Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 63. Hanya Lima Langkah


__ADS_3

Alvaro membereskan dokumen yang berserakan di atas meja. Pria tersebut bersiap-siap untuk pulang. Ia meraih ponsel yang tak jauh dari jangkauannya. Alvaro benar-benar mengganti ponselnya dengan ponsel keluaran terbaru. Akibat salah ketik, membuat dirinya membeli ponsel lagi sementara ponsel yang lama, ia berikan secara cuma-cuma kepada orang lain.


Pria tersebut mengusap layar ponselnya, mengecek mungkin saja ada pesan singkat dari kekasihnya yang sempat terlewatkan.


Ia beranjak dari tempat duduknya. Meraih jas kantor yang di gantung tak jauh dari kursi kebesarannya. Melangkah pergi dengan membawa tas kerja yang ada di tangannya.


Pria tersebut berjalan menuju ke parkiran. Masuk ke dalam mobilnya, dan melajukan kendaraannya tersebut.


Saat di perjalanan, ponsel Alvaro berbunyi. Ketika melihat nama yang tertera di layar, Alvaro langsung mengembangkan senyumnya.


"Halo, Sayang." Alvaro menyapa gadis yang ada di seberang telepon dengan ucapan manis.


"Kamu belum pulang, .... Sayang?" Rania terdengar masih malu-malu memanggil Alvaro dengan sebutan manis tersebut.


"Aku sedang dalam perjalanan menjemput Bima. Kamu sudah pulang? Kalau belum biar aku jemput sekalian," ujar pria tersebut.


"Aku sudah pulang sedari tadi, lagi pula aku juga membawa kendaraan sendiri. Ya sudah, jemputlah Bima dulu. Nanti setelah sampai di rumah, aku akan meneleponmu lagi," ucap Rania.


"Kenapa harus menelepon saat sampai di rumah? Bukankah lima langkah kita sudah bisa bertatapan muka?" ujar Alvaro seraya terkekeh geli.


"Haha iya, aku lupa. Kisah kita seperti judul lagu, pacar lima langkah."


"Hmmm ... apa kamu baru menyadarinya?"


"Ya bisa dikatakan begitu. Sudah, nanti setibanya di rumah, mari kita bertemu."


Sambungan telepon langsung terputus secara sepihak. Alvaro mengembangkan senyumnya, sembari mengemudikan mobil.


"Pacar lima langkah? Ya, kita seperti judul lagu itu," gumam Alvaro.


Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai oleh Alvaro tiba di rumah utama. Pria tersebut langsung turun dari kendaraannya. Sehari tak bertemu dengan putranya, membuat Alvaro sangat rindu.


Alvaro berjalan menuju ke ruang tengah, ia melihat Bima yang sedang menonton televisi bersama dengan Fahri, Arumi, dan Alvira.


Alvaro menghampiri ketiga orang tersebut. Fahri pun tersenyum saat menyadari keberadaan putranya. "Kamu sudah pulang?" tanya Fahri.


"Iya, Pa." Alvaro menimpali ucapan ayahnya dengan singkat.


Mendengar suara Alvaro, membuat Bima langsung mengarahkan pandangannya pada sang ayah. "Papa!" seru anak laki-laki tersebut. Terlihat binar bahagia di matanya.


"Iya, Nak."


Bima langsung menghambur ke pelukan ayahnya. Alvaro pun menggendong bayi besarnya itu. "Berat, Bima pasti makan banyak ya di rumah nenek?" tanya Alvaro sembari mencubit pelan pipi gembul Bima.


"Iya, Pa. Tante Vira minta Bima temani makan-makan yang banyak," jawab Bima menjelaskan disertai dengan gerakan tangannya.


Ketiga orang yang ada di sana langsung tertawa mendengar Bima yang mengadu kepada ayahnya itu. "Tante Vira makan banyak kan ada adek di dalam perutnya Tante," celetuk Arumi.


"Iya, Nek. Perut Tante sudah sangat gendut. Bima mau lihat adek nanti," ucap Bima.


"Nanti, kalau adeknya sudah lahir, Bima main sama adek ya, Nak?" ujar Alvira.


"Iya, Tante. Bima mau main sama adek bayi. Papa kapan kita punya adek?" celetuk anak laki-laki tersebut.


Alvaro mengusap tengkuknya karena pertanyaan Bima. Apalagi putranya itu bertanya di depan keluarganya, terutama ibunya yang akan kembali mendesak Alvaro untuk segera menikah.

__ADS_1


"Dengar tuh, Varo. Anakmu sudah minta adik, jangan lama-lama menjalani hubungan berpacaran, segeralah nikahi gadis itu," ucap Arumi sembari bersedekap.


"Gadis?" tanya Fahri dan Alvira bersamaan.


Arumi menganggukkan kepalanya. "Iya, gadis. Kekasih Varo seorang gadis yang tak lain adalah tetangganya sendiri," ujar Arumi menjelaskan.


"Wah, duda bukan sembarang duda," ucap Alvira sembari bertepuk tangan.


"Jangan membuatku malu, Vira." Alvaro menegur saudara kembarnya.


"Apa yang dikatakan oleh ibumu memang benar, Varo. Tidak ada salahnya jika kamu menjalani hubungan dengan sebuah komitmen. Jika hanya bermain-main, kalian bukan remaja lagi,"tutur Fahri.


"Kami baru berpacaran satu hari, Pa. Aku ingin lebih mengenal dia dulu, dan dia pun juga ingin lebih mengenalku," ucap Alvaro.


Fahri menganggukkan kepalanya, paham dengan maksud dari pemikiran putranya itu.


"Kita pulang, Boy?" tanya Alvaro kepada putranya.


"Iya, Pa." Bima menjawab disertai dengan sebuah anggukan kecil.


Bima berpamitan kepada nenek, kakek, serta tantenya. Anak laki-laki tersebut menyalami tangan ketiga orang itu secara bergantian.


"Nanti kalau papamu mau berkencan, Bima tinggal sama nenek lagi saja ya," ujar Arumi sembari mengerlingkan matanya kepada Bima.


"Siap, Nenek." Bima menganggukkan kepalanya, lalu kemudian kembali berjalan menghampiri ayahnya, menggandeng tangan Alvaro.


"Kami pulang dulu, Ma, Pa." Kini Alvaro lah yang berpamitan.


"Iya, Nak. Hati-hati di jalan," timpal Arumi dan Fahri secara bersamaan.


Kedua orang tersebut melangkah pergi dari tempat itu. Saat hendak masuk ke dalam mobil, Bima mendongak menatap wajah ayahnya.


"Berkencan itu dilakukan oleh orang dewasa, anak kecil tidak boleh tahu apa itu berkencan. Nanti kalau masih tanya tentang berkencan ... papa akan menggelitik Bima," ujar Alvaro yang mulai menggelitik Bima, membuat anak laki-laki tersebut berteriak ampun karena rasa geli.


"Ampun, Pa. Bima tidak akan bertanya tentang itu lagi," seru Bima sembari diiringi tawa kecil.


Alvaro menghentikan aksinya. Ia pun mengusap puncak kepala putranya dengan rasa sayang. "Nanti, setelah dewasa, Bima akan tahu apa itu berkencan. Sekarang, tugas Bima harus rajin-rajin belajar," tutur Alvaro menasihati anaknya.


"Rajin-rajin belajar supaya dewasa ya, Pa?" tanya Bima dengan memperlihatkan wajah polosnya.


"Supaya pintar, bukan dewasa." Sanggah Alvaro yang langsung memasukkan putranya ke dalam mobil. Alvaro kemudian menempati kursi kemudi, melajukan mobil tersebut menuju ke apartemen.


....


Di lain tempat, Rania tengah berjalan ke sana dan kemari menunggu kedatangan kekasihnya. Sesekali ia mengetuk layar ponselnya, melihat waktu yang telah menunjukkan pukul 8 malam.


"Apakah masih lama? Aku takut jika pas dia sampai nanti, aku ketiduran." Rania bergumam sembari menggigit jarinya.


Tak lama kemudian, terdengar suara bel. Membuat Rania pun bergegas merapikan penampilannya, menyisir rambutnya dengan jemarinya sejenak, lalu kemudian barulah gadis tersebut membuka pintu.


Gadis itu tersenyum saat melihat orang yang menekan bel tersebut tak lain adalah tetangganya. "Kamu sudah sampai?" tanya Rania seraya menyelipkan rambut ke telinganya.


"Iya. Apakah kamu menungguku sedari tadi?" tanya Alvaro.


Rania menganggukkan kepalanya, membuat Alvaro gemas dan mengacak-acak rambut kekasihnya itu. Rambut Rania yang diacak-acak, akan tetapi perasaannya juga ikut berantakan. Entah mengapa, sikap Alvaro yang seperti ini, membuat gadis tersebut ingin kembali bermanja-manja. Namun, mengingat nasihat dari Hilda tadi siang, membuat Rania mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Ada apa mengajakku bertemu? Apakah karena kamu merindukanku?" tanya Alvaro.


"Bukan itu, aku hanya ingin meminta maaf padamu, karena tadi siang membuatmu mempermalukan diri di depan Hilda," cicit Rania.


"Mempermalukan diri?" tanya Alvaro sembari menaikkan alisnya sebelah.


Rania menganggukkan kepalanya, "Iya. Aku rasa seperti itu," ujar Rania.


Alvaro mengusap wajahnya dengan kasar seraya menghembuskan napasnya. "Aku kira, kamu ingin menemuiku karena merindukanku," celetuk Alvaro yang mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Jangan mengubah topik pembicaraan. Aku ingin minta maaf atas tingkah kekanak-kanakanku," ujar Rania.


Alvaro terkekeh geli, " Sayang, tidak usah dibahas tentang itu. Lagi pula, aku sudah menyadari bahwa kesalahanku juga termasuk hal yang cukup fatal. Maka dari itu, aku memutuskan untuk mengganti ponselku agar tidak salah ketik lagi nantinya," ucap Alvaro.


"Mengganti ponsel? Kamu membeli ponsel baru hanya karena salah ketik satu huruf?" tanya Rania memastikan. Gadis itu terkejut dengan tingkah gila kekasihnya itu.


Alvaro menganggukkan kepala, mengiyakan ucapan gadis yang ada di hadapannya. Rania kembali memperlihatkan wajah murungnya, membuat Alvaro kembali bertanya-tanya.


"Ada apa? Kenapa wajahmu kembali murung seperti itu?" tanya Alvaro.


"Sudah ku duga. Karena aku merajuk, kamu sampai mengganti ponsel hanya karena salah ketik satu huruf saja. Aku tidak mau hubungan ini membebani mu, seharusnya tidak usah beli ponsel baru hanya karena hal sepele," ujar Rania.


"Kalau begitu, lain kali aku tidak akan terlalu sering bertukar pesan singkat denganmu, jika tidak sambut suara melalui telepon, kita langsung bertemu saja," lanjut Rania menggerutu.


Alvaro terkekeh geli mendengar ucapan kekasihnya itu. "Baiklah, akan lebih baik jika bertemu langsung. Hanya dengan lima langkah, maka kita sudah bisa saling bertatapan seperti ini," ucap Alvaro menatap kekasihnya dengan seksama.


"Berhenti menatapku seperti itu! Aku malu!" ujar Rania memukul lengan Alvaro pelan, lalu kemudian menutup wajahnya yang bersemu merah.


"Aku merasa sebentar lagi akan terkena diabetes," celetuk Alvaro.


"Diabetes? Seharusnya kamu mengurangi makan yang manis-manis atau pun yang mengandung santan. Sebaiknya segera obati ke dokter," ujar Rania yang mulai panik.


Alvaro menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan, "Bukan karena makan yang manis-manis ataupun terlalu banyak makan yang mengandung santan. Tetapi, aku memiliki kekasih yang terlalu manis membuatku sedikit overdosis," jelas Alvaro yang kembali menggoda Rania.


Semburat kemerahan kembali terlihat di wajah cantik Rania. "Kamu terlalu pandai merayu!" ujar Rania seraya mengulum senyumnya.


Tak lama kemudian, Bima muncul dari balik pintu. Anak kecil tersebut melihat ayahnya yang tengah asyik berbincang dengan tetangganya.


"Papa," panggil Bima.


"Iya, Nak."


"Papa sedang apa dengan Bu Dokter?" tanya Bima.


"Ah ini, papa sedang berkonsultasi tentang cara merawat kesehatan gigi. Papa tidak mau nanti terkena sakit gigi juga seperti Bima," ujar Alvaro yang mencoba membuat alasan.


"Oh, Bima kira papa tadi kemana," ucap Bima yang memang awalnya tak melihat keberadaan ayahnya di dalam rumah.


"Kalau begitu, kita lanjutkan besok pagi. Lagi pula hari sudah malam. Tidur nyenyak dan jangan lupa mimpikan aku," bisik Alvaro.


Rania hanya menanggapi ucapan kekasihnya dengan tersenyum. Alvaro langsung menghampiri putranya, mengajak Bima kembali masuk ke dalam rumah.


"Bu Dokter, selamat tidur." Anak laki-laki tersebut melambaikan tangannya pada Rania.


"Selamat tidur juga untuk Bima," ucap Rania membalas lambaian tangan Bima.

__ADS_1


Rania melihat Alvaro dan Bima yang mulai masuk ke dalam rumah. Gadis itu kembali mengembangkan senyumnya,"Ayah dan anak sama-sama manisnya," gumam Rania yang langsung masuk ke dalam huniannya.


Bersambung ....


__ADS_2