
TOKKK ... TOKKK ....
Alvira yang baru saja selesai memberi ASI pada bayinya. Ia hendak membaringkan Abian di atas kasur. Lalu mendengar suara ketukan pintu yang berasal dari kamarnya.
"Tunggu sebentar," ujar Alvira.
Setelah membaringkan Abian, memposisikan putranya itu di tempat ternyaman, ia pun segera berjalan dan membukakan pintu. Alvira melihat salah satu pelayan yang datang sembari membawa sebuah box yang berukuran sedang serta setangkai mawar merah yang ada di atas box tersebut.
"Bi, ini ...." Alvira melihat sesuatu yang ada di tangan pelayan tersebut.
"Iya, Non. Dari pengirim yang sama," ujar Bik Asih, pelayan yang sudah lama bekerja di rumah itu, sedari Alvira masih kecil.
"Ini mau ditaruh di mana, Non?" tanya Bik Asih.
Alvira pun menunjuk meja yang ada di dalam kamarnya. "Letakkan di sana saja, Bi."
Bik Asih pun langsung melangkahkan kakinya ke arah yang ditunjuk oleh Alvira. Ia meletakkan box tersebut di atas meja. Sudah banyak kiriman dari Arjuna yang ia letakkan di sana.
__ADS_1
"Kalau begitu, Bibi permisi dulu, Non." Bik Asih pamit undur diri dan segera keluar dari kamar Alvira.
Sepeninggal Bik Asih, Alvira mematung menatap kiriman dari Arjuna yang kesekian kalinya. Setiap kali mendapatkan kiriman itu, Alvira merasa sedikit bingung. Ada rasa kesal, sedih, dan bahkan senang.
Namun, yang lebih mendominasi adalah rasa sedihnya. Entah mengapa ia terlalu bodoh dulunya, lebih memilih Andre dibandingkan Arjuna yang memiliki pengorbanan yang jauh lebih besar dibandingkan mantan suaminya terdahulu.
Ia mengambil setangkai bunga mawar serta sepucuk surat yang ada di atas box tersebut. Dan lagi-lagi, kata-kata penyemangat itu pun kembali ia tuliskan untuk menyemangati Alvira yang saat ini mungkin sedang merasa lelah dengan kehidupannya.
Segaris senyum terbit di wajah wanita itu tatkala ia membaca kalimat yang membuatnya tersipu. Namun, masih pantaskah ia tersipu malu dengan kata-kata itu?
Alvira meremas surat tersebut, ia membuangnya ke dalam sampah. Alvira bertekad bahwa dirinya tak boleh merasa melayang sedikit pun.
Pandangan Alvira mengabur, ia menyeka air mata yang menetes membasahi wajah cantiknya. Samar-samar Alvira mendengar suara mobil yang baru saja tiba. Alvira pun melihat dari jendela, dan benar saja jika itu adalah mobil milik orang tuanya. Keduanya baru pulang dari rumah Alvaro.
Alvira segera menatap dirinya di depan cermin, memastikan tidak ada jejak air mata yang terlihat sedikit pun. Ia langsung keluar dari kamarnya, menemui ibunya yang baru saja tiba.
"Bagaimana Ma? Apakah semua barang-barangnya sudah diangkut?" tanya Alvira saat melihat Arumi menginjak ruang tengah.
__ADS_1
"Iya, Nak. Ukuran rumahnya juga besar. Ya ... semoga mereka akan baik-baik saja di sana tanpa pengganggu seperti yang ada di apartemen kemarin," ucap Arumi menjatuhkan dirinya di sofa.
Alvira menanggapi ucapan ibunya dengan menganggukkan kepala. Untunglah saudara kembarnya itu tidak terlena pada wanita lain selain istrinya. Untuk kegagalan dalam rumah tangga, cukup Alvira saja yang mengalaminya. Alvaro jangan sampai seperti itu juga.
"Abian sudah tidur?" tanya Arumi.
"Iya, Ma. Baru saja tidur," timpal Alvira.
"Mama benar-benar lelah, padahal seharian ini tidak melakukan apapun kecuali melihat Rania dan pelayan yang ada di sana menyusun barang-barang," ujar Arumi sembari terkekeh.
"Mau bagaimana lagi, Ma. Mama kan sudah termakan usia, wajar saja kalau mama itu mudah lelah. Sekarang mama istirahat saja," ucap Alvira.
"Iya ya ... Mama ini sudah tua tapi terus menerus merasa muda." Arumi terkekeh.
"Ya sudah, kalau begitu mama istirahat dulu. Kamu juga, tidurlah sana. Temani Abian di kamar," lanjut Arumi.
"Iya, Ma." Alvira menimpali ibunya.
__ADS_1
Alvira melihat ibunya berjalan ke kamar menyusul ayahnya. Tak lama kemudian, wanita itu pun naik ke atas untuk menemui putranya di kamar.
Bersambung ....