Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 217. Sejauh Matahari


__ADS_3

"Tolong kamu buat salinan file yang ini, nanti berikan pada saya dalam bentuk cetak!" titah Alvira memperlihatkan layar komputernya kepada Shinta.


Gadis itu pun mengangguk paham, " Baik, Bu. Kalau begitu, saya pamit undur diri," ucap Shinta sembari menundukkan kepalanya.


Sepeninggal Shinta, Alvira menghela napasnya dengan kasar. Walaupun Shinta bukanlah selingkuhan mantan suaminya dulu, akan tetapi Alvira cukup kesal pada Shinta karena pernah menutupi kabar perselingkuhan Andre darinya.


"Meskipun sudah cukup lama berlalu, akan tetapi rasa dongkol di hatiku masih sama seperti yang kemarin," gerutu Alvira yang kembali fokus ke layar komputernya.


Di waktu yang bersamaan, Shinta kembali ke meja kerjanya. Wanita itu menatap pintu atasannya yang telah tertutup rapat.


"Sepertinya Bu Alvira tidak menyukai keberadaan ku. Dari caranya berbicara sedikit ketus, membuatku bisa menilai semuanya. Apakah karena ini berkaitan dengan Pak Andre dulu? Apakah Bu Alvira masih kesal kepadaku karena aku menutupi semuanya?" gumam Shinta memperlihatkan tatapan sendunya.


Gadis itu pun menghirup oksigen dengan rakusnya, lalu kemudian menghembuskannya secara perlahan. Ia mencoba kembali fokus pada pekerjaannya, sebelum Alvira murka dan akan semakin membenci dirinya.


Hari pun mulai beranjak malam, sementara Shinta, belum selesai mengerjakan tugas yang dilimpahkan oleh Alvira kepadanya. Beberapa orang sudah bersiap pulang, sementara gadis itu masih sibuk berkutat dengan layar komputer yang ada di hadapannya.


Terdengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya, Shinta mendongak, mengetahui bahwa suara heels itu berasal dari arah ruangan atasannya. Dan benar saja, Alvira tengah berjalan ke arahnya.


"Apakah belum selesai juga?" tanya Alvira pada Shinta.


"Belum, Bu." Shinta menjawab seadanya.


"Baiklah, kalau begitu selesaikan saja dulu semuanya sebelum pulang, saya minta malam ini semuanya harus sudah beres!" titah Alvira.


"Siap, Bu."


Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Alvira kembali melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu. Sementara Shinta, ia berusaha untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut secepat mungkin.


Saat lembur seperti ini, ia teringat akan kekasihnya, Juni. Pria itu biasanya selalu menunggu dirinya di meja kerjanya. Rela menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menunggu sang kekasih.


Namun, kini Shinta sendirian. Ada gurat kesedihan terpatri di wajahnya, akan tetapi gadis itu berusaha untuk tetap tegar dan segera menyelesaikan pekerjaannya agar cepat pulang. Bagaimana pun juga, sehari jauh dari Juni membuat dirinya rindu berat. Apalagi saat pagi tadi ia berangkat pagi-pagi sekali dan tak bertemu dengan Juni.

__ADS_1


Setelah beberapa jam kemudian, akhirnya pekerjaan Shinta pun terselesaikan juga. Ia mengecek beberapa kali, takut jika dirinya membuat kesalahan yang fatal.


"Baiklah, semuanya sudah selesai. Besok tinggal dicetak dan langsung diserahkan dengan Bu Alvira," gumamnya menyimpan file tersebut di komputernya. Tak lupa, ia juga menyalin file itu di flashdisk miliknya, untuk berjaga-jaga jika sesuatu yang tak diinginkan terjadi.


Shinta segera bersiap-siap, dan langsung meninggalkan meja kerjanya dengan sedikit berlarian kecil.


Sesampainya di luar, ia melihat dari kejauhan mobil yang masih berada di depan. Tak lama kemudian, seseorang yang ada di dalam mobil itu pun menurunkan jendela kacanya.


"Bu Alvira, ...." Shinta bergumam, melihat atasannya yang sedari tadi belum pulang.


"Masuklah! Aku akan mengantarkan kamu pulang!" seru Alvira.


"Tapi Bu, rumah saya kan jauh," ucap Shinta.


"Sudah! Naiklah cepat! Sebelum aku berubah pikiran!" tukas Alvira.


Shinta pun langsung bergegas masuk ke dalam mobil tersebut. Saat Shinta sedang berkutat dengan layar komputernya tadi, Alvira berpikir sejenak ketika berada di dalam mobil. Meskipun masih menyimpan rasa kesal dengan gadis tersebut, akan tetapi Alvira tak setega itu.


Meninggalkan Shinta sendirian juga membuat dirinya terlihat sama jahatnya. Dan akhirnya Alvira pun memutuskan untuk menunggu Shinta di mobil dan mengantarkan gadis itu pulang sampai ke rumahnya. Bagaimana pun juga, Shinta adalah karyawannya, yang pastinya tentu saja juga tanggung jawabnya saat berada di kantor.


Sementara di lain tempat, Juni menatap apartemen Shinta yang saat ini masih tertutup rapat. Pria tersebut kembali memperlihatkan guratan kekecewaannya, karena tak bertemu dengan kekasih hatinya.


"Tadi pagi ... ia berangkat pagi-pagi sekali. Dan malam ini, ia juga belum pulang. Apakah nanti kita akan sejauh ini? Yang dulunya sedekat nadi kini menjadi jauh layaknya matahari?" gumam Juni.


Juni masih menyempatkan dirinya untuk menunggu Shinta di luar. Pria itu beberapa kali menghubungi nomor sang kekasih akan tetapi tak kunjung jua mendapatkan jawaban atas panggilannya itu.


"Kenapa dia tidak mengangkat teleponku?" gumam Juni sembari mengerutkan keningnya.


Di waktu yang bersamaan, Shinta tengah berada dalam perjalanan bersama dengan Alvira. Suasana pun terasa sunyi karena salah satu dari mereka yang tak ada membuka suara.


Beberapa kali Juni menelepon, akan tetapi Shinta tak menyadarinya, karena ia memasang ponselnya dengan mode hening. Tak ingin jika terganggu oleh telepon dari siapapun, mengingat Alvira yang selalu memasang wajah tak bersahabatnya.

__ADS_1


Sebenarnya Alvira juga tak nyaman dengan situasi ini. Ia adalah tipe wanita yang sedikit berisik. Namun, mendadak menjadi diam saat bersama dengan Shinta. Entah mengapa, ia merasa canggung pada gadis yang ada di sebelahnya. Mungkin karena egonya yang tinggi, mengingat gadis tersebut pernah berbuat kesalahan yang fatal pada dirinya.


"Rumah kamu di mana?" tanya Alvira yang mencoba membuka suara. Lagi pula pertanyaan tersebut bukanlah sekedar basa-basi saja, melainkan dirinya yang memang tak mengetahui alamat rumah Shinta.


Shinta pun menyebutkan alamat tempat tinggalnya dan hal itu membuat Alvira cukup terkejut.


"Jauh sekali. Jadi ... kamu datang tadi ...."


"Saya berangkat pagi-pagi sekali, Bu." Shinta pun kembali membalas ucapan Alvira.


Sebelumnya, Alvira tidak tahu mengenai lokasi tempat tinggal Shinta. Ia pikir, Shinta masih menempati rumah lamanya dulu yang tentu saja letaknya tak jauh dari kantor cabang.


"Kalau begitu, kamu pindah saja. Bukannya aku terlalu mengatur, tetapi mengingat bahwa kamu adalah seorang wanita, membuatku sedikit mengkhawatirkan kamu. Bagaimana jika ada orang jahat nantinya? Melihat kamu bepergian jauh seperti ini," ucap Alvira yang mencoba untuk memberikan masukan kepada Shinta.


"Tidak apa-apa, Bu." Shinta tersenyum, karena Alvira sedikit demi sedikit sudah mulai sedikit luluh padanya.


"Serius, jika kamu mau, aku akan menyewakan tempat tinggal untukmu," tawar Alvira lagi.


Shinta pun tampak berpikir, entah ia harus menolak kebaikan Alvira, atau justru menerimanya. Namun, sesaat kemudian, ia pun memilih menggelengkan kepala.


"Tidak apa-apa, Bu. Saya sanggup berangkat pagi-pagi dan pulang malam," balas Shinta yang tentunya tak ingin pindah dari apartemennya. Mengingat dirinya yang sudah berjanji pada sang kekasih untuk tetap tinggal di sisinya meskipun bekerja di tempatkan di lokasi yang cukup jauh.


"Aku serius. Jika kamu menolakku karena merasa tidak enak dengan kesalahanmu di masa lalu, lupakan saja! Aku sebenarnya masih menyimpan rasa kesal itu . Namun, setelah ku pikir-pikir, terlalu bodoh kesal denganmu hanya karena orang yang tidak penting itu," ucap Alvira yang membicarakan mantan suaminya itu.


Seketika, Shinta pun kembali menundukkan pandangannya. Dugaannya benar, jika Alvira masih merasa kesal karena Shinta yang menutupi perselingkuhan Andre dari Alvira.


"Maafkan saya Bu," ujar Shinta penuh sesal.


"Tidak usah di bahas lagi. Orangnya pun sudah mendekam di balik jeruji besi. Mulai sekarang, ku harap kedepannya, kamu tidak membela sesuatu yang salah lagi," tutur Alvira.


"Baik, Bu." Shinta tersenyum, karena sudah mendapatkan maaf dari Alvira.

__ADS_1


Di lain tempat, Juni sudah menunggu cukup lama. Ia beberapa kali menelepon sang kekasih tak kunjung mendapatkan jawabannya. Hal tersebut membuat Juni kesal, melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan hampir pukul 11 malam, membuat pria itu pun menyerah untuk menunggu Shinta dan memilih masuk ke dalam huniannya.


Bersambung ....


__ADS_2