
Selamat pagi, Sayang. Jangan lupa sarapan ya, titip salam buat Abian.
Alvira tersenyum saat mendapati pesan singkat di lagi hari dari Arjuna. Sejak mereka memutuskan untuk menjalin hubungan, Alvira selalu saja mendapatkan pesan singkat dari Arjuna, pria yang telah menjadi kekasihnya. Meskipun hanya sekedar pesan singkat dengan berisikan ucapan selamat pagi, akan tetapi hal tersebut mampu membuat wajah Alvira merona, bak anak remaja yang baru saja mengenal cinta.
Alvira membalas pesan singkat tersebut sembari mengembangkan senyumnya.
Iya. Kamu hati-hati di jalan ya Sayang. Semangat kerjanya.
Alvira mengirimkan sesuatu yang baru saja ia ketik, dengan jantung yang berdegup tak karuan. Entahlah, mungkin api cinta yang sempat padam kemarin kini mulai menyala untuk pria yang berbeda. Dan kali ini, Alvira benar-benar merasakan bahagia, seakan perlakuan kecil dari Arjuna mampu menghangatkan hatinya.
Tringgg ...
Ponsel Alvira kembali berbunyi, pertanda bahwa Arjuna kembali membalas pesannya.
Tentu saja, Sayang. Demi menghalalkan kamu, aku akan bekerja dengan giat.
Wajah Alvira langsung bersemu merah setelah membaca pesan yang dikirimkan oleh kekasihnya itu. Kali ini, ia merasa ada sejuta kupu-kupu yang berterbangan menggelitik perutnya.
"Menghalalkan? Dia benar-benar membuatku malu," gumam Alvira seraya menyentuh kedua pipinya yang terasa panas.
Arumi melihat pintu kamar putrinya terbuka. Wanita itu pun langsung menuju kamar Alvira dan mendapati wajah janda anak satu itu tengah bersemu merah.
"Wah, ada apa ini? Mengapa wajahmu tiba-tiba merah seperti kepiting rebus?" goda arumi yang mendapati putrinya tengah tersipu malu sembari memegang ponsel.
"Ah Mama, tidak ada apa-apa," elak Alvira kembali meletakkan ponselnya ke atas nakas.
"Jangan mengelak! Mama juga pernah muda, jadi tahu apa yang kamu rasakan saat ini," ucap Arumi.
Alvira hanya bisa mengusap tengkuknya, mengusir rasa canggung karena kedapatan oleh ibunya. Mustahil bagi wanita itu mengaku bahwa dirinya bersemu karena pesan singkat yang dikirimkan oleh Arjuna.
Arumi menggendong cucunya yang sibuk bermain sendiri sembari menggigit pacifier (empeng). Wanita itu menciumi pipi gembul cucunya dengan gemas.
"Cucuku sayang, sebentar lagi punya papa baru," celetuk Arumi.
"Sepertinya terlalu cepat untuk mengatakannya demikian, Ma." Alvira beringsut mendekat pada ibunya.
__ADS_1
"Loh, kenapa? Lagi pula mantan suami kamu sudah memiliki keluarga baru. Tidak ada salahnya kamu juga melangkah ke depan dan menikah dengan Arjuna. Mama sangat setuju jika kamu bersama dengan Juna," ucap Arumi.
"Aku masih bingung, Ma. Bagaimana nantinya Abian setelah mengetahui jika Arjuna bukan papa kandungnya," lirih Alvira.
"Ehemmm ... berarti mamamu sudah berencana untuk menikah lagi, Bian." Arumi terkekeh menatap cucunya. Abian tertawa sekilas, seakan mengerti pembicaraan dari kedua wanita tersebut.
Alvira menjadi salah tingkah saat ibunya berucap demikian. Ia hanya bisa tertunduk sembari mengulum senyum.
"Nak, jika masalahmu menunda semuanya hanya karena itu, sebaiknya hal tersebut tidak usah dipikirkan. Kamu bisa mengutarakannya dengan baik. Katakan sejujurnya pada anakmu. Abian pasti akan mengerti apa yang terjadi pada ibunya," ujar Arumi memberikan pengertian pada putrinya.
"Yang terpenting saat ini adalah bagaimana kamu menyikapinya. Lagi pula kamu bercerai dari Andre karena pria itu yang mengkhianatimu lebih dulu," lanjut Arumi.
Alvira menganggukkan kepalanya mendengar masukan dari sang ibunda. Kuncinya adalah ia hanya perlu jujur saja, tanpa menutupi hal sekecil apapun pada putranya kelak.
"Jadi ... sekarang sudah mulai menata hidup dan melangkah lebih maju lagi? Sepertinya Arjuna akan sangat senang jika mama menyampaikan hal ini padanya," ucap Arumi.
"Ma ...." Alvira mendelik, sesaat kemudian ia pun terkekeh. Menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Loh, kenapa? Bukankah lebih cepat lebih baik?" goda Arumi.
"Nanti saja, Ma. Tunggu Abian masuk TK dulu, baru menikah lagi," celetuk Alvira disertai dengan tawa kecil.
Alvira tak menanggapi ucapan ibunya. Ia lebih memilih mengambil Abian dari tangan Arumi yang ternganga akibat ucapan Alvira.
"Ayo kita main, Nak. Biarkan nenek merenungi ucapan mama tadi," ujar Alvira seraya terkekeh geli.
....
Alvaro baru saja tiba di kantor. Pria tersebut menaiki lift yang mengantarkannya menuju ke ruangan.
Tak lama kemudian, pintu lift terbuka. Ia melangkahkan kaki, berjalan menuju ke ruangannya. Selang beberapa saat, Alvaro pun menghentikan langkahnya. Ia tertegun melihat siapa yang ada di depan ruangannya, tersenyum menyambut kedatangannya.
"Selamat pagi, Pak." Juni mengembangkan senyum terbaiknya.
"Juni, ... kamu kenapa sudah masuk bekerja? Istirahat saja di rumah terlebih dahulu. Masuklah bekerja setelah kondisimu benar-benar pulih. Kamu tenang saja, aku tidak akan memecatmu karena hanya kamu libur lama," ujar Alvaro memindai Juni dari bawah hingga ke atas.
__ADS_1
"Saya sudah lebih baik dari kemarin, Pak." Juni berucap dengan penuh keyakinan.
"Baiklah, jika kamu sudah merasa tidak apa-apa. Tetapi jika nanti kamu kembali merasa sakit, katakan padaku. Aku akan mengantarmu pulang," ujar Alvaro.
"Siap, Pak." Juni tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Alvaro pun langsung masuk ke dalam ruangannya, dan Juni mengekor dari belakang. Saat melangkahkan kakinya menuju ke kursi kebesarannya, Alvaro tersenyum samar. Ia sangat senang dengan kembalinya Juni bekerja, membuat beban yang ada di pundaknya agak sedikit ringan. Dengan begitu, Alvaro bisa membaginya separuh untuk sang asisten.
"Saat kamu tidak masuk bekerja, Shinta sedikit kehilangan arah. Yang biasanya dia ulet dalam segala hal, tiba-tina saja menjadi seperti seorang pemula dalam pekerjaannya," ungkap Alvaro sedikit berbisik pada sang asisten.
"Shinta? Dia sekarang menjadi tetanggaku," celetuk Juni dengan wajah polosnya.
Alvaro yang baru saja meraih pena di atas meja, tiba-tiba terjatuh begitu saja. Pria itu tercengang seusai mendengarkan ucapan yang dilontarkan oleh asistennya.
"Apa? Tetangga?" tanya Alvaro yang seakan tak percaya.
Juni menganggukkan kepalanya menimpali ucapan atasannya itu.
"Berarti dia pindah di sebelah unitmu?" tanyanya lagi.
"Iya, benar."
"Sudah berapa lama?" Alvaro saat ini seakan tengah menginterogasi asistennya dengan melontarkan banyak pertanyaan pada pria tersebut.
"Sekitar dua minggu yang lalu," timpal Juni.
"Jun, apakah kalian ...." Alvaro menepis pikirannya yang tidak-tidak mengenai Juni, karena sebelum terjadinya kecelakaan, ia tahu betul Juni dan istrinya bertengkar karena Sela yang mengatakan Juni berselingkuh.
"Ada apa, Pak?" tanya Juni merasa penasaran dengan ucapan yang belum terselesaikan.
"Ah, lupakan! Sebaiknya kamu kembali ke meja kerjamu," titah Alvaro yang memilih untuk tak meneruskan ucapannya.
"Baik, Pak." Juni pun menunduk, lalu kemudian melangkahkan kaki menuju pintu keluar. Namun, langkahnya sempat terhenti, dan berbalik menatap sang atasan.
"Tak sedikit pun saya mengkhianati istri saya, Pak. Bahkan sampai sekarang, hati saya tetap utuh untuk istri saya tanpa terbagi," jelas Juni yang seakan mengerti dengan ucapan yang tak terselesaikan yang dilontarkan oleh atasannya.
__ADS_1
Juni kembali berbalik, dan melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
Bersambung ....