
Setelah usai menangis, Arjuna menatap Alvira dengan begitu lekat. Kekasihnya itu mulai tenang sembari menyesap secangkir teh yang dibuatkan oleh Shinta tadi. Perlahan, ia pun mulai mengutarakan semuanya pada Arjuna.
"Aku kesal, dia datang dengan tiba-tiba. Setelah menorehkan luka di hidupku, wanita itu muncul lagi dan memintaku untuk menjenguk lelaki bajingan itu. Sungguh! Aku muak dengan semua ini," ujar Alvira mencoba menumpahkan semua rasa kesalnya.
Sementara Arjuna, pria itu hanya diam sembari memasang telinga. Ia mendengarkan semua keluh kesah kekasihnya itu. Menjadi pendengar setia agar Alvira merasa lega setelah berbagi semuanya pada pria tersebut.
"Tidak tahu malu sekali memintaku membawa Abian pada Andre. Memangnya Andre dimana saat aku merasa kesakitan? Apakah dia ada memanjakan aku di saat aku butuh perhatian? Dia sibuk dengan selingkuhannya itu. Memang aku saja yang bodoh! Bisa mempercayai pria seperti dia," tukas Alvira lagi.
Arjuna tersenyum, pria itu menggenggam tangan Alvira. Membuat Alvira pun berhenti menjelekkan mantan suaminya di depan Arjuna.
"Maaf Jun, aku sungguh terbawa emosi," ucap Alvira memelankan nada bicaranya.
"Tidak apa-apa. Sekarang apakah kamu sudah merasa lega?" tanya Arjuna.
Alvira mengangguk, bak seekor anak kucing yang begitu manis dan penurut.
"Kalau begitu, mari kita membahas masalah kita berdua," ucap Arjuna.
__ADS_1
"Baiklah," balas Alvira seraya mengembangkan senyumnya.
Arjuna senang, melihat senyum kembali terbit di wajah cantik kekasihnya itu. Pria tersebut hanya ingin melihat Alvira bahagia, tak ingin membuatnya berlarut dalam kesedihan.
"Ah iya. Aku punya sesuatu," ujar Arjuna memberikan paper bag yang ada di tangannya.
"Apa ini?" tanya Alvira.
"Kemarin aku lewat di depan toko mainan, dan aku teringat dengan Abian. Aku membelikannya robot-robotan," jelas Arjuna.
Alvira tersenyum, ia pun menerima hadiah yang diberikan oleh Arjuna untuk anaknya dengan senang hati.
Arjuna menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal. Pria itu pun memberikan sebuah kotak perhiasan yang berisikan kalung dengan liontin yang cantik untuk kekasihnya itu.
"Maaf, aku tidak tahu apakah kamu menyukainya atau tidak. Tapi ku harap kamu akan memakainya," tutur Arjuna.
"Kamu ingin aku memakainya?" tanya Alvira. Arjuna pun menjawabnya dengan sebuah anggukan.
__ADS_1
"Kalau begitu tolong pasangkan!"
Arjuna tersenyum, ia pun beranjak dari tempat duduknya dan langsung memasangkan kalung tersebut di leher sang kekasih.
"Bagaimana? Apakah aku terlihat berkali-kali lipat lebih cantik?" tanya Alvira seraya terkekeh.
"Iya. Kamu memang sangat cantik." Arjuna menjawab dengan binar bahagia di matanya.
....
Setelah selesai menemui Alvira. Arjuna pun kembali memacu mobilnya menuju ke suatu tempat. Di lampu merah, ia tampak mempertimbangkan sesuatu, yang membuat pria itu harus memutar kembali arah mobilnya dan mengurungkan niatnya untuk kembali ke kantor.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, mobil yang dikendarai oleh Arjuna pun terhenti di suatu tempat, yang tak lain adalah di rumah tahanan, dimana tempat Andre berada.
Arjuna mengajukan laporan kepada polisi yang berjaga, untuk meminta bertemu dengan salah satu tahanan bernama Andre . Setelah mengikuti beberapa prosedur, Arjuna pun di bawa ke sebuah ruangan.
Pria itu menjatuhkan bokongnya di salah satu kursi kayu yang ada di sana. Tak lama kemudian, sosok yang hendak ia temui pun datang bersama dengan salah satu polisi, dengan tangan yang masih diborgol.
__ADS_1
"Arjuna?" gumam Andre dengan ekspresi wajah herannya.
Bersambung ....