
Keesokan harinya, Rania kembali merasakan mual. Kali ini, Bu Isna membantu merawat anaknya. Memberikan minuman pereda rasa mual dan memijat kepala putrinya itu untuk menghilangkan rasa pusing yang di deritanya.
"Apakah mama waktu mengandungku dulu juga merasakan seperti ini?" tanya Rania.
"Tentu saja, semua ibu hamil pasti merasakan morning sickness. Hanya saja ada beberapa ibu hamil yang tidak mengalami hal seperti itu," ucap Bu Isna.
"Ma, Rania minta maaf jika Rania melakukan banyak kesalahan dan sering mengecewakan mama. Sekarang Rania mengerti, betapa susahnya menjadi seorang ibu. Saat di awal kehamilan harus diterpa dengan rasa mual. Nanti saat kehamilan sudah membesar, tentunya tidur tidak nyenyak karena susah untuk mencari posisi yang nyaman. Mau berjalan juga harus membawa beban beberapa kilo di bagian perut depan. Setelah melahirkan, dan bahkan setelah dewasa pun seorang ibu masih mengemban tugas berat untuk anaknya," ujar Rajia panjang lebar.
"Iya, Nak. Sekarang kamu mengerti kan bagaimana sulitnya menjadi seorang ibu. Ini baru awalnya saja, belum nanti-nantinya," ucap Bu Isna sembari mengusap puncak kepala putrinya.
Tak lama kemudian, Alvaro dan Bima pun muncul dari balik pintu. Keduanya sudah rapi, bersiap untuk pergi.
"Mas sudah benar-benar sembuh?" tanya Rania melihat suaminya yang telah rapi mengenakan setelan kantornya.
"Iya. Lagi pula aku tidak enak dengan papa jika harus menghandle perusahaan sendirian. Juni masih sakit, biasanya kan Juni yang selalu aku titipi urusan kantor," ujar Alvaro menjawab pertanyaan sang istri.
"Kalau begitu Mas Varo hati-hati bawa mobilnya. Jangan ngebut!" ucap Rania memberikan peringatan pada sang suami.
"Iya, Sayang. Mas sama Bima berangkat dulu ya," ucapnya sembari mengecup kening Rania, lalu kemudian menyalami mertuanya yang ada di sana.
"Berangkat dulu, Ma." Alvaro berpamitan dengan Bu Isna.
"Bima berangkat ke sekolah dulu ya Ma, Nenek," ujar Bima menyalami tangan Rania dan juga Bu Isna secara bergantian.
"Iya, Sayang. Hati-hati di jalan ya," timpal Rania dan Bu Isna serentak.
Kedua pria berbeda generasi itu pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut.
Kini tinggal lah Rania dan Bu Isna di dalam kamar. Kali ini, Bu Isna yang merawat Rania sementara dirinya berada di sana.
Bu Isna membuatkan wedang jahe untuk Rania agar mengurangi rasa mual yang kini dialami oleh putrinya. Rania bahkan menunjukkan sikap manjanya pada sang ibunda tanpa rasa malu sedikit pun.
....
Sore ini, Rania sudah duduk di balkon yang menghadap ke jalanan. Kali ini, wanita itu menunggu penjual makanan yang lewat di depan rumahnya.
Tak lama kemudian, muncul gerobak penjual siomay. Rania pun langsung memanggil penjual siomay tersebut.
"Pak! Tunggu Pak!" seru Rania.
"Tunggu di sini saja," lanjutnya meminta penjual siomay itu untuk mendekat sedikit pada pagar di depan rumahnya.
Rania langsung turun sembari membawa mangkuk. Wanita itu terlihat sangat antusias ingin membeli makanan tersebut.
"Bima mau siomay, Nak?" tawar Rania.
__ADS_1
"Mau, Ma." anak laki-laki itu menimpali.
"Mama mau siomay?" tanya Rania kepada Bu Isna.
Bu Isna menganggukkan kepalanya, lalu kemudian kembali menatap layar televisi yang ada di hadapannya. Menonton drama kesayangannya.
Rania berjalan keluar membawa wadah yang ada di tangannya. Ia pun menyodorkan wadah tersebut, lalu kemudian menyebutkan seberapa banyak harga yang hendak ia beli.
Sembari menunggu, Rania kembali menatap ke arah jalanan. Tak lama kemudian, penjual pun memanggil Rania sembari menyodorkan pesanannya yang telah siap.
"Ini Neng," ujar penjual itu.
"Ah iya." Rania langsung menerima piring yang berisikan siomay. Lalu kemudian membayar pesanannya itu.
"Terima kasih, Neng."
"Sama-sama."
Setelah mendapatkan makanannya, Rania kembali masuk ke dalam rumah. Ia menikmati makanannya bersama dengan Bima dan juga Bu Isna.
Siomay pun telah habis tak tersisa. Wanita itu meletakkan piring kotornya ke wastafel. Ia membuka kulkas, melihat es krim yang ada di sana. Rania juga melahap es krim tersebut, sembari melangkah kembali ke ruang tengah, menghampiri ibunya.
"Belum kenyang, Nak?" tanya Bu Isna melihat Rania kembali memakan es krim setelah menghabiskan siomay dalam porsi yang lumayan besar.
"Yang ini pengganjal perut, Ma." Rania menimpali ucapan ibunya.
"Entahlah." Rania mengendikkan bahunya.
Tak lama kemudian, ponsel milik Rania berdering. Wanita itu menatap layar pipih itu sejenak, saat melihat yang menelepon adalah suaminya, Rania langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Ada apa, Mas?" tanya Rania.
"Mas sebentar lagi akan pulang. Kamu mau titip apa?" ujar Alvaro dari seberang telepon.
"Belikan aku mie ayam, Mas. Aku lapar sedari tadi tidak berselera makan," ucap Rania.
Bu Isna dan Bima yang ada di samping Rania pun langsung tercengang menatap wanita itu. "Apa katanya tadi? Tidak memiliki selera makan? Bukankah tadi dia baru saja menghabiskan siomay dengan porsi yang lumayan banyak. Dan sekarang, bahkan es krim yang ada di tangannya pun belum habis," gumam Bu Isna pelan sembari menggeleng-gelengkan kepala.
Sementara Bima hanya mengendikkan bahunya, seolah sudah tahu jika ibunya sering kali bertingkah seperti itu.
"Ya sudah, nanti pas pulang Mas belikan. Mana mama dan Bima?" tanya Alvaro.
"Ini ... ada di sampingku. Kami sedang menonton televisi," jawab Rania.
"Ya sudah, kalau begitu Mas tutup teleponnya ya. Nanti pas pulang kerja, Mas akan membelikan kalian mie ayam," ujar Alvaro yang sesaat kemudian mengakhiri panggilannya.
__ADS_1
Rania kembali meletakkan ponselnya ke samping. Lalu kemudian memakan es krim yang ada di tangannya.
"Ckckck ... Mama baru tahu, orang yang tidak berselera makan bisa menghabiskan siomay dalam porsi besar," ucap Bu Isna menatap putrinya tak percaya.
"Yang tadi itu hanya pengganjal perut saja, Ma. Lagi pula kan ini permintaan si dedek," ujar Rania mengusap perutnya yang masih rata.
"Kalau wanita mengidam, itu cuma satu saja. Kalau seluruh makanan dilahap habis, itu bukan ngidam namanya tapi serakah," tukas Bu Isna memprotes kelakuan putrinya.
Rania terkekeh geli mendengar ucapan ibunya. Sementara Bima, anak laki-laki itu juga ikut tertawa .
"Apa mamamu setiap hari seperti ini, Bima?" tanya Bu Isna yang merasa penasaran.
Bima tidak menjawab. Anak laki-laki itu hanya bisa mengulum senyumnya sembari menatap ke arah Rania. Sementara Rania, meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya, mengisyaratkan agar putranya tetap diam dan tak berbicara apapun.
....
Di lain tempat, Alvaro masih berkutat dengan setumpuk dokumen yang ada di meja kerjanya. Pria itu benar-benar sibuk, apalagi sang asisten tak bisa masuk karena kondisinya yang kurang memungkinkan untuk cepat kembali bekerja.
"Argghh ... bisa pecah kepalaku jika tidak ada Juni," gumamnya sembari memijat pelipisnya.
Shinta juga ikut serta dalam membantu menggantikan tugas Juni. Namun, pekerjaannya tak segesit Juni karena wanita itu juga memiliki tugasnya tersendiri, tak bisa diselesaikan dengan cepat.
Terdengar suara pintu yang diketuk. Alvaro menyuruh masuk seseorang yang ada di luar ruangannya. Tak lama kemudian, Shinta menampakkan batang hidungnya. Ia berjalan dengan cepat, sembari membawa beberapa dokumen yang diminta oleh Alvaro.
"Ini berkas-berkas yang Pak Alvaro minta," ucap Shinta.
Alvaro menerima dokumen yang diberikan oleh Shinta. Memeriksa dokumen tersebut satu persatu. Tak lama kemudian, Alvaro memejamkan matanya saat menemukan kesalahan dalam pengetikan tanggal yang tertera di sana.
"Shinta ... Shinta ... Shinta ...." Alvaro menyebutkan nama sekretarisnya yang awalnya lembut lama kelamaan dengan nada yang semakin meninggi.
"A-ada apa, Pak?" tanya Shinta yang mulai bergetar. Ujung jemarinya mulai dingin, karena menyadari kemarahan dari atasannya itu.
"Tidak bisakah kamu fokus dalam pekerjaanmu? Ini apa?!" tukas Alvaro yang memperlihatkan kesalahan wanita tersebut.
"Ini tanggal 31 Shinta, bukan tanggal 3. Ayolah! Bekerja dengan serius. Seharusnya kamu memeriksanya terlebih dahulu sebelum memberikannya kepada saya," ujar Alvaro menghela napasnya.
"Ma-maafkan saya, Pak." Shinta tertunduk karena takut.
"Yang mana saja yang harus saya maafkan? Kesalahan kamu sudah berkali-kali. Apa yang kamu pikirkan, Shinta! Ayolah, fokus pada pekerjaanmu!" Alvaro mengusap wajahnya dengan kasar. Sungguh, ia benar-benar pusing kali ini tanpa asisten kesayangannya.
"Segera revisi ini! Akan saya tunggu!" titah Alvaro meletakkan dokumen tersebut dengan sedikit menghempaskannya.
"B-baik, Pak." Shinta kembali mengambil dokumen tersebut di atas meja, lalu kemudian pamit undur diri dari hadapan Alvaro.
Alvaro melihat Shinta yang baru saja keluar. Entah mengapa, hari ini kinerja dari sang sekretaris tidak seperti biasanya. Shinta yang dikenal ulet, bahkan sekarang menjadi sedikit ceroboh dan juga teledor.
__ADS_1
Bersambung ....