Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 169. Pubertas Kedua


__ADS_3

"A-ada apa? Apakah ada yang salah?" tanya Arjuna terbata-bata. Pria tersebut tak mengerti kenapa pandangan semua orang langsung mengarah padanya.


"Sudah ... sudah ... kalian ini membuat Arjuna tidak nyaman saja. Silakan duduk, Nak." ujar Arumi mempersilakan Arjuna untuk duduk di kursi.


"Bi ... tolong buatkan minum untuk Arjuna ya!" titah Arumi kepada salah satu pelayan yang bekerja di rumahnya.


"Baik, Nyonya." Pelayan itu pun langsung menuju ke dapur, membuatkan minuman untuk tamu di rumah itu.


Arjuna memberikan bunga mawar yang ia bawa pada Alvira di depan keluarganya. Alvira hanya bisa menunduk malu dan tersipu, begitu pula dengan Arjuna. Ia tidak menyangka jika rumah itu akan ada banyak orang.


"Jangan mawar terus, Jun. Bawa cincinnya kapan?" celetuk Alvaro yang mulai mengajak Arjuna bergurau.


"Ck! Varo!" geram Alvira seraya melemparkan tatapan tajam pada saudara kembarnya itu.


Sementara Arjuna, mengembangkan senyumnya seraya mengusap tengkuknya. Pria tersebut menjatuhkan bokongnya di salah satu kursi yang disediakan. Tentu nya berada di samping Alvira.


"Jika diminta hari ini juga, maka aku akan membawakannya. Hanya saja, aku menunggu kesiapan dari Alvira terlebih dahulu," ujar Arjuna memberikan jawaban yang bijak. Ia tak ingin tergesa-gesa jika pada akhirnya Alvira merasa terpaksa. Menurutnya, kesiapan dari kedua belah pihak amat lah penting.


"Betul apa yang dikatakan oleh Arjuna. Sebaiknya menunggu kesiapan dari Alvira. Jangan terburu-buru, pikirkan secara baik-baik. Dan untuk Alvira, jangan terlalu lama memikirkannya, kasihan Arjuna yang harus kehilangan banyak waktu untuk menunggu kepastian darimu," ucap Arumi mencoba untuk menasihati putrinya.


Tak lama kemudian, pelayan pun datang membawakan segelas kopi untuk Arjuna.


"Terima kasih," ujar Arjuna saat pelayan tersebut meletakkan kopi di hadapannya.


"Sama-sama, Tuan. Silakan diminum," ucap pelayan tersebut seraya menyunggingkan senyum ramahnya.


"Arjuna, bagaimana kabar ibumu, Nak?" tanya Arumi.


"Mama sehat, Tante. Oh iya, mama menitipkan salam pada Tante. Kapan-kapan mama akan berkunjung kemari," ucap Arjuna.


"Wah, baiklah kalau begitu Tante akan menyambut kedatangan ibumu dengan baik. Dan sampaikan salam kembali dari Tante pada ibumu," ujar Arumi.


"Baik, Tante. Akan Arjuna sampaikan nanti," balas Arjuna.


"Kalau begitu, kopinya silakan diminum dulu, Nak."


"Ah, iya." Arjuna pun menyesap kopi tersebut, lalu kemudian kembali meletakkan cangkir kopi itu ke atas meja.

__ADS_1


"Apakah kalian tidak ingin berkencan? Mama perhatikan Arjuna selalu menemuimu di rumah," celetuk Arumi memberikan kode pada calon menantunya.


"Mama!" Alvira mengerucutkan bibirnya melihat ibunya yang berbicara seperti itu di hadapan Arjuna.


"Apakah diperbolehkan, Tante?" tanya Arjuna.


"Oh, tentu saja," balas Arumi.


Arjuna langsung melirik ke arah Alvira. Hendak menanyakan hal tersebut pada sang pujaan hati.


"Kita di rumah saja, lagi pula Abian masih tidur," ucap Alvira beralasan.


"Di rumah banyak orang yang akan menjaga Abian. Tidak apa-apa, kalian keluar saja." Arumi sedikit mendorong tubuh Alvira, agar putrinya itu beranjak dari tempat duduknya.


"Bergantilah pakaian dan bersoleklah sedikit. Cepatlah! Arjuna menunggumu!" bisik Arumi pada Alvira.


Alvira mengerucutkan bibirnya. Terlihat menggemaskan di mata Arjuna. Wanita itu pun langsung menuruti ucapan sang ibunda. Berjalan menuju ke kamar dan bersiap untuk pergi bersama kekasihnya.


"Arjuna, jangan heran dengan sikapnya Alvira ya. Memang anaknya seperti itu. Jika kalian menikah nanti, tolong bersabarlah dengan sikapnya yang kekanak-kanakan," jelas Arumi.


"Diminum lagi Nak kopinya," tawar Fahri.


"Iya, Om." Pria tersebut kembali menyesap kopinya, menunggu sang kekasih keluar dari kamarnya.


Berselang dua puluh menit lamanya, akhirnya Alvira pun keluar dari kamar. Janda anak satu itu tampak cantik dengan menggunakan overall berwarna hijau. Ia sengaja memilih warna itu karena senada dengan baju yang dikenakan oleh Arjuna.


Arumi tersenyum penuh arti melihat pakaian yang dikenakan oleh putrinya. Sementara Alvaro, terkekeh geli melihat saudara kembarnya itu.


"Serasa pubertas yang kedua kali ya Ma," celetuk Alvaro.


Rania langsung menyenggol lengan suaminya, sementara Alvira, melemparkan bantal sofa ke arah Alvaro.


"Menyebalkan!" gerutu Alvira memperlihatkan wajah sinisnya.


Arjuna kembali menyesap minumannya sebelum beranjak dari tempat duduknya. Pria itu pun berpamitan pada orang-orang yang ada di sana.


"Kalau begitu, kami berangkat dulu ya Ma, Pa." Arjuna meraih tangan Arumi dan Fahri secara bergantian dan mengecupnya.

__ADS_1


"Alvira pergi dulu ya Ma, Pa," ucap Alvira yang juga menyalami tangan kedua orang tuanya secara bergantian.


"Hati-hati di jalan ya, Nak." Arumi berucap pada kedua orang tersebut.


"Iya, Ma. Vira titip Abian ya," ujar Alvira.


"Iya, Sayang. Sudah kalian pergilah," ucap Arumi sembari mengangkat kedua sudut bibirnya. Ia sangat senang melihat putrinya yang bisa kembali tersenyum, bersama dengan pria baru.


Kedua orang itu pun langsung masuk ke dalam mobil. Alvira melambaikan tangannya pada Arumi dan Rania. Mereka membalas lambaian tangan itu. Hingga akhirnya, mobil pun tak lagi terlihat, membuat mereka kembali menempati kursinya masing-masing.


"Mama sangat senang melihat Alvira kembali ceria. Dan menurut mama, Arjuna adalah pria yang tepat untuk Alvira," ucap Arumi kembali menyesap teh nya yang belum habis.


"Papa juga berpikir seperti itu. Lagi pula Arjuna dan Alvira sudah saling mengenal sedari kecil. Pasti mereka bisa saling memahami satu sama lain," tutur Fahri.


"Bagaimana denganmu, Varo? Apakah kamu setuju jika adikmu bersama dengan Arjuna?" tanya Arumi menatap ke arah putranya yang sedari tadi hanya diam.


"Varo juga setuju, Ma. Namun, kita serahkan semuanya pada Alvira, karena dia yang akan menjalani semuanya," ujar Alvaro.


"Ngomong-ngomong, apakah kamu pernah membesuk Andre di penjara?" tanya Arumi lagi.


Alvaro langsung memalingkan wajahnya. Memilih untuk beralih ke sofa single dan berbaring di atas sofa tersebut.


"Untuk apa menjenguk b*jingan tengil sepertinya," gumam Alvaro.


"Husstt ... Mas, jaga ucapanmu," tegur Rania sembari mengusap perutnya yang membuncit.


"Ah iya, maafkan aku." Alvaro yang menyadari bahwa saat ini istrinya tengah hamil. Ia tidak ingin anaknya nanti menurunkan sifat dari Andre. Seperti yang pernah ibu mertuanya bilang, jika istrinya tengah mengandung, maka Alvaro seharusnya menjaga ucapan atau sikapnya kepada semua makhluk hidup. Karena yang dianggap mitos oleh banyak orang masih sering terjadi.


"Kita tidak bisa bersikap seperti itu pada Andre. Bagaimana pun juga, ia adalah ayah biologis dari Abian. Apalagi sampai memisahkan Abian dari ayah kandungnya, perbuatan tersebut sangat tidak dibenarkan," tutur Fahri mencoba untuk memberikan nasihat.


"Tetapi sakit sekali rasanya saat mengingat bagaimana Alvira diremehkan. Aku benar-benar belum memaafkan pria itu sepenuhnya, Pa." Alvaro mengusap wajahnya dengan kasar. Kembali mengingat perlakuan Andre yang diam-diam menikahi wanita yang merupakan teman Alvira.


"Alvira anak papa, tentu saja papa merasakan sakit yang sama dengan apa yang kamu rasakan, Nak. Namun, bagaimana pun juga, tidak dibenarkan jika kita harus memisahkan Abian dari Andre. Bagaimana jika nantinya Abian tahu semuanya setelah ia dewasa? Tentu saja Abian akan menyalahkan kita yang berusaha memisahkan dia dari ayah kandungnya," papar Fahri mencoba memberikan penjelasan pada putranya.


"Sudah-sudah tidak usah membahas masalah itu lagi. Sebaiknya hal itu kita pikirkan nanti saja, saat ada Alvira," ucap Arumi menengahi ayah dan anak itu. Rania pun mengangguk setuju dengan ucapan ibu mertuanya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2