Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 197. Jodoh Tak Akan Kemana


__ADS_3

Pagi ini, semua orang mulai disibukkan dengan aktivitasnya masing-masing. Alvaro, pria tersebut baru saja keluar dari kamar mandi, dengan hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya, serta rambut yang masih tampak basah.


Sementara Rania, ibu hamil itu telah cantik di pagi hari ini. Ia membersihkan tempat tidur, lalu kemudian mengarahkan pandangannya ke belakang saat mendapati sebuah tangan yang tengah melingkar di pinggangnya. Alvaro memeluk Rania dari belakang.


"Sudah! Pakailah baju sana, Mas!" titah Rania yang merasa risih karena ia tak bisa bebas bergerak akibat Alvaro.


"Aku bantu angkat anak kita," ucap pria itu mengangkat sedikit perut Rania. Ia terkejut, saat merasakan bahwa perut Rania lumayan berat.


"Sayang, ini murni berat anak kita atau memang ditambah dengan beberapa gumpalan lemak?" celetuk Alvaro.


Mendengar hal tersebut, Rania langsung berbalik dan memberikan sedikit pukulan di lengan Alvaro.


"Anak kita kembar, Mas! Jangan beranggapan bahwa semua itu adalah lemak," ujar Rania yang merasa keberatan saat dikatai hal tersebut.


"Hehe ... iya, Sayang. Lagi pula Mas hanya bercanda," balas Alvaro sembari memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Sudah, Mas pakailah baju dulu. Setelah Mas Varo sudah aku letakkan di atas kursi. Sengaja ditaruh di sana karena aku masih membersihkan tempat tidur terlebih dahulu


Alvaro berjalan menuju ke kursi yang dimaksud oleh Rania tadi. Pria itu pun mulai mengenakan pakaian yang telah disediakan oleh istri tercintanya.


"Hari ini Bima sudah sekolah?" tanya Alvaro.


"Iya, Mas. Luka di kepalanya juga sudah mulai mengering. Kalau libur terlalu lama juga tidak enak," ucap Rania yang hanya ditanggapi anggukan pelan oleh Alvaro.


Rania menghentikan aktivitasnya sejenak, ia pun mengarahkan pandangannya pada Alvaro yang tengah mengancingkan kemejanya.


"Mas, ...."


"Iya, Sayang. Ada apa, Istriku?" tanya Alvaro menimpali ucapan Rania dengan tangan yang masih mengancingkan kemeja yang ia pakai.


"Papa dan mama rencananya akan tinggal di sini sedikit lebih lama. Tidak apa-apa kan Mas?" tanya Rania meminta izin terlebih dahulu pada suaminya.


"Astaga! Ya tentu saja boleh, Sayang. Aku tidak pernah melarang mertuaku datang ke sini harus menggunakan tenggat waktu. Aku justru sangat senang dengan keberadaan mereka di sini. Bila perlu, kedua orang tuamu tinggal saja bersama kita selamanya," ucap Alvaro.


"Ya, bagaimana pun juga aku harus izin denganmu, Mas. Ini adalah rumahmu," ujar Rania.


"Sayang, rumah aku itu adalah rumah kamu juga. Jadi, kamu boleh melakukan hal apapun. Lagi pula tidak mungkin aku melarang kedua mertuaku untuk datang kemari. Orang tua kami juga orang tua aku. Jadi, tidak ada yang dibeda-bedakan akan hal itu.


"Mulai sekarang, kamu tidak perlu meminta izin lagi padaku jika mertuaku akan menginap kemari. Tidak ada alasan bagiku untuk menolak mereka," lanjut Alvaro.


"Iya, Mas." Rania mengulas senyumnya. Ia pun kembali berbalik dan melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda.


.....


Di waktu yang bersamaan, Bima tengah memasang seragam sekolahnya dibantu oleh Pak Hendrawan. Pak Hendrawan juga menyisir rambut ikal Bima dengan lembut.

__ADS_1


"Rambut Bima sepertinya sudah mulai mengganggu telinga. Apakah rasanya gatal?" tanya Pak Hendrawan.


"Iya, Kek. Kadang Bima sering kali menggaruknya," timpal Bima.


"Kalau begitu, nanti biar kakek yang merapikannya. Kebetulan kakek juga memiliki keahlian mencukur," ujar Pak Hendrawan.


"Baiklah, Kek. Tunggu Bima pulang dari sekolah saja ya, Kek."


"Tentu saja, cucuku. Kalau begitu ayo kita keluar!" ajak Pak Hendrawan menggenggam tangan cucunya.


Bima dan juga Pak Hendrawan pun berjalan menuju ke meja makan. Di sana terlihat Rania dan juga Bu Isna yang tengah membantu beberapa pelayan menyiapkan makanan. Serta Alvaro yang sudah menempati salah satu kursi yang ada di sana.


"Selamat pagi semuanya," ujar Bima yang tampak sangat ceria.


"Selamat pagi juga, Sayang." Balas semua orang yang ada di sana dengan serentak.


"Wah, cucu nenek sudah rapi, siap berangkat sekolah. Sini duduk dulu, Sayang! Kita sarapan dulu!" titah Bu Isna sembari menarik kan kursi untuk Bima.


"Terima kasih, Nek. Tapi besok-besok tidak usah menarik kan kursi untuk Bima, karena Bima sudah besar, sebentar lagi akan masuk sekolah SD," ucap Bima yang tentu saja membuat Bu Isna langsung tersenyum simpul.


"Iya, Sayang." Bu Isna pun mengusap puncak kepala Bima.


Semua orang mulai menempati kursi masing-masing, untuk melakukan sarapan bersama. Bima menyantap makanan yang ada di hadapannya. Tak lama kemudian, pandangannya tertuju ke arah sang kakek yang berada di sampingnya.


"Kek, apakah kakek mau ikut bersama Bima ke sekolah? Pak Darman yang akan menyetir mobilnya. Kakek cukup duduk di belakang bersama dengan Bima," ucap Bima yang tak ingin melewatkan waktu sedetik pun bersama kakeknya.


"Tidak apa-apa, Varo. Papa justru senang jika Bima mengajak papa keluar. Lagi pula setelah ini, papa akan merasa bosan karena berdiam diri saja tanpa melakukan sesuatu," ujar Pak Hendrawan.


"Iya, Nak. Tidak apa-apa. Papamu akan merasa bosan jika harus tinggal di rumah saja," tambah Bu Isna.


"Ya sudah kalau begitu. Berarti Bima langsung diantar sama Pak Darman saja nanti," ucap Alvaro.


"Iya, Pa." Bima kembali bersemangat karena sudah diizinkan oleh ayahnya.


Sebenarnya Alvaro sangat paham bagaimana rasa senang Bima bertemu dengan kakek dan neneknya. Akan tetapi, satu hal yang Alvaro takutkan. Takut jika mertuanya itu akan dibuat kelelahan karena Bima.


"Nenek, apa nenek mau ikut juga bersama Bima dan juga kakek?" tanya Bima yang juga menawari neneknya.


"Nenek tidak bisa, Sayang. Nenek di rumah saja, sekalian jaga mama," timpal Bu Isna.


"Memangnya mama kenapa, Nek? Kenapa mama harus di jaga? Apakah mama ingin kabur?" tanya Bima lagi.


Uhuuukkk ....


Mendengar ucapan Bima, spontan membuat Rania langsung tersedak. Dengan cepat Alvaro pun menyuguhkan minum untuk istrinya.

__ADS_1


"Minumlah!" titah Alvaro seraya mengusap belakang sang istri.


"Bima ini ada-ada saja. Mana mungkin mamamu kabur. Lagi pula jangankan kabur, membawa perut sebesar itu saja dia sudah kesusahan," ujar Bu Isna yang membuat semua orang langsung tertawa mendengarnya.


"Sudah ... sudah ... habiskan makanannya, Bima. Nanti kita telat datang ke sekolah," ucap Pak Hendrawan.


"Baik, Kek."


Setelah menyelesaikan sarapannya, Bima pun langsung berpamitan dengan semua orang yang ada di rumah, menyalaminya satu persatu. Lalu kemudian ia menggenggam tangan sang kakek, berjalan menuju mobil yang akan dikendarai oleh Pak Darman.


Bersamaan dengan itu pula, Alvaro ikut berpamitan juga. Ia menuju ke mobil miliknya, dan tersenyum sekilas saat Pak Hendrawan menoleh ke arahnya sejenak, lalu masuk ke dalam mobil.


"Hati-hati di jalan!" seru Rania saat kedua mobil tersebut mulai membelah jalanan.


Setelah kedua mobil tersebut tak lagi terlihat dari pandangan, Rania dan Bu Isna pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.


"Ku lihat, suamimu agak kurusan. Apakah kamu tidak memberikannya makan dengan baik?" celetuk Bu Isna, seraya menjatuhkan bokongnya ke kursi yang ada di teras.


"Mas Varo selalu makan dengan baik, Ma. Memangnya ia terlihat sedikit kurusan?" tanya Rania.


"Iya. Saat ibu terakhir kali berkunjung kemari, Alvaro terlihat lebih berisi. Tapi, sekarang malah agak kurusan," ucap Bu Isna.


"Mungkin stres karena urusan kantor, Ma."


Rania mengingat-ingat kejadian semalam, dimana sang suami yang berkata padanya bahwa ia merasa takut saat Rania hendak melahirkan.


"Sepertinya dia juga stres karena aku yang hendak melahirkan," lanjut Rania.


"Stres karena kamu ingin melahirkan? Loh kenapa begitu?" Bu Isna memperlihatkan wajah herannya mendengar hal tersebut.


"Dulu, istri pertamanya meninggal saat ia melahirkan Bima. Jadi, ia merasa ada sedikit trauma akan hal itu," jelas Rania.


"Ya ampun, menantuku memang ada-ada saja. Seharusnya jangan disamakan kamu dengan istri pertamanya. Kamu ya kamu, dia ya dia, tentu saja takdir seseorang itu beda-beda. Ada-ada saja," ujar Bu Isna seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tapi, mama merasa sangat senang memiliki menantu sepertinya. Bukan karena dia orang yang berada, melainkan sikapnya yang hangat padamu. Dan keluarganya dengan tangan terbuka menerima kondisi kita yang jauh di bawah mereka. Mama ingat sekali, saat Bu Arumi sangat gencar hendak menjodohkan mu dengan Alvaro." Bu Isna kembali mengingat kenangan lama saat berada di apartemen kemarin.


"Haha ... iya, Ma. Aku juga tidak menyangka akan menjadi istrinya. Dulu aku sangat membenci Alvaro. Namun, setelah cukup lama, entah mengapa aku tiba-tiba bisa jatuh cinta padanya. Apalagi saat Bima menghampiri ku di restoran saat aku sedang melakukan kencan buta," ujar Rania.


"Bima? Menghampirimu? Kenapa dia menghampirimu? Sedang apa dia di sana?" tanya Bu Isna yang tiba-tiba merasa penasaran.


"Aku juga tidak tahu apa yang ia lakukan di sana. Tetapi saat aku tengah menunggu pria pilihan mama, tiba-tiba saja dia datang padaku dan memintaku untuk menjadi ibunya. Aku cukup terkejut saat mendengar ucapannya kala itu. Hingga pada akhirnya, kedok pria pilihan mama itu pun terbongkar saat itu juga. Setelah melihat Bima, ia langsung berucap kasar padaku dan mengatakan bahwa aku seorang janda dan juga dokter gadungan," papar Rania membeberkan semuanya pada Bu Isna.


"Astaga, kenapa kamu baru cerita sekarang, Nak. Seharusnya dari dulu ibu langsung kata-katai saja dia," ujar Bu Isna yang merasa geram mendengar cerita putrinya.


"Ya ... mungkin itu juga jalan Tuhan agar kalian bisa berjodoh. Pertemuan kamu dengan Bima, lalu kemudian kalian bertetangga. Itulah kata orang, kalau jodoh tidak akan kemana. Contohnya kamu dan Alvaro," lanjut Bu Isna sembari terkekeh.

__ADS_1


"Iya, benar juga Ma." Rania ikut terkekeh dengan penjelasan ibunya.


Bersambung ...


__ADS_2