
Alvaro memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah. Pria tersebut langsung turun dari mobilnya, melangkah masuk ke dalam rumah tersebut. Saat kakinya menginjak ruang tengah, ia melihat semua orang tengah berkumpul di sana sembari membahas sesuatu.
"Segera urus perceraianmu, lelaki seperti itu tidak perlu dipertahankan lagi. Kamu bisa saja mendapatkan lelaki yang lebih baik dari pada pria itu," ujar Arumi menasehati anaknya.
Alvaro bergabung, ia memilih duduk di sebelah putranya yang tengah asyik memainkan game online yang ada di ponselnya.
"Belum mengantuk, Nak?" tanya Alvaro pelan.
Bima menggelengkan kepalanya, "Bima tunggu papa pulang," timpalnya.
Alvaro tersenyum, mengusap puncak kepala anaknya. Ia pun memperhatikan sesuatu yang tengah dibahas oleh kedua orang tuanya.
"Alvaro, apakah kamu tahu jika wanita simpanan pria itu adalah Yeni, temannya Alvira?" tanya Arumi pada putranya.
Alvaro menganggukkan kepalanya perlahan. Ia masih menutupi hal tersebut karena mengira jika Yeni tak akan menunjukkan dirinya secepat itu. Namun, wanita itu nekat datang ke rumah ini dan mengakui semuanya.
"Alvira sudah mengambil keputusan yang tepat dengan memilih untuk berpisah. Sebaiknya papa dan mama untuk sementara waktu berhenti dulu membahas Andre, takutnya apa yang diucapkan papa dan mama membuat Alvira semakin stres dan berdampak buruk pada kesehatannya dan juga anak yang ada di kandungannya," jelas Alvaro dengan bijak.
"Yang dikatakan oleh Alvaro ada benarnya. Untuk sementara waktu, biarkan Alvira tenang. Masalah perceraian, biar pengacara yang mengurus semuanya," ujar Fahri yang setuju dengan pendapat Alvaro.
Alvaro melirik putranya. Ia melihat Bima yang sudah menguap, tanda pria tersebut telah mengantuk. Ia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 21:30.
"Ma, Pa, Alvaro pamit pulang dulu. Lagi pula haru sudah malam dan Bima juga sudah mengantuk," ucap Alvaro berpamitan dengan kedua orang tuanya.
"Iya, hati-hati di jalan," ucap Arumi dan Fahri bersamaan.
Alvaro langsung bersiap, membawa peralatan anaknya, dan menggandeng tangan putranya itu berjalan keluar rumah.
Kedua pria berbeda generasi itu langsung masuk ke dalam mobil. Alvaro pun langsung melajukan kendaraannya menuju ke jalanan.
"Pa, besok jangan lupa datang ke sekolah, menghadiri pentas seni?" tanya Bima.
Alvaro menepuk keningnya, untung saja putranya itu mengingatkan dirinya. Jika tidak, bisa saja Alvaro melupakan hal tersebut.
"Tentu, Sayang. Papa pasti akan datang. Apakah kamu nantinya akan tampil?" tanya Alvaro melirik sekilas ke arah Bima.
__ADS_1
"Iya, Pa. Kami akan tampil di atas panggung," ucap Bima yang sangat antusias.
....
Di lain tempat, Rania melihat kantong plastik sampah yang masih terisi sedikit. Gadis tersebut memilih untuk membuka kulkasnya. Memasukkan beberapa makanan ringan ke dalam toples untuk memenuhi plastik sampahnya itu.
"Sudah cukup," ucapnya sembari mengulas senyum. Sebelum keluar, Rania melihat jam sejenak, waktu yang menunjukkan pukul 21:45, akan tetapi tetangga sebelahnya itu tak kunjung pulang juga.
Rania berjalan keluar dari unitnya, memilih turun ke bawah menunggu Alvaro yang beralaskan ingin membuang sampah. Padahal, kantong sampah yang dipegangnya itu hanya sekedar alasan saja.
Rania berdiri di depan gedung apartemen, matanya menatap ke jalanan. Sesekali ia menendang-nendangnya batu kecil yang ada di hadapannya, mengusir rasa bosan karena telah menunggu cukup lama di depan.
"Banyak sekali nyamuk, untung saja aku sudah mengoleskan lotion anti nyamuk tadi," gumam Rania yang telah mempersiapkan semuanya seolah gadis tersebut hendak pergi bertempur.
Rania cukup berprestasi saat berada di bangku sekolah. Kini, gadis tersebut menyandang gelar dokter, mengenyam pendidikan yang cukup sulit. Namun, saat mengenal cinta, dirinya menjadi bodoh seketika. Hanya karena seorang pria, yaitu duda anak satu yang sering ia sebut dengan tutup panci, yang mampu menggetarkan hatinya.
Cukup lama Rania menunggu, terkadang ia menghitung detik demi detik hanya untuk menghilangkan rasa suntuknya. Berbagai umpatan ia lontarkan untuk tetangganya, karena pikiran buruk tentang Alvaro yang menenggelamkannya begitu saja.
"Apakah mereka benar-benar menginap di hotel?" geram Rania.
Ia merogoh ponselnya, meraih benda pipih tersebut dan melihat kontak Alvaro yang tertera di layar ponselnya. Tangannya hendak menyentuh tombol dial, akan tetapi rasa gengsi yang terlalu tinggi membuat gadis tersebut mengurungkan niatnya.
Tak lama kemudian, terlihat sinar lampu mobil menyorot. Membuat Rania pun berpura-pura berjalan mendekat ke tong sampah. Ia sangat tahu betul plat nomor kendaraan milik tetangganya itu.
"Aku merasa sedikit lega karena dia pulang ke rumah," ucap Rania pelan.
Alvaro turun dari mobilnya, pria tersebut menggendong Bima yang sudah tertidur pulas. Alvaro hendak berjalan masuk ke dalam gedung apartemen, matanya menangkap Rania yang tengah berjalan sendirian, berjalan menjauh dari tong sampah berukuran besar.
"Sepertinya kamu sangat rajin membuang sampah di malam hari," celetuk Alvaro yang berjalan di belakang Rania.
Rania tersenyum samar saat mendengar Alvaro memulai pembicaraan padanya. Saat membalikkan badannya, gadis itu kembali menormalkan ekspresinya.
"Memangnya ada larangan tidak boleh membuang sampah di malam hari?" jawab Rania.
"Tidak . Aku merasa sedikit aneh saja," ucap pria tersebut melangkah masuk ke dalam lift. Rania pun juga ikut masuk ke dalam lift tersebut.
__ADS_1
"Tumben, pulangnya malam," celetuk Rania.
"Apakah ada larangan untukku pulang terlambat?"
Jawaban yang di lontarkan oleh Alvaro membuat Rania merasa dongkol. Bagaimana tidak? Pria tersebut meniru ucapan Rania sebelumnya.
"Dasar menyebalkan!" ketus Rania.
"Diamlah! Kamu menggerutu seperti itu bisa membangunkan putraku nantinya," ucap Alvaro.
Rania memilih diam, gadis itu tak lagi menjawab ucapan tetangganya.
Tinggg ...
Pintu lift terbuka, mengantarkan ketiga orang tersebut di lantai tempat mereka tinggal. Rania memilih berjalan di depan Alvaro, sementara pria tersebut mengikutinya dari belakang sembari menggendong Bima yang masih terlelap.
"Apakah Shinta sudah sampai di rumah?" tanya Rania yang sengaja memancing dengan membahas tentang Shinta.
"Shinta? Dia pulang?" tanya Alvaro.
"Iya." Rania menimpali ucapan Alvaro dengan singkat.
"Dia tidak memberitahuku sebelumnya," ujar Alvaro.
Mendengar ucapan Alvaro yang baru saja ia dengar, membuat Rania kembali tersenyum. Ternyata semua yang ada di pikiran Rania tentang Alvaro sebelumnya salah besar.
Rania membuka pintu, bersiap untuk masuk ke dalam huniannya. Begitu pula dengan Alvaro yang juga masuk begitu saja ke dalam rumahnya tanpa mengucapkan apapun pada Rania.
"Dasar pria yang tidak romantis! Seharusnya dia mengulas senyum ke arahku atau mengucapkan selamat malam. Ini tidak sama sekali!" keluhnya.
Rania menutup pintunya, lalu kemudian melangkah menjauhi pintu tersebut. Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba bel pintunya berbunyi. Rania mengerutkan keningnya, ia melihat dari lubang pintu, bahwa saat itu Alvaro tengah berdiri di depan pintu.
Ceklek ....
Rania kembali membuka pintu tersebut. "Ada apa?" tanya Rania yang menatap Alvaro.
__ADS_1
"Apakah kamu bisa meluangkan waktumu besok?" tanya Alvaro.
"Wah, ada apa ini? Kenapa dia bertanya seperti itu? Apakah dia benar-benar akan mengajakku kencan?" batin Rania yang mulai berbunga-bunga.