Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 83. Kaset Rusak Benang Kusut


__ADS_3

Hari ini, Yeni meminta kunjungan untuk menemui suaminya. Wanita tersebut datang bersama Rafa, sang anak yang baru berusia 1 tahun, berada dalam gendongannya.


Tak lama kemudian, seorang sipir bersama dengan Andre menuju ke ruang berkunjung. Andre terlihat sangat kacau. Kumis serta jambang yang sudah tumbuh di area wajahnya. Rambutnya pun sudah memajang dari sebelumnya.


"Mas, ..." Yeni tersenyum menatap sang suami.


"Maafkan Mas yang belum bisa membahagiakanmu," ujar Andre tertunduk.


"Tidak apa-apa, Mas. Aku bisa mengerti. Ku harap, Mas Andre tidak melakukan kesalahan yang sama," ucap Yeni dengan nada yang sedikit tercekat.


"Ah iya. Aku ke sini ingin menunjukkan sesuatu padamu," lanjut Yeni sembari memperlihatkan layar ponselnya. Terlihat sebuah postingan dari Alvira yang tengah menggendong seorang bayi laki-laki.


"Dia, ...." Andre tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Matanya memerah menatap sang mantan istri menggendong bayi laki-laki tersebut.


"Iya, Mas. Dia anakmu. Dua minggu yang lalu, Alvira baru saja melahirkan."


Andre menatap lekat potret bayi mungil tersebut. Kepingan ingatan saat dirinya bersama dengan Alvira, kenangan manis akan penantian sang buah hati, hingga ia menyakiti Alvira, membuat wanita itu menderita karena harus menikahi temannya yang tanpa sengaja ia tiduri.


Membayangkan Alvira melahirkan harus berjuang sendiri tanpa ada yang mendampingi. Andre memang terlalu brengs*k, bahkan saat Alvira minta di antar ke dokter kandungan pun pria itu enggan dan selalu beralasan sibuk .


Tangan Andre menggeser slide selanjutnya pada postingan tersebut. Ia melihat foto-foto pernikahan Alvaro yang di postingan di akun sosial media sang istri. Hingga tangannya terhenti saat di slide terakhir. Di mana memperlihatkan Alvira berfoto dengan sepasang pengantin bersama seorang pria.


"Arjuna, ..."


Ya, Andre sangat mengenal pria itu. Pria yang begitu gigihnya mengejar Alvira, akan tetapi semangat juangnya dipatahkan dengan sebuah kebohongan besar yang diperbuat oleh Andre.


Andre, Arjuna, Alvira, dan Alvaro saat itu satu universitas. Kala itu Arjuna memang sedang gencar-gencarnya mengejar Alvira. Namun, meskipun Arjuna cukup populer, ia tak berani mengungkapkan perasaannya secara langsung dengan Alvira.


Alvira jatuh cinta pada seseorang yang selalu menyemangati dirinya melalui sebuah memo kecil yang sering kali tertempel di lokernya. Sebuah memo berisi kalimat penyemangat, akan tetapi tidak diketahui siapa pengirimnya.


Tiba saatnya, dimana Andre melihat Arjuna menempelkan memo tersebut. Andre saat itu pemasaran dengan apa yang ditulis oleh Arjuna. Saat Andre berada di depan loker Alvira dan menempelkan kembali memo tersebut, tiba-tiba Alvira menghambur ke dalam pelukannya. Ia mengira bahwa pengirim memo itu adalah Andre.


Andre yang saat itu juga menyukai Alvira pun memilih untuk mengaku akan hal itu. Hingga saat mereka berpacaran, Arjuna mengungkapkan semuanya. Bahwa ia lah yang mengirimkan memo itu dan bahkan memperlihatkan tulisannya.


Namun, semuanya sudah terlambat. Alvira terlanjur jatuh cinta dengan Andre, menolak Arjuna dan lebih memilih menjalani hubungannya dengan Andre. Hingga pada akhirnya mereka pun menikah.

__ADS_1


Mengingat masa lalu itu, Andre hanya bisa tersenyum perih. Ia memang secara tak langsung telah merebut Alvira yang seharusnya milik Arjuna.


"Alvira memang seharusnya bersama dengan Arjuna," gumam Andre.


Pria itu mengembalikan ponselnya pada wanita yang diam-diam telah ia nikahi. "Aku tahu, mungkin kamu banyak menaruh luka karena hidup bersamaku, dan aku minta maaf, telah menyusahkan kalian," ujar Andre penuh sesal.


Sebelumnya, ia memang tak sengaja meniduri teman istrinya itu saat tengah mabuk berat. Yeni menolongnya dan berniat untuk mengantarkan Andre pulang. Namun, sayang seribu kali sayang, ia harus menyerahkan dirinya untuk dijamah oleh Andre secara paksa.


Awalnya, Andre menikahi Yeni karena sebuah keterpaksaan. Apalagi setelah kejadian malam itu, Yeni mengandung darah daging dari Andre.


Namun, saat melihat Rafa lahir ke dunia, Andre merasa bahagia. Kebahagiaan yang tak didapat dari Alvira, wanita yang telah ia nikahi selama tiga tahun kemarin. Hingga akhirnya, perasaan cinta Andre pun perlahan tumbuh untuk Yeni dan lebih banyak mengacuhkan Alvira. Inilah asal-usul dari cinta mereka yang rumit, serumit kaset rusak benang kusut.


"Tidak apa-apa, Mas. Namanya juga takdir. Kita tidak bisa menentang bagaimana pun kehendak Tuhan." Yeni menimpali suaminya sembari tersenyum.


Arjuna beranjak dari tempat duduknya, menggendong anaknya yang sangat ia rindukan. "Jagoan papa, tunggu papa keluar ya, Nak."


"Mas, nanti kamu juga harus menengok anakmu dan Alvira. Bagaimana pun juga, dia adalah darah dagingmu," ujar Yeni.


Andre tersenyum, lalu kemudian menganggukkan kepalanya dengan pelan.


Di lain tempat, Alvaro dan Rania tengah berada dalam perjalanan menuju ke sekolah Bima. Keduanya memutuskan u tik menjemput Bima di sekolah dan berkunjung ke rumah utama.


"Kamu tidak ingin pergi untuk honeymoon? " tanya Alvaro dengan pandangan yang menatap ke arah jalanan.


"Tidak usah, Mas. Bagaimana jika di waktu libur, kita memanfaatkannya bersama keluarga saja. Aku berencana ingin mengajakmu ke kebun teh Papa. Tapi, karena Bima masih sekolah, jadi aku memutuskan untuk menundanya terlebih dahulu. Soalnya tidak enak kalau Bima izin libur terus," tutur Rania panjang lebar.


"Baiklah jika itu keinginanmu. Aku hanya takut, kamu ingin pergi berbulan madu ke luar negeri misalnya, tapi kamu tidak berani mengutarakan keinginan mu padaku," jelas Alvaro.


"Tidak, Mas. Lagi pula jika memang ingin bepergian, kita bisa mengambil waktu libur tanpa harus menunggu setelah selesai resepsi, bukan? Lagi pula, tidak diharuskan juga berbulan madu. Toh, kita juga bertiga, apa kamu mau meninggalkan Bima lagi?" tanya Rania.


"Ya kalau kamu mau, kita titipkan lagi saja dengan mama. Lagi pula mama sangat senang dengan keberadaan Bima di sana," timpal Alvaro.


"Aku yang tidak mau, Mas. Aku ingin merawat Bima seperti anakku sendiri!" tegas Rania.


Mendengar penuturan dari Rania, membuat Alvaro mengembangkan senyumnya. Ia tidak salah, memilih Rania sebagai ibu pengganti Bima. Rania bersikap layaknya ibu sungguhan untuk Bima.

__ADS_1


Maka dari itu, saat malam pertama pun, Bima masih tetap ingin menempel bersama Rania, karena anak laki-laki itu tahu, jika Rania memberikan kasih sayang padanya dengan begitu tulus.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, disertai dengan obrolan ringan mengiringi perjalanan mereka. Mobil yang dikendarai Alvaro tiba di sekolah Bima.


Rania dan Alvaro langsung turun dari kendaraan tersebut secara bersamaan. Dari kejauhan, ia melihat Bima di antar oleh Nana. Bima langsung menghambur ke pelukan Rania, bukan Alvaro. Tampaknya anak laki-laki itu memang sangat senang mendapatkan Rania sebagai ibunya.


"Wah, pengantin baru. Maaf kemarin tidak bisa hadir karena ada urusan mendadak," ucap Nana.


Nana memang diundang, akan tetapi gadis itu tidak bisa hadir. Bukan karena belum move on, melainkan ia memang berhalangan untuk hadir.


"Tidak apa-apa, Bu Nana." Rania menimpali ucapan Nana sembari mengembangkan senyumnya.


Nana berjongkok, mengusap kepala Bima dengan lembut. "Bagaimana Bima? Sekarang sudah memiliki mama kan?" ucap Nana.


Bima menganggukkan kepala. "Bima senang Bu Guru. Bima jadi punya dua mama. Bu Guru juga hampir menjadi mama Bima, tapi tidak jadi," ujar anak laki-laki tersebut dengan lugunya.


Rania langsung menatap ke arah Alvaro, seolah memberikan kode pada Alvaro alasan kenapa pria itu selalu mengantar Bima.


"Ah, itu cuma masa lalu saja. Bu Rania tidak usah khawatir, Pak Alvaro dan saya tidak memiliki hubungan apa-apa," ucap Nana yang merasa tidak enak.


"Emmm ... kalau begitu, saya permisi dulu." Nana memilih untuk pergi meninggalkan ketiga orang tersebut.


"Mas, ..." Rania menghadap ke arah Alvaro yang hanya mengusap tengkuknya.


"Kami tidak memiliki hubungan apa-apa, sungguh!" timpal Alvaro.


"Iya kan, Nak?" Alvaro menatap Bima, seakan meminta pertolongan pada anaknya.


"Iya, Mama. Tidak ada apa-apa. Papa hanya pernah berkencan satu kali dengan Bu Guru," celetuk anak laki-laki tersebut.


"Oh, berkencan." Rania mengangguk-anggukkan kepalanya, menatap Alvaro dengan penuh arti.


"Aduh, Nak. Gawat ini, bisa-bisa papa tidak dapat jatah dari mamamu malam ini," batin Alvaro.


Bersambung ...

__ADS_1


Bima, jangan terlalu jujur gih. Kasian papanya bakalan tidur di luar malam ini😆


__ADS_2