
"Maafkan aku, Jun."
Mendengar kalimat tersebut, membuat Juni langsung mengernyitkan keningnya. Apakah kali ini Shinta akan menolak dirinya? Apakah perjuangan Juni masih belum cukup untuk meluluhkan gadis yang ada di hadapannya?
"Kenapa? Apakah ini adalah penolakan darimu?" Tanya Juni menatap Shinta dengan serius.
Shinta kembali bungkam. Ia bingung hendak menjawab apa. Di satu sisi, ia merasa tidak enak pada Daren karena mereka baru tadi pagi putus, dan malam harinya Shinta menjadi kekasih Juni. Di lain sisi, ia juga tidak ingin menolak Juni dikarenakan hatinya yang menginginkan pria tersebut sedari dulu.
Melihat Shinta yang tak menjawab pertanyaannya tadi, terlihat gurat keraguan dari wajah gadis tersebut, membuat Juni pun mengajukan pertanyaan yang lainnya.
"Apakah kamu mencintaiku?"
DEGGG ....
Shinta mengerjapkan matanya beberapa kali. Juni langsung menanyakan hal tersebut tanpa ditunda-tunda lagi.
"Aku tanya sekali lagi, apakah kamu mencintaiku? Tolong jawab sejujurnya," ucap Juni.
"Jika kamu memang tidak mencintaiku, aku akan berhenti memperjuangkanmu.Dan aku ... Tidak akan kembali memintamu untuk menjadi kekasihku. Tawaranku tadi hanya berlaku satu kali seumur hidup," lanjut Juni melipat kedua tangannya ke depan.
Mendengar hal tersebut, tentu saj a Shinta langsung melayangkan protesnya. "Ba-bagaimana bi-bisa begitu? Ini tidak adil," ucap Shinta yang tiba-tiba.
"Tidak adil apanya? Aku sudah bertindak seadil-adilnya," bantah Juni.
"Ya ... kenapa tawaran itu hanya berlaku satu kali. Bagaimana jika aku tidak bisa menjawabnya kali ini. Berarti kesempatanku sudah tidak ada lagi," gumam gadis tersebut tampak gusar.
Diam-diam Juni memperhatikan ekspresi Shinta. Pria itu tersenyum samar, melihat ekspresi Shinta yang mudah terbaca. Tanpa menjawab pertanyaan pun, Juni sekarang sudah mendapatkan jawabannya melalui sorot mata gadis tersebut.
"Mulai saat ini, kita sudah resmi berpacaran," tegas Juni meraih minuman kaleng yang ada di hadapannya.
"Tapi aku belum memberikan jawabannya. Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu?" protes Shinta.
__ADS_1
"Aku tidak butuh jawabannya lagi. Karena semuanya sudah jelas. Dari caramu berkata seperti tadi, dari bantahanmu sebelumnya, berarti kamu memiliki rasa yang sama terhadapku. Jadi, untuk apa harus menunggu dan berpikir lagi," ujar Juni.
Shinta terdiam beberapa saat. Ia kembali meraih minuman yang ada di hadapannya, meneguk minuman tersebut hingga kandas. Setelah minuman yang ada di kaleng itu habis, gadis itu pun menyeka sudut bibirnya yang sedikit basah.
"Aku bukan tidak mau menjalin hubungan ini. Jujur, aku menyukaimu sejak lama. Sejak awal kamu menjauhiku. Namun, untuk saat ini, ku rasa akan sedikit egois jika aku menerimamu sementara hubunganku dan Daren baru saja kandas pagi tadi," ujar Shinta yang mencoba untuk mengatakan semuanya dengan jujur, karena ia tidak ingin memendam perasaannya sendiri, sementara Juni sudah mengutarakan isi hatinya.
"Aku bisa memaklumi hal itu. Kita menjalin hubungan dengan cara diam-diam. Bukankah itu lebih seru?" tanya Juni.
Shinta pun mengangguk, mengiyakan ucapan Juni. "Berarti ... mulai sekarang kita resmi berpacaran?" tanya Shinta.
"Apa kamu masih ingin menundanya? Bukankah aku katakan tadi, aku hanya memberikan satu kali kesempatan saja," ucap Juni seraya terkekeh.
"Dasar! Kamu memang curang." Shinta mencebikkan bibirnya.
Juni ikut tertawa. Pria tersebut kembali membuka kaleng minuman untuk Shinta. Lalu kemudian memberikannya pada gadis tersebut.
"Mari kita bersulang, anggap saja ini adalah bentuk perayaan hari jadi kita," ujar Juni.
Shinta memalingkan wajahnya sembari tertawa. Mereka pun saling mempertemukan kedua kaleng minuman tersebut. Lalu kemudian menenggak cairan yang ada di dalam kemasan kaleng itu.
Mendengar panggilan yang baru saja diucapkan oleh Juni, membuat Shinta tertegun, lalu kemudian terkekeh geli.
"Entah mengapa, aku merasa tergelitik saat mendengarmu memanggilku seperti itu," ucap Shinta mengulum senyumnya.
"Honey?"
"Hentikan!"
"Sweety?"
"Juni, hentikan itu!" tukas Shinta yang sedari tersipu malu. Wajahnya memerah akibat Juni memanggilnya dengan panggilan-panggilan tersebut.
__ADS_1
Keduanya pun kembali menyantap makanan yang Juni buat, sembari diiringi dengan sebuah obrolan-obrolan seputar keseharian mereka. Sesekali keduanya saling bertukar pandang dan tertawa, karena takdir tak di sangka akan terjadi. Skenario yang telah disiapkan oleh Tuhan, sungguh tak terduga sama sekali.
Yang awalnya tidak ada harapan sama sekali untuk memiliki, tiba-tiba secara mendadak mengungkap perasaan di saat hubungan Shinta baru saja kandas dengan Daren.
Sementara Daren, sampai saat ini Shinta tak tahu kabar pria itu. Ia juga tak menghubungi tetangga sekaligus mantan kekasihnya, karena tak ingin kembali memberikan harapan pada pria tersebut yang ujung-ujungnya akan menjadi tambah rumit untuk dirinya sendiri.
Kali ini, Shinta sedang menikmati waktunya bersama pria yang sedari dulu telah mengisi relung hatinya. Meskipun ini terdengar sedikit egois, Shinta tak ada pilihan lain. Kesempatan tidak akan terus datang untuk kedua kalinya. Lalu untuk apa menunda jika ada peluangnya? Mungkin jika Daren melihat hal seperti ini, ia akan menghujat Shinta dan Juni habis-habisan. Namun, mau bagaimana lagi. Cinta tak bisa dipaksakan. Lagi pula janur kuning belum melengkung, yang berarti Daren tak berhak atas hidup dan keputusan yang Shinta buat.
....
Sementara di lain tempat, Daren tengah berada di depan rumahnya, bersama dengan seorang wanita cantik.
"Kakak yakin akan hal ini? Orang tua kita memang sudah lama ingin menjodohkan kita berdua. Kakak lebih baik membantah perjodohan ini, Kak. Lagi pula ada wanita yang kakak cintai," ucap seorang gadis dengan tubuh yang lebih mungil dari pada Shinta.
"Bagaimana denganmu? Apakah ada pria lain yang kamu cintai? Jika ada katakan saja," ucap Daren
Gadis tersebut menunduk, lalu kemudian ia menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Aku hanya takut, jika tumbuh penyesalan di hati kakak. Beberapa Minggu yang lalu, kakak berkata padaku, memiliki wanita yang ingin kakak perjuangkan. Bukankah sebaiknya jika kita tidak perlu sampai sejauh ini?" papar gadis tersebut dengan tatapan teduhnya.
"Perjuanganku telah selesai. Dan aku ... gagal untuk memenangkan hatinya. Maafkan aku yang terkesan membuatmu menjadi pelarian ku. Aku hanya ingin mengikuti alur hidupku tanpa mengubahnya. Mungkin keinginan kedua orang tuaku adalah yang terbaik untukku nantinya. Maka dari itu, aku ingin menikahimu," tutur Daren.
"Setelah menikah nanti, apakah kakak akan tetap menganggapku layaknya seorang adik? Gadis kecil yang kakak asuh dulu?" tanya gadis tersebut.
"Semoga waktu dapat merubah segalanya. Untuk sementara ini, aku belum bisa melupakan wanita itu. Ku harap kamu bersabar sedikit," jelas pria tersebut.
Pandangan gadis tersebut penuh makna. Seolah memiliki perasaan yang dalam pada pria yang ada di hadapannya. "Semoga saja, waktu benar-benar mengubah segalanya. Kakak melihatku layaknya wanita dewasa, bukan gadis kecil lagi," ujarnya dalam hati.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita menikah!" ucap gadis itu dengan bersemangat.
Bersambung ....
Putus cinta galau❎
__ADS_1
Putus cinta menikah/punya pacar baru✅
Emang ya, si Daren sama Shinta ini manusia setengah ultramen🤣