
Juni dan Shinta berada di restoran. Gadis itu sedari tadi menatap kekasihnya setelah kejadian beberapa menit yang lalu.
"Kamu kenapa seperti itu?" tanya Shinta.
"Seperti apa?" Juni balik bertanya, seolah berpura-pura tidak mengetahui apa yang dimaksudkan oleh kekasihnya tadi.
"Iya, kamu kenapa harus meladeni mereka. Lagi pula biarkan saja mereka hendak berkata apapun. Tidak usah menggubrisnya. Mereka akan semakin gencar membicarakan kita jika kita meladeni mereka," ujar Shinta yang mencoba memberikan sedikit nasihat pada kekasihnya itu.
"Bagaimana pun juga, aku tidak setuju. Mereka berbicara dan bahkan dengan terang-terangan menjelekkan kita. Seharusnya kan mereka mengabaikan kita, atau membicarakan keburukan tersebut di saat tidak ada orangnya. Siapa pun akan marah jika diperlakukan seperti itu," ucap Juni yang masih tak terima dengan ucapan wanita tadi.
"Nanti, jika kamu sendirian menghadapi orang itu, aku minta kamu menghadapi mereka dengan kepala dingin. Jangan ikut mencela mereka. Itu tandanya kamu dengan mereka tak ada bedanya," tutur Shinta.
"Ada apa ini? Kenapa kamu selalu berkata seperti itu. Semalam, kamu juga membahas hal yang sama. Mengatakan jika bagaimana kalau kita berpisah. Kenapa? Apakah kamu sudah merasa bosan denganku?" tanya Juni menatap Shinta penuh selidik. Ia mencurigai makna dari balik ucapan Shinta itu.
"Kamu sudah memiliki pria lain? Jawab aku, Shinta!"
Entah bagaimana ceritanya, Juni jadi terpancing emosi. Ia berkata dengan suara yang sedikit keras, membuat beberapa pengunjung yang ada di sana menatap ke arah Juni.
"Kamu ini kenapa sih, Jun? Tiba-tiba marah tak jelas seperti ini," ujar Shinta yang masih mencoba berbicara dengan lembut. Ia tak ingin ikut terpancing emosi dengan perkataan Juni.
"Shin, dari semalam aku perhatikan kamu selalu saja membahas tentang perpisahan. Selalu saja seperti itu. Dan siang ini, kamu juga seperti tengah menyindir hal itu. Memangnya ada apa, Shin? Jika kamu tertarik dengan pria lainnya, kalau begitu tidak usah memberikan harapan padaku. Agar aku tidak membuang-buang waktu memperjuangkan mu yang pada akhirnya aku bukanlah pilihanmu," ujar Juni yang sudah merendahkan nada bicaranya.
"Bukan begitu maksudku, Jun."
"Lalu apa? Apa Shin? Kamu selalu saja mengeluarkan kalimat yang membuat aku bertanya-tanya. Aku ini bukan lah pria yang bisa membaca isi hatimu," tukas Juni.
Mendengar penuturan dari kekasihnya itu, membuat Shinta merasa jengah. Juni sedari tadi entah mengapa langsung tersulut emosi begitu saja.
__ADS_1
"Terserah kamu saja Jun, mau berpikir apa tentang diriku. Yang pasti, aku tidak pernah berniat untuk mengkhianatimu, sedikit pun tak pernah!"
Setelah berkata demikian, Shinta pun memilih untuk beranjak dari tempat duduknya. Pergi meninggalkan Juni begitu saja di resto tersebut. Ia terlalu malas untuk meladeni Juni yang tampaknya tak bisa mengontrol emosi. Entahlah, mungkin pria itu sedang mendapatkan tamu bulanannya, hingga ia marah-marah tak jelas seperti wanita yang tengah pms.
Juni menatap punggung kekasihnya itu yang semakin lama semakin menjauh. Pria itu pun mengepalkan tangannya dengan erat. Ingin sekali rasanya ia meluapkan emosinya pada meja yang ada di hadapannya, akan tetapi Juni mencoba menahannya untuk tidak melakukan semua itu. Ia beranjak dari tempat duduknya, memilih pergi dari resto tersebut.
Akhirnya, kedua sejoli itu pun tak jadi mengisi perutnya. Karena kemarahan yang tengah menerpa keduanya membuat rasa lapar itu hilang seketika.
Setelah pergi dari restoran tersebut, Juni memilih pergi ke atap kantor. Pria itu mengeluarkan pemantik dan juga rokoknya yang ia beli sebelum menuju kemari.
Juni menghidupkan benda bernikotin tersebut, lalu kemudian menghisapnya, lalu menghembuskan asap dari rokok itu ke sembarang arah.
Pikirannya kalut, entah kenapa ia tiba-tiba tersulit emosi dengan ucapan kekasihnya itu. Namun, memang ucapan yang dilontarkan oleh Shinta membuat Juni sedikit terganggu. Seolah mengisyaratkan sebuah perpisahan akan hubungan yang mereka jalin. Jika memang benar begitu, Juni merasa tidak sanggup. Baginya, Shinta adalah dunianya. Lantas, mengapa saat Juni telah memberikan hatinya pada Shinta, justru Shinta berucap demikian?
Sementara di lain tempat, Shinta tengah mengusap wajahnya di toilet. Ia mencoba menyamarkan mata merahnya seusai menangis akibat pertengkarannya tadi.
Shinta menatap dirinya di cermin. Dalam hatinya gadis itu pun berucap, " Jangankan mengutarakan yang sebenarnya, diberikan ucapan seperti itu saja emosinya sudah naik."
Saat hendak menuju ke meja kerjanya, Shinta berpapasan dengan orang yang tadi menyindirnya. Wanita itu memperlihatkan wajah sinisnya, sementara mulutnya pun berbicara menyindir Shinta dengan suara yang pelan.
"Baru juga dibahas tadi, eh dengar-dengar sudah membuat keributan di tempat makan seberang sana. Memang dasar pasangan bucin yang tidak kenal tempat," cecar wanita tersebut.
Shinta tak menggubris, ia lebih memilih untuk berlalu dari hadapan wanita itu tanpa berkata apapun. Bagi Shinta, meladeni manusia seperti itu, hanya bisa menghabiskan waktu saja.
Shinta berjalan menuju ke meja kerjanya. Ia melihat Alvaro yang baru saja dari luar, hendak masuk ke dalam ruangannya.
"Pak ...." Shinta memanggil atasannya, membuat pria tersebut langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menatap gadis yang ada di belakangnya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Alvaro.
"Untuk masalah kepindahan saya, bisakah dipercepat? Jangan lusa, besok saja." Shinta mengutarakan keinginannya pada Alvaro.
Mendengar penuturan dari Shinta, membuat kening Alvaro pun berkerut. "Ada apa? Kenapa tiba-tiba kami meminta dipercepat? Apakah Juni sudah mengetahui tentang hal ini?" tanya Alvaro penuh selidik. Ia melihat mata Shinta yang sedikit memerah, pertanda bahwa gadis yang ada di hadapannya itu tidak baik-baik saja.
Shinta menggelengkan kepalanya," Saya hanya ingin dipercepat saja, Pak. Untuk urusan Juni, biarlah menjadi urusan saya. Bapak tidak perlu memberitahunya pada Juni masalah ini," ujar Shinta.
Alvaro pun menimbang-nimbang untuk menyetujui permintaan Shinta. Setelah cukup lama berpikir, ia pun menganggukkan kepala, menyetujui permintaan Shinta.
"Baiklah, mulai besok kamu boleh langsung datang ke kantor cabang," ucap Alvaro.
"Terima kasih, Pak." Shinta mengembangkan senyumnya.
Alvaro hanya menganggukkan kepalanya pelan. Setelah mendapatkan persetujuan dari Alvaro, Shinta langsung pamit undur diri dari hadapan atasannya itu. Gadis tersebut melangkahkan kakinya kembali menuju meja kerjanya.
Sementara Alvaro, ia melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Membuka kenop pintu dan langsung masuk ke dalam ruangannya.
Saat Shinta kembali fokus pada pekerjaannya, seorang office girl yang biasa mengantarkan makanan untuknya kembali menemui Shinta seraya membawa kantong plastik yang ada di tangannya.
"Bu Shinta, ada kiriman dari Pak Juni," ucap wanita paruh baya tersebut meletakkan makanan yang ada di tangannya ke atas meja.
"Terima kasih, Bu." Shinta mengulas senyumnya.
"Sama-sama," ucap wanita tersebut yang kemudian langsung pergi dari hadapan Shinta.
Shinta menatap makanan yang ada di hadapannya. Meskipun mereka tengah bertengkar, akan tetapi perhatian yang ditunjukkan oleh Juni masih tetap sama.
__ADS_1
"Sanggupkah aku saat di sana nanti? Tidak melihat wajahmu dan juga tidak mendapatkan makan siang darimu," gumam Shinta.
Bersambung ....