
Alvaro berdiri di depan pintu Rania. Ia melirik jam tangannya sedari tadi, mencoba menghubungi kekasihnya, akan tetapi lagi-lagi nomornya tidak aktif.
"Kami di mana Rania? Jangan membuatku khawatir," gumam Alvaro.
Saat pulang dari kantor, Alvaro melihat mobil Rania sudah tidak ada di depan klinik lagi. Pria itu mengira jika kekasihnya sudah berada di rumah, akan tetapi lagi-lagi Alvaro salah. Ia juga tak menemukan mobil Rania di parkiran.
Cukup lama pria tersebut mondar-mandir di luar menunggu Rania. Sementara Bima, anak laki-lakinya itu saat ini sedang belajar sendirian di dalam kamarnya.
Selang beberapa saat kemudian, Alvaro pun melihat Rania baru saja keluar dari lift. Dengan mata yang berkaca-kaca, gadis itu menatap Alvaro yang tengah menunggunya dengan raut wajah gusar.
Rania melangkah mendekati kekasihnya itu. Selangkah ... dua langkah ... hingga akhirnya gadis itu pun memutuskan berlari dan menabrak dada bidang kekasihnya itu. Rania membenamkan wajahnya di tempat ternyaman.
Sementara Alvaro, ia bingung mengapa Rania menangis. Namun, ia tidak ingin menanyakan hal ini sekarang, karena pria itu seolah mengerti, mungkin saja yang baru dialami oleh gadis itu terasa berat. Alvaro memutuskan untuk membiarkan Rania menceritakannya sendiri.
Rania mengeratkan pelukannya, dan Alvaro pun membelai rambut panjang Rania dengan lembut. Sesekali ia menepuk punggung gadis tersebut sembari berkata, "Tidak apa-apa, tenanglah!"
"Ayang ...," ucap Rania yang masih setia menyembunyikan wajah cantiknya di dada bidang sang kekasih.
"Hmmm ... apa Sayang?" tanya Alvaro.
"Aku suka aroma parfummu," ujar gadis tersebut mendongakkan kepalanya.
Alvaro mengembangkan senyumnya, "Aku senang kamu menyukainya," ujar Alvaro.
"Sudah makan?" tanya pria tersebut.
Rania menimpali ucapan kekasihnya dengan gelengan kepala.
"Kalau begitu, ayo masuk! Aku akan memasakkanmu sesuatu," ucap Alvaro. Pria itu merangkul Rania, berencana membawa gadis tersebut masuk ke dalam unitnya. Namun, Rania tampak ragu dan bertanya.
"Apakah di rumah kamu hanya sendirian?" tanya Rania dengan gurat keraguan terlukis jelas di wajah cantiknya.
Alvaro langsung terkekeh geli melihat air muka kekasihnya itu. "Kenapa? Apakah kamu takut jika aku berulah?" Alvaro balik bertanya. Dengan cepat, Rania menganggukkan kepalanya.
"Di dalam ada Bima, tenang saja! Aku tidak akan menjadi anak yang nakal," tutur pria itu diiringi dengan kerlingan mata.
Rania memukul pelan lengan kekasihnya, lalu kemudian menggamit lengan kekar tersebut. "Ya sudah, ayo kalau begitu!" ajak Rania.
Sepasang kekasih itu pun masuk ke dalam unit Alvaro. Pria itu membawa Rania menuju dapur. Alvaro mempersilakan Rania untuk duduk di kursi. Sementara Alvaro, pria itu mulai mengenakan apron dan bersiap untuk memasak.
"Kamu ingin dibuatkan apa?" tanya Alvaro.
"Apa saja aku makan. Tapi, apakah kamu masih punya stok kepiting?" tanya Rania yang memberikan kode bahwa ia ingin dimasakkan sup kepiting oleh Alvaro.
"Tentu saja, aku punya. Kamu tidak bosan makan kepiting?"
"Tidak. Aku sangat menyukainya," ujar Rania.
__ADS_1
"Lebih suka aku atau kepiting?"
"Berhentilah membandingkan sesuatu yang tidak masuk akal!" gerutu Rania sembari memajukan bibirnya.
"Bu Dokter!" seru Bima dari belakang. Anak laki-laki itu pun berjalan menghampiri Rania dan duduk di samping gadis tersebut.
"Bima sudah makan?" tanya Rania.
"Sudah, Bu Dokter."
"Mau makan bersama Bu dokter lagi?" tawar Rania.
Anak laki-laki itu menggelengkan kepalanya. Rania mengusap kepalanya dengan lembut. Entah mengapa, Rania seolah ingin menyayangi Bima lebih banyak lagi. Bukan karena dirinya yang saat ini tengah menjalin hubungan asmara dengan ayah dari anak laki-laki tersebut, akan tetapi karena sorot mata Bima yang seakan haus kasih sayang dari seorang ibu.
Awal pertama pertemuan mereka di sebuah restoran, Bima tak segan-segan meminta dirinya menjadi ibu anak tersebut. Meskipun Rania merasa sedikit heran, akan tetapi lama kelamaan, setelah mengenal Bima lebih dalam, ia menjadi tahu alasan dari permintaan Bima.
Alvaro sesekali menatap Rania yang saat itu tengah berbincang bersama dengan putranya. Ia mengembangkan senyumnya, merasa bahwa tidak ada yang diragukan lagi. Baginya, diantara banyak wanita, Rania adalah wanita yang tepat untuk dijadikan ibu pengganti untuk Bima.
"Apakah ada yang perlu aku bantu?" tanya Rania menawarkan diri.
"Tidak usah. Kamu temanilah Bima, lagi pula sebentar lagi juga selesai," timpal Alvaro.
Selang beberapa saat kemudian, aroma sup kepiting mulai membuat perut Rania semakin lapar. Alvaro menghidangkan sup kepiting tersebut, mempersilakan Rania untuk menyantap makanan yang ia buat.
"Silakan!" ujar Alvaro
"Bagaimana?" tanya Alvaro.
"Ini benar-benar sempurna, kamu memang koki yang hebat," puji Rania seraya mengacungkan ibu jarinya.
"Pa, Bima ke kamar dulu ya, Bima mengantuk," ucap Bima yang ditimpali sebuah anggukan kecil oleh Alvaro.
"Selamat malam, Bima. Semoga mimpi indah," ujar Rania.
"Bu Dokter juga, selamat makan," celetuk anak laki-laki itu yang membuat Rania dan Alvaro langsung terkekeh.
Rania kembali melanjutkan menyantap hidangan yang ada di depannya. Sementara Alvaro, bertopang dagu sembari memandangi kekasih cantiknya makan dengan lahap.
"Kamu mau?" tawar Rania.
Alvaro menggeleng pelan, "Aku sudah kenyang," ujar pria tersebut.
Saat ada sesuatu yang menempel di sudut bibir Rania, Alvaro langsung menyekanya, membuat Rania membeku beberapa detik, lalu kemudian Rania kembali menormalkan ekspresi wajahnya.
"Haha ... maaf, aku sedikit tidak sopan karena makannya belepotan," ujar Rania mengusir rasa canggungnya.
"Tidak apa-apa," timpal Alvaro.
__ADS_1
Rania kembali menyantap makanannya, tak lama kemudian gadis itu menatap Alvaro dengan serius. "Aku melakukan sesuatu yang cukup besar," ucap Rania yang memulai pembicaraan.
"Apa itu?"
"Aku tidak takut akan masa lalu ku lagi. Hari ini, aku berani menghadapi pria itu langsung. Dan seperti yang kamu katakan sebelumnya, kalau rasa takut itu harus di lawan bukan dipelihara," jelas Rania.
"Apakah Dion kembali mengusik mu?" tanya Alvaro penuh selidik. Pria itu sangat geram dengan tingkah mantan kekasih Rania yang sangat kekanak-kanakan.
Rania menyudahi makannya, meraih tissu yang ada di atas meja untuk menyeka mulutnya. Gadis itu pun mulai menceritakan semuanya kepada sang kekasih tanpa ada yang terlewat sedikit pun.
Alvaro tersenyum bangga karena Rania menceritakan semua yang terjadi hari ini tanpa ia minta. Alvaro juga merasa senang, Rania tak takut lagi menghadapi pria masa lalunya itu.
"Kamu gadis yang hebat," puji Alvaro.
Keduanya saling melemparkan senyum dan memandang dengan penuh cinta. Kini, Rania sudah mulai terlepas dari bayang-bayang masa lalunya. Dan Alvaro, berhasil menyembuhkan luka Rania.
...****************...
Mentari pagi telah menampakkan sinarnya. Suara burung terdengar sayup-sayup saling bersahutan menyambut pagi hari yang cerah ini. Rania bangun dari tidurnya, gadis itu sedikit menggeliat, meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Senyum indah pun tersungging di bibir tipisnya.
Gadis itu beranjak dari tempat tidurnya, membersihkan dirinya dan kembali melakukan rutinitasnya seperti biasa.
Di waktu yang bersamaan, Alvaro tengah berkutat di dapur untuk memasak sarapan. Seperti biasa, ia akan memanggil tetangganya untuk mengajaknya sarapan bersama.
Tidak hanya sampai di situ saja, kali ini Rania juga berangkat satu mobil lagi dengan Alvaro. Tentu saja atas permintaan anak laki-laki berambut ikal itu, yang ingin merasakan bagaimana memiliki orang tua yang lengkap.
Ada rasa cemburu, saat melihat teman-teman sekelasnya diantar oleh ibunya, sementara Bima hanya diantar oleh sang ayah. Namun, kali ini, Bima tak perlu risau karena Rania sudah menggantikan peran ibu untuk Bima meskipun belum sah menjadi ibu pengganti seutuhnya.
Mobil yang dikendarai oleh Alvaro telah sampai di depan sekolah. Ketiga orang tersebut langsung turun dari mobil secara bersamaan. Bima menyalami tangan ayahnya. Lalu kemudian menggandeng tangan Rania yang akan mengantarkan anak laki-laki itu sampai ke dalam kelasnya.
Namun, baru beberapa langkah mereka meninggalkan Alvaro, Bima kembali berbalik dan menghampiri ayahnya. Ia memberikan kode kepada sang ayah, membuat Alvaro berjongkok mensejajarkan tingginya dengan putra semata wayangnya itu.
"Ada apa, Nak?" tanya Alvaro.
Bima pun mendekat, dan berbisik tepat di depan telinga ayahnya. "Pa, lain kali ajak Bu Dokter bertemu mama. Perkenalkan Bu Dokter dengan mama," bisik Alvaro.
Alvaro terdiam beberapa saat, lalu kemudian mengembangkan senyumnya. Anaknya telah berkata demikian, itu berarti Bima juga sudah mengambil keputusan yang bulat, meminta Rania untuk segera dijadikan sebagai ibu pengganti.
Alvaro menganggukkan kepala, menyetujui ucapan putranya. Rania yang melihat keduanya berbisik hanya bisa mengkerutkan kening sembari bertanya-tanya.
Setelah berucap demikian, Bima langsung berlari menghampiri Rania dan kembali menggenggam tangan gadis tersebut. Rania memberikan kode kepada Alvaro tentang sesuatu yang dibisikkan oleh Bima tadi, akan tetapi Alvaro hanya mengendikkan bahunya sembari tersenyum yang membuat Rania langsung manyun.
Alvaro menatap keduanya yang mulai melangkah meninggalkannya sendirian. "Tunggu tanggal mainnya, Nak. Papa pasti akan melamarnya dalam waktu dekat," gumam Alvaro sembari menyunggingkan senyumnya.
Bersambung ...
Tunggu tanggal mainnya? Kira-kira kapan ya?ðŸ¤
__ADS_1