
Rania dan Bima tiba di depan klinik. Keduanya turun dari kendaraan tersebut. Bima tampak senang karena di ajak ke tempat ibunya bekerja. Ini adalah kedua kalinya Bima pergi ke tempat ini, setelah ia melakukan pemeriksaan bersama dengan Alvaro, dan berujung menemukan jodoh untuk sang ayah.
Rania menggandeng tangan putranya, membawa anak laki-laki itu masuk ke dalam gedung tersebut. Setibanya di dalam, Bima melihat keberadaan Hilda, wanita yang pernah berkencan dengan ayahnya dulu.
"Halo Bima," sapa Hilda sembari mengangkat kelima jarinya.
"Halo juga Tante," timpal Bima. Ia melihat wajah Hilda dengan seksama.
"Tante ini kan yang pernah berkencan dengan papa dulu?" tanya Bima.
"Iya, betul sekali. Papamu dan Tante pernah bertemu di kencan buta, tetapi yang berjodoh adalah Bu Dokter," ujar Hilda sembari terkekeh.
"Jodoh tak terduga," celetuk Rania seraya mengulum senyumnya.
Rania kembali memasang jas dokternya. Ia siap melayani pasien yang datang ke kliniknya. Pandangan Rania menatap ke arah Bima yang tengah melihat beberapa peralatan medis miliknya.
"Bima mau jadi dokter?" tawar Rania menanyai keinginan putranya. Dengan cepat Bima menggelengkan kepala menimpali ucapan ibunya.
"Loh, kenapa Nak?" tanya Rania.
"Mama saja yang jadi dokter. Bima takut jarum suntik, Bima takut darah, Bima tidak cocok kalau menjadi dokter," jawab Bima.
"Terus, Bima maunya jadi apa?" tanya Rania lagi. Ia merasa penasaran dengan keinginan putranya itu.
"Bima ingin seperti papa, menjadi pemimpin perusahaan,"timpal anak laki-laki tersebut tanpa ragu.
"Wah, Bima hebat. Kalau ingin menjadi pemimpin seperti papa, berarti Bima harus siap mengemban tanggung jawab yang besar nantinya di pundak Bima. Apakah Bima siap?" tanya Rania yang mencoba meyakinkan keputusan si kecil.
"Tentu saja Bima siap, Ma."
Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu. Hilda sudah berdiri di ambang pintu. Gadis itu bersedekap sembari memperhatikan ibu dan anak yang berada di dalam ruangan.
"Kenapa?" tanya Rania mengangkat kedua alisnya menatap gadis yang melipat kedua tangannya itu.
__ADS_1
"Ada pasien," ucap Hilda.
"Oh, baiklah." Rania pun segera bersiap untuk menangani pasien tersebut. Ia menatap putranya, mengusap rambut ikal milik Bima.
"Nak, mama kerja dulu ya. Bima tidak apa-apa kan mama tinggal sendirian di sini?" tanya Rania.
"Tidak apa-apa, Ma. Mama segeralah menangani pasien, Bima akan tetap di sini dan berjanji untuk tidak nakal," ucapnya sembari mengangkat tangannya membentuk huruf 'V'.
Rania tersenyum, ia pun melangkahkan kakinya pergi dari ruangan tersebut, meninggalkan Bima sendirian di dalam sana. Sementara Bima, anak laki-laki itu mencari kegiatan lain. Ia membuka tasnya dan kembali melanjutkan kartu ucapan yang tadi belum ia selesaikan.
"Sebaiknya aku menyelesaikan ini saja," ujar Bima yang mulai membuka tasnya dan mengeluarkan semua keperluan untuk membuat kartu ucapan tersebut.
Setelah selesai menangani satu pasien, Rania mencoba untuk pergi ke ruangannya, melihat apa yang dilakukan oleh anaknya di dalam ruangan tersebut. Dari pintu kaca, Rania bisa melihat Bima yang tengah sibuk membuat kartu ucapan.
"Pasti itu untuk ibu kandungnya," gumam Rania. Tangannya baru saja memegang kenop pintu, tiba-tiba Hilda kembali memanggilnya.
"Bu Dokter, ada pasien," ucap Hilda.
Jam makan siang telah tiba, Rania yang baru saja selesai menangani pasien pun langsung menuju ke ruangannya untuk melihat Bima.
Bima tersenyum saat menemukan Rania dari balik pintu. Anak laki-laki itu rupanya tengah asyik membaca beberapa buku yang ada di dalam tasnya.
"Bima sedang apa?" tanya Rania berbasa-basi meskipun ia tahu jika saat ini Bima tengah sibuk membaca buku.
"Lagi baca buku, Ma. Mama sudah selesai?" tanya Bima.
"Jam makan siang, Nak. Mama istirahat dulu sebentar. Bima makan apa? Kita makan siangnya delivery saja, tidak apa-apa kan?"
"Tidak apa-apa, Ma." Bima menyimpan buku yang ada di tangannya ke dalam tas.
Rania mengotak-atik ponselnya, ia memberikan ponselnya pada Bima, membiarkan putranya itu memesan makanan sesuai dengan seleranya.
"Pesanlah Nak, Bima mau makan apa?"
__ADS_1
Bima mengambil ponsel yang ada di tangan Rania, lalu kemudian menjatuhkan pilihannya pada satu menu dan memperlihatkannya pada Rania.
"Yang ini saja, Ma." Bima menunjuk layar ponsel tersebut.
"Baiklah." Rania pun langsung memesan makanan yang dipilih oleh Bima. Ia juga memesan makanannya serta makanan untuk Hilda nanti.
Selang beberapa puluh menit kemudian, makanan mereka pun datang. Rania, Hilda, dan juga Bima menikmati makan siangnya. Namun, baru saja dua suapan mendarat ke dalam mulut Rania, tiba-tiba ada pasien yang datang.
Rania langsung menyambut pasien tersebut sembari mengulas senyumnya. "Tunggu sebentar ya, Pak. Lagi makan siang. Silakan istirahat dulu di sini," ucap Rania menunjuk kursi tunggu yang ada di depan ruangannya.
Pria paruh baya itu menganggukkan kepalanya, lalu kemudian menjatuhkan bokongnya di kursi tunggu tersebut. Sementara Rania, ia kembali masuk ke dalam ruangannya untuk melanjutkan makan siangnya dengan sedikit tergesa-gesa. Tidak mungkin ia melakukan scaling gigi lalu kemudian melanjutkan makan siangnya. Hal itu tentu saja membuat dirinya tidak berselera makan lagi.
Bima memperhatikan ibu sambungnya. Bagaimana cara Rania makan dengan tergesa-gesa hanya untuk mengurus pasien. Dan dari situlah Bima menilai bahwa ibu sambungnya itu pasti sangatlah lelah. Bahkan jam makan siangnya pun harus tersita oleh pasien yang baru saja datang.
Rania dan Hilda menyudahi makan siangnya. Tentunya mereka tidak benar-benar menghabiskan makanannya karena telah ditunggu oleh salah satu pasien yang saat ini tengah duduk di kursi tunggu.
"Bima habiskan makanannya ya, Nak. Mama mau lanjut kerja lagi. Kalau Bima mengantuk, Bima tidur saja di sana," ucap Rania sembari menunjuk sofa berukuran panjang yang ada di ruangannya.
"Iya, Ma." Bima menimpali seraya menganggukkan kepalanya.
"Bima tidak apa-apa kan mama tinggal lagi?" tanya Rania yang tak tega meninggalkan Bima sendirian, apalagi posisi pria itu saat ini tengah menikmati makan siangnya.
"Tidak apa-apa, Ma. Bima bisa sendirian. Mama lanjutkan saja pekerjaan mama," ujar Bima.
Rania tersenyum, sesaat kemudian ia pun melangkah pergi meninggalkan putranya. Kini tinggalah Bima sendirian menghabiskan makan siangnya. Sampah bekas wadah makanannya, langsung ia buang ke kotak sampah.
Anak laki-laki itu sedikit mengintip keluar, melihat beberapa pasien yang tengah menunggu antrian untuk diperiksa.
"Pasti mama lelah sekali. Sedari tadi, mama terus memeriksa pasien bahkan waktu makan siang pun mama juga harus memeriksa pasien," gumam Bima.
Setelah makan dan merasa bosan, Bima pun merebahkan dirinya di sofa panjang tersebut. Ia menatap langit-langit ruangan itu, dan perlahan rasa kantuk pun menyerangnya. Bima menutup matanya dan larut ke dalam mimpinya.
Bersambung ....
__ADS_1