
Setelah lelah berkelana di kebun teh, sore itu mereka pun memutuskan untuk pulang. Bima tampaknya kelelahan karena memetik pucuk daun teh, membuat anak laki-laki itu tertidur.
Seperti biasa, Alvaro menggendong putranya yang telah terlelap. Mereka berpamitan terlebih dahulu sebelum pulang.
"Ma, Pa, kami pamit pulang dulu. Nanti di lain waktu, saat Bima libur sekolah, kami pasti akan berkunjung kemari," ucap Alvaro.
"Iya, Nak. Tidak apa-apa, kami bisa mengerti. Untuk kedatangan selanjutnya, akan kami tunggu," ujar Bu Isna.
"Pulang dulu ya Ma, Pa," ucap Rania yang juga menyalami punggung tangan kedua orang tuanya.
"Iya, Nak. Hati-hati di jalan," ujar Pak Hendra.
Mereka pun langsung masuk ke dalam mobil. Alvaro meletakkan Bima di belakang, tepatnya di samping sang istri. Rania dengan cepat mengambil tempat, memposisikan anaknya untuk tidur di atas pangkuannya.
Mobil pun mulai melaju, Pak Darman menekan klakson sebelum benar-benar menuju ke jalanan. Alvaro yang menempati kursi depan pun menoleh, menatap istrinya yang tengah membenarkan posisi tidur Bima.
"Gunakan ini saja, supaya pahamu tidak sakit dan Bima lebih nyaman," ucap Alvaro memberikan bantal kecil pada Rania.
Rania mengambil bantal tersebut. Ia pun mengangkat sedikit kepala Bima dan meletakkan bantal kecil itu di atas pahanya. Hingga wanita itu menjatuhkan Bima kembali di atas pangkuannya.
"Nanti kalau kamu merasa lelah, aku akan menggantikanmu," ujar Alvaro.
"Tidak apa-apa, Mas. Lagi pula ini sudah enakan karena dikasih bantal," balas Rania.
Memastikan anak dan istrinya baik-baik saja, Alvaro kembali menoleh ke depan. Kali ini perjalanan mereka sedikit sunyi karena yang meramaikan suasana sudah larut dalam alam mimpinya.
Setelah satu jam perjalanan, Alvaro kembali menoleh ke belakang, ia mendapati istrinya yang juga ikut tertidur.
"Sepertinya mereka benar-benar kelelahan," gumam Alvaro.
"Tuan kalau mau tidur juga silakan saja, Tuan." Pak Darman menimpali sembari mengendalikan setirnya.
"Saya tidak mengantuk, Pak. Lagi pula saya tidak ingin perjalanan jauh membiarkan supir sendirian yang terjaga. Saya lebih memilih mengajak bapak mengobrol saja, supaya jauh lebih aman. Bapak tidak mengantuk begitu pun juga dengan saya," jelas Alvaro.
Memang benar, jika sedang beperjalanan jauh, ada baiknya jika salah satu dari kita untuk mengajak supir berbincang, menghindari rasa kantuk yang menyerang pada supir tersebut supaya lebih fokus membawa kendaraannya.
Banyak hal yang diperbincangkan Alvaro pada Pak Darman. Entah itu masalah keluarga Pak Darman yang ada di kampung, bahkan membahas masalah kecil seputar masalah dalam rumah tangga dan beberapa saran yang diberikan oleh Pak Darman.
Dengan berbincang-bincang, tak terasa mobil pun sudah memasuki pekarangan rumah Alvaro. Pak Darman memarkirkan mobilnya. Alvaro pun langsung turun, membuka pintu belakang, melihat sang istri dan anaknya masih menutup matanya.
Alvaro menggendong putranya terlebih dahulu, menidurkan jagoan kecilnya ke dalam kamar. Lalu kembali ke luar untuk menemui sang istri, berencana menggendong istrinya yang tengah tertidur. Namun, Rania lebih dulu bangun membuat Alvaro pun mengurungkan niatnya.
"Tadi Bima tidak terbangun kan, Mas?" tanya Rania dengan suara yang serak.
"Tidak, Sayang. Ayo kita ke kamar dan beristirahat!" ajak Alvaro merangkul tubuh sang istri yang masih sedikit terhuyung, karena baru bangun tidur.
Sesampainya di kamar, Rania langsung menjatuhkan dirinya di kasur empuk tersebut. Mata wanita itu kembali terpejam, seolah saat berjalan tadi ia hanya mengigau.
"Sayang, ...." Alvaro memanggil istrinya yang kembali terlelap. Tak ada sahutan, pertanda bahwa Rania kembali masuk ke dalam alam mimpinya.
__ADS_1
Alvaro menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Rania. Pria itu membenarkan posisi tidur sang istri, memposisikan wanita tersebut agar lebih nyaman saat tertidur.
Alvaro melepaskan sepatu yang masih dikenakan oleh Rania, lalu kemudian menyelimuti tubuh wanita itu. Pria tersebut menatap seksama istrinya yang tengah tertidur pulas, wajah sang istri begitu cantik hingga tak bosan untuknya memandangi paras Rania.
Rania sedikit bergeser, ia menarik Alvaro, dan memeluk tubuh kekar sang suami. Alvaro sedikit terkejut, akan tetapi ia menyukai posisi ini. Pria itu pun sedikit menggeser tubuhnya, agar menghadap pada sang istri. Tangan kekarnya di letakkan di pinggang istrinya, sementara yang satu lagi dijadikan bantal oleh Rania.
Perlahan, rasa kantuknya pun menyerang, membuat Alvaro memejamkan mata. Dan ikut larut ke dalam alam mimpinya.
....
Keesokan harinya, Rania terbangun dari tidurnya. Ia mendapati saat ini dirinya berada di samping sang suami sembari memeluk tubuh kekar pria tersebut. Rania langsung mengubah posisinya menjadi duduk, melihat jam digital yang ada di atas nakas telah menunjukkan jam setengah 6, pertanda bahwa wanita tersebut terlambat bangun.
"Astaga aku kesiangan!" ucapnya panik dan langsung beranjak dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi.
Sementara Alvaro, ia baru saja bangun saat sang istri turun tiba-tiba dari atas kasur. Pria itu terduduk, sedikit meregangkan lengannya yang terasa kebas akibat ditiduri oleh Rania semalaman.
Baru saja Alvaro hendak beranjak dari tempat tidurnya, tiba-tiba Rania keluar dari kamar mandi menggunakan kain handuk serta rambut yang basah. Alvaro mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu kemudian melihat ke arah jam digital yang baru saja menunjukkan pukul 05:35.
"Sudah selesai mandinya?" tanya Alvaro menatap heran sang istri.
"Sudah, Mas." Rania menimpali sembari mengeringkan rambutnya yang basah.
Alvaro menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia cukup terkesan gaya mandi Rania yang hanya memakan waktu lima menit saja, keluar dengan rambut yang basah.
"Kenapa Mas? Kamu tidak langsung mandi?" tanya Rania yang melihat sang suami tertegun sedari tadi.
"I-iya, ini juga baru mau mandi," timpal Alvaro melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.
Rania mengetuk pintu kamar Bima sebelum masuk. Ia melihat putranya yang masih terduduk, seakan mengumpulkan nyawa terlebih dahulu karena baru saja bangun tidur.
"Anak mama sudah bangun," ujar Rania menghampiri putranya lalu kemudian mengusap puncak kepala Bima.
"Ma, memangnya kapan kita pulang? Seingat Bima, kemarin Bima tertidur di rumah nenek yang ada di kampung. Sekarang kenapa Bima ada di kamar?" tanyanya.
Rania terkekeh geli, ternyata Bima melamun sedari tadi karena memikirkan hal tersebut. "Sore kemarin kita pulang, Nak. Papa yang menggendongmu dan memasukkan Bima ke dalam mobil. Mama yang memangku Bima agar Bima merasa nyaman. Kemarin Bima terlalu kelelahan sehingga tidurnya sangat pulas," jelas Rania sembari mengusap puncak kepala putranya.
"Sekarang Bima bergegaslah mandi dan bersiap untuk ke sekolah. Mama akan menyiapkan sarapan untuk kalian," ujar Rania.
"Baik, Ma." Bima langsung turun dari tempat tidurnya, lalu melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.
Rania membereskan kasur Bima terlebih dahulu, menyiapkan seragam yang akan dikenakan oleh putranya, lalu kemudian keluar dari kamar tersebut, menyiapkan sarapan untuk anak serta suaminya.
Di dapur, Rania berkutat dengan kompor dan wajan. Setelah memakan waktu selama 30 menit, sarapan pun telah siap di hidangkan di atas meja.
Alvaro dan juga Bima keluar dari kamarnya bersamaan. Alvaro tersenyum menatap anak laki-lakinya.
"Ayo Nak!" ajak Alvaro merangkul anaknya.
Keduanya turun secara bersamaan. Aroma lezat terendus oleh indera penciumannya. "Masakan mama selalu membuat perut papa menjadi lapar," ujar Alvaro pada anaknya.
__ADS_1
"Iya, Pa. Awalnya mama tidak bisa memasak, tetapi sekarang mama sangat pandai memasak," balas Bima.
"Itu tandanya kerja keras mama membuahkan hasil. Bima juga harus seperti itu, belajar dengan giat supaya mendapat nilai yang bagus," tutur Alvaro menasihati Bima.
"Iya, Pa. Nika pasti akan belajar lebih giat lagi," balas Bima.
Keduanya pun telah sampai di meja makan. Rania langsung menyambut hangat anak dan suaminya seraya menyunggingkan senyum.
Mereka pun mulai menempati kursi masing-masing. Menikmati hidangan yang tersaji di atas meja dengan tenang. Setelah menikmati hidangan tersebut, tiba-tiba Rania merasakan sesuatu yang aneh. Seolah hendak mendesak keluar.
Rania pun langsung bergegas menuju ke toilet dan memuntahkan semua yang baru saja masuk ke dalam lambungnya. Melihat sang istri berlari ke toilet, membuat Alvaro bergegas menemui sang istri.
"Ada apa, Sayang?" tanya Alvaro panik melihat Rania yang merasa lemas.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku merasa mual. Mungkin masuk angin karena perjalanan kemarin," timpal Rania sembari memegangi perutnya.
"Ya sudah, kalau begitu kamu istirahat saja dulu. Mas panggilkan dokter ya," ucap Alvaro.
"Tidak usah, Mas. Mas Varo pergi saja ke kantor dan tolong antar Bima ke sekolah, takutnya Bima terlambat," ujar Rania.
"Terus bagaimana dengan kamu?" tanya Alvaro sembari membantu istrinya untuk berdiri dan menuntunnya ke dalam kamar.
"Nanti biar aku sendiri saja yang menghubungi dokter. Mas berangkatlah ke kantor," ujar Rania.
Alvaro tak menimpali ucapan istrinya. Pria itu mengangkat tubuh sang istri untuk di bawa ke kamar, lalu merebahkan istrinya itu di atas kasur.
"Kamu yakin tidak apa-apa aku tinggal?" tanya Alvaro yang tampak ragu meninggalkan istrinya di rumah.
"Iya, Mas." Rania menyunggingkan senyumnya.
"Nanti kalau ada apa-apa segera hubungi Mas!" ujar Alvaro memperingati sang istri. Rania menimpali ucapan suaminya dengan sebuah anggukan pelan.
Alvaro mengecup kening sang istri, lalu kemudian berpamitan pada wanita pemilik hatinya itu," Mas berangkat kerja dulu. Nanti Mas hubungi kamu," ujar Alvaro.
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan," ucap Rania.
Alvaro mengangguk, lalu kemudian memilih untuk keluar dari kamarnya. Saat hendak menuruni anak tangga, Alvaro melihat pelayan yang membawakan minum hangat atas permintaan Rania.
"Bi, tolong nanti panggilkan dokter. Jaga istri saya dengan baik, kalau ada apa-apa, segera hubungi saya," ucap Alvaro.
"Baik, Tuan."
Alvaro kembali melanjutkan langkahnya. Ia melihat Bima yang sedang menunggunya di ruang tengah. Dan langsung mencecarnya dengan banyak pertanyaan.
"Pa, mama kenapa? Apakah mama sakit? Apa karena kelelahan menemani Bima kemarin?" serentetan pertanyaan diajukan oleh Bima.
"Mama sedikit mual-mual, papa sudah meminta bibi untuk memanggil dokter," timpal Alvaro.
Alvaro melirik jam tangannya yang telah menunjukkan pukul 06:55. "Ayo kita berangkat, Nak! Nanti kamu terlambat datang ke sekolah," ajak Alvaro.
__ADS_1
Bima pun langsung menggandeng tangan ayahnya. Kali ini ia akan berangkat sekolah bersama Alvaro, karena kondisi Rania yang tak memungkinkan untuk mengantar anak laki-laki itu ke sekolah.
Bersambung ....