Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 62. Menyesal


__ADS_3

Rania sedikit menghempaskan ponselnya di atas kasur. Gadis itu merajuk setelah membaca pesan singkat yang bertuliskan 'berjanda' tersebut. Notifikasi pesan singkat dari ponselnya beberapa kali berbunyi. Pesan dari Alvaro yang tak ia hiraukan. Tak lama kemudian, benda pipih tersebut berdering. Rania meraih ponsel pintarnya, melihat si penelepon adalah kekasihnya, membuat Rania lagi dan lagi mengabaikan pria tersebut


"Aku merajuk, aku cemburu! Kenapa harus janda, hah?!" gerutu Rania kesal.


Rania memilih meletakkan ponselnya ke sembarang tempat, lalu kemudian menarik selimutnya dan larut ke alam mimpi.


"Tidur lebih baik untuk saat ini dari pada meladeni duda itu," ketus Rania yang masih kesal. Gadis itu pun mulai memejamkan matanya, larut ke dalam alam mimpinya.


Di lain tempat, Alvaro mengusap wajahnya dengan kasar. Hanya karena salah satu huruf, Rania benar-benar merajuk dan susah untuk diberi penjelasan.


"Ponsel sialan!" ujar Alvaro dengan sedikit lantang. Para pegawai yang berada satu meja dengannya tampak tertegun dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Mereka takut jika mereka membuat kesalahan hingga memancing amarah dari atasannya itu.


Setelah menatap ponselnya, Alvaro kembali meraih gelas minuman yang ada di hadapannya. Pria tersebut baru sadar, semua mata saat ini memandangnya.


"Ada apa?" tanya Alvaro keheranan.


"Apakah kami membuat kesalahan, Pak?" celetuk Juni yang mewakili pertanyaan semua pegawai yang ada di sana.


"Ah itu, kalian tidak membuat kesalahan apapun. Lanjutkan makan kalian dengan tenang. Ini karena ponselku yang sedikit bermasalah," jelas Alvaro menyesap kopi yang ada di hadapannya. Mencoba menepis rasa malu yang tak sadar berteriak di depan para pegawai tadi.


Mereka yang ada di sana hanya bisa menganggukkan kepalanya setelah mendengar penjelasan dari sang atasan.


Alvaro sedari tadi melirik jam tangannya. Ia ingin pulang, akan tetapi pegawai yang lainnya masih senang berada di tempat tersebut.


"Ku harap saat di rumah nanti, Rania mau mendengarkan penjelasan ku," batin Alvaro.


Acara makan malam pun telah selesai. Semua pegawai yang mendapat traktiran, langsung mengucapkan terima kasih kepada Alvaro. Mereka pun langsung pulang menuju ke rumah masing-masing.


Setelah membayar semua makanan menggunakan kartu kreditnya, Alvaro bergegas masuk ke dalam mobil. Melajukan kendaraan roda empat tersebut menuju ke jalanan.


Setibanya di apartemen, Alvaro langsung menuruni mobilnya. Masih terbayang-bayang di pikirannya tentang kemarahan Rania, dan Alvaro tidak ingin di anggap pria yang tidak senonoh seperti mantannya kekasih Rania terdahulu.


Tinggg ...


Alvaro baru saja keluar dari lift. Langkah kakinya yang lebar berjalan menuju unit milik kekasihnya itu. Setibanya di depan pintu, Alvaro beberapa kali menekan bel pintu tersebut. Hingga akhirnya Alvaro menyerah saat kesekian kalinya ia menekan bel, akan tetapi pemilik unit tersebut tak kunjung keluar juga .


"Mungkin aku akan menjelaskan padanya besok saja. Siapa tahu Rania sudah tidur," gumam Alvaro yang langsung masuk ke dalam unitnya.


Malam ini, pria tersebut sendirian di rumah. Alvira dan Arumi meminta agar Bima menginap di rumah utama, membuat Alvaro mau tak mau menyetujuinya, mengingat hal tersebut juga atas permintaan Alvira.


Waktu telah menunjukkan pukul 12 malam, akan tetapi mata Alvaro masih enggan terpejam. Cinta memang membuatnya sedikit gila, meskipun tidak gila sepenuhnya, tetap saja membuat pria itu sedikit terganggu oleh kemarahan Rania.


"Lihatlah! Akan ku pastikan besok aku mengganti ponselku. Karena huruf yang salah, membuat kekasihku merajuk. Baru juga pacaran sehari, aku sudah membuat kesalahan yang fatal. Dan ...." Alvaro mengacak rambutnya karena merasa frustasi.

__ADS_1


"Salah ketiknya kenapa harus janda? Dari A sampai dengan Z, kenapa yang muncul huruf J?" tukas Alvaro yang semakin frustasi.


Pria tersebut kembali merebahkan tubuhnya. Ia menutup wajahnya dengan menggunakan bantal, mencoba untuk tertidur meskipun saat ini hatinya sedang merasa gundah.


.....


Keesokan harinya, Rania berangkat ke klinik lebih awal. Ia masih merajuk dengan kekasihnya semalam. Baru saja dirinya hendak memegang kenop pintu, tiba-tiba perutnya berbunyi, membuat Rania pun memegangi perutnya yang minta di isi tersebut.


"Ck, apakah kenop pintu ini memiliki sistem sensornya? Setiap kali aku ingin keluar, pasti saja perutku tiba-tiba merasa lapar. Seolah-olah tahu aku selalu menumpang sarapan di tetangga sebelah," gerutu Rania.


Gadis itu berjalan menuju ke dapur, mengambil selembar roti yang ada di atas meja makan. Mengoleskan selai coklat pada roti tersebut sebagai pengganjal perutnya.


Di waktu yang bersamaan, Alvaro juga sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Pria tersebut tidak memasak sarapan, karena mengingat Bima tidak ada di rumahnya. Di tambah lagi karena Alvaro hendak berbicara pada Rania. Ia bisa menebak, jika kekasihnya itu pasti akan datang lebih awal.


Saat membuka pintu, Rania juga baru keluar dari unitnya. Alvaro mengembangkan senyum menatap kekasihnya, akan tetapi gadis itu memilih untuk mengabaikan Alvaro.


"Ayo Rania, tetaplah merajuk! Jangan tergoda dengan senyum manisnya itu," batin Rania yang seakan memasang tembok pertahanan untuk dirinya.


Alvaro tak menyerah, memang sebagai laki-laki dia adalah pengejar, dan semua kesalahpahaman kemarin berawal dari dirinya. Pria tersebut menarik lengan kekasihnya, hingga Rania pun tak sengaja jatuh ke dalam pelukannya.


Deggg ... Deggg ... Deggg ...


Rania dapat mendengar dengan jelas suara detak jantung Alvaro. Gadis tersebut membeku sejenak, sebelum kesadarannya kembali pulih dan langsung menjauh dari pria itu.


"Percayalah! Aku sungguh tidak bersama dengan janda. Yang semalam itu, murni memang salah ketik," jelas Alvaro.


Rania tak mengindahkan ucapan Alvaro. Gadis tersebut memilih meninggalkan kekasihnya, akan tetapi saat berbalik, ia tertawa karena Alvaro sangat manis memperlakukannya. Rania menjadi sedikit egois, ketikan yang salah membuatnya sedikit memperpanjang masalah.


Rania masuk ke dalam mobilnya, melajukan kendaraannya lebih dulu. Sementara Alvaro, pria tersebut memilih berada di belakang mobil Rania, dengan sejuta kecemasan yang menyelimuti dirinya.


Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai Rania tiba di klinik. Gadis itu turun dari kendaraannya. Keningnya berkerut saat melihat Alvaro yang juga ikut memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil milik Rania.


"Kenapa kamu ke sini? Apakah kamu tidak ingin berangkat ke kantor?" tanya Rania.


"Aku tidak akan berangkat sebelum kamu memaafkanku," ucap Alvaro dengan sedikit tingkah lebaynya. Rania berusaha keras menahan tawanya. Seorang yang biasanya memperlihatkan wajah datarnya, kini seolah merengek bak anak kecil yang kehilangan mainannya.


"Aku mau bekerja, sebaiknya kamu pergilah ke kantor," ujar Rania berlalu dari hadapan Alvaro. Gadis itu terkikik geli saat tengah membelakangi kekasihnya itu.


Lagi dan lagi Alvaro mengejar Rania. Pria tersebut masuk ke dalam klinik yang terlihat masih sepi. Menyusul Rania yang berada di dalam ruangannya.


"Astaga, kenapa kamu mengikutiku sampai ke sini," protes Rania.


"Aku sakit, minta diobati olehmu. Kamu kan dokter," tukas Alvaro.

__ADS_1


Rania menghela napasnya. "Apa yang sakit?" tanya Rania.


"Kepalaku ... hatiku ... semuanya terasa sakit."


"Aku dokter gigi, biasanya kalau giginya yang sakit, langsung aku cabut. Dan kamu meminta aku yang mengobatimu. Apakah kepalamu juga ingin aku copot?" tanya Rania.


Mendengar penuturan Rania, membuat Alvaro langsung bergidik ngeri. "Ya bukan seperti itu juga. Aku hanya ingin kamu memaafkanku. Aku tidak ingin kamu menganggapku pria b*jingan sama seperti mantan mu dulu. Aku ingin mengobati lukamu akan kejadian masa lalu, bukan untuk menambah luka baru di hatimu," papar Alvaro panjang lebar.


Mendengar penuturan Alvaro, membuat Rania menjadi terenyuh. Ia terharu akan kata-kata yang diucapkan oleh kekasihnya itu.


"Wow pemandangan yang manis sekali," ujar Hilda yang baru saja datang lalu kemudian bertepuk tangan, melihat kedua sejoli yang sudah datang lebih awal, tak seperti kemarin.


"Iya ... iya ... aku maafkan. Sekarang berangkat lah ke kantor!" ucap Rania yang merasa sedikit malu.


"Janji ya, jangan marah lagi,"ujar Alvaro sebelum pria tersebut benar-benar pergi.


"Iya." Rania sedikit menghentakkan kakinya. Setelah memastikan kekasihnya itu benar-benar pergi, gadis tersebut tertawa seraya menggelengkan kepala.


"Kalian bertengkar?" tanya Hilda.


"Iya, karena semalam dia salah ketik," timpal Rania sembari terkekeh geli.


"Hanya salah ketik?" tanya Hilda lagi.


Rania kembali menganggukkan kepalanya sembari mengembangkan senyumnya.


"Mau aku beri saran?" Hilda kembali membuka suara, membuat Rania sedikit mengernyitkan keningnya mendengar ucapan rekan kerjanya itu.


"Saran apa?" tanya Rania yang merasa penasaran.


"Aku lihat, Alvaro sudah sangat banyak berubah. Dia bahkan tak segan-segan merengek kepadamu hanya untuk meminta maaf atas kesalahan kecil yang diperbuatnya. Saranku, kamu juga jangan bersikap keterlaluan. Kesalahan ketik satu huruf itu memang sering terjadi, akan tetapi dengan memperlihatkan sikap egoismu seperti ini, membuat pria tersebut lama-lama akan merasa tidak nyaman," tutur Hilda yang memberikan masukan kepada Rania panjang dan lebar.


"Maaf, bukan berarti aku ingin mengguruimu. Tapi, kalian kan sudah sama-sama dewasa, sudah semestinya menghadapi suatu masalah di selesaikan secara dewasa juga. Aku berani berucap seperti ini, karena kamu adalah temanku. Ku lihat, kamu juga sangat menyukai Alvaro. Takutnya nanti, Alvaro merasa tidak nyaman dengan sikapmu yang kekanak-kanakan seperti itu," jelas Hilda lagi.


Rania mendengarkan ucapan Hilda dengan seksama. Menurutnya, memang yang diucapkan oleh temannya itu benar adanya. Harusnya Rania lebih bijak menghadapi masalah sekecil ini. Dunia Alvaro bukan hanya dia saja. Pria itu punya tanggung jawab lainnya. Kantor, anak, dan keluarga, sedangkan Rania hanya sebatas kekasih yang seharusnya bisa mengerti keadaan Alvaro saat itu juga. Bukan semakin memperburuk situasi.


"Yang kamu katakan memang benar. Seharusnya aku tidak bersikap kekanak-kanakan terhadap Alvaro. Dia mengemban tanggung jawab yang besar, seharusnya aku bisa lebih mengerti dirinya," gumam Rania dengan raut wajah murung, dirundung rasa bersalah.


"Ya sudah, nanti masalah itu kamu bicarakan baik-baik. Katakan padanya bahwa kamu juga meminta maaf atas sikap yang kurang mengenakkan tadi," tutur Hilda dengan lembut.


Rania menganggukkan kepalanya. Menatap Hilda seraya mengembangkan senyum. " Terima kasih karena telah memberikan nasihat yang baik kepadaku," ujar Rania.


"Sama-sama. Kalau begitu, ayo kita mulai membukanya dengan menyambut pasien pertama," ucap Hilda seraya merangkul pundak Rania.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2