Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 122. Menyenangkan Hati Suami


__ADS_3

Setelah mendapati kabar bahwa Rania hamil, Bu Isna pun berkunjung ke rumah Alvaro. Pria tersebut bersiap-siap menyambut kedatangan mertuanya hari ini.


Alvaro memerintahkan kepada para pelayan agar membersihkan kamar tamu. Yang pastinya, Alvaro akan menyuruh ibu mertuanya untuk menginap terlebih dahulu di rumah karena perjalanan dari sana menuju ke rumah mereka cukup memakan waktu yang lumayan panjang.


"Bi, tolong spreinya juga di ganti. Pastikan tidak ada debu sedikit pun," ujar Alvaro memberikan perintah pada para pelayan yang sedang merapikan ruangan tersebut.


Sementara Rania, wanita itu sibuk berada di dapur, menyajikan masakan bersama dengan beberapa pelayan yang ada di sana, memasakkan hidangan untuk menjamu kedatangan ibunya.


Sebenarnya Rania tidak ingin terlalu sibuk, akan tetapi Alvaro lah yang memerintahkan para pelayan tersebut untuk merapikan kamar serta menjamu mertuanya, sebagaimana Alvaro dijamu oleh mereka saat sedang berkunjung ke sana.


Melihat semuanya sibuk, Rania pun berinisiatif untuk membantu. Meskipun dirinya sedang tidak enak badan, akan tetapi diam dan berbaring adalah hal yang paling membosankan untuk dilakukan.


Alvaro berjalan ke dapur, mengawasi pelayan yang ada di bagian dapur. Saat melihat sang istri yang ikut andil memasak, membuat Alvaro pun langsung membelalakkan matanya.


"Sayang, kamu istirahat saja di kamar. Tidak usah ikut membantu," ujar Alvaro menghampiri sang istri.


"Tidak apa-apa, Mas. Lagi pula aku benar-benar bosan berada di atas kasur terus. Aku ingin membantu para Bibi untuk menyiapkan makanan saja," jawab Rania.


"Sayang, kamu belum sehat betul. Ayo kita kembali ke kamar!" titah Alvaro menggenggam tangan istrinya untuk mengajaknya kembali ke kamar.


"Mas, aku bosan di kamar terus," tolak Rania.


"Kalau begitu aku temani supaya kamu tidak bosan," ujar Alvaro.


"Aku juga bosan lihat wajah kamu terus."


Jedderr ...


Bak mendengar petir di siang hari mendengar istrinya berucap demikian. Sementara pelayan yang ada di sana, berusaha keras untuk menahan tawa mereka.


"Bosan? Ja-jadi wajahku ini membosankan?" tanya Alvaro menatap istrinya tak percaya.


"Sedikit," timpal Rania menjentikkan jemarinya.

__ADS_1


Alvaro mengusap wajahnya dengan kasar. Mendengar ucapan sang istri membuat Alvaro cukup kehilangan muka apalagi di depan para pelayan. Jika kemarin Bima yang bertingkah demikian, saat ini yang menggantikan Bima adalah Rania.


"Baiklah, berarti aku kurang tampan. Besok-besok aku akan membuat wajahku lebih bersinar supaya kamu tidak bosan saat melihatku seharian." Alvaro pun melangkahkan kakinya pergi dari dapur.


Ia sungguh tak percaya sang istri berucap demikian. Dahulu, Rania selalu saja memujanya dan ini pertama kalinya Rania berucap bosan melihat wajahnya.


"Apakah standar ketampanan ku sudah jatuh di mata istriku hingga dia berucap seperti itu? Ck! Yang benar saja," gerutu Alvaro sembari menatap wajahnya di pantulan lemari kaca.


Sementara Rania, wanita itu mengerucutkan bibirnya melihat suaminya yang pergi begitu saja. "Apakah dia merajuk? Padahal aku cuma mengatakan bosan bukan jelek," ucap Rania kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda.


"Nyonya, sebaiknya nyonya beristirahat saja di kamar," ujar pelayan tersebut yang tak ingin dimarah oleh Alvaro hanya karena Rania yang masih tetap ingin membantu mereka di dapur.


"Kalau bibi takut karena suamiku akan marah, tenang saja. Akan ku pastikan dia tidak memarahi bibi dan yang lainnya karena ini adalah kemauanku sendiri," ucap Rania.


Wanita itu sedikit mendekat kepada para pelayan dan berbisik, "Tenang saja, aku bisa mengatasinya jika dia merajuk," bisik Rania.


Para pelayan pun hanya bisa terkikik mendengar ucapan Rania. Pelayan yang bekerja di sana adalah para ibu-ibu paruh baya, tentunya sangat paham dengan perkataan Rania tadi.


Setelah cukup lama, berbagai masakan pun telah terhidang. Jika berpikir bahwa Rania membantu dalam segi memasak, jawabannya adalah salah besar. Wanita itu sibuk mencicipi setiap masakan yang dibuat dan diletakkan di piring khusus yang telah ia siapkan.


"Apakah rasanya kurang asin?" tanya pelayan tersebut.


"Ah, bukan. Lebih tepatnya kurang banyak," timpal Rania sembari mengulum senyumnya.


Pelayan itu pun langsung terkekeh dan menambah makanan yang ada di piring Rania dengan cukup banyak.


"Aduh Bi, kebanyakan ini. Sedikit saja," ucap Rania.


"Biar lebih berasa," timpal pelayan tersebut sembari terkekeh geli.


"Bibi emang paling mengerti aku," ujar Rania membentuk kedua jarinya dengan tanda hati.


"Apa-apaan ini? Kenapa hanya bibi yang diberikan tanda hati? Mana untukku?" tanya Alvaro yang berdiri di ambang pintu sembari memperhatikan sang istri yang tengah menikmati makanannya.

__ADS_1


Saat Rania menoleh ke arah suaminya, wanita itu hampir tersedak makanan yang ia kunyah. Bukan karena terkejut akan kedatangan sang suami secara tiba-tiba, melainkan karena pria tersebut mengenakan pakaian yang cukup membuat mulut Rania ternganga.


Rania memindai penampilan suaminya, dari bawah hingga ke atas. Mengenakan celana chino, dibalut dengan kemeja putih yang ketat memperlihatkan otot bisep yang tercetak sempurna. Di bagian dada, Alvaro sengaja membuka beberapa kancing di atasnya, hingga dada bidang itu terekspos dengan jelas.


"Mas mau kemana?" tanya Rania heran.


"Tidak kemana-kemana, hanya di rumah saja," timpalnya dengan santai sembari melipat kedua tangannya ke depan.


"Terus kenapa harus berpakaian seperti ini?" tanya Rania.


"Supaya kamu tidak bosan," jawab Alvaro dengan singkat.


"Apa perbedaannya bosan dengan mengganti baju, toh muka Mas juga masih sama seperti itu," ucap Rania yang membuat Alvaro langsung tercengang.


"Haruskah aku mengganti wajahku semirip mungkin dengan taehyung, pria idamanmu?" tanya Alvaro yang tampaknya tersinggung dengan ucapan Rania barusan.


"Ganti saja, Mas. Pakai pakaian biasa-biasa saja. Mas Varo kan hanya di rumah saja. Lagi pula Mas tetap tampan sekalipun hanya pakai celana kolor," ujar Rania mencoba membujuk suaminya karena Rania merasa risih dengan penampilan Alvaro yang terlihat sedikit memaksa.


"Malas. Lagi pula idamanmu tetap pria itu kan, bukan aku." Alvaro membuang mukanya. Entah mengapa ia begitu sensitif saat melihat Rania semalaman sibuk menatap wajah pria asal Korea itu di layar ponselnya.


"Ah, kata siapa. Mas tetap pria tertampan, si Taehyung lewat," ujar Rania sembari mengibaskan tangannya.


"Lewat mana?" tanya Alvaro dengan wajah polosnya.


Rania mengusap dadanya dengan pelan. "Apakah efek kecelakaan kemarin suamiku menjadi seperti ini?" batin wanita tersebut.


"Maksudnya tetap yang tertampan Mas Varo. Sudah Mas ganti baju dulu sana!" ujar Rania yang memilih untuk menyantap makanannya.


Mendengar Rania berucap demikian, membuat Alvaro merasa sedikit meninggi. "Istri pintar! Ternyata kamu memiliki mata yang jauh lebih sehat!" ucap Alvaro yang mengatakan bahwa pilihan istrinya benar. Dirinya lah yang lebih tampan dari pada pria yang diidolakan oleh Rania.


Rania hanya menimpali ucapan Alvaro dengan sebuah anggukan kepala. Ia pun memperhatikan sang suami yang sudah melangkah pergi dari dapur, menatap punggung pria tersebut yang semakin lama semakin menghilang dari pandangannya.


"Ya ... sudah tugasku untuk menyenangkan hati suamiku," ucap Rania sembari mengunyah makanannya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2