Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 93. Izin Suami


__ADS_3

Rania kembali masuk ke dalam mobil setelah mengantarkan Bima ke dalam kelasnya. Alvaro tersenyum menatap istrinya.


"Sayang, bolehkah aku memberikan saran?" tanya Alvaro sembari melakukan mobilnya.


"Saran apa, Mas?" tanya Rania menatap sang suami.


"Bisakah kamu tidak terlalu akrab dengan tetangga kita? Maksudku wanita yang baru saja pindah beberapa hari yang lalu," ujar Alvaro.


"Oh, si Mila. Emang kenapa, Mas?" tanya Rania yang merasa penasaran.


"Tidak ada apa-apa. Mas hanya tidak ingin ku terlalu dekat dengannya. Sepertinya dia bukanlah orang yang baik," tutur Alvaro.


Bukannya menurut, Rania justru terkekeh mendengar penuturan suaminya yang dianggap seperti lelucon. Bagi Rania, Alvaro seperti tengah melontarkan sebuah lelucon.


"Kenapa kamu tertawa? Mas berucap serius, Sayang." Alvaro menatap istrinya sekilas, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke depan.


"Aku tahu kalau tetangga kita memang agak sedikit aneh, Mas. Tetapi bukan berarti kamu bisa mengatakan bahwa dia tidak baik. Jangan menilai seseorang hanya dari luarnya saja, Mas."


Mulut Alvaro sedikit menganga. Bukankah dia baru saja memberi saran pada sang istri. Namun, malah sebaliknya. Justru Rania lah yang menasihati Alvaro.


"Jika menurutmu dia baik, ya sudah tidak apa-apa. Mas bukan langsung menuduh dia tidak baik, hanya saja sekedar mengingatkan agar tidak terlalu akrab dengannya," ujar Alvaro.


"Baiklah, Mas."


Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai oleh Alvaro pun tiba di klinik. Pria itu segera menepikan mobilnya. Rania menyalami tangan suaminya sebelum turun dari mobil.


"Nanti pulangnya mau mas jemput?" tawar Alvaro.


"Tidak perlu, Mas. Aku bisa naik taksi saja. Lagi pula aku pulang lebih dulu dari pada Mas Varo," ujar Rania.


"Ya sudah, kalau begitu kerjanya hati-hati ya, Istriku. Jangan sampai lupa makan siang," ucap Alvaro sembari tersenyum simpul.


"Iya. Mas Varo juga jangan lupa makan siang," balas Rania yang kemudian turun dari kendaraan tersebut.


Rania melambaikan tangannya saat mobil yang dikendarai oleh Alvaro mulai melaju ke jalanan. Saat berbalik, Rania dikejutkan dengan keberadaan Hilda di belakangnya.


"Kamu selalu saja mengejutkan aku!" gerutu Rania kesal.


"Wah, pengantin baru. Wajahnya berseri-seri sudah melewati yang namanya malam pertama nih," goda Hilda menyenggol lengan Rania sembari menaik-turunkan alisnya.


"Kamu mau? Makanya nikah," ujar Rania yang tak ingin kalah membalas ucapan temannya itu.


Dengan cepat, Hilda langsung mengalungkan lengannya ke leher Rania, hingga membuat Rania tertunduk sembari terbahak-bahak.


"Jangan mencoba menggodaku dengan kalimat itu, kamu tahu pertahanan ku hampir runtuh saat melihatmu bersanding dengan Alvaro. Membuatku ingin langsung mengajak tunanganku untuk segera menggelar pesta pernikahan!" tutur Hilda.


Mendengar ucapan Hilda, membuat Rania kembali terkekeh. Mulai sekarang, dia sudah bisa menggoda Hilda dengan cara memperlihatkan sesuatu yang membahagiakan seusai menikah. Maka dari itu, tentunya yang lain juga akan merasa iri dan ingin segera dihalalkan oleh pasangannya masing-masing. Yang jomblo? Silakan menangis di pojokan. (Maaf sengaja🤣)


....


Di lain tempat, Alvaro baru saja memarkirkan kendaraannya. Pria itu turun dari mobilnya dengan sedikit merapikan jas serta dasi yang ia kenakan.


Setelah menikah, Alvaro terlihat lebih bersinar. Bagaimana tidak? Ia selalu mendapatkan asupan setiap malamnya dari sang istri. Kini ia tak lagi menyandang status duda, dan hasratnya juga tentunya berlabuh pada wanita yang saat ini mungkin tengah memeriksa gigi pasiennya.

__ADS_1


Semua yang ada di sana langsung menunduk hormat saat berpapasan dengan Alvaro. Sang asisten pun langsung menghampiri atasannya. Pria itu mengekor di belakang Alvaro.


Tinggg ...


Lift terbuka, kedua pria tampan itu masuk ke dalam lift tersebut. Juni, sedari tadi tampak tertahan ingin mengucapkan sesuatu. Saat pintu lift itu tertutup, ia pun langsung mengutarakan apa yang ingin ia katakan.


"Pak Bos, terlihat bersinar setelah menikah," celetuk Juni yang mencoba membuka pembicaraan.


"Tentu saja, karena asupan terpenuhi," timpal Alvaro yang tampak angkuh. Bahkan pria tersebut tak segan-segan mengangkat sedikit dagunya.


Melihat hal tersebut, membuat Juni terkekeh geli. "Iya, maksud saya memang itu, Pak. Terlihat jelas di wajah Pak Alvaro," ujar Juni.


Tingg ...


Pintu lift terbuka. Alvaro pun langsung keluar dari ruangan sempit itu bersama dengan sang asisten yang mengekor di belakangnya.


Saat hendak menuju ke ruangannya, ia melihat Shinta yang langsung beranjak dari tempat duduknya saat melihat kedatangan atasannya.


"Selamat datang kembali Pak Alvaro,"sapa Shinta sembari memperlihatkan senyum terbaiknya.


Alvaro berhenti sejenak, lalu kemudian membalikkan badannya menghadap sang sekretaris. "Sapaanmu ... terdengar memiliki makna sesuatu. Seperti meminta bonus atas kerja keras yang kalian lakukan kemarin," ujar Alvaro menatap sekretaris dan asistennya secara bergantian.


Keduanya langsung tersenyum lebar saat atasannya menyadari akan hal itu. Sementara Alvaro hanya bisa menggelengkan kepala. Sekretaris dan asistennya ini memang sangat kompak.


"Kamu ... bawa salinan dokumen yang dikirimkan padaku dalam bentuk cetak," ujar Alvaro berbicara pada Shinta.


"Dan kamu ... ikut juga ke dalam ruangan!" titah Alvaro yang kini berucap dengan Juni.


Juni mengikuti Alvaro masuk ke dalam ruangan. Sementara Shinta, mengambil file yang sudah ia cetak tadi, lalu kemudian langsung menyusul masuk ke dalam ruangan atasannya.


.....


Rania meregangkan lehernya yang terasa kaku. Wanita itu melepaskan kaos tangan medis yang ia gunakan. Lalu kemudian berjalan menuju ke wastafel untuk membasuh tangannya.


Tak lama kemudian, datang Hilda yang tiba-tiba menyusul Rania. Rania menoleh ke arah Hilda, lalu kemudian mengernyitkan keningnya dengan kemunculan Hilda dengan wajah yang tampak sedikit panik.


"Bu Dokter, pria itu ... maksudku dia pria yang pernah kamu tolak sebelumnya saat kemari. Dia kembali datang ke sini, tetapi dengan penampilan yang sedikit kacau," bisik Hilda di akhir kalimatnya.


"Dia bilang ingin bertemu dengan Bu Dokter,"lanjut gadis tersebut.


Rania kembali mengernyitkan keningnya. Ia bisa menebak yang dimaksud oleh Hilda adalah Dion. Tetapi, mau apa lagi pria itu datang menemuinya.


Rania mengeringkan tangannya menggunakan handuk kecil, ia pun berjalan keluar untuk menemui Dion. Ingin tahu apa tujuannya datang kemari dan penasaran akan penampilan yang kacau seperti yang dijelaskan oleh Hilda tadi.


Di kursi tunggu, Dion tertunduk lesu. Pria tersebut memainkan kuku jemarinya sembari menunggu kedatangan Rania. Terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya, membuat Dion pun langsung beranjak dari tempat duduknya. Ia mengembangkan senyum karena Rania masih mau menemuinya.


Rania menatap penampilan Dion dari atas hingga bawah. Pria itu benar-benar kacau. Baju yang terlihat sedikit kotor, serta jambang yang telah memenuhi dagunya.


"Kamu ...." Rania tercekat. Ia bahkan hampir tidak mengenali pria yang di hadapannya ini adalah mantan kekasihnya dulu.


"Iya, beginilah aku sekarang," ujar Dion yang seolah pasrah akan keadaannya. Terlihat matanya yang sedikit memerah. Ia malu, akan tetapi ia juga butuh Rania untuk saat ini.


"Setelah bercerai dari Tika, aku menjadi hancur. Aku dipecat dari rumah sakit. Aku tidak memiliki apa-apa lagi, bahkan untuk mencari pekerjaan pun aku susah. Lisensi ku dicabut karena Tika yang merencanakan semuanya. Aku benar-benar hancur tak tersisa," tutur Dion mengusap wajahnya dengan kasar.

__ADS_1


Ada rasa kasihan saat mendengar cerita dari Dion. Hanya sekedar rasa iba, tidak untuk kembali mencintai.


"Jadi, sekarang bagaimana?" tanya Rania.


"Sejujurnya aku ingin kembali kepadamu, tetapi mendengar bahwa kamu sudah menikah dengan pria itu, membuatku mengurungkan niatku," ujar Dion.


Ibarat pepatah, sudah jatuh lalu tertimpa tangga. Begitulah kalimat yang tepat menggambarkan Dion saat ini. Alasan ia bercerai adalah untuk mengejar Rania kembali. Namun, ia terlambat, karena Rania yang ternyata sudah menikah tanpa sepengetahuannya.


Andaikan saja, hari itu ia tidak diculik, mungkin Dion lah yang akan menculik Rania di hari pernikahannya. Namun, semua niat jahat memang tidak akan berhasil. Dan sekarang, Dion tengah menikmati kehancurannya. Jatuh miskin dan tidak mempunyai apa-apa lagi.


"Lantas, kedatanganmu kemari tujuannya apa?" tanya Rania yang tidak ingin berbasa-basi.


"Aku ingin meminta maaf padamu, dan sekaligus ingin meminta tolong, karena saat ini kamu lah yang bisa membantuku," tutur Dion.


"Membantu apa?" tanya Rania yang merasa penasaran.


"Bisakah kamu meminjamkan uang padaku. Cukup untuk ongkos aku pulang ke kampung. Aku ingin pulang, tapi aku tidak mempunyai uang. Aku janji, akan mengembalikannya padamu," jelas Dion.


"Kalau begitu, tunggu sebentar. Aku ingin menelepon suamiku terlebih dahulu," ujar Rania.


"Su-suamimu? U-untuk apa?" tanya Dion terbata-bata.


"Untuk meminta izin," timpal Rania singkat.


Rania menempelkan ponsel tersebut di daun telinganya. Tak lama kemudian, terdengar suara bariton suaminya dari seberang telepon.


"Ada apa, Istriku?" tanya Alvaro dengan begitu lembut.


"Mas, Dion ada di klinik. Dia ingin pulang ke kampung, akan tetapi tidak mempunyai uang. Bolehkah aku meminjamkan uang kepadanya?" tanya Rania.


"Minta rekeningnya, biar aku yang transfer," ucap Alvaro.


"Mana rekeningnya?" tanya Rania pada Dion.


"Kalau bisa, aku minta cash saja," ucap Dion yang terdengar pelan karena pria itu merasa benar-benar kehilangan muka.


"Dia minta cash saja, Mas. Tidak apa-apa, pakai uang ...."


"Tunggu di sana, akan mas antarkan uangnya," ujar Alvaro yang langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Rania kembali memasukkan ponselnya ke dalam sakunya. Dion melihat Rania sembari tersenyum.


"Sepertinya kamu memang benar-benar mencintai suamimu. Bahkan untuk memberikan uang kepadaku saja, kamu harus minta izin," ucap Dion.


"Aku bukanlah wanita lajang lagi, dan Mas Varo adalah suamiku, kepala keluarga. Sudah seharusnya jika ada apa-apa aku memberitahukan hal ini padanya. Aku tidak berniat meminta dia yang meminjamkan uangnya untukmu. Aku berniat untuk menggunakan uangku saja."


"Namun, aku ingat ucapan mama sebelumnya. Masalah keuangan atau apapun itu, harus atas izin suami. Meskipun uang tersebut penghasilan kita sendiri, tetaplah meminta izin pada suami terlebih dahulu untuk meminjamkannya pada orang lain. Apalagi kamu dan aku memiliki sebuah kisah di masa lalu, tentu saja akan menjadi pertikaian nantinya jika tak diberitahukan terlebih dahulu," tutur Rania menjelaskan panjang lebar.


Dion menghela napasnya. Pria itu membuang muka dan memilih menatap ke arah lain. "Rania, betapa bodohnya aku pernah mencampakkan mu dulu," batin Dion.


Bersambung ....


.

__ADS_1


__ADS_2