
"Ma, nenek masih lama ya sampainya?" tanya Bima mendongak menatap wajah Rania.
"Mungkin sebentar lagi, Sayang. Kita tunggu saja ya, Nak." Rania mengulas senyum, mengusap kepala putranya yang sudah tak lagi diperban.
Bima menganggukkan kepala. Pandangannya selalu terarah pada pintu gerbang yang masih tertutup rapat. Berharap nenek dan kakeknya segera tiba, karena Bima sudah benar-benar rindu pada keduanya.
"Yang jemput nenek, Pak Darman kan Ma?" tanya Bima lagi.
"Iya, Sayang. Kemarin pagi-pagi sekali papa menyuruh Pak Darman untuk menjemput nenek," jelas Rania.
"Apakah Bima belum merasa lapar, Nak? Ini sudah waktunya makan siang," lanjut Rania sembari melirik jam yang ada di layar ponselnya.
"Nanti saja, Ma. Kita tunggu nenek sebentar lagi. Bima ingin makan siang bersama nenek," ucap anak laki-laki tersebut.
"Baiklah kalau begitu." Rania menganggukkan kepalanya. Sebenarnya ia sudah merasa pegal berada di teras menemani putranya yang sedari tadi menunggu kedatangan kedua orang tuanya.
Namun, meninggalkan Bima sendirian juga tidak mungkin. Melihat bagaimana putra sambungnya itu sangat menghargai kedua orang tua Rania, tentu saja membuat wanita itu merasa sangat bahagia. Bima yang dapat menerima kedua orang tuanya dengan senang hati, begitu pula dengan kedua orang tua Rania yang sangat menyayangi Bima, meskipun anak laki-laki itu bukanlah darah daging Rania.
Rania mengusir rasa bosannya dengan membaca buku. Sementara Bima, anak laki-laki tersebut tengah menonton sebuah video edukasi tentang seputar hewan dari ponselnya.
Setelah cukup lama, Rania pun menutup bukunya. Matanya lelah dan mulai mengantuk. Rania pun menutup buku yang ada di tangannya, lalu kemudian meletakkan buku tersebut di atas meja. Tangannya menyentuh layar ponsel hanya untuk melihat jam yang ada di sana.
"Sudah satu jam berlalu, tetapi kakek dan nenekmu belum sampai juga," gumam Rania.
Bima mendengar hal tersebut. Ia menjeda video yang ditontonnya sejenak, lalu kemudian mengalihkan pandangannya kepada sang ibunda.
"Kenapa nenek lama sekali ya, Ma?" tanya Bima.
"Entahlah, Nak. Coba mama telepon nenekmu sebentar," ujar Rania yang mengotak-atik ponselnya. Mencari kontak Bu Isna dan langsung menghubungi ibunya itu.
Kening Rania berkerut, saat nomor ibunya tidak aktif. Wanita tersebut kembali menghubungi kontak itu, hingga percobaan ketiga kali, akhirnya panggilan itu pun tersambung.
"Halo, Nak." terdengar suara Bu Isna dari seberang telepon.
"Halo, Ma. Kenapa nomor mama sangat sulit dihubungi tadi?" tanya Rania yang sudah panik duluan.
"Tadi mungkin tidak ada sinyal, Nak." Bu Isna menimpali.
"Nenek, nenek sudah sampai di mana?" Bima langsung menanyai neneknya dengan suara yang sedikit keras, karena ponsel tersebut masih berada di genggaman Rania.
__ADS_1
Melihat Bima yang tampaknya sangat ingin berbicara dengan Bu Isna, membuat Rania pun menyerahkan ponsel tersebut kepada Bima. Membiarkan anaknya berbicara langsung pada Bu Isna.
"Nenek sudah sampai di mana?" Bima mengulangi pertanyaannya setelah benda pipih tersebut berada di salah satu daun telinganya.
"Nenek masih jauh, Cucuku . Mungkin nenek akan tiba sore hari," timpal Bu Isna.
"Bima sedari tadi menunggu nenek. Bima tidak sabar ingin bertemu dengan kakek dan juga nenek," ucap anak laki-laki tersebut.
"Tidak usah menunggu nenek dulu. Kami masih lama tiba di sana," ujar Bu Isna.
"Baiklah, Nek. Nenek dan kakek hati-hati di jalan ya."
"Iya, Cucuku."
Bima kembali menyerahkan ponsel tersebut pada ibunya. Rania tersenyum, lalu kemudian kembali menempatkan benda pipih tersebut di salah satu telinganya.
"Mama masih jauh ya?" tanya Rania.
"Iya, soalnya kami berangkatnya sudah siang. Sebaiknya ajak anakmu tidur siang dulu. Nanti dia lelah terlalu lama menungguku," ucap Bi Isna.
"Dia bahkan hampir melewatkan makan siangnya hanya karena menunggu mama dan papa tiba di sini," ungkap Rania sembari terkekeh.
Mendengar ocehan ibunya tak membuat Rania tersinggung sama sekali. Rania justru merasa senang, karena mereka saling menyayangi.
"Iya, Ma. Kalau begitu hati-hati di jalan ya, Ma. Aku tutup dulu teleponnya," ucap Rania yang kemudian menutup panggilan tersebut.
Rania kembali menyimpan ponselnya di saku dress yang ia kenakan. Wanita tersebut melirik ke arah Bima yang tengah menatapnya sembari mengulas senyum.
"Ma, kata nenek, dia akan sampai sore hari. Bima sekarang sudah merasa lapar. Bagaimana kalau kita makan siang tanpa harus menunggu nenek?" tanya Bima yang seakan meminta izin pada ibu sambungnya itu.
"Iya, Sayang. Nenek akan tiba nanti sore. Sebaiknya Bima makan siang dan setelah itu tidur ya, Nak."
Bima mengangguk patuh. Ibu dan anak itu pun langsung beranjak dari tempat duduknya, lalu kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.
Keduanya langsung menuju ke meja makan. Rania langsung mengambilkan nasi serta lauk-pauk untuk Bima.
"Ma, ...."
"Iya, Sayang ." Rania meletakkan piring tersebut di hadapan Bima.
__ADS_1
"Kalau badan Bima sudah lebih besar dari yang sekarang, mama tidak perlu lagi mengambilkan Bima nasi dan lauk ya, Ma. Biar Bima ambil sendiri. Bima tidak mau seperti papa yang terlalu manja dengan mama," ujar Bima yang mulai pandai mengkritik ayahnya.
Awalnya Rania mendengarkan Bima dengan seksama. Namun, setelah keluar kalimat Bima yang mengatai bahwa Alvaro manja, membuat ibu hamil tersebut langsung tergelak tawa seketika.
"Bagaimana Bima bisa menilai bahwa papa itu manja? " tanya Rania yang tidak bisa menahan tawanya.
"Iya, Ma. Papa itu memang manja. Makan saja mau diambilkan sama mama. Padahal papa kan sudah besar, sudah bisa cari uang. Kenapa tidak bisa mengambil makan sendiri," ucap Bima sembari mencebikkan bibirnya.
"Menyiapkan makanan untuk kalian, mengurus rumah, itu sudah menjadi tanggung jawab seorang wanita, Nak. Bukan karena papamu yang manja," tutur Rania yang mencoba memberikan penjelasan pada putra sambungnya.
"Termasuk mengurus adik nanti ya, Ma?" tanya Bima lagi.
"Iya, Nak." Rania menimpali seraya mengangguk kecil.
"Berarti mama akan sangat kelelahan jika mengurus adik nanti. Apalagi adik Bima kembar," ujarnya.
Rania tersenyum menatap anak laki-laki yang usianya hendak menginjak 6 tahun, akan tetapi pemikirannya sudah sangat dewasa.
"Rasa lelah mama akan terbayarkan saat melihat kalian rukun, Nak. Maka dari itu, nanti Bima jangan bertengkar dengan adik ya, Sayang."
"Tidak, Ma. Bima akan menyayangi adik dan menjaga kedua adik Bima dengan baik. Rasanya Bima tidak sabar menunggu adik Bima lahir," ujar Bima memasukkan satu suapan nasi beserta lauk ke dalam mulutnya.
"Sabar ya, Nak. Sebentar lagi adik Bima akan lahir. Mereka pasti senang memiliki abang yang baik seperti Bima," ucap Rania mengembangkan senyumnya.
Bukan hanya Bima saja, Rania juga sangat menantikan kehadiran sang buah hati. Rasanya ia tak sabar merasakan bagaimana nikmatnya melahirkan. Apalagi Tuhan memberikan dirinya anak kembar sekaligus.
Perjuangan antara hidup dan mati, demi membawa si kecil agar melihat dunia yang indah ini. Setelah ini, barulah ia tahu, bagaimana menjadi ibu yang sesungguhnya. Yang menaruhkan nyawa untuk sang buah hati.
"Oh iya, Ma. Tadi kan kata mama tugas seorang ibu adalah mengurus adik. Berarti tugas seorang ayah adalah mencari uang?" tanya Bima lagi.
"Iya, Sayang. Memangnya ada apa, Nak?" Rania balik bertanya.
"Kalau begitu, biarkan papa saja yang mencari uang, Ma. Mama tidak perlu bekerja lagi. Tugas mama adalah menghabiskan uang papa," ujar Bima diiringi dengan tawa kecil.
"Setuju!" Rania langsung mengacungkan ibu jarinya untuk Bima karena telah mengatakan hal yang cukup menghibur dirinya.
Mereka pun tertawa bersama, lalu kemudian kembali menyantap makanan yang ada di hadapan mereka dengan sesekali mengulas senyum.
Bersambung ....
__ADS_1