Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 104. Berteman Setelah Dewasa


__ADS_3

Keesokan harinya, Rania menyiapkan sarapan dibantu oleh beberapa pelayan yang bekerja di rumah barunya. Menu yang disajikan kali ini sedikit bervariasi karena dibantu oleh para pelayan yang lebih pandai memasak dibandingkan dirinya.


Tak lama kemudian, Bima dan juga Alvaro menuruni anak tangga. Kedua pria berbeda generasi tersebut langsung melangkahkan kakinya menuju ke meja makan.


"Wah aromanya lezat sekali," ucap Bima dengan sangat antusias.


"Iya, Sayang. Bibi masakin kita sarapan dengan menu yang bervariasi. Ini juga mama sekalian belajar memasak dari bibi," ujar Rania meletakkan piring ke atas meja.


Para pelayan itu pun menyajikan masakan tersebut satu persatu. Mata Bima berbinar menatap makanan yang ada di atas meja itu.


Rania melepaskan apron yang melekat di tubuhnya. Lalu kemudian, ia pun ikut bergabung di meja makan.


"Bi, makanan untuk kalian sudah dipisah kan?" tanya Rania.


"Belum, Nyonya." salah satu dari pelayan tersebut menimpali.


"Pisah dulu untuk kalian sarapan. Nanti saja beres-beresnya, sarapan harus diutamakan," ucap Rania.


"Baik, Nyonya."


Salah satu dari mereka mengambil piring untuk memisahkan masakan yang mereka buat tadi. Rania tidak ingin, pelayan di rumahnya makan setelah mereka.


Meskipun makan di tempat yang terpisah, wanita itu ingin jika dirinya sarapan, para asisten rumah tangga itu juga ikut sarapan tanpa harus memakan sayur ataupun lauk yang sudah diaduk setelah mereka makan.


"Ambil yang ini juga, pisahkan semuanya untuk kalian. Lagi pula ini sangat banyak tentunya tidak akan habis oleh kami," ujar Rania.


Alvaro menatap sang istri dengan seksama. Pria itu mengulas senyumnya melihat sikap Rania. Biasanya para pelayan makan setelah majikannya, akan tetapi Rania memperlakukan mereka lebih baik dari orang lain.


"Ini sudah cukup, Nyonya." Pelayan tersebut berucap.


"Ya sudah, kalau begitu kalian makan saja dulu. Pekerjaan urusan nanti. Aku tidak ingin kalian sakit karena bekerja di sini," ujar Rania.


"Baik, Nyonya." Pelayan tersebut pamit undur diri sembari membawa beberapa mangkuk yang sudah terisi masakan yang tadi mereka buat.


Sementara Rania, ia mulai menyantap makanan yang ada di atas piringnya. "Emmm ... ternyata para bibi sangat pandai dalam memasak," ucap wanita tersebut merasakan makanan lezat itu.


"Mas, ..."


"Iya." Alvaro menimpali sembari mengunyah makanannya.

__ADS_1


"Nanti aku bawa mobil sendiri saja ya, Bima biar aku yang antar," ucap Rania.


"Kenapa?" tanya Alvaro.


"Aku nanti kan mau bertemu dengan temanku. Jadi, setelah pulang dari sana, aku bisa langsung jemput Bima," jelas Rania.


"Ya sudah kalau begitu. Tapi kamu tidak apa-apa bertemu dengan mereka?" tanya Alvaro yang menaruh rasa ragu pada sang istri. Karena kemarin Rania sempat bercerita bahwa teman-temannya itu sedikit bertingkah menyebalkan.


"Tidak apa-apa, Mas. Aku bisa menghadapi mereka," ucap Rania sembari mengulas senyum.


"Kalau begitu, habiskan sarapannya setelah ini kita berangkat!" lanjut Rania.


Mereka pun menikmati sarapan yang ada di atas meja dengan tenang. Sesekali mendengarkan pujian dari Bima tentang masakan yang ada di atas meja. Tentunya dengan tidak membandingkan kemampuan masakan ibunya. Bagi Bima, masakan Rania sederhana tetapi baginya masakan tersebut adalah masakan yang luar biasa nikmat.


Setelah sarapan, mereka pun langsung bersiap berangkat. Rania dan juga Bima berpamitan terlebih dahulu dengan Alvaro, karena mereka akan berangkat di mobil yang terpisah.


"Mas berangkat dulu, kalian hati-hati di jalan," ujar Alvaro.


"Iya. Mas juga hati-hati di jalan," ucap Rania.


Alvaro mengangguk menimpali ucapan istrinya. Pria itu masuk ke dalam mobil, lalu kemudian melajukan kendaraannya menuju ke jalanan.


Bima mengangguk, anak laki-laki tersebut masuk ke dalam mobil ibu sambungnya. Rania memasangkan sabuk pengaman pada Bima agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan jika ada sesuatu terjadi di jalanan nanti. Ia pun juga memasang sabuk pengaman pada tubuhnya.


Rania menghidupkan mesin mobilnya, lalu kemudian membawa kendaraan roda empat tersebut menuju ke jalanan.


Setelah cukup lama berkendara, mobil itu pun tiba di sekolahan Bima. Rania dan juga Bima turun dari mobil, berjalan menuju ke ruang kelasnya.


Mata Bima menangkap Febby bersama dengan seorang pria yang umurnya mungkin diatas Alvaro. Febby juga melihat ke arah Bima, mengguncang lengan pria yang ada di sampingnya dan menunjuk ke arah Bima.


"Ma, itu Febby." Bima menunjuk ke arah gadis kecil tersebut.


Rania menghentikan langkahnya, ia tersenyum menatap Febby yang berjalan ke arahnya bersama dengan seorang pria dewasa.


"Tante, kenalkan ini papaku," ucap Febby memperlihatkan wajah ramahnya. Tak ada raut wajah murung lagi yang ia perlihatkan seperti sebelumnya. Rania cukup tertegun dengan perubahan dari gadis kecil itu.


"Rania, ..."


"Adi, ..." ucap pria tersebut memperkenalkan diri.

__ADS_1


"Mba Mila nya mana? Kenapa tidak antar Febby?" tanya Rania yang merasa penasaran.


Febby menggelengkan kepalanya, ayahnya pun menjelaskan semuanya. "Mama ditangkap polisi," ucap Febby.


"Istri saya seorang pengguna, saat ini tengah menjalani hukuman di kantor polisi. Selain itu, saya juga melaporkannya karena kerap sekali menyiksa Febby. Dan juga ... untuk kejadian kemarin, saya minta maaf sebesar-besarnya, Febby menceritakan semuanya kepada saya," tutur Adi, yang tak lain adalah ayah dari Febby.


"Iya, tidak apa-apa. Lagi pula bukan salah kalian dan saya masih bersyukur karena suami saya mampu menjaga dirinya," ucap Rania sembari mengulas senyum.


"Tante, Bima, Febby mau pamit. Febby pindah sekolah ikut papa," ujar Febby.


Rania tersenyum, lalu kemudian berjongkok mensejajarkan tingginya dengan gadis kecil yang ada di hadapannya itu.


"Febby belajar yang rajin ya, Sayang. Semoga nanti kita bisa bertemu lagi," ucap Rania mengelus puncak kepala Febby. Gadis kecil itu pun mengangguk patuh.


Febby mengulurkan tangannya kepada Bima. Bima pun menjabat tangan Febby.


"Terima kasih karena Bima mau menjadi teman Febby walaupun Febby jahat sama Bima. Semoga kita ketemu dilain hari menjadi teman sesungguhnya dan tidak saling membenci," ujar Febby.


"Tidak apa-apa, Febby. Bima mengerti kok, alasan Febby membenci Bima kemarin. Semoga saja nanti kita dipertemukan lagi," ucap Bima. Keduanya pun saling melemparkan senyum.


Febby menyalami Rania, lalu kemudian kembali menggandeng tangan ayahnya yang akan membawanya pergi.


"Kalau begitu, kami permisi dulu," ucap Adi.


Rania mengangguk, menatap keduanya yang perlahan meninggalkan ia dan putra sambungnya. Sesekali Febby berbalik, menatap mereka dengan tersenyum sembari melambaikan tangannya.


"Ini adalah pertama kali Bima melihat Febby tersenyum, Ma. Febby sangat manis," puji Bima.


"Iya, Nak. Kemarin dia terpaksa berwajah kurung seperti itu karena ibunya. Dan sekarang, mama merasa lega karena Febby ikut dengan ayahnya. Setidaknya Febby merasa lebih aman dari pada kemarin. Lihatlah! Ia tak berhenti mengulas senyumnya sedari tadi bersama dengan ayahnya. Sedangkan dengan ibunya, ia selalu memperlihatkan wajah yang murung," ucap Rania panjang lebar.


"Apakah setelah dewasa nanti Bima masih bisa bertemu dengan Febby, Ma?" tanya Bima mendongak, menatap wajah cantik ibu sambungnya.


"Apakah Bima berharap begitu?" goda Rania tersenyum penuh arti.


"Iya, Ma." Bima menimpali dan kembali menatap gadis kecil yang hampir menghilang dari pandangannya.


"Ya ... semoga saja kalian bisa bertemu setelah dewasa nanti. Jika memang dipertemukan, kalian akan menjalin hubungan pertemanan?" tanya Rania.


"Iya, Ma. Bima ingin kembali berteman dengan Febby setelah dewasa nanti," jawabnya yang masih melihat punggung gadis tersebut yang semakin lama semakin hilang dari pandangannya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2