Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 114. Ayah Pengganti


__ADS_3

Saat membuka lunch box yang dibawa oleh Rania, mata Alvaro terlihat berbinar melihat makanan yang ada di atas meja tersebut.


"Wah ... ini pasti sangat enak!" ujar Bima yang lebih dulu memuji makanan tersebut meskipun belum mencicipinya sama sekali.


"Tentu saja, yang memasak kan mama," tambah Alvaro yang semakin membuat kedua pipi Rania bersemu. Dua laki-laki hebatnya memang selalu saja pintar membuat suasana hati Rania semakin membaik.


"Kalau begitu, makanlah! Kalian tidak bisa memuji hanya karena melihatnya saja tanpa mencicipi rasanya," ucap Rania.


Alvaro pun mulai mengambil sumpit yang sudah disediakan oleh Rania. Ia pun memilih untuk mencicipi sushi buatan istri tercintanya itu, yang penampakannya sangat cerah, seperti mentari di pagi hari.


"Emmm ... sesuai dugaanku. Ini benar-benar enak," ujar Alvaro mengacungkan ibu jarinya.


Kini Bima juga mengambil sushi buatan ibu sambungnya itu. Anak laki-laki berambut ikal itu pun mengunyah makanan tersebut sembari menganggukkan kepalanya.


"Masakan mama memang terbaik." Bima memuji Rania.


Mendengar berbagai pujian yang diucapkan oleh keduanya, membuat Rania pun senang dan lebih bersemangat lagi untuk menyiapkan makanan pada anak dan suaminya itu.


Mereka menikmati makanan tersebut diiringi dengan sebuah cerita ringan untuk mempermanis suasana siang itu, menyantap makanan yang terlihat seperti sebuah keluarga yang sangat harmonis.


"Akhir pekan ini, bagaimana jika kita berkunjung ke rumah orang tuamu. Setelah menikah, kita belum pernah mengunjunginya sekali pun. Lagi pula, aku ingin menagih janjimu kemarin, hendak membawaku ke kebun teh," ucap Alvaro yang baru saja menyudahi makannya.


"Ke kebun teh? Wah ... Bima mau ikut ... Bima mau ikut!" ujar anak laki-laki tersebut dengan sangat antusias.


"Akhir pekan ini? Bagaimana dengan pekerjaanmu? Terus bagaimana juga dengan Bima?" tanya Rania.


"Kita berangkat pagi-pagi, terus sore harinya pulang . Kalau mau menginap, nanti pas Bima liburan sekolah saja," usul Alvaro.


"Apakah kamu setuju?" tanya pria itu memastikan.


Rania tampak berpikir sebelum mencetuskan jawabannya. "Aku sih terserah sama Mas Varo saja. Yang aku takutkan nanti, Mas akan lelah menyetir mengingat perjalanan kita tidaklah dekat," ucap Rania.


"Masalah itu tidak usah dipikirkan. Aku akan mengajak Pak Darman nantinya. Jadi, kami bisa menyetir mobil bergantian," ujar Alvaro.


"Baiklah kalau begitu, Mas. Akhir pekan ini kita berangkat ke sana," ucap Rania.


Bima langsung bersorak gembira karena merasa sangat senang diajak jalan-jalan oleh kedua orang tuanya. Dan Bima sangat menantikan hari itu.


.....


Di lain tempat, Alvira mengajak buah hatinya keluar dari kamar. Ia menggendong Abian yang tengah menatap benda-benda yang ada di sekelilingnya.


"Senang ya Nak, mama bawa Bian keluar?" ujar Alvira menanyai anaknya, seolah putranya itu bisa menyahuti ucapannya.


Telinga Alvira menangkap sebuah langkah kaki yang datang ke dari arah belakang. Ia pun menoleh dan cukup tercengang melihat siapa yang datang menghampirinya.

__ADS_1


"Juna, ...." bibir wanita itu bergumam, menatap pria dengan rahang yang tegas sembari membawa buket bunga yang ada di tangannya.


Pria tersebut tersenyum melihat sang pujaan hati yang tengah bersama dengan buah hatinya.


"Hai," sapa Arjuna seraya mengulas senyum.


"Kenapa kamu ke sini?" tanya Alvira yang cukup terkejut dengan kedatangan Juna yang tiba-tiba. Biasanya pria itu hanya mengirimkan buket bunga dan sepucuk surat saja untuk Alvira.


"Karena merindukanmu," timpal Arjuna singkat, tentu saja hal tersebut membuat Alvira langsung memalingkan wajahnya karena malu. Ia tidak ingin Arjuna mengetahui bahwa saat ini pipinya tengah bersemu.


Arjuna kembali mendekat ke arahnya. Ia pun menyodorkan buket bunga tersebut pada Alvira. Wanita itu hanya bisa menatapnya, karena ia tidak bisa mengambil bunga yang diberikan oleh Arjuna, posisinya saat ini tengah menggendong sang buah hati.


"Bolehkah aku menggendong Abian?" tanya Arjuna dengan tiba-tiba.


Alvira menimpali ucapan Arjuna dengan sebuah anggukan pelan. Tidak mungkin baginya untuk melarang Arjuna menggendong putranya itu.


"Aku akan meletakkannya di sini dulu," ucap Juna meletakkan buket yang ada di tangannya ke atas meja. Pria itu pun mengambil Abian dari tangan Alvira.


"Wah ... si jagoan kecil benar-benar tampan," ujar pria tersebut sembari mencium pipi gembul Abian yang memiliki aroma khas bedak bayi dan juga minyak telon.


"Apakah aku sudah terlihat cocok?" tanya Arjuna.


Alvira tertegun, ia tak mengerti kata 'cocok' dari segi apa? Apakah maksudnya sudah cocok menggendong Abian, atau hal yang lainnya.


"Cocok apa?" tanya Alvira.


Degggg ...


Alvira tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Wajahnya kembali memerah akibat ucapan dari Arjuna. Entah sejak kapan Alvira sering bersemu dengan kalimat Arjuna. Dulu, bahkan saat pria itu menggodanya, Alvira tetap bersikap biasa saja. Dan kali ini, rasanya sedikit berbeda.


Alvira menatap pada Arjuna dengan seksama. Sesekali pria itu menunjukkan wajah lucunya pada Abian membuat Alvira sedikit terenyuh. Abian juga tertawa, seakan ia tengah berinteraksi dengan sosok ayah. Sedari Abian lahir, putranya memang tak sekalipun digendong oleh ayah kandungnya.


Bagaimana mau menggendong Abian, toh posisi Andre saat ini sedang berada di penjara, dan Alvira pun merasa tak sudi untuk mengunjungi mantan suaminya itu. Kenangan akan hal yang menyakitkan tentu saja akan terbayang lagi, dimana Andre yang menyelingkuhi dirinya dengan teman dekatnya sendiri.


Tak lama kemudian, Arumi pun menghampiri keduanya. Ia menyambut hangat kedatangan Arjuna.


"Eh, ada Nak Juna. Ayo silakan masuk, Nak." Arumi menyambut Arjuna dan mempersilakan pria itu untuk masuk.


"Tidak apa-apa, Tante. Aku di sini saja, sepertinya Abian sedang senang-senangnya berada di luar," ucap Arjuna.


"Wah, sangat mengerti sekali dengan Abian ya. Ya sudah, kalau begitu jadi ayah penggantinya Abian saja," celetuk Arumi sembari mengulum senyumnya.


Alvira langsung mendelik menatap ibunya karena telah berucap demikian. Namun, Arumi mengabaikan putrinya itu, tetap menggoda Abian agar lebih dekat dengan Alvira.


"Si Abian juga terlihat senang di gendong oleh Arjuna. Mungkin dia minta sosok ayah baru." lagi dan lagi Arumi menggoda keduanya, membuat Alvira ingin sekali menenggelamkan dirinya karena malu akibat ulah dari ibunya itu.

__ADS_1


"Ma, ..." Alvira mencoba untuk memberikan kode pada ibunya, akan tetapi wanita yang memasuki usia lanjut itu, memilih untuk tetap mengabaikan putrinya.


"Bi!!" Seru Arumi saat melihat pelayan yang tengah merapikan daun bonsai di depan rumahnya.


Pelayan tersebut langsung meletakkan gunting yang ada di tangannya. Berlari menghampiri Arumi. "Ada apa, Nyonya?" tanyanya dengan napas yang sedikit tersengal.


"Tolong buatkan minum untuk calon menantuku!" titah Arumi.


Alvira dan Arjuna saling melemparkan pandangannya. Arjuna tersenyum mendengar Arumi berkata demikian, seolah ia telah mendapatkan lampu hijau dari Arumi.


Sementara Alvira, ia tertunduk malu. Ibunya memang selalu saja begitu. Dan kini, Alvira bisa merasakan bagaimana saat Alvaro dijodohkan dengan banyak wanita kemarin, pasti malunya sampai ke ubun-ubun.


"Baik, Nyonya." Pelayan tersebut menimpali ucapan Arumi. Ia pun langsung bergegas ke dapur, menyiapkan minuman untuk Arjuna.


"Bagaimana kabar ayah dan ibumu?" tanya Arumi.


"Baik, Tante. Hanya kadang sedikit beradu mulut menyangkut hal-hal yang kecil," ujar Arjuna yang terlalu jujur membicarakan masalah kedua orang tuanya.


"Kalau yang itu ... memang sedari dulu mereka sering beradu argumen. Lagi pula tidak heran, papamu itu menikah dengan temannya sendiri," ucap Arumi sembari terkekeh.


"Iya, Tante." Arjuna mengangguk, membenarkan ucapan Arumi.


"Sampaikan saja salam Tante pada keduanya. Dulu Tante sering sekali mampir ke resto ibumu. Tetapi sekarang karena Tante sudah tua, Tante jarang sekali keluar," ujar Arumi.


"Tidak apa-apa, Tante. Lagi pula mama juga seperti itu. Yang mengelola resto saat ini kan adikku yang bungsu," ucap Arjuna.


Tak lama kemudian, pelayan tadi pun kembali datang sembari membawa nampan yang berisikan air minum serta camilan untuk Arjuna. Meletakkan minuman serta camilan itu di atas meja.


"Silakan dinikmati, Tuan." Pelayan tersebut tersenyum ramah.


"Iya, Bi. Makasih ya," ucap Arjuna.


Alvira pun mendekat pada Arjuna, meminta Abian untuk diberikan kepadanya, agar pria itu dapat menikmati makanan dan minuman yang disuguhkan.


Namun, diluar dugaan Alvira. Abian menangis saat diambil Alvira dari dekapan Arjuna.


"Kenapa menangis, Nak?" tanya Alvira heran.


"Mungkin dia tidak mau lepas dari Arjuna," celetuk Arumi.


"Tidak apa-apa, sini berikan padaku saja," ujar Arjuna yang kembali meminta Abian.


Alvira pun kembali memberikan Abian pada Arjuna. Dan benar saja, jagoan kecilnya tak lagi menangis saat bersama dengan Arjuna.


"Tuh kan, nangisnya berhenti," ucap Arumi.

__ADS_1


"Sering-seringlah menangis ya, Cucuku. Supaya nanti mamamu mencarikan sosok ayah pengganti untukmu kelak," lanjut Arumi yang membuat Alvira dan Arjuna pun tercengang.


Bersambung ....


__ADS_2