Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 200. Kericuhan Di Dapur


__ADS_3

Bel tanda pulang pun telah berbunyi. Bima bergegas memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Berdoa bersama, lalu kemudian berpamitan pulang pada gurunya.


Anak laki-laki itu keluar dari ruang kelasnya, melihat sang kakek yang sedang menunggunya di taman sekolah. Dari kemarin, dan juga hari ini Pak Hendrawan mengantarkan cucunya pergi ke sekolah. Menunggu sang cucu hingga ia pulang.


"Kakek, kenapa harus menungguku selama ini? Kakek harusnya pulang bersama Pak Darman tadi," ucap Bima merasa bersalah karena telah membuat kakeknya menunggu lama.


"Tidak apa-apa, Cucuku. Kakek hanya ingin bersama denganmu. Menunggumu di dalam kelas tidak membuat kakek jenuh. Justru kakek melihat-lihat lingkungan sekolahmu tadi. Dan menurut kakek, itu adalah hal yang menyenangkan. Ingin rasanya kakek kembali sekolah lagi," ujar Pak Darman seraya terkekeh geli.


"Kakek ada-ada saja. Masa mau sekolah lagi. Kalau kakek mau sekolah lagi, nanti sebangku dengan Bima saja ya," ucap Bima.


Pak Darman pun langsung tertawa mendengar ucapan cucunya itu. Hingga akhirnya, mereka pun beranjak dari tempat duduk saat melihat mobil yang dikendarai oleh Pak Darman telah tiba. Keduanya pun langsung masuk ke dalam mobil, saat Pak Darman membukakan pintu untuk kedua orang tersebut.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, mereka pun tiba di rumah. Bima dan Pak Darman turun dari mobil, berjalan menuju ke rumah.


Keduanya mendapati Rania dan juga Bu Isna yang sedang sibuk di dapur dengan menggunakan apron. Wanita berbeda generasi itu terlihat kotor bermandikan tepung.


"Mama dan nenek sedang buat apa?" tanya Bima.


"Sedang membuat pempek, Nak. Nenek dan juga Abian nanti malam akan ke sini. Mereka ingin makan pempek buatan nenek," jelas Rania.


"Wah, asyik! Berarti nanti malam di rumah akan ramai lagi. Bima sangat senang kalau ada adik Abian main ke sini," ucap Bima.


"Ya sudah, kalau begitu Bima gantilah baju dulu, Sayang. Nanti seragam Bima kotor kena tepung," ujar Rania.


"Baik, Ma." Anak laki-laki itu pun langsung berjalan menuju ke kamar, untuk mengganti seragam sekolahnya.


Pak Hendrawan berjalan mendekat sembari melipat kedua tangannya ke depan. Melihat istri dan anaknya yang sedang sibuk membuat makanan tersebut.


"Ada apa?" tanya Bu Isna menyadari tatapan sang suami yang penuh arti.


"Sudah ada yang siap dimakan?" tanya Pak Hendrawan yang langsung membuat Bu Isna geleng-geleng kepala.


"Buat pempek yang ikan atau cuma pempek kapal selam (isian telur)?" tanya Pak Hendra.

__ADS_1


"Buat dua-duanya, Pa. Pokoknya tunggu saja di luar atau ajak si Bima dulu main sana! Jangan ngerecokin mama dan Rania," ujar Bu Isna yang merasa risi dengan keberadaan sang suami.


Bu Isna sengaja menyuruh suaminya keluar karena pria tersebut selalu saja mengganggu pergerakannya di dapur. Pak Hendra yang memang selalu menempel pada Bu Isna, sementara Bu Isna paling enggan jika pekerjaannya diganggu, karena menurutnya tidak akan cepat selesai.


"Lihatlah mamamu ini, Rania. Saat papa bersamanya, ia selalu saja menyuruh papa menjauh. Di saat papa tidak bersama dengan mamamu, pasti mama mu akan mencari keberadaan papa," ucap Pak Hendrawan seraya melangkahkan kakinya ke depan. Sementara Rania, ia hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan kedua orang tuanya itu, yang tak pernah berubah sama sekali.


"Dasar alasan papamu saja seperti itu. Justru dia yang tidak bisa jauh-jauh dari mama. Waktu pas mama menginap di sini, papamu selalu saja menelepon mama, merengek meminta mama agar cepat pulang. Dengan alasan banyak pekerjaan lah, padahal saat mama tiba di sana, tidak ada pekerjaan apapun. Hanya saja dia meminta mama segera pulang karena tidak ingin ditinggal sendirian," jelas Bu Isna sembari menguleni adonan pempek tersebut, lalu kemudian mengambil adonan tersebut secukupnya, dibentuk lalu dimasukkan kocokan telur.


"Jangankan papa, Mas Varo juga begitu. Ya ... tapi mau bagaimana lagi. Namanya juga bapak-bapak bucin," celetuk Rania yang langsung mengundang tawa Bu Isna.


Rania mencoba mengikuti cara ibunya, mengambil adonan lalu kemudian memasukkan telur kocok kedalam adonan yang sudah dibentuk layaknya mangkok.


"Duh, aku tidak bisa melakukannya, Ma. Adonan telurnya meluber kemana-kemana," ujar Rania yang tampak kesusahan menutup kembali adonan tersebut setelah dimasukkan telur.


"Caranya jangan memasukkan kocokan telurnya terlalu banyak, secukupnya saja. Menutup kembali adonannya juga harus rapat, jika tidak telurnya juga akan bocor saat direbus," jelas Bu Isna mengajari putrinya.


Rania pun kembali mengambil adonan tersebut, dibentuk layaknya mangkok, lalu kemudian dimasukkan kocokan telur kembali. Namun, ibu hamil tersebut lagi-lagi melakukan kesalahan. Sehingga adonan itu pun tetap saja tidak bisa ditutup kembali.


"Aku menyerah, Ma. Tetap saja tidak bisa," ucap Rania seelah percobaan kedua kalinya.


Rania mengulum senyumnya. Ia masih berdiri di sana, tak bergerak sama sekali. Hal tersebut membuat Bu Isna pun langsung mengerutkan keningnya, melirik sang putri yang masih diam di tempat.


"Ada apa? Kenapa kamu diam saja di sana?" tanya Bu Isna.


"Cara membuat kuah cuko itu bagaimana, Ma?" Rania mengulum senyumnya.


Melihat hal tersebut membuat Bu Isna menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jadi selama ini kamu belum bisa membuat kuah cuko?"


"Ya kan kalau di kampung, Rania lebih suka tinggal makan saja, Ma. Lagi pula baru kali ini juga Rania membuatnya pakai tangan Rania sendiri. Biasanya kan dibuatkan oleh mama atau tinggal beli saja kan beres, tidak harus repot-repot lagi," papar Rania.


"Alasanmu sangat tepat sasaran sekali, Nak. Mama rasa, kamu tidak pernah membuatkan makanan apapun untuk mertuamu," ucap Bu Isna memarahi anaknya.


"Hehe tidak pernah, Ma. Lagi pula memasak untuk makanan sehari-hari pun Rania belajar baru-baru ini. Yang Rania pelajari hanya memasak sayur atau pun lauk rumahan saja, tidak dengan membuat makanan seperti ini," ungkap Rania.

__ADS_1


"Makanya, Nak. Kalau mama memasak, atau pun membuat makanan, seharusnya kamu membantu mama di dapur. Tujuannya, selain membantu, kamu juga bisa sekalian belajar. Untung saja suami dan mertuamu itu termasuk orang yang bisa menerima kekurangan kamu. Jika kamu memiliki suami yang banyak komentar serta mertua yang cerewet, bisa-bisa sebulan langsung dibuang," cecar Bu Isna.


"Iya, Ma. Ya sudah, sekarang Rania minta bagaimana cara membuatnya. Supaya Rania sekalian belajar," ujar Rania yang tak tahan mendapatkan ocehan dari ibunya.


Salah satu pelayan yang bekerja di rumah itu sedari tadi memperhatikan keduanya. "Bolehkah saya membantu untuk membuat kuah cuko, Nyonya?" tawar pelayan bertubuh sedikit berisi.


"Bibi bisa?" tanya Rania.


"Iya, Nyonya. Saya bisa." Pelayan tersebut tersenyum. Sedari tadi ia ingin sekali membantu kedua wanita yang sibuk di dapur.


Namun, karena Bu Isna menyuruh para pelayan tersebut beristirahat, membuat ia pun hanya melihat sembari mengerjakan tugas yang lainnya. Saat melihat Rania yang tidak tahu bagaimana cara membuat kuah dari pempek tersebut, pelayan itu pun menawarkan diri untuk membantu.


"Ya sudah, Bi. Bibi saja yang bantu saya. Mama juga masih repot mengolah pempeknya," ucap Rania.


Pelayan itu pun langsung menghampiri Rania. Memperlihatkan cara membuat cuko pada ibu hamil tersebut.


"Ini gula merah sama asem jawanya langsung dimasukkan saja ke air?" tanya Rania.


"Iya, Nyonya."


Rania melihat pelayan tersebut mengupas bawang putih. Ibu hamil itu pun langsung mengambil wadah, mencuci bawang yang telah dikupas. Ia juga mengambil talenan, lalu kemudian mengiris bawang tersebut.


"Bukan diiris, Nyonya." Pelayan tersebut tersenyum melihat tingkah Rania.


"Hah? Jadi diapakan bawangnya? Jika dibiarkan saja nanti dia menangis," ucap Rania.


Pelayan itu pun langsung terkekeh mendengar ucapan Rania. Sementara Bu Isna, ia berdecak sebal pada putrinya yang berhasil membuatnya tertawa terpingkal-pingkal, hingga telur yang akan dimasukkan ke dalam adonan tersebut tertumpah sebagian.


"Bawang putihnya tidak akan menangis, Nak. Setelah ditumbuk, nanti akan langsung dilepas di kuah cukonya, dibiarkan berenang dan menyatu dengan bahan-bahan lainnya," ujar Bu Isna.


"Ih, Mama! Rania serius, Rania benar-benar tidak bisa cara memasaknya. Jangan menertawakan Rania seperti itu," keluh Rania.


"Kamu ajarin saja ya Bik, sampai dia paham. Kalau aku sudah angkat tangan duluan dengan kelakuannya," ujar Bu Isna yang langsung ditanggapi oleh pelayan tersebut dengan sebuah anggukan disertai dengan tawa kecil.

__ADS_1


Bersambung .....


__ADS_2