
Keluarga kecil Alvaro tengah menikmati sarapan. Sementara si duo kembar, sedang diasuh oleh dua pelayan yang menggendong satu bayi masing-masing.
Rania sedang meletakkan air minum di hadapan Alvaro. Sesaat kemudian, pandangan mereka teralihkan pada Bima yang menatap ayahnya sembari melipat kedua tangannya di depan.
"Ada apa, Nak?" tanya Rania.
"Iya, ada apa? Kenapa Bima menatap papa seperti itu?" tanya Alvaro yang merasa heran pada putra sulungnya.
"Papa, papa kan sudah besar. Papa bisa ambil minum sendiri. Kenapa harus meminta mama yang melakukannya?" tanya Bima memprotes sikap ayahnya.
Mendengar ocehan Bima, membuat Rania tertawa geli. Sedangkan Alvaro hanya bisa mengusap tengkuknya.
"Tidak apa-apa, Nak. Lagi pula ini bukan pekerjaan yang sulit. Hanya mengambil minum saja," ujar Rania mencoba menjelaskan kepada Bima.
"Mama, kata Bu guru, kita tidak boleh manja dan harus mandiri. Sedangkan papa sudah sebesar ini masih saja manja dan tidak mandiri," balas Bima.
Rania kembali terkekeh. Bagaimana tidak, putra sulungnya itu pandai sekali dalam menafsirkan sesuatu. Sehingga, apa yang ia lihat, jika tidak sesuai dengan yang diajarkan, maka ia akan melayangkan protesnya.
__ADS_1
"Papa kan masih seumuran sama Bima," celetuk Alvaro mencoba mengajak putranya untuk bergurau.
"Papa!"
"Iya, Nak. Nanti papa akan lebih mandiri," balas Alvaro.
Rania hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah suami dan anaknya itu. Sikap Alvaro memang akhir-akhir ini sedikit manja, dan apa yang dikatakan oleh Bima memang benar adanya. Namun, Rania tak membiarkan putranya melayangkan protes seperti itu kepada suaminya, ia memberikan sedikit pengertian kepada Bima.
"Nak, mama ini adalah istri papa. Sudah menjadi tugas mama untuk membantu atau melayani papa. Nanti setelah Bima dewasa dan sudah menikah, Bima akan mengerti dengan situasi ini," ucap Rania dengan lembut.
"Oh begitu." Anak laki-laki itu menganggukkan kepalanya.
"Oh, baiklah Ma, Pa. Tetapi tidak ada salahnya kan jika papa sedikit meringankan tugas mama?" ujar Bima lagi.
Alvaro dan Rania saling berpandangan, lalu kemudian langsung melemparkan senyum.
"Iya, Sayang." Alvaro menimpali.
__ADS_1
....
Di lain tempat, Juni kembali melakukan aktivitasnya. Pria itu sempat melirik ke arah apartemen yang ada di sebelahnya. Rasanya agak aneh, jika tidak melihat ke arah sana. Padahal, mereka sudah memutuskan untuk berpisah.
Juni berangkat menuju ke kantor menggunakan mobilnya. Pria tersebut tiba di sana sebelum Alvaro datang. Baru sehari putus, hidup Juni serasa jungkir balik, tak tahu arah. Namun, jika diteruskan, hanya bisa membuat dirinya merasa sakit hati.
Juni mencoba menghapus isi kepalanya yang dipenuhi tentang Shinta, Shinta, dan Shinta. Ia ingin membuang jauh-jauh pemikiran tentang gadis tersebut karena memang mereka sudah tak menjalin hubungan lagi. Di lain sisi, Juni juga merasa minder dengan statusnya yang hanya seorang duda, sementara Shinta seorang gadis.
Tak lama kemudian, mobil Alvaro pun tiba. Juni langsung bersiap untuk membukakan pintu mobil Alvaro. Alvaro tersenyum sejenak, lalu kembali memasang wajah dinginnya.
"Selesaikan laporan hari ini, setelah jam makan siang nanti, kita akan ke kantor cabang," ujar Alvaro.
"Ke kantor cabang?" tanya Juni.
"Iya. Hari ini aku ingin mengecek langsung kondisi kantor cabang. Aku tidak bisa melepaskan Alvira begitu saja. Lagi pula, bukankah ini menguntungkan untukmu? Dengan begitu, kamu bisa bertemu dengan Shinta. Anggap saja melepas rindu walaupun sesaat," ujar Alvaro yang berjalan lebih dulu.
Juni terdiam sejenak, entah bagaimana nantinya saat berada di sana. Apalagi bertemu dengan Shinta, sudah pasti akan menjadi canggung baginya di saat keduanya tidak lagi memiiki hubungan apa-apa.
__ADS_1
Bersambung ....