Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 112. Keputusan Yang Bulat


__ADS_3

Rania telah mengambil keputusan atas kegundahannya kemarin. Rania akan membicarakan malam ini bersama dengan suaminya. Sementara Alvaro, saat ini ia masih sibuk di dalam ruang kerjanya.


Bima melihat ibunya yang sedang duduk sendirian. Anak laki-laki itu pun segera menghampiri sang ibunda.


"Mama sedang menunggu papa ya?" tanya Bima yang sedari tadi melihat Rania menatap ke arah ruang kerja dengan pintu yang tertutup rapat.


"Iya, Nak. Sepertinya papa sedang sibuk," ucap Rania.


"Kalau begitu, kita tunggu papa sembari menonton televisi saja, Ma." Bima memberikan saran pada ibunya.


"Baiklah, ayo nak!" ajak Rania yang langsung beranjak dari tempat duduknya. Dengan cepat, Bima juga beranjak dan menggandeng tangan Rania, menuju ke ruang keluarga.


Setibanya di sana, Rania pun langsung menghidupkan televisi. Wanita itu sedari tadi memilih channel TV yang hendak ia dan anaknya tonton.


"Bima mau nonton apa?" tanya Rania.


"Terserah mama saja, yang penting Bima bisa menontonnya dan mama juga menikmati tontonan tersebut," ucap Bima.


Setelah lama memilih channel tersebut, akhirnya Rania menjatuhkan pilihannya pada salah satu channel TV yang tengah menayangkan serial kartun Tom and Jerry. Kartun yang memperlihatkan kucing dan tikus yang tak pernah akur, yang terselip sebuah komedi di dalamnya.


Sesekali Rania dan juga Bima tertawa terbahak-bahak saat menonton adegan yang menurutnya cukup lucu. Bima terlihat senang sembari berceloteh menunjuk televisi tersebut. Melihat Bima terkekeh sedari tadi, membuat Rania pun juga ikut tertawa.


Alvaro baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Pria itu melepaskan kacamata yang bertengger di hidungnya, lalu kemudian memijat sedikit keningnya karena terlalu lama menggunakan kacamata tersebut .


Pria itu keluar dari ruang kerjanya. Ia mendengar gelak tawa dari arah ruang keluarga. Alvaro pun langsung melangkahkan kakinya menuju ke tempat tersebut untuk bergabung bersama anak dan istri tercintanya.


Setibanya di sana, Alvaro tidak langsung menghampiri keduanya. Pria itu melihat dari jauh saat Rania memeluk Bima sembari terkekeh, begitu pula dengan Bima.


Melihat pemandangan manis itu, seketika rasa lelahnya karena pekerjaan tadi menguap begitu saja. Alvaro merasa beruntung, karena mendapatkan wanita seperti Rania. Wanita yang bisa berperan menjadi ibu yang baik untuk putranya.


Kembali terdengar suara gelak tawa dari kedua orang yang tengah asyik menonton televisi. Alvaro pun menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah lengkungan yang indah. Ia langsung menghampiri Bima dan juga Rania.


"Suara tawa kalian terdengar sampai ke depan. Sepertinya yang kalian tonton sangatlah seru," ucap Alvaro yang menjatuhkan bokongnya di samping putranya. Kini posisi Bima diapit oleh ayah dan ibunya.


"Iya, Pa. Sangat seru! Si Jerry sangat jahil, dia selalu saja mengerjai Tom," ujar Bima menjelaskan apa yang ia lihat sedari tadi di layar menyala tersebut.


"Pekerjaanmu sudah selesai, Mas?" tanya Rania menatap suaminya.


"Iya, beberapa hari ini aku benar-benar sibuk. Mengurus dua perusahaan sekaligus membuatku sedikit kelimpungan," tutur Alvaro.


"Belum mengantuk?" tanya Rania.


Alvaro menggelengkan kepalanya," Belum. Lagi pula aku ingin ikut menonton televisi bersama kalian," timpal Alvaro.


Rania pun tersenyum. Ia kembali menatap layar televisi tersebut. Sesekali mereka tertawa saat melihat tingkah konyol yang ada di dalam serial kartun itu.


Rania melupakan sesuatu. Ia sedari tadi menunggu Alvaro ingin membicarakan sebuah keputusan yang akan ia ambil.


"Ah iya, Mas. Aku hampir saja lupa!" ucapnya sembari menepuk kening.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Alvaro.


"Aku sudah mengambil keputusan atas pilihan yang kamu katakan kemarin," ucap Rania.


"Masalah apa? Beristirahat dari pekerjaanmu?" tanya Alvaro yang ingin memastikan jika ia tidak salah menerka.


"Iya, Mas. Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak dari pekerjaanku dan fokus untuk ikut program kehamilan. Siapa tahu setelah ini kita akan mendapatkan kabar baik," ujar Rania sembari tersenyum. Alvaro memindai wajah sang istri, mencoba mencari keraguan di wajah itu, akan tetapi ia tak menemukannya. Pertanda bahwa Rania telah mengambil keputusan itu tanpa ragu.


"Apakah kamu yakin? Mas tidak mau nanti kamu merasa terbebani akan keputusan yang telah kamu buat," tanya Alvaro yang mencoba meyakinkan istrinya sekali lagi.


"Apakah Mas Varo melihat guratan keraguan di wajahku?" Rania balik bertanya.


Dengan cepat, Alvaro pun menimpali pertanyaan sang istrinya dengan sebuah gelengan kepala. "Tidak ada," jawab Alvaro.


"Nah, berarti itu tandanya keputusan yang aku ambil sudah bulat," ucap Rania.


Alvaro tersenyum, ia pun mengusap puncak kepala istrinya dengan lembut. " Terima kasih ya, Sayang. Setidaknya kita berusaha untuk yang terbaik," ujar Alvaro.


"Iya, Mas."


Setelah malam itu, Rania pun memutuskan untuk beristirahat dari pekerjaannya. Posisinya di klinik kini telah tergantikan oleh dokter yang lainnya. Sementara Rania, ia memilih untuk menyibukkan dirinya mengurus keluarga kecilnya.


Saat di pagi hari, ia layaknya seorang istri. Melakukan tugas memasak untuk sang suami, tentunya dibantu oleh para pelayan yang bekerja di rumahnya. Setelah itu mengantar Bima ke sekolah, menjemput Bima, mengantarkan makan siang untuk sang suami.


Hal itu ia lakukan karena ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga kecilnya. Di samping itu juga, menghilangkan rasa suntuknya saat berada di rumah karena selama ini telah terbiasa sibuk di klinik.


Rania juga sering mengunjungi dokter, berkonsultasi agar ia bisa mencapai keinginannya untuk mengandung sang buah hati. Rania juga menjauhi junkfood, makanan yang paling ia gemari. Dan menggantinya dengan makanan yang sehat.


"Makanan sudah siap!" seru Rania sembari membawa sarapan yang ia buat untuk anak serta suaminya.


Menu sarapan kali ini adalah nasi goreng spesial. Dengan tambahan telur mata sapi, serta sosis yang banyak sesuai dengan permintaan Bima.


Mereka bertiga pun mulai menyantap sarapan tersebut. Tentu saja, Alvaro dan Bima selalu memberikan pujian di setiap makanan yang dibuat oleh Rania. Maka dari itu, tak mematahkan semangat Rania untuk belajar memasak dan menyajikan makanan yang lezat untuk suami dan anaknya.


"Siang ini kamu mau antar makan siang ke kantor lagi?" tanya Alvaro yang baru saja meneguk air yang ada di hadapannya.


"Iya, Mas. Di rumah terus membuatku merasa bosan. Tapi aku mau jemput Bima dulu, baru ke kantor. Biar kita bisa makan siang bersama. Tidak apa-apa kan?" tanya Rania.


"Tentu saja tidak apa-apa, Sayang. Aku sangat senang jika bisa menikmati makan siang bersama kalian," ucap Alvaro.


Mereka menyudahi sarapannya, lalu kemudian bersiap untuk berangkat. Ketiga orang tersebut berjalan beriringan ke luar rumah, menuju ke mobil masing-masing.


"Kalau begitu, kalian hati-hati di jalan. Papa berangkat dulu ya," ujar Alvaro.


Rania mengecup punggung tangan Alvaro, begitu pula dengan Bima.


"Mas juga hati-hati di jalan," ucap Rania.


Alvaro mengangguk, lalu kemudian masuk ke dalam kendaraannya. Pria itu membunyikan klaksonnya sejenak, lalu kemudian melajukan kendaraan tersebut menuju ke jalanan.

__ADS_1


"Ayok Nak!" Rania mengajak Bima masuk ke dalam mobilnya. Bima pun menganggukkan kepala, lalu kemudian masuk ke dalam kendaraan yang akan digunakan oleh ibunya. Perlahan, kendaraan itu pun melaju ke jalanan.


Di perjalanan, Rania selalu mengajak Bima berbicara mengenai kegiatan anaknya di sekolah, termasuk lingkaran pergaulan jagoan kecilnya itu.


"Di sekolah, apakah masih ada diantara teman-teman Bima yang tidak menyukai Bima?" tanya Rania sembari mengendalikan setirnya.


"Tidak ada lagi, Ma. Mereka sangat senang berteman dengan Bima. Apalagi waktu itu, mama memberikan bonus pada teman Bima yang datang untuk memeriksakan gigi," tutur Bima.


"Baguslah kalau mereka senang berteman dengan Bima," ucap Rania.


"Dulu, yang tidak menyukai Bima hanya Febby. Tetapi Febby bersikap seperti itu karena mempunyai alasan. Aslinya Febby adalah anak yang baik," ujar Bima memperlihatkan raut wajah sedihnya setiap kali mengingat tentang anak perempuan yang pernah menjadi tetangganya dulu.


"Apakah Bima merindukan Febby?" tanya Rania mengulas senyumnya, sekilas ia menatap ke arah putranya.


Bima menganggukkan kepala.


"Kita berdoa saja, semoga nanti Bima bisa bertemu dengan Febby. Mama juga kemarin membuat sebuah kesalahan. Kenapa tidak meminta kontak Febby sebelum gadis kecil itu benar-benar pergi meninggalkan kita," ujar Rania yang sedikit merutuki kebodohannya.


"Apakah benar Bima akan dipertemukan lagi dengan Febby, Ma. Bima baru sebentar merasakan pertemanan dengan Febby, tetapi dia harus pindah sekolah karena ikut bersama papanya," ucap Bima memasang wajah sedihnya.


"Semoga saja Bima bisa bertemu dengan Febby. Jika tidak sekarang, mungkin setelah dewasa nanti," ujar Rania mencoba membujuk putranya.


"Setelah dewasa nanti ... apakah Febby masih ingin berteman dengan Bima?" tanyanya.


"Tentu saja. Anak mama, Bima Satria Aryaduta, pasti akan semakin tampan. Dan Febby tentunya dengan senang hati menerima pertemanan dari Bima," tutur Rania.


"Bukankah dalam pertemanan itu kita tidak boleh memandang rendah orang lain? Jika Bima tidak tampan, berarti Bima tidak akan mendapatkan teman?" tanya Bima lagi.


Fokus Rania mengemudi pun menjadi teralihkan oleh setiap pertanyaan yang Bima lontarkan. Rania melirik arloji yang ada di pergelangan tangan kirinya. Waktu masih cukup panjang, dan Rania pun memilih menepikan mobilnya sejenak, demi menjaga keselamatan mereka karena Rania yang sulit fokus mengemudi saat dilempari oleh banyak pertanyaan.


Rania akan menggunakan waktu sepuluh menitnya untuk menjawab pertanyaan putra sambungnya itu, dan membujuk Bima untuk tidak bersedih lagi.


"Sayang, ucapan mama tadi jangan disalahartikan ya, Nak. Kita itu wajib berteman dengan siapa pun tanpa memandang rendah orang lain. Mau dia kaya atau miskin, mau jelek atau cantik, mau dia pintar ataupun bodoh, semua harus disamaratakan. Dalam berteman, tidak boleh pilih-pilih," ucap Rania menasihati putranya.


"Semua orang berhak berteman dengan siapapun. Apakah Bima mengerti?" lanjutnya.


"Mengerti, Ma." Bima menimpali ucapan ibunya.


"Mama yakin, Febby pasti akan sangat senang bertemu dengan Bima dan juga berteman dengan Bima jika nanti kalian dipertemukan kembali. Febby anak yang baik, hanya saja kemarin, ia dipaksa oleh keadaan bersikap tidak baik dengan Bima," ujar Rania.


"Iya, Ma."


"Mulai sekarang, Bima jangan bersedih lagi ya, Nak. B


Kalau Bima sedih, nanti pas belajarnya Bima tidak berkonsentrasi, terus Bima mendapatkan nilai yang kecil," ucap Rania memberikan nasihat serta arahan pada putra sambungnya.


"Baiklah, Ma. Bima janji tidak akan bersedih lagi," timpal Bima yang mulai mengulas senyumnya.


"Kalau Bima sudah tersenyum seperti ini, mama menjadi senang dan bersemangat melihat Bima yang kembali ceria." Rania kembali menghidupkan mesin mobilnya. Ia pun langsung melajukan kendaraan roda empat tersebut ke jalanan.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2