Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 214. Jodoh Takkan Kemana


__ADS_3

"Mulai besok, aku akan bekerja di kantor cabang."


Juni terdiam seusai mendengar ucapan dari kekasihnya. Tangannya meremas setir mobil dengan kuat, mencoba menahan kembali emosi yang ada di dalam dirinya.


"Ke-kenapa tiba-tiba? Apakah kamu benar-benar ingin menghindariku, Shinta?" tanya Juni dengan nada yang bergetar.


"Bukan. Ini semua bukan karena aku ingin menjauh darimu. Kepindahanku ini atas perintah dari Pak Alvaro, dan aku menyetujui hal itu," ujar Shinta.


"Nanti, biar aku yang memohon pada Pak Alvaro untuk tidak memindahkan mu ke kantor cabang," ucap Juni.


"Tidak Jun! Kamu tidak usah memintanya seperti itu. Lagi pula, jika alasan kepindahanku karena jauh darimu, kamu tenang saja. Aku tidak akan pindah apartemen. Aku tetap tinggal di sebelahmu, masih menjadi tetanggamu," balas Shinta.


"Tapi ... bagaimana bisa kamu tidak membicarakannya padaku, Shinta. Kenapa baru sekarang kamu mengatakannya? Ini ... aku merasa ini semua terlalu cepat. Ini semua terlalu mendadak bagiku," ujar Juni.


"Maafkan aku yang sempat menunda hal ini. Sebenarnya saat di restoran, aku ingin sekali mengatakannya padamu. Namun, melihatmu semarah itu, membuatku mengurungkan niatku. Sekali lagi maafkan aku," ucap Shinta penuh sesal.


Juni hanya bisa menghela napasnya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Mau tak mau, dirinya harus menerima hal itu. Lagi pula, ia dapat melihat dengan jelas, jika Shinta juga tak membantah untuk dimutasi ke kantor cabang.


"Baiklah, seperti katamu tadi. Kita jalani saja semua ini. Jika memang kita berjodoh, maka pada akhirnya kita akan kembali dipersatukan. Sejauh apapun itu, ku harap aku lah yang menjadi tempat bersandarmu. Ku harap, aku lah yang menjadi tenpatmu berpulang," tutur Juni.


Pria itu mulai pasrah dengan semua ini. Ingin mengikuti keegoisannya, takut jika pada akhirnya kelak ia akan melukai Shinta dan membuat gadis itu benar-benar meninggalkannya.


Tak lama kemudian, ponsel Juni berdering. Ia melihat atasannya itu tengah meneleponnya. Pria itu menatap Shinta sekilas, izin untuk mengangkat telepon tersebut. Shinta pun menganggukkan kepala, memberikan izin pada Juni untuk menerima telepon tersebut terlebih dahulu.


"Halo Pak," ujar juni mengangkat panggilan tersebut.


"Hei! Astaga ... Apakah kamu tidak ingin melihatku di rumah sakit? Kenapa kamu sangat jahat sekali padaku, Juni." terdengar suara Alvaro dari seberang telepon.


"Di rumah sakit? Memangnya apa yang terjdi, Pak? Sungguh! Aku sama sekali tidak tahu jika Pak Alvaro tengah berada di rumah sakit," ujar Juni.

__ADS_1


"Apakah kamu tidak membuka sosial mediamu? Aku mengupdate postingan terbaru di sosial mediaku," ucap Alvaro.


"Aku juga tidak tahu jika Pak Alvaro menggunakan sosial media untuk memberitahukan hal yang satu ini. Kalau begitu katakan saja rumah sakit apa dan berada di ruang mana," balas Juni.


"Rumah sakit Cempaka, ruang bersalin."


Tak lama kemudian, sambungan telepon terputus secara sepihak seusai Alvaro mengucapkan kalimat tadi. Hal itu tentu saja disengaja oleh sang atasan.


Kening Juni berkerut saat Alvaro mengatakan bahwa dirinya tengah berada di ruang bersalin. Shinta melihat ekspresi kebingungan terpancar jelas di wajah kekasihnya. Hal itu tentu saja membuat Shinta bertanya.


"Ada apa?" tanya gadis itu.


"Pak Alvaro berada di ruang bersalin. Tadi dia baru saja meneleponku. Memangnya apa yang ia lakukan di ruang tersebut?" ujar Juni bertanya-tanya.


"Ah iya! Itu mungkin karena istrinya melahirkan," ucap Shinta.


" Astaga! Aku baru menyadarinya," ujar Juni menepuk keningnya.


....


Setelah cukup lama menempuh perjalanan, akhirnya Juni dan juga Shinta pun tiba di rumah sakit. Keduanya langsung turun dan bertanya pada suster yang berjaga, tempat ruang bersalin.


Sang suster pun menunjukkan arah ruangan tersebut . Juni dan juga Shinta segera menuju ke ruangan itu. Sesampainya di sana, ia melihat Alvaro yang tengah menggendong seorang bayi. Dan yang satu lagi adalah Arumi, nenek-nenek berambut coklat tersebut juga sedang menggendong bayi.


"Pak ...." Juni tiba dan langsung menghampiri Alvaro.


"Ckckck! Kalian memang benar-benar. Jika tidak ku telepon, mungkin kalian tidak akan mengetahui berita ini," ujar Alvaro seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Varo! Kamu ini bagaimana sih! Mereka itu tidak punya indera keenam yang bisa langsung tahu dengan jelas. Mereka juga sibuk bekerja, tidak ada waktu untuk melihat sosial media postingan terbaru atasannya," ucap Arumi memenangkan Juni dan juga Shinta. Juni merasa terselamatkan dengan keberadaan Arumi.

__ADS_1


"Wah, Pak Bos dapat anak kembar?" celetuk Shinta yang mencoba mencairkan suasana.


"Tentu saja. Aku mempunyai bibit unggul yang berkualitas, maka dari itu dapat menghasilkan dua sekaligus. Lihatlah mereka tampan dan cantik," ujar Alvaro yang mulai meninggikan dirinya.


"Ah iya. Mereka sangat tampan dan cantik. Yang ini benar-benar cantik mirip dengan ibunya. Dan yang satu ini tampan mirip ...."


"Bima," celetuk Juni yang langsung menyambung ucapan Shinta yang belum sempat terselesaikan.


Alvaro langsung mendengkus kesal. Ia ingin sekali bahwa ketampanan anaknya itu dimirip-miripkan dengan dirinya. Namun, ucapan Juni barusan seolah membuat Alvaro bukanlah termasuk pria yang tampan.


Sementara Rania dan yang lainnya langsung terkekeh geli melihat ekspresi dari Alvaro. Juni menggeser langkahnya mencoba bersembunyi di balik tubuh Arumi, agar atasannya itu tidak murka.


"Bu Arumi, tolong lindungilah aku untuk yang kesekian kalinya," ucap Juni.


"Bagaimana jika aku tidak mau melindungi mu?" tanya Arumi yang masih terkekeh geli.


"Maka akan tamatlah riwayat ku," balas Juni yang kembali membuat orang lain tertawa.


Shinta mendekat kepada Rania. Gadis itu tersenyum menatap Rania yang terbaring lemas. Rania pun membalas senyuman Shinta.


"Selamat ya Rania, kamu adalah ibu yang hebat," ujar Shinta memberikan selamat pada Rania.


"Terima kasih, Shin. Kamu kapan menyusul? Jangan terlalu lama menunda, tidak baik." Rania tersenyum mengucapkan kalimat tersebut.


"Doakan saja, semoga aku bisa menyusul seperti kamu," ujar Shinta mengulum senyumnya.


Pandangan Shinta mengarah pada Juni yang tengah menggendong bayi yang sebelumnya berada di gendongan Arumi. Juni tampak sangat senang, terlihat dari ekspresi wajahnya.


"Lihatlah! Juni sudah terlihat sangat cocok menjadi seorang ayah," ucap Rania yang juga menatap ke arah Juni.

__ADS_1


"Iya. Aku juga berharap banyak padanya. Namun, ... Juni belum benar-benar mantap akan pilihannya. Entah sampai kapan hubungan ini akan tetap baik-baik saja, atau memang kami tidak diciptakan untuk bersama. Akan tetapi, aku tetap mencintainya sampai kapan pun itu. Entah mengapa, aku tak ada niat mencari pria lain lagi. Apakah hatiku yang memang sudah tertutup olehnya?Aku tidak tahu akan hal itu," batin Shinta sembari menatap kekasihnya yang sedari tadi memperlihatkan raut bahagianya kepada semua orang.


Bersambung ....


__ADS_2