidak meninggalkan bekas," ujar pria yang bernama Daren tersebut.


"Iya, Mas. Terima kasih karena atas tumpangannya," ucap Shinta.


"Dan juga obatnya," lanjut gadis itu sembari mengangkat plastik yang berisikan obat tersebut.


"Iya, sama-sama. Semoga lekas sembuh. Kalau begitu aku pamit dulu," ujar Daren.


Shinta menganggukkan kepalanya sembari mengulas senyum, "Hati-hati di jalan, Mas."


Daren baru saja hendak membuka pintu mobilnya, akan tetapi pria tersebut kembali berbalik menatap Shinta.


"Ah iya. Shinta, besok berangkat ke kantor biar aku saja yang menjemputmu. Soalnya aku merasa tidak enak jika pergi sendirian," ujar Daren.


"Apakah tidak terlalu merepotkan, Mas?" tanya Shinta.


"Tidak. Justru aku sangat senang jika kamu mau pergi bersamaku. Setidaknya aku ada teman berbicara untuk mengurangi rasa bosan saat berada di perjalanan," jawab Daren.


Shinta tersenyum, perlahan ia pun menganggukkan kepalanya. "Baiklah. Besok aku akan berangkat bersama Mas Daren."


Daren terlihat sangat senang mendengar persetujuan dari Shinta. Pria itu pun langsung masuk ke dalam mobilnya, membuka jendela kaca.


"Besok aku akan menjemputmu. Pastikan untuk tidak berangkat lebih dulu meninggalkanku," ucap Daren tersenyum.


"Iya, Mas."


Daren pun mulai melajukan mobilnya ke jalanan. Shinta melambaikan tangannya, melihat mobil Daren yang semakin hilang dari pandangan. Gadis itu pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung apartemen.


Juni menyaksikan interaksi kedua manusia tersebut, membuatnya sedikit terganggu. Ingin sekali ia keluar dari kendaraannya, dan melarang pria itu untuk datang lagi. Namun, Juni sadar. Dia bukanlah siapa-siapa bagi Shinta.


Kesalahan terbesar yang telah Juni perbuat adalah menjauhi gadis itu. Sempat melontarkan ucapan yang tak mengenakkan hati Shinta, menyuruh gadis tersebut agar menjaga jarak darinya.


Setelah Shinta mulai menjauh, anehnya Juni mulai merasa hampa. Ia rasanya ingin marah pada dirinya sendiri yang telah berucap demikian. Namun, setelah Shinta dekat dengan pria lain, Juni merasa tak rela, seolah ingin hanya dirinya saja lah yang menjadi teman pria Shinta, tidak boleh ada pria lain.

__ADS_1


Pintu lift terbuka, Shinta melangkah masuk ke dalam ruangan sempit itu. Gadis tersebut kembali menutup lift. Saat pintu baja tersebut hendak tertutup, tiba-tiba ada sesuatu yang menahannya, membuatnya terbuka kembali.


Shinta melihat Juni dengan raut wajah yang dingin menatap padanya. Shinta sedikit menggeser posisinya, membiarkan pria itu masuk dan bergabung bersamanya.


Di dalam ruangan yang sempit itu, keduanya hanya saling berdiaman. Tak ada yang berinisiatif membuka suara. Shinta meremas jemarinya, mencoba untuk menghilangkan rasa canggung. Tidak saling menyapa membuat mukanya sedikit kaku dan terasa berat.


"Maafkan aku."


Mendengar Juni yang bersuara, membuat Shinta pun mengarahkan pandangannya pada pria yang ada di sebelahnya.


"Maaf karena apa?" tanya Shinta.


"Karena telah membuat tanganmu terluka," ucap Juni menatap tangan Shinta.


Shinta mengikuti arah pandangan Juni, lalu kemudian ia langsung menyembunyikan tangannya. Tak ingin Juni melihat tangannya yang memerah akibat terkena tumpahan kopi panas siang tadi.


"Ini bukan salahmu, lagi pula aku juga yang ceroboh dan tak berhati-hati," timpal Shinta.


Tinggg ...


Lift terbuka, Shinta pun memilih untuk keluar lebih dulu. Ia merasa tak nyaman jika terus menerus berada di samping Juni. Gadis itu selalu menghindari satu hal, jantungnya yang selalu berdebar dengan kencang. Membuat Shinta menjadi gusar, apalagi melihat Juni yang tampaknya semakin menjauhinya, membuat Shinta sadar bahwa yang merasakan debaran itu hanya dirinya seorang. Juni, pria itu masih mencintai istrinya yang telah tiada.


Juni melangkah dengan gontai, melihat Shinta yang masuk ke dalam unitnya tanpa menoleh ataupun berbalik tersenyum hanya untuk mengucapkan selamat malam, sama seperti dulu.


Setelah melihat Shinta masuk ke dalam unitnya, baru lah Juni berjalan melewati unit gadis tersebut.


Di waktu yang bersamaan, Shinta memejamkan mata. Tak terasa bulir bening menetes membasahi pipinya. "Kenapa aku terlalu bodoh! Harusnya jantung ini tak usah berdebar saat menatapnya. Ini sungguh menyiksaku!" geram Shinta sembari memukuli rongga dadanya yang terasa sesak.


.....


Di lain tempat, Rania menepuk kasur sebelahnya yang kosong. Wanita hamil itu tampak berseri setelah menerima sogokan mie ayam dari sang suami.


"Berbaringlah di sini, Mas!" titahnya seraya menyunggingkan senyum terbaiknya.


Alvaro menjengit melihat perubahan sikap Rania. Namun, ia tak ingin melewatkan kesempatan itu. Alvaro pun langsung merebahkan dirinya di samping sang istri.


Rania menarik tangan Alvaro, membuat lengan kekar suaminya itu menjadi bantalnya.


"Mas, aku dapat undangan dari Hilda. Dia akan menikah Minggu depan. Kita datang ke sana ya, Mas!" ujarnya yang tampak bersemangat. Raut muram di wajahnya tak terlihat lagi.

__ADS_1


"Baiklah, kita akan datang ke sana. Tetapi tidak apa-apa dengan kondisimu yang hamil seperti ini?" tanya Alvaro mengkhawatirkan kondisi sang istri.


"Tidak, Mas. Aku ibu yang sehat. Nanti kamu yang gendong ya kalau aku merasa lelah," ucap Rania.


"Kamu tenang saja, Sayang. Aku mempunyai tulang yang kuat untuk menggendongmu," celetuk Alvaro hingga terdengar suara cekikikan dari kedua pasangan suami istri itu.


Tak lama kemudian, mereka pun saling berdiaman. Alvaro menyamping, menatap wajah sang istri, merapikan anak rambut yang tampak sedikit menutupi wajah cantik wanita pujaan hatinya.


"Mas, ...."


"Hmmm ...."


"Maafkan aku ya, Mas." Rania berucap sembari menyentuh puncak hidung suaminya.


"Mas juga minta maaf karena telah membuat kesalahan yang besar. Seharusnya Mas bisa mengerti kondisimu, bisa mengerti juga dengan keadaan sekitar. Ada mama dan papa, tetapi Mas egois dengan memperlihatkan raut muram," tutur Alvaro menyadari semua kesalahannya.


"Aku juga, Mas. Seharusnya aku menegurmu dengan baik, bukan menyenggol kakimu yang akhirnya tak sengaja mengenai kaki papa mertua. Aku benar-benar malu, Mas." Rania terkekeh menyadari kebodohan yang ia perbuat tadi pagi.


"Sekarang kita sudah mulai menyadari kesalahan masing-masing. Mas harap untuk ke depannya, kita bisa menyelesaikannya dengan lebih bijak lagi. Mas tidak mau kita tidak saling menegur dalam jangka waktu yang lama hanya karena masalah sepele," jelas Alvaro.


"Iya, Mas." Rania menganggukkan kepalanya, mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Mulai sekarang, masalah itu tidak usah dibahas lagi. Sekarang Mas mau memberikan sedikit saran padamu. Apakah boleh?" tanya Alvaro yang meminta persetujuan dari sang istri.


Rania kembali menganggukkan kepalanya, pertanda bahwa ia ingin mendengarkan saran yang disampaikan oleh sang suami.


"Mas tahu, kamu merasa selalu lapar. Mas juga tidak menyalahi hal tersebut karena memang saat ini kamu tengah mengandung anak kembar, yang tentunya membuat selera makanmu sangat kuat. Tetapi Mas minta, kamu tetap menjaga asupan makanmu dengan sehat. Ada baiknya jajanan yang ada di dalam kulkas tersebut di ganti dengan makanan sehat seperti sayur atau pun buah," tutur Alvaro.


"Baiklah, mulai besok aku akan menerapkannya Mas. Tetapi kalau khilaf sesekali, tidak apa-apa kan?" tanya Rania sembari memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Khilafnya sekali saja ya, jangan sampai keterusan," ujar Alvaro memperingati sembari memainkan jari telunjuknya.


"Siap, Pak Suami."


"Kalau begitu, sekarang tidurlah. Mas sudah mulai mengantuk, besok harus masuk kerja," ucap Alvaro mengecup kening sang istri.


Rania mengangguk, ia pun mulai memejamkan matanya. Begitu pula dengan Alvaro, hingga keduanya larut ke dalam alam mimpi.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2