
Di kantor, Alvaro mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja. Pria itu masih terpikirkan cara yang baru saja gagal untuk pendekatan dirinya kepada Rania. Berharap wanita itu dapat terpikat olehnya, justru sebaliknya. Wanita itu malah semakin membenci dirinya.
"Bagaimana ini, rencana awalku sudah gagal total," gumam Alvaro.
Tak lama kemudian, terdengar ketukan pintu. Sang asisten menampakkan batang hidungnya dari balik pintu tersebut. Pria itu berjalan menghampiri atasannya, memberikan dokumen yang ada di tangannya itu kepada Alvaro.
"Permisi, Pak. Ada dokumen yang harus anda tanda tangani," ucap Juni seraya menyerahkan dokumen tersebut.
Alvaro menerima dokumen itu, lalu membaca isi dari dokumen tersebut sebelum membubuhkan tanda tangan di atasnya.
"Ini," ujar Alvaro mengembalikan dokumen itu pada Juni.
"Kalau begitu, saya permisi." Juni berbalik hendak meninggalkan atasannya.
"Tunggu!!" cegah Alvaro.
Juni pun kembali membalikkan badannya. "Ada apa, Pak?" tanya pria itu.
"Aku ingin menanyakan sesuatu," ucap Alvaro.
"Tanya apa?"
"Emmm ... bagaimana cara membujuk seorang wanita jika dia sedang marah besar?" tanya Alvaro.
"Kalau aku sih mudah saja. Aku serahkan semua uang gaji ku, maka kemarahan istriku akan mereda. Wajah berseri dan malamnya aku pun mendapatkan full service," celetuk Juni.
"Sungguh, jawabanmu sangat tidak membantu," gerutu Alvaro.
"Jika diposisiku, aku akan melakukan hal itu. Akhir bulan pasti istriku merajuk dan berwajah masam. Saat di awal bulan, wajahnya berseri bak bunga yang baru saja mekar," tutur Juni.
"Tunggu sebentar, apakah Pak Alvaro saat ini tengah mengejar seorang wanita?" tanya Juni yang merasa sangat penasaran.
"Ck, keluarlah! Lagi pula siapa juga yang mengejar wanita." cetus Alvaro yang sedikit gengsi.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu, Pak." Juni kembali melangkah keluar dari ruangan tersebut. Pria itu sedikit mencebikkan bibirnya, karena ia begitu mengetahui bagaimana sifat Alvaro yang tak lain adalah temannya sendiri.
"Ada asap berarti ada api. Pertanyaan itu tak mungkin dilontarkan begitu saja jika tidak memiliki alasannya," batin Juni sembari melangkahkan kaki menuju ke meja kerjanya.
.....
__ADS_1
Di lain tempat, Rania dan Hilda tengah duduk sembari menunggu pasien datang. Hari ini kliniknya tampak sepi, tidak seperti biasanya.
"Bu dokter tidak membawa mobil?" tanya Hilda yang memang baru mengetahui saat wanita tersebut menatap ke arah luar gedung. Biasanya ada mobil Rania yang terparkir di depan, akan tetapi hari ini gadis tersebut tidak melihatnya.
"Ban mobilku kempis. Ini semua karena ulah tetangga sebelah. Rasanya aku ingin pindah tempat tinggal saja! Bertetangga dengan duda itu membuatku sangat frustasi," keluh Rania sembari memegangi kepalanya.
"Duda?" tanya Hilda yang baru mengetahuinya.
"Iya, si Alvaro duda anak satu itu, yang kemarin sempat bawa anaknya ke sini," jelas Rania.
"Iya, aku tahu. Dia pria yang pernah menjadi pasangan kencan butaku," celetuk Hilda.
Rania membulatkan matanya. "Jadi ...." wanita tersebut menutup mulutnya tak percaya.
Hilda hanya menganggukkan kepalanya seraya mengulas senyum. Tentu saja Rania terkejut, karena ia pikir pria yang dimaksudkan oleh Hilda itu bukanlah Alvaro.
"Kamu menyukainya? Selain bermulut besar, tampang pria itu juga seperti tutup panci," celetuk Rania.
Mendengar hal tersebut, sontak Hilda pun langsung tertawa. "A-Apa? Tutup panci?" tanya Hilda sembari tertawa terbahak-bahak.
Tak lama kemudian, keduanya pun menghentikan tawanya saat melihat salah satu orang masuk ke dalam gedung tersebut.
.....
Alvaro keluar dari ruangannya, lalu kemudian menaiki lift dan keluar berjalan menuju ke parkiran. Baru saja dirinya masuk ke dalam mobil, Alvaro teringat akan putranya. Ia berencana menjemput Bima terlambat karena mengurus sesuatu.
Pria tersebut merogoh sakunya, menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Halo," ujar suara dari seberang telepon yang tak lain adalah suara ibunya.
"Mana Bima, Ma?" tanya Alvaro.
"Ada tuh, lagi main sama papamu," timpal Arumi.
"Ma, aku titip Bima dulu. Mungkin aku menjemputnya agak malam. Ada hal yang harus ku urus," ucap Alvaro.
"Ini demi memenuhi keinginan Bima," lanjut pria itu lagi.
"Bagus, ayo teruslah kejar dia!" terdengar suara ibunya yang terlihat senang karena Alvaro yang memilih untuk mengalah dengan egonya.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu Varo tutup dulu teleponnya," ujar Alvaro.
"Baiklah, Anakku. Selamat berjuang dan semoga berhasil!"
Tak lama kemudian, Alvaro pun menutup panggilannya. Pria tersebut langsung melajukan kendaraannya menuju ke klinik Rania.
Sebelum menuju ke klinik, Alvaro memutuskan untuk membeli bunga. Pilihan pria tersebut jatuh pada mawar berwarna putih, karena memiliki simbol permintaan maaf, sesuai dengan niat hatinya yang ingin menemui Rania untuk meminta maaf pada gadis tersebut.
Alvaro juga menyuruh seseorang untuk memperbaiki mobil Rania seperti sedia kala. Tanda bahwa dirinya benar-benar menyesali perbuatannya itu.
Alvaro menghentikan mobilnya tepat di depan klinik. Pria itu melihat suasana di klinik tersebut tampak ramai. Alvaro pun memutuskan untuk menunggu Rania di dalam mobil saja.
Cukup lama Alvaro menunggu di dalam mobil, pria itu melirik jam tangannya. Sudah tiga puluh menit berlalu, akan tetapi suasana di klinik masih juga terlihat ramai.
"Apakah kliniknya selalu ramai jika di sore hari?" gumam Alvaro.
Pria tersebut menyandarkan tubuhnya, mengubah posisinya menjadi senyaman mungkin. "Apakah aku sebaiknya menjemput Bima dulu? Tapi aku takut nanti Bima kembali membuat masalah dan menggagalkan rencana kedua ku," ujar Alvaro bermonolog.
"Sebaiknya aku tunggu saja." Alvaro memilih memejamkan mata seraya menunggu Rania yang tak kunjung keluar dari klinik tersebut.
Setelah dua jam kemudian, Rania dan Hilda pun keluar dari gedung tersebut secara bersamaan. Rania tertegun saat melihat mobil yang terparkir di depan klinik. Gadis itu tahu siapa pemilik mobil tersebut, karena Rania hafal dengan nomor plat yang ada di mobil itu.
"Kenapa pria pembuat onar itu ada di sini lagi? Apakah dia ingin merencanakan sesuatu lagi? Menggangguku?" batin Rania bertanya-tanya.
"Siapa?" tanya Hilda sembari menunjuk ke arah mobil tersebut.
"Mungkin orang yang sedang dalam perjalanan jauh, hanya menumpang untuk beristirahat,"jawab Rania. Ia sengaja membohongi Hilda, membiarkan Alvaro di tempat tersebut agar tidak mengganggunya.
"Oh, aku kira jemputanmu," ujar Hilda.
"Biarkan saja dia beristirahat. Ayo kita pergi!" ajak Rania.
Kedua gadis tersebut menghadang sebuah taksi. Rania dan Hilda pun masuk ke dalam taksi tersebut. Sebelum masuk ke dalam taksi, Rania kembali menoleh ke arah mobil milik Alvaro.
Ada rasa tak tega meninggalkan pria tersebut sendirian di sana. Namun, saat mengingat kejadian tadi membuat Rania geram dan memilih untuk meninggalkannya di tempat tersebut.
Setibanya di apartemen, Rania pun berjalan memasuki huniannya itu. Namun, sebelum menuju ke rumah, Rania memutuskan untuk memeriksa mobilnya.
Setibanya di sana, Rania sempat terkejut karena mobilnya telah kembali seperti semula. Ban mobilnya sudah tak kempis lagi.
__ADS_1
"Dia ...," ucap Rania tercekat. Ada rasa bersalah menyelimuti dirinya karena telah meninggalkan Alvaro sendirian di depan klinik.
Bersambung ....