Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 232. Mas, Hentikan!


__ADS_3

Rania dan juga Alvaro baru saja tiba di rumah. Dengan menggendong Delani, Rania berjalan masuk ke dalam rumah. Sementara Alvaro, pria tersebut mengekor di belakang istrinya.


Arumi yang baru saja melihat kedatangan mereka pun langsung bergegas menghampiri. "Cucu nenek sudah sembuh?" tanya Arumi.


"Sudah, Nek. Dokter sudah mengizinkan Delani untuk pulang ke rumah," ucap Rania.


"Ya sudah, kalau begitu langsung saja ke atas dulu. Lagi pula kamu juga butuh istirahat, Nak. Lihatlah kantung matamu menghitam seperti itu. Kamu pasti sering begadang," ujar Arumi memperhatikan wajah Rania.


Rania hanya tersenyum. Arumi yang sedari tadi menatap Rania pun beralih menatap ke arah putranya.


"Kalau Rania repot tengah malam, tidak ada salahnya kamu membantu istrimu. Jangan hanya membangunkan Rania di saat kamu membutuhkan menantuku," tukas Arumi yang memperingatkan putranya.


"Mas Al selalu membantu kok, Ma." Rania membela sang suami, karena memang itulah kenyataannya.


"Tuh Ma. Varo itu juga ikut membantu disaat Rania terjaga di malam hari," ucap Alvaro.


"Ya sudah, kalau begitu bawalah istrimu ke kamar. Kalian pasti kelelahan terjaga di rumah sakit semalaman," ujar Arumi.


"Bima mana? Sudah berangkat ke sekolah?" tanya Alvaro.

__ADS_1


"Sudah sejak tadi," timpal Arumi.


Alvaro pun menganggukkan kepalanya, lalu mengajak istri dan anaknya untuk berjalan ke atas menuju kamar mereka.


Setibanya di kamar, Rania melihat Dilan tengah tertidur pulas. Jujur saja, meskipun mengkhawatirkan Delani yang tengah sakit, ia juga sangat khawatir pada Dilan yang hanya tinggal di rumah saja. Maka dari itu, Rania meminta pertolongan pada ibu mertuanya untuk menjaga Dilan, karena wanita itu tak bisa mempercayakan sang anak kepada orang lain, termasuk pelayan yang bekerja di rumah mereka.


Setelah meletakkan Delani ke atas kasur, Rania langsung menghampiri putranya. Wanita itu mengusap puncak kepala bayi itu dengan lembut.


"Sayang, maafkan mama ya yang harus terpaksa meninggalkan kamu sendirian," ujar Rania dengan suara pelan.


Melihat sang istri mengelus kepala anaknya, membuat Alvaro tersenyum dan berjalan menghampiri Rania. Pria itu merangkul bahu Rania dan sesekali mengusap punggung sang istri.


Rania tersenyum, wanita itu mendongak menatap sang suami. "Suamiku, sepertinya kamu harus mandi," ucap Rania.


"Kenapa harus mandi? Bukankah ketampanan ku ini tidak akan sirna meskipun tidak mandi?" balas Alvaro.


Rania menggelengkan kepalanya, ia mencubit perut Alvaro dengan pelan, membuat pria itu sedikit meringis kesakitan.


"Kamu jelek!"

__ADS_1


"Awww ... aku merasa tersakiti yang kedua kalinya. Di sini ...." Alvaro menunjuk perut yang dicubit oleh Rania tadi.


"Dan di sini ...." Kali ini pria tersebut menunjuk dadanya.


Melihat hal tersebut membuat Rania terkekeh geli. Namun, spontan ia langsung menutup mulutnya dan memberhentikan tawanya tatkala menyadari bahwa saat ini ia berada di antara dua anaknya yang tengah tertidur.


"Sudah, Mas. Mandi sana!!" ujar Rania yang langsung berdiri dan sedikit mendorong tubuhnya.


"Eits, Mas? Sini papa hukum dulu," ucap Alvaro yang langsung menghujani Rania dengan ciuman.


"Mas, hentikan!"


"Mas lagi?" tanya Alvaro yang semakin brutal.


"Ampun, Pa!" Rania beberapa kali meminta agar suaminya menghentikan aksi konyolnya ini, akan tetapi Alvaro tetap menciumi istrinya itu berulang kali.


Pranggg ...


Terdengar suara berisik dari depan pintu. Hal tersebut membuat Alvaro langsung menghentikan aksinya dan terkejut saat melihat siapa yang tengah menyaksikannya saat ini.

__ADS_1


"Ma ... Mama," ujar Rania terbata-bata.


__ADS_2