
Dita menyeka sisa air yang ada di bibirnya. Ia sangat terkejut karena pria yang sebelumnya ia akui sebagai kekasihnya, merupakan suami dari teman yang tidak disukainya.
"Hahaha ... aku tahu kamu menghindari ku, tetapi alangkah baiknya jika tidak usah bersandiwara dengan mengatakan sebagai suaminya." Dita terus saja berpikiran jika Alvaro juga melakukan sandiwara, karena pria tersebut memang berusaha menghindar darinya sedari tadi.
Alvaro menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia pun memperlihatkan layar depan ponselnya. Terpampang jelas di wallpaper ponsel Alvaro adalah foto pernikahannya dengan Rania.
Dita kesulitan meneguk salivanya, seakan mengganjal di tenggorokan. Kini ia tak dapat lagi berkutik, dan tidak juga bisa mengelak. Fakta yang ada di depannya sudah begitu jelas, bahwa pria itu adalah milik Rania, tidak bisa diganggu gugat.
"Ck! Jadi kamu yang berbohong, Dita? Memalukan!" ketus Sintia yang langsung mencibir temannya.
"Sayang!" terdengar suara bariton dari seberang sana, membuat Sintia pun menolehkan kepalanya, mengikuti arah sumber suara. Wanita itu langsung tersenyum, melambaikan tangannya ke arah pria bertubuh sedikit gempal.
"Ayo ke sini!" Sintia memanggil suaminya untuk ikut bergabung bersama. Setidaknya ia menutupi rasa malunya sedikit dengan memperkenalkan suami kayanya.
Alvaro dan Rania tidak menggubris sama sekali. Mereka berdua sibuk bersitatap, lalu kemudian saling melempar senyum.
Alvaro menggenggam tangan Rania yang ia letakkan di atas meja. Memberikan tatapan penuh kelembutan serta cinta pada sang istri. Dita melihat hal tersebut merasa sedikit kesal dan juga malu bersamaan karena telah mengaku bahwa Alvaro adalah kekasihnya, yang ternyata suami temannya sendiri.
Sintia menepuk kursi di sebelahnya saat sang suami sudah menghampiri. Pria bertubuh gempal tersebut menarik kursi yang ada di depannya. Namun, tangannya terhenti saat melihat siapa yang berada satu meja dengan sang istri.
"Pak Alvaro, ...." Pria itu menundukkan kepalanya dengan hormat. Hal tersebut tentu saja membuat Sintia mengerutkan keningnya, melihat suami yang bersikap demikian.
"Mas Toni ...." Sintia memanggil suaminya pelan, bingung dengan sikap yang ditunjukkan oleh sang suami terhadap lelaki yang ada di depannya.
"Sayang, ini adalah Pak Alvaro. Beliau CEO di perusahaan utama," ujar pria yang bernama Toni tersebut.
"Hah?!" Sintia tampak kebingungan dengan mulut yang sedikit menganga. Ia tidak tahu jika pria yang ada di hadapannya adalah seseorang yang sangat penting.
"Double ****!!" batin Dita. Entah ia harus tertawa di atas penderitaan Sintia yang sempat mengatainya sedari tadi, atau ikut prihatin karena bisa saja Alvaro memecat Toni, pria kaya raya yang selalu dibangga-banggakan oleh Sintia tak lain adalah bawahan Alvaro.
Sintia hanya bisa mengulas senyum palsu untuk menutupi rasa malunya. Ia sesekali melirik suaminya dan juga Alvaro secara bergantian.
"Jika aku tahu pria yang di depan ini adalah pemimpin perusahaan, aku akan lebih bersikap lebih baik dan sewajarnya," batin Sintia merutuki kebodohannya.
"Oh, Pak Toni. Asisten Manager di perusahaan cabang," ujar Alvaro sembari tersenyum miring.
"Ah iya, benar Pak."
"Ini siapa? Istrimu?" tanya Alvaro menunjuk Sintia. Sementara Sintia hanya bisa mengulas senyumnya walaupun sedikit palsu.
"Iya, Pak. Namanya Sintia, dia istriku." Toni tampak antusias menjawab pertanyaan dari atasannya.
"Duduklah! Istrimu sudah menyiapkan kursi untukmu sedari tadi," sindir Alvaro menatap ke arah Sintia sekilas.
__ADS_1
Toni menjatuhkan bokongnya di kursi tersebut. Ia terlihat sangat senang bisa mengobrol dengan Alvaro.
"Toni, ...."
"Iya, Pak."
"Masih ingin bekerja denganku?" tanya Alvaro.
Mendengar ucapan Alvaro, Sintia langsung panik. Ia tidak ingin suaminya menjadi seorang pengangguran karena gaya hidupnya yang memang sedikit tinggi.
"Ma-maksud Pak Alvaro apa? Tentu saja saya ingin tetap bekerja di perusahaan bapak," ujar Toni yang terlihat kebingungan.
"Maafkan aku, tolong jangan pecat suamiku," ucap Sintia yang langsung memohon kepada Alvaro.
"Sayang, apa yang kamu lakukan?" Toni menanyai sang istri karena masih bingung dengan keadaan yang sebenarnya.
Sementara Dita, wanita tersebut sedikit lega. Setidaknya ia bisa lepas dari tatapan tajam Alvaro walaupun hanya sejenak.
"Tolong ajari istrimu cara menghargai orang lain. Kamu tahu jelas bukan? Bagaimana kamu yang hanya sebagai staf biasa lalu naik jabatan menjadi asisten manager?" ujar Alvaro.
"Iya, Pak. Semua itu atas bantuan Pak Alvaro," ucap pria tersebut.
"Apa yang kamu lakukan sampai membuat Pak Alvaro marah besar seperti ini," tukas Toni berbisik pada istrinya.
"Maafkan kesalahan istri saya, Pak. Tolong jangan pecat saya," ujar Toni kembali berbicara pada Alvaro.
"Dan kamu ...." Kali ini pandangan Alvaro beralih pada Dita.
"Saya sudah merasa terganggu sejak awal bertemu denganmu. Dan sekarang, saya merasa lebih tertekan lagi. Namun, kali ini saya tahu satu hal, bahwa teman yang pernah menyakiti hati istriku adalah kalian yang tidak bisa menjaga ucapannya dengan baik," tukas Alvaro.
"Maafkan aku." Dita hanya bisa tertunduk malu. Kedua wanita yang selalu berbicara meninggi di depan Rania seakan dibuat tak berkutik oleh Alvaro.
Alvaro beranjak dari tempat duduknya, lalu meraih tangan sang istri untuk ikut bersama dengannya.
"Ayo, sayang. Kita cari tempat yang lebih nyaman. Di sini bukanlah kamu yang tak selevel dengan mereka, melainkan mereka lah yang tak selevel denganmu," ujar Alvaro.
"Awas hati-hati, nanti bayi kita terbentur meja," lanjut pria tersebut.
"Ah iya, aku belum memberitahukan pada kalian bahwa bibitku sangat bagus dan istriku sangat subur . Tidak sampai satu tahun kami bisa menghasilkan dua bayi." Alvaro sengaja berucap demikian karena mengingat Rania yang sempat dikatai oleh mereka wanita mandul.
"Bagiku, istriku sangat berharga. Aku tidak terima jika ada satu pun serangga yang menyakiti istriku," tutur Alvaro seolah menganggap Sintia dan Dita hanyalah serangga.
"Sudah, Mas. Ayo kita pergi," ajak Rania yang tidak ingin memperpanjang masalah. Apalagi di keramaian seperti ini, tentunya mereka akan menjadi tontonan orang banyak.
__ADS_1
Alvaro menganggukkan kepalanya, lalu kemudian merangkul pinggang Rania dengan begitu posesif. Seakan memperlihatkan kemesraan pada mereka yang sedari tadi mengatai istrinya.
Sepeninggal Alvaro dan Rania, Toni menatap sang istri dengan penuh amarah. Melihat beberapa orang yang sedari tadi menatap ke arah mereka.
"Ayo ikut aku!" tukas Toni yang langsung menarik tangan sang istri dengan paksa, meninggalkan pesta begitu saja.
"Mas, sakit!" ujar Sintia berusaha melepaskan cekalan sang suami, keluar dari ruangan tersebut.
Sementara Dita, ia menatap ke sekelilingnya, melihat beberapa orang yang memandangnya sembari menggunjing.
Rasa malu pun menyelimuti dirinya. Dita langsung beranjak dari tempat duduk, menutupi wajahnya dengan tangan, mencoba untuk pergi dari tempat tersebut.
Alvaro memilih kursi paling depan. Pria tersebut menarik kursi untuk sang istri, mempersilakan wanitanya duduk.
"Mas, tidak usah berlebihan seperti ini," bisik Rania pada sang suami.
"Aku tidak ingin ada yang memandang dirimu rendah," timpal Alvaro seraya menjatuhkan bokongnya.
"Siapa yang memandang rendah diriku? Mereka tadi?" tanya Rania yang dijawab anggukan oleh Alvaro.
"Sudahlah, Mas. Omongan mereka tidak usah kamu dengarkan. Saat kamu memarahinya tadi, aku merasa sangat puas. Setidaknya mereka malu setelah kejadian ini dan mungkin tak mengulanginya lagi," ucap Rania.
"Aku melarangmu untuk berteman dengan mereka. Memang mungkin setelah ini mereka akan bersikap baik padamu karena telah mengetahui yang sebenarnya. Namun, alangkah baiknya jika kamu memilih teman yang menghargai dirimu dan tidak menjatuhkan mu," tutur Alvaro.
"Aku tidak masalah jika kamu berteman dengan orang-orang yang tidak setara dengan kita. Namun, aku hanya tidak ingin kamu tersakiti oleh ucapan orang lain," lanjut pria tersebut yang masih merasa kesal karena tindakan dua wanita tadi.
"Aku tidak memandang sebuah pertemanan dari segi itu, Mas. Aku bisa saja berteman dengan siapapun, akan tetapi aku sulit menemukan teman yang benar-benar membuatku nyaman. Dan Hilda adalah teman terbaik menurutku," ujar Rania sembari menggenggam tangan suaminya, berusaha meredakan kemarahan dari pria tersebut.
"Sekarang kan masalahnya sudah selesai, Mas. Sebaiknya kita ikuti serangkaian acara yang ada di pesta ini dengan gembira. Tidak enak nantinya di lihat Hilda jika kamu memasang raut wajah muram seperti itu," lanjut Rania.
Alvaro pun mengangguk patuh. Pria tersebut kembali memasang wajah ramahnya. Keduanya mengikuti serangkaian acara pesta. Terlihat Hilda tampak sangat cantik mengenakan gaun pengantinnya, bersanding dengan sang suami bak raja dan ratu sehari.
Rania berjalan ke atas panggung bersama dengan suaminya. Memberikan ucapan selamat pada Hilda dan juga suaminya.
"Selamat ya, kamu hari ini benar-benar cantik," puji Rania memberikan ucapan selamat pada temannya.
"Berarti aku cantik hari ini saja? Kemarin-kemarin tidak cantik?" tanya Hilda seraya terkekeh.
"Yang kemarin sudah cantik tapi hari ini lebih cantik lagi," ujar Rania hingga keduanya pun tertawa.
"Eh foto dulu Bu Dokter, buat di update di media sosial nanti," ucap Hilda.
Keduanya mengambil beberapa gambar lengkap dengan suami masing-masing. Tak hanya itu saja, Hilda juga mengambil beberapa gambar bersama dengan Rania menggunakan kamera ponselnya.
__ADS_1
Rasa kesal yang sempat menghinggapi Alvaro, langsung hilang seketika saat melihat sang istri tersenyum lebar bersama dengan Hilda. Hilda memang teman terbaik untuk Rania, yang selalu memberikan semangat dan juga menjadi sandaran bagi wanita itu saat Rania tengah kesusahan. Bukan seperti Sintia dan yang lainnya, hanya memanfaatkan Rania jika ada maunya saja.
Bersambung ....