
"Jadi kamu pindah ke sini?" tanya Shinta seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat dan ia dengar.
"Hmmm ... Sepertinya akan terasa lebih seru jika bertetangga dengan kalian," ujar Daren melipat kedua tangannya di depan.
Kali ini, Juni benar-benar membenci Daren. Ingin sekali ia menghajar rivalnya itu. Ternyata peringatan kemarin hanya dianggap lelucon bagi pria berkumis tipis itu. Bukannya menjauh, Daren justru semakin mendekat, seolah benar-benar menantang Juni.
"Oh ...." Shinta hanya bisa menganggukkan kepalanya sembari mengulas senyum.
"Kalau begitu selamat datang, semoga betah ya. Aku duluan masuk, soalnya aku ingin beristirahat. Hari ini cukup melelahkan," ujar Shinta.
Daren menganggukkan kepalanya. Matanya menatap Shinta yang berlalu dari hadapan mereka. Melihat gadis tersebut hingga benar-benar masuk ke dalam huniannya.
Kini tinggalah Juni dan Daren yang berada di luar. Daren berdecih melihat Juni menatapnya seakan ingin mencabik-cabik kulitnya saat itu juga.
"Ada apa denganmu? Apakah kamu merasa keberatan karena aku pindah ke sini?" tanya Daren terkekeh geli.
"Rupanya kamu mengabaikan peringatan ku," ujar Juni.
"Peringatanmu? Yang kemarin? Menyuruhku untuk menjauh dari Shinta." Daren kembali tertawa mendengar ucapan Juni.
"Apakah semasa di bangku sekolah kamu tidak mempelajari yang namanya hak asasi manusia? Jadi, terserah ku ingin lebih dekat dengan Shinta atau tidak. Lagi pula, Shinta menerimaku dengan tangan terbuka. Atau ... jangan-jangan kamu takut jika aku lebih dulu mengambil hati gadis itu dibandingkan dirimu?" Daren kembali terkekeh geli setelah mengucapkan kalimat panjang lebar itu.
Juni ingin sekali meladeni pria angkuh yang ada di hadapan saat ini. Namun, jika ia bertindak gegabah, sudah pasti Shinta akan menyalahkan dirinya karena tak menerima kehadiran Daren.
Juni memilih untuk meninggalkan Daren, masuk ke dalam unitnya yang terletak paling ujung. Kini posisi mereka adalah unit milik Daren dan Juni mengapit unit Shinta, yang artinya gadis tersebut berada di tengah-tengah kedua pria tampan tersebut.
Daren mengembangkan senyum liciknya, melihat kekesalan Juni terhadapnya. Ancaman Juni kemarin, tak sedikit pun membuat pria itu takut. Justru ia semakin gencar untuk mengejar gadis tersebut.
.....
Shinta berjalan menuju ke meja riasnya dengan menggunakan bathrobe yang melekat di tubuhnya. Ia menempelkan masker ke wajahnya dengan sedikit menepuk-nepuk masker tersebut agar melekat dengan sempurna.
"Daren pindah ke sini. Jika ia memiliki rumah sendiri di kota ini, kenapa harus menyewa apartemen?" gumam Shinta.
__ADS_1
"Beda halnya dengan aku dan juga Juni. Terkadang memang benar, manusia akan terlalu sering menghamburkan uangnya dengan hal-hal yang tidak penting," lanjut gadis tersebut bermonolog.
"Sebenarnya aku penasaran, mengapa Juni terlihat sangat tidak menyukai Daren. Terlihat jelas dari raut wajahnya yang sering berubah saat kehadiran Daren di antara kami. Apakah dia takut jika aku tidak mau lagi berteman dengannya dan lebih memilih berteman dengan Daren?"
"Jika memang dugaanku benar, berarti Juni benar-benar memiliki sifat kekanak-kanakan," papar gadis tersebut yang sedari tadi sibuk berbicara sendiri.
"Aisshhh ... lagi pula untuk apa aku memikirkan urusan mereka. Terserah mereka saja. Alur hidupku sudah runyam dan sedikit kusut, ditambah lagi mengurusi urusan mereka? Menambah beban hidupku saja," ujarnya yang memilih membaringkan wajahnya.
Tak lama kemudian, terdengar suara notifikasi ponsel. Kali ini, notifikasi tersebut tidak hanya datang satu kali melainkan dua kali. Shinta meraih benda pipih tersebut, lalu kemudian mengecek pesan singkat itu.
Selamat beristirahat, besok kamu ikut bersamaku!
Shinta mendesis membaca pesan singkat dari Juni. Gadis itu memutarkan kedua bola matanya sembari berucap," Memangnya siapa dia seenaknya saja menyuruhku."
Shinta beralih membuka pesan singkat yang satunya lagi. Dan ternyata pengirim pesan itu adalah Daren. Ia terkejut dengan isi pesan yang dikirimkan oleh Daren yang isinya hampir sama dengan pesan singkat Juni.
Selamat malam. Mulai besok, kamu ikut denganku saja pergi ke kantor.
Spontan Shinta melemparkan ponselnya. Ia menjadi sedikit takut dengan dua orang pria yang saling membenci, akan tetapi mengirimkan pesan singkat secara bersamaan dan isi pesan itu pun sama persis.
Gadis tersebut hendak membalas pesan singkat tersebut, akan tetapi ia mengurungkan niatnya. "Kedua orang itu terlihat sedang bersaing. Tetapi apa yang mereka rebutkan sampai sejauh ini," batin Shinta.
Di waktu yang bersamaan, Juni sedang berbaring sembari menatap layar ponselnya. Pria itu menunggu balasan dari Shinta. Namun, sudah hampir 10 menit, pesan tersebut hanya terlihat dua centang biru saja. Pesannya hanya di baca dan tidak di jawab sama sekali.
"Baru kali ini aku merasa segila ini. Dulu saat bersama dengan Sela, kami bahkan jarang bertukar pesan," ujar Juni memijat pelipisnya.
"Ini semua karena ulah si Daren itu. Andai saja dia tidak pindah ke sini, mungkin aku dan Shinta sudah bertukar pesan sedari tadi," keluh Juni seraya menghela napasnya dengan kasar.
Sementara Daren, pria tersebut juga sama halnya dengan Juni. Menunggu pesan balasan dari Shinta yang tak kunjung datang.
"Apakah dia marah padaku karena tak meminta izin dulu untuk pindah ke sini?" gumam Daren bermonolog.
.......
__ADS_1
Malam harinya, Rania tampak gelisah. Wanita itu memiringkan tubuhnya ke kiri, lalu kemudian kembali memiringkan tubuhnya ke kanan lagi.
Alvaro yang terbangun dari tidurnya, saat melihat sang istri tak tidur sedari. "Kenapa kamu belum tidur, Sayang?" tanya Alvaro dengan suara khas baru bangun tidur.
"Posisi tidurku serasa serba salah, Mas. Saat aku memiringkan tubuhku ke kanan, aku merasa tidak nyaman. Dan saat aku memiringkan tubuhku ke kiri, aku juga merasakan hal yang serupa," ujar Rania yang merasa kesal dalam kondisi tersebut.
"Kakiku juga sering terasa kesemutan, Mas." Rania menceritakan berbagai keluhan yang dialaminya pada sang suami.
Rania mengubah posisinya menjadi duduk. Ia tampak kesulitan karena perut gadis tersebut semakin lama semakin membesar. Tangannya sedikit memijat- mijat tulang kering di kakinya.
Melihat sang istri yang tak bisa tidur membuat Alvaro juga bangun dan mengubah posisinya menjadi duduk. Pria tersebut mencoba untuk memijat kaki sang istri.
Mengingat kondisi kandungan Rania yang semakin lama semakin membesar, tentunya tidak akan heran jika berbagai keluhan yang akan dialami oleh ibu hamil tersebut. Terutama saat tertidur yang sulit menemukan posisi nyaman.
"Mas Varo tidur saja, Mas. Besok mas harus bekerja. Jangan tiru aku yang selalu tidur malam, Mas. Soalnya aku sudah mencari posisi enak saat tidur," ujar Rania.
"Tidak apa-apa, Sayang. Mustahil jika Mas enak-enakan tidur sendiri tak tidur," ucapnya sembari memberikan pijatan lembut di kaki sang istri.
Rania tersenyum, merasa beruntung karena telah dicintai oleh pria seperti Alvaro. Selain tampan, Alvaro juga sangat menyayanginya. Contohnya seperti yang sekarang ini. Pria itu bahkan rela berkorban membuang rasa kantuknya hanya untuk menemani sang istri.
Alvaro menceritakan hal-hal kecil yang terjadi padanya. Rania pun sangat senang mendengar cerita sang suami. Hingga akhirnya, rasa kantuk pun menyerang Rania. Terlihat wanita itu menguap beberapa kali.
"Sudah mengantuk?" tanya Alvaro.
Rania menganggukkan kepala. "Iya, Mas. Aku sudah mengantuk," timpalnya.
"Ya sudah, kalau begitu tidurlah." Alvaro menyudahi pijatannya. Membantu Rania untuk berbaring kembali.
Alvaro mengusap lembut puncak kepala Rania, agar sang istri terlelap dalam tidurnya. Perlahan, mata Rania pun mulai tertutup sempurna. Juni tersenyum, menyibakkan anak rambut yang menutupi wajah cantik sang istri.
"Selamat malam dan semoga bermimpi indah," ujar Alvaro disertai dengan kecupan singkat di kening Rania.
Setelah berucap demikian, Alvaro pun kembali berbaring. Pria itu mulai memejamkan matanya dan kembali melanjutkan tidurnya yang sempat tertunda.
__ADS_1
Bersambung ....