
Sore itu, Rania menunggu kepulangan suaminya. Ia sudah membayangkan Alvaro akan membawa mie ayam dengan daging ayam yang melimpah, bumbu yang lebih terasa, serta mie yang kenyal.
"Duh, membayangkannya saja membuatku benar-benar sangat lapar," gumam Rania sembari mengusap perutnya.
"Sepertinya benar kata nenekmu, Nak. Mama ini bukan hanya mengidam, melainkan serakah," ucapnya bermonolog.
Di waktu yang bersamaan, Bu Isna mencari keberadaan Rania. Ia memeriksa Rania di kamarnya, akan tetapi tidak ada siapapun di dalam ruangan tersebut.
Bu Isna turun dan mencari Rania di dapur, ia juga tidak menemukan keberadaan putrinya di sana. "Astaga, dimana anak itu," gumam Bu Isna.
Bu Isna berjalan menuju ke ruang tengah, ruang keluarga, dan ia pun tak menemukan Rania. Ia melihat seorang pelayan yang baru saja lewat di hadapannya, Bu Isna pun langsung memanggil pelayan tersebut.
"Bi, lihat Rania?" tanya Bu Isna.
"Tadi Nyonya ada di depan," timpal pelayan tersebut.
"Oh, baiklah. Terima kasih ya," ujar Bu Isna yang sesaat kemudian melangkahkan kakinya menuju ke depan.
Sesampainya di sana, Bu Isna mengedarkan pandangannya dan melihat Rania tengah duduk di ayunan sembari memainkan rambutnya. Bu Isna pun bergegas menghampiri putrinya.
"Mama sedari tadi mencarimu ke sana dan kemari ternyata kamu ada di sini," ujar Bu Isna sedikit tersengal karena sedari tadi mengitari rumah yang berukuran besar tersebut.
"Aku menunggu Alvaro pulang, Ma." Rania mengarahkan pandangannya menatap ke arah jalanan.
"Tunggu di dalam saja. Wanita hamil tidak boleh keluar rumah saat menjelang Maghrib," tegur Bu Isna.
"Ayo! Tunggu Alvaronya di dalam saja!" ajak Bu Isna.
__ADS_1
Rania pun beranjak dari tempat duduknya, lalu kemudian mengikuti ibunya dari belakang. Bu Isna menutup pintu, mengajak Rania duduk di sofa yang ada di ruang tengah.
"Nak, kalau kamu sedang hamil seperti ini, banyak sekali larangannya," ujar Bu Isna menasihati Rania.
"Mulai dari tidak boleh duduk di depan saat menjelang Maghrib, tidak boleh membunuh hewan, tidak boleh mengatakan keburukan orang lain dan masih banyak lagi. Ini larangan secara adat atau mitos kata kalian, akan tetapi alangkah lebih baiknya jika kita tetap menurut, dan tidak melakukan larangan-larangan itu," lanjut Bu Isna.
"Berarti aku tidak boleh berkata hal-hal yang buruk meskipun itu hanya sekedar mengatai suamiku?" tanya Rania.
"Tentu saja. Intinya kalau menurut adat, saat hamil kita tidak boleh membicarakan keburukan orang lain. Walaupun tidak hamil pun seharusnya juga begitu. Turuti sedikit perkataan ibu kali ini, jangan membantah!" tegas Bu Isna.
"Iya, Ma. Iya ...." Rania menganggukkan kepalanya.
Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai Alvaro pun tiba di rumah. Pria tersebut datang sembari membawa makanan yang dipesan oleh istrinya tadi.
Alvaro masuk ke dalam rumah, menemukan mertua dan juga istrinya tengah berada di ruang tengah.
Rania segera datang menghampiri Alvaro. Pria itu tersenyum, merentangkan tangannya, siap untuk di peluk oleh sang istri. Namun, sepertinya harapan Alvaro terlalu tinggi, karena Rania menghampirinya hanya untuk mengambil kantong plastik yang ada di tangannya, bukan ingin memeluk pria itu.
"Ini mie ayamnya kan Mas? Hmmm ... aromanya sedap sekali," ujar Rania yang langsung membawa kantong plastik tersebut bersamanya.
Sementara Alvaro, ia hanya bisa menggaruk tengkuknya melihat kelakuan sang istri.
"Rania ini memang benar-benar tidak sopan. Bukannya suami pulang di sambut, justru hanya mengambil makanannya saja," ucap Bu Isna.
"Tidak apa-apa, Ma. Lagi pula Rania mungkin memang benar-benar lapar karena menunggu mie ayamnya sedari tadi," ujar Alvaro.
"Lapar apanya, Nak? Saat kamu menelepon tadi, dia baru saja menghabiskan siomay dalam porsi yang besar dan saat kamu menelepon dia juga sedang makan es krim. Sebelum menunggumu, dia juga sudah menghabiskan sepiring nasi," jelas Bu Isna memaparkan semuanya.
__ADS_1
Alvaro hanya bisa mengulas senyum. Ia tak heran jika istrinya makan banyak karena sebelumnya Rania juga bertingkah demikian, akan tetapi tetap menyebut dirinya seolah tak berselera makan.
"Varo permisi ke atas dulu ya, Ma. Mau mandi dulu," ucap Alvaro.
"Iya, silakan. Mama mau ke kamar Bima, melihat cucuku yang sedang mengerjakan tugas sekolahnya di kamar," ujar Bu Isna yang juga pergi dari tempat tersebut.
Sementara Rania, ia menikmati mie ayam yang dibelikan oleh suaminya dengan begitu lahap. Sejak hamil, Rania selalu merasa lapar dan ingin makan terus menerus.
"Emmm ... ini rasanya enak sekali. Besok-besok Mas Varo harus membelikan ku mie ayam ini lagi," gumamnya sembari menikmati makanan yang ada di hadapannya.
"Mama lebih banyak makan, Nak. Kamu sehat-sehat ya di dalam perut mama. Mama sangat menantikan kehadiran kalian," ucapnya yang kembali menikmati mie ayam tersebut.
Di dalam kamar, Bima tengah menggambar. Ia mendapatkan tugas sekolah untuk menggambar anggota keluarganya. Dan Bima pun menggambar Rania, Alvaro, Diara, dan juga dirinya. Tak lupa dia sosok anak kecil yang tengah ia gandeng.
Bu Isna baru saja masuk ke dalam kamar cucunya. Ia melihat Bima yang terlihat tampak serius menyelesaikan gambarnya. Sesaat kemudian, keningnya mengernyit melihat bentuk anak kecil yang tengah digandeng oleh Bima.
"Yang ini gambar siapa, Sayang?" tanya Bu Isna yang merasa penasaran.
"Ini adik, Nek." Bima menimpali ucapan neneknya sembari mengembangkan senyumnya.
"Ada dua?" tanya Bu Isna.
Bima menganggukkan kepala. " Bima berharap di dalam perut mama ada dua orang adik yang lucu," ucap anak laki-laki tersebut.
"Dua orang adik? Apakah maksud Bima adalah kembar?" batin Bu Isna.
Bersambung ....
__ADS_1