Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 196. Kamu, Rumahku!


__ADS_3

Rania terbangun dari tidurnya. Ia merasa posisi tidurnya kurang nyaman. Menghadap ke kiri salah, menghadap ke kanan juga salah. Hingga ibu hamil tersebut memutuskan untuk mengubah posisinya menjadi duduk.


Rania yang tampak gelisah membangunkan Alvaro yang tengah terlelap. Pria itu yang semula membelakangi istrinya, langsung berbalik mengarahkan badannya pada Rania.


"Ada apa, Sayang?" tanya Alvaro dengan suara seraknya.


"Maafkan aku, Mas. Aku jadi membangunkan Mas Varo," ujar Rania yang telah mendapatkan posisi nyamannya.


"Kamu kenapa? Tidak bisa tidur?" tanya Alvaro.


Rania menganggukkan kepala, menimpali ucapan sang suami. "Iya, Mas. Aku merasa semua posisiku serba salah. Berbalik ke sana salah, dan berbalik ke sini juga salah," keluh Rania.


"Coba tidur terlentang, mungkin akan lebih nyaman dengan posisi itu. Soalnya Mas sering perhatikan kalau posisi tidur kamu itu selalu miring," ujar Alvaro yang mencoba memberikan saran pada sang istri.


"Mas Varo ada-ada saja. Justru jika tidur terlentang atau telungkup akan membahayakan ibu dan janin," ucap Rania.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Alvaro yang merasa penasaran.


"Karena kalau tidur dengan terlentang itu, menyebabkan pembuluh darah mengalami tekanan dan akan berakibat sirkulasi darah pada ibu maupun janin. Lagi pula dengan tidur terlentang ibu hamil akan lebih sulit bernapas dan bahkan merasa pusing," jelas Rania secara mendetail.


Alvaro menganggukkan kepalanya setelah mendengarkan penjelasan dari sang istri. "Pantas saja kamu tidak pernah tertidur dengan posisi terlentang saat hamil. Ternyata memang sangat berbahaya," ujar Alvaro mengangguk paham.


"Bukankah jadi wanita itu sangat sulit?" tanya Rania sembari mengembangkan senyumnya menatap sang suami.


Alvaro bangkit dari pembaringannya. Lalu kemudian beringsut mendekat ke arah sang istri, memberikan sebuah pelukan pada wanitanya.


"Maafkan aku karena telah menghamilimu," ucap Alvaro begitu saja. Kalimat tersebut keluar dari mulutnya seolah tanpa beban.


"Eitsss ... kenapa kamu berbicara seperti itu, Mas?" tanya Rania seraya mencebikkan bibirnya. Wajah ibu hamil tersebut terlihat sangat menggemaskan.


"Tujuanku menikah denganmu kan memang minta dihamili," cetusnya yang mampu membuat Alvaro tergelak di tengah malam.

__ADS_1


"Husstt ... nanti ada yang dengar Mas tertawa seperti itu dikira hantu," ucap Rania menutup mulut suaminya dengan tangannya.


"Lagi pula kamu berkata seperti itu membuatku sedikit merasa bersalah," balas Alvaro yang masih terkekeh geli.


"Udh! Mas menyebalkan sekali!" ketus Rania memutar kedua bola matanya.


Tak lama kemudian, Alvaro pun menghentikan tawanya. Ia mengusap perut buncit istrinya, lalu kemudian mengecup perut tersebut dengan lembut.


"Sayang, ...."


"Iya, Mas." Rania menimpali.


"Setelah dipikir-pikir, pengorbanan seorang wanita sangat besar. Dia harus merawat suami dan anaknya, merasakan sakitnya melahirkan seorang anak. Aku membayangkannya saja, membuatku bergidik ngeri. Hal ini mengingatkan aku pada Diara," tutur Alvaro.


"Mas, seseorang itu punya garis takdirnya masing-masing. Mbak Diara pergi itu karena memang sudah takdirnya, bukan karena dia melahirkan. Lagi pula, Mas jangan berpikiran yang macam-macam. Berdoa saja, semoga nanti persalinanku lancar. Aku dan anak-anak sehat semua," ucap Rania mengelus puncak kepala sang suami. Ia bisa mengerti ketakutan suaminya. Kenangan masa lalu seakan kembali menghantui Alvaro lagi.


Alvaro perlahan menganggukkan kepala setelah mendengar ucapan istrinya itu. Ia menyeka air mata yang ada di sudut matanya. Jika menyangkut tentang wanita, Alvaro memang sangat sensitif. Anggaplah saja ia adalah pria yang cengeng.


Dia akan bersikap seperti itu jika mengenai urusan wanita. Entah mengapa hatinya langsung melunak jika menyangkut tentang hal tersebut.


"Sayang, ...."


"Apakah pernah kamu berpikiran jika kamu menyesal terlahir sebagai seorang wanita?" Alvaro kembali melemparkan pertanyaan yang cukup menggelitik bagi Rania. Namun, sebisa mungkin Rania menahan tawanya, menghargai Alvaro yang masih memperlihatkan wajah sedihnya.


"Mas ini ada-ada saja! Aku tak pernah sekali pun menyesal terlahir sebagai seorang wanita, Mas. Ini adalah kodratku, dan aku tidak dapat merubah kodratku sendiri. Terlahir sebagai seorang wanita adalah anugerah bagiku. Aku bisa merasakan bagaimana nikmatnya melahirkan, membesarkan serta mendidik anak, dan menjadi seorang istri yang baik." Rania menjelaskan panjang lebar.


"Dan menurutku, tugas wanita dan pria juga setimpal. Tidak ada yang lebih ringan atau pun yang lebih berat. Seorang laki-laki meskipun ia tidak bisa merasakan bagaimana nikmatnya melahirkan, tetapi ia bisa merasakan nikmatnya berjuang menafkahi keluarga kecilnya. Saat pulang ke rumah, rasa lelahnya akan terbayar oleh sambutan hangat dari anak dan juga istrinya. Kami sebagai seorang wanita tidak pernah tahu bagaimana kerasnya tugas seorang suami untuk memberikan yang terbaik pada keluarganya," lanjut Rania lagi.


Alvaro mengembangkan senyumnya, mendengar setiap kalimat bijak yang dilontarkan oleh wanita yang ada di sampingnya.


"Tidak salah aku mencintaimu, kalimat yang sering kamu keluarkan selalu membuatku terkesima dan jatuh cinta berkali-kali," ujar Alvaro.

__ADS_1


"Jadi, sekarang kamu mengakui bahwa aku mampu membuatmu jatuh cinta lagi dan lagi?" tanya Rania menyunggingkan senyumnya.


"Iya, aku mengakuinya. Kamu mampu membuatku jatuh cinta berkali-kali. Hanya kamu, Rania." Alvaro mengucapkan kalimat tersebut dengan sangat yakin.


"Baiklah, kalau begitu aku mempercayainya."


"Tetapi ... jika suatu saat nanti, aku sudah tidak memiliki segalanya, apakah kamu bisa menerimaku apa adanya?" tanya Alvaro lagi.


"Apakah kamu akan jatuh miskin?" Rania justru melemparkan pertanyaan lain pada suaminya.


"Ya ... kita tidak pernah tahu kedepannya akan jadi seperti apa. Aku hanya ingin mendengar jawabanmu saja," ujar Alvaro.


"Kalau begitu, aku akan mencari pria kaya lainnya," ucap Rania seraya terkekeh geli.


"Aku hanya bercanda, Sayang. Aku akan tetap menemani kamu dalam keadaan susah atau pun senang. Tidak mungkin aku meninggalkan kamu begitu saja setelah kamu jatuh miskin. Aku cinta kamu, yang berarti aku menerima apapun kekurangan dan kelebihan mu," tutur Rania.


"Bagaimana jika nanti setelah aku kehilangan semua hartaku, aku berubah profesi menjadi tukang ojek. Apakah kamu akan merasa malu?" tanya Alvaro. Baiklah, malam ini tampaknya akan menjadi malam yang cukup panjang. Satu persatu pertanyaan dilontarkan oleh pria itu.


"Kenapa harus malu? Lagi pula profesi sebagai tukang ojek itu bukanlah sesuatu yang hina. Selagi uang yang Mas dapat itu halal, aku tidak akan merasa malu sama sekali. Justru aku malu, jika Mas mendapatkan banyak uang dari hasil mencuri. Lagi pula jika Mas menjadi tukang ojek, aku tidak perlu memanggil ojek yang lain lagi untuk mengantarkan aku ke suatu tempat. Cukup menggunakan jasa Mas karena GRATIS," papar Rania sembari terkekeh geli.


Alvaro tersenyum simpul, ia menatap manik mata sang istri dengan begitu dalam. "Terima kasih, karena kamu telah menjadi istriku."


"Aku juga banyak berterima kasih dengan Mas, karena telah menjadi suami yang baik untukku." Rania mengulas senyumnya.


"Kalau begitu, tidurlah! Mas sudah mengantuk. Ini juga sudah malam, tidak baik jika kamu bergadang," ujar Alvaro.


Rania menganggukkan kepalanya patuh. Ibu hamil itu pun kembali berbaring. Alvaro menarik selimut untuk Rania, memberikan kecupan singkat tepat di kening sang istri.


"Mas juga tidur! Besok harus bekerja,"ucap Rania.


Alvaro tersenyum, merebahkan tubuhnya tepat di samping sang istri. Ia memejamkan matanya, tangannya masih membelai lembut kepala Rania, agar wanita yang ada di sampingnya itu dapat tertidur.

__ADS_1


"Tuhan, aku sangat mencintai istriku. Tolong ringankan rasa sakitnya, karena dia adalah rumahku. Tempatku berpulang di setiap rasa lelahku," batin Alvaro.


Bersambung ....


__ADS_2