Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 60. Sayang


__ADS_3

Keesokan harinya, Alvaro menjalani rutinitas seperti biasanya. Menyiapkan sarapan untuk putranya dan sekarang bertambah anggota lagi, tetangga sebelah yang telah resmi menjadi kekasihnya.


Bima baru saja keluar dari kamarnya. Bocah tersebut mulai mendekati ke meja makan. Mengendus aroma makanan yang menusuk ke indera penciumannya.


"Pa, papa sering sekali memasak kepiting," ujar Bima sembari menunjuk besar yang berisi sup kepiting.


"Papa menyukainya, Tante Rania juga suka. Apakah kamu tidak suka?" tanya Alvaro.


"Bima suka, Pa. Bu Dokter akan bergabung saralany bersama kita kan?" tanya Bima.


"Iya, Nak. Bima duduklah terlebih dahulu, papa mau panggil Bu Dokter dulu," ujar Alvaro. Bima pun menanggapi ucapan ayahnya dengan anggukan pelan.


Alvaro keluar dari rumahnya, lalu kemudian berjalan tepat di depan pintu Rania. Pria tersebut menekan bel beberapa kali. Tak lama kemudian, gadis cantik sang pujaan hati pun membukakan pintu untuknya.


Rania melemparkan senyuman terbaik pada kekasih hatinya itu.


"Selamat pagi," sapa Alvaro.


"Pagi," timpal Rania.


"Apakah kamu belum sarapan?" tanya Alvaro pada gadis tersebut.


Rania menganggukkan kepalanya, seraya mengulum senyumnya.


"Kalau begitu, ayo sarapan di rumah saja!" ajak Alvaro.


"Tunggu sebentar." Rania kembali masuk ke dalam rumahnya, mengambil tas yang biasa ia pakai bekerja, lalu kemudian kembali menemui Alvaro yang masih berada di depan pintu.


Alvaro melangkahkan kakinya lebih dulu, masuk ke dalam rumah. Sementara Rania, mengekor di belakang pria tersebut. Setibanya di dalam rumah, Rania mencium aroma masakan kesukaannya. Mata gadis itu langsung berbinar, beriringan dengan perutnya yang keroncongan untuk minta di isi.


"Duduk di sini saja, Bu Dokter." Bima menepuk kursi kosong yang ada di sebelahnya.


Rania mengembangkan senyumnya, lalu kemudian menjatuhkan bokongnya tepat di sebelah Bima. Alvaro senang karena Bima terlihat sangat menyukai Rania. Memang sedari awal, anak laki-laki tersebut sudah meminta Alvaro untuk menjadikan Rania ibu pengganti. Hanya saja, kemarin Alvaro masih ragu untuk mengabulkan permintaan anaknya itu.


"Bu Dokter, kata papa Bu Dokter sangat suka sayur kepiting ini," ucap Bima sembari menunjuk sup kepiting jagung buatan Alvaro.


"Iya, Bu Dokter sangat menyukainya. Tapi, dari mana kamu tahu jika aku suka ini?" tanya Rania dengan tatapan penuh selidik.


"Aku melihat postingan dari sosial mediamu," jawab Alvaro.


Rania tampak mengingat-ingat pertama kali Alvaro menyuguhkan masakan ini. Dan saat itu mereka menikmati sarapan bersama Shinta.


"Berarti saat ada Shinta kemarin ...."


"Iya, dia juga lah yang memberikanku beberapa masukan untuk mendekatimu," ucap Alvaro yang langsung menyela perkataan kekasihnya itu.


Seketika rasa bersalah pun mulai menyelimuti Rania. Selama ini, Rania berpikir kalau Shinta berniat untuk mengajaknya bersaing memperebutkan Alvaro.


"Aku merasa bersalah padanya. Aku kira dia juga menyukaimu," gumam Rania.

__ADS_1


Alvaro terkekeh mendengar ucapan Rania. "Aku yang menyuruhnya memancing amarahmu. Aku hanya ingin lihat, seberapa besar kamu menyukaiku. Dan ternyata ... kamu rela berpura-pura kehilangan kunci mobilmu hanya karena takut aku berduaan saja dengannya," celetuk Alvaro yang mulai mengingat saat Rania berpura-pura kehilangan kunci mobilnya sewaktu itu.


"Tidak usah membahasnya lagi! Aku malu," cicit gadis tersebut.


Bima sedari tadi hanya memperhatikan interaksi kedua orang dewasa yang ada di hadapannya. "Bisakah kita mulai menyantap sarapannya? Bima takut telat datang ke sekolah nantinya," ujar Bima yang mulai membuka suaranya.


"Ah iya maafkan Papa. Ayo silakan dinikmati!" ucap Alvaro yang sadar karena telah melupakan keberadaan putranya di tengah-tengah mereka.


Rania menganggukkan kepalanya. Ketiga orang tersebut langsung menyantap makanan yang ada di hadapan mereka dengan tenang.


Setelah menyantap sarapan, mereka pun bersiap untuk berangkat. Saat di parkiran, Alvaro dan Rania menuju ke mobilnya masing-masing.


"Bu Dokter, kenapa tidak ikut bersama kami saja, biar papa yang antar Bu Dokter ke klinik," tawar Bima sembari menatap Rania.


Rania sedikit tercengang, gadis itu memberikan kode melalui tatapan mata pada Alvaro, menanyakan apakah pria tersebut yang menyuruh Bima. Namun, Alvaro yang tidak mengetahui apa-apa hanya mengendikkan bahunya.


"Naiklah!" ajak Alvaro yang memang menyetujui pendapat putranya.


Rania pun menjauh dari mobilnya, lalu kemudian berjalan menghampiri kedua pria berbeda generasi tersebut.


"Bu Dokter di depan saja," ujar Bima saat Rania hendak membuka pintu belakang.


"Baiklah, tetapi Bima masuklah. Bu Dokter membukakan pintu untuk Bima," celetuk Rania. Kedua orang dewasa tersebut saling melemparkan pandangan ke arah anak laki-laki itu. Bima seakan mengetahui tentang hubungan atau pun kedekatan antara ayahnya dengan tetangganya itu.


Setelah memastikan Bima masuk, Rania langsung menghampiri Alvaro. "Apakah kamu yang mengajarinya?" tanya Rania.


"Tidak. Dia memiliki inisiatif sendiri," timpal Alvaro.


"Entahlah. Aku kurang yakin akan hal itu. Namun, jika dia mengetahuinya, tentu saja dia akan sangat senang. Bima berharap kamu bisa menjadi ibu penggantinya," ujar Alvaro.


Lagi dan lagi, wajah Rania bersemu merah. Melihat kekasihnya yang sering tersipu malu membuat Alvaro merasa gemas.


"Ayo masuklah!" ucap Alvaro.


Rania berjalan menuju pintu yang berseberangan dari posisinya. Gadis itu masuk ke dalam mobil sembari memegangi wajahnya yang terasa panas dan sedikit memerah. Setelah memastikan Rania masuk ke dalam mobil, Alvaro langsung melajukan kendaraan tersebut menuju ke jalanan.


.....


Mobil yang dikendarai oleh Alvaro tiba di sekolah Bima. Rania berinisiatif untuk mengantarkan Bima ke dalam. Menyuruh Alvaro agar tetap berada di dalam mobil.


"Kamu di sini saja. Biar aku yang antar Bima ke dalam," ucap Rania langsung melepaskan sabuk pengamannya.


Gadis itu membantu Bima turun dari mobil. Menggandeng tangan putra dari kekasihnya itu menuju ke gerbang sekolah.


"Bima, kalau misalkan papamu sibuk, yang antar sekolah biar Bu Dokter saja," tawar Rania.


Bima langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, Bu Dokter. Papa tidak pernah merasa sibuk untuk mengantar Bima ke sekolah. Papa juga selalu menjemput Bima setiap Bima pulang sekolah. Bima tidak mau merepotkan Bu Dokter, Bu Dokter harus segera mengobati orang yang sakit," tutur Bima.


Rania terenyuh akan ucapan anak laki-laki tersebut. Gadis itu berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan tinggi Bima.

__ADS_1


"Anak pintar! Ayahmu sangat bangga memilikimu, Nak. Kalau Bu Dokter tidak sibuk, Bima juga libur sekolah, mau kan Bu Dokter ajak jalan-jalan. Bu Dokter ingin Bima merasa lebih nyaman bersama Bu Dokter," ucap Rania. Gadis itu takut, jika Bima tak merasa nyaman dengannya. Walau bagaimanapun juga, Rania tetap ingin menjalani hubungan yang serius dengan Alvaro, mengingat usia gadis itu sudah dewasa dan bukan waktunya untuk berpacaran lalu kemudian putus.


"Bu Dokter mau ajak Bima kapan pun, Bima siap Bu Dokter. Bu Dokter tidak usah takut jika Bima tidak suka dengan Bu Dokter," ujar Bima.


Rania mengusap kepala Bima dengan lembut. "Baiklah. Nanti Bu Dokter akan kabari jika Bu Dokter memiliki waktu senggang. Sekarang Bima masuklah ke kelas. Belajarlah dengan tekun," ucap Rania.


"Siap Bu Dokter." Bima meraih tangan Rania untuk menyalaminya, lalu kemudian masuk ke dalam kelas.


Rania tersenyum menatap anak kecil itu. Bima bukanlah anak-anak seperti pada umumnya. Yang selalu merengek dengan orang tuanya. Bima sudah berpikiran lebih dewasa ketimbang anak-anak lain yang seumuran dengannya.


Setelah mengantar Bima, Rania kembali masuk ke dalam mobil. Gadis itu mengernyitkan keningnya saat melihat sang kekasih tersenyum menatap ke arahnya.


"Ada apa? Apakah ada hal yang lucu? Atau ada sesuatu di wajahku?" tanya Rania yang melihat dirinya dari kaca spion.


"Tidak apa-apa. Aku berpikir, kenapa kamu semakin hari semakin cantik saja," goda Alvaro.


"Berhentilah membual! Berarti selama ini aku tidak cantik," gerutu Rania.


"Kamu cantik dari kemarin-kemarin. Tapi hari ini kami bertambah cantik dari sebelumnya," ucap Alvaro yang sengaja menggoda kekasihnya itu. Ia merasa gemas melihat Rania dengan wajah merona kemerahan karena tersipu malu.


"Apakah kita akan tetap seperti ini? Lajukan mobilnya dan berhenti menggodaku!" ujar Rania sembari mengulum senyumnya, merasa malu karena sedari tadi Alvaro terus merayunya.


Alvaro terkekeh, lalu kemudian melajukan mobil tersebut menuju ke klinik terlebih dahulu.


Di lain tempat, Hilda melirik jam tangannya. Biasanya Rania sudah tiba, akan tetapi sampai sekarang gadis itu belum terlihat batang hidungnya.


"Biasanya dia datang lebih awal, tetapi sampai sekarang dia belum datang juga," gumam Hilda.


"Apakah terjadi sesuatu padanya di jalan?" lanjut gadis tersebut yang merasa panik.


Hilda mengambil ponsel di dalam sakunya. Gadis tersebut mencari kontak Rania, lalu kemudian menempelkan benda pipih itu ke telinganya.


Tak lama kemudian, ia melihat sebuah mobil yang baru saja tiba di klinik. Hilda melihat Rania yang baru saja keluar dari mobil itu. Saat si pengendara menurunkan kaca mobilnya, terlihat jelas bahwa pria yang bersama Rania adalah Alvaro.


"Sepertinya memang terjadi sesuatu," gumam Hilda yang kembali menyimpan ponselnya.


"Aku bekerja dulu, kamu pergilah ke kantor!" ujar Rania sembari melambaikan tangannya.


"Selamat bekerja, Sayang." Alvaro mengembangkan senyumnya.


"Apa? Tadi kamu memanggilku dengan sebutan apa?"


"Sayang."


Lagi dan lagi semburat merah muncul di kedua pipi Rania. "Hati-hati di jalan .... Ayang," ujar Rania yang langsung berlari masuk ke dalam klinik.


Alvaro melihat kekasihnya seperti itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sembari terkekeh geli. Pria itu pun kembali melajukan mobilnya menuju ke kantor.


Bersambung ....

__ADS_1


Yang jomblo, jangan nangis di pojokan. Buka jasa buat yang mau ngungsi ke mars nih🤪


__ADS_2