
Rania tiba di anak tangga paling akhir. Ia dengan cepat membawa Bima ke dalam pangkuannya. Rania tersedu, tangannya gemetar melihat kening Bima yang mengeluarkan darah.
Mendengar adanya suara keributan, membuat para pelayan pun langsung menghampiri Rania. Beberapa dari mereka meminta pertolongan agar Bima segera di masukkan ke mobil dan di bawa ke rumah sakit.
Rania tak berhenti menangis tersedu. Ibu hamil tersebut bahkan tak berhenti memanggil-manggil nama Bima saat beberapa pelayan laki-laki membawa putra sambungnya itu ke dalam mobil. Melihat Rania yang seperti ini, membuat yang lainnya juga ikut mengkhawatirkan kondisi Rania. Apalagi saat ini wanita tersebut tengah hamil besar.
Rania tersedu, ikut masuk ke dalam mobil. Baju daster yang ia kenakan terdapat banyak noda darah dari Bima. Air matanya tak berhenti mengalir, rasa panik sekaligus takut pun mulai merayapi dirinya.
"Bertahanlah, Nak. Bima dengar mama kan? Bima sayang Mama kan? Bima harus kuat ya, Nak. Mama akan segera membawa Bima ke rumah sakit dan memohon pada dokter untuk menyembuhkan Bima," ujar Rania yang masih tersedu.
Tak ada jawaban dari anak laki-laki itu. Jika biasanya Bima selalu menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh ibunya, kali ini ia hanya diam dengan mata yang terpejam, membuat hati Rania bak diperas. Dia memang tidak melahirkan Bima, akan tetapi ia sudah menyayangi Bima layaknya ia menyayangi anak kandungnya sendiri.
"Pak Darman, tolong cepat, Pak!" tukas Rania yang merasa tidak sabar ingin segera sampai di rumah sakit.
Pak Darman pun menambah kecepatan laju kendaraannya. Jujur saja, ia juga panik. Namun, Pak Darman berusaha tenang, karena posisinya yang saat ini tengah mengemudikan kendaraan.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, mobil yang dikendarai oleh Pak Darman pun tiba di rumah sakit. Pak Darman bergegas turun dari kendaraan tersebut, menggendong Bima untuk di bawa masuk.
Sementara Rania, ibu hamil itu berjalan di belakang Pak Darman dengan memegang perutnya yang buncit, serta air matanya yang sedari tadi tak berhenti mengalir dengan deras.
Dokter dan perawat segera menghampiri mereka. Bima dibaringkan di atas brankar. Para tenaga medis pun langsung mendorong brankar tersebut.
Rania yang saat itu sedang hamil berusaha mengimbangi langkah orang-orang yang mendorong brankar tersebut. Hingga akhirnya, Bima pun di bawa masuk menuju ruang unit gawat darurat.
Air mata Rania masih mengalir dengan deras. Bibirnya memanggil-manggil nama Bima. Berharap tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada anak sambungnya itu.
"Tolong selamatan Bima, tolong selamatkan anakku," ujar Rania seraya menyeka air matanya.
"Nyonya, ada noda darah di pakaian dan tangan Nyonya. Apakah Nyonya ingin saya menyuruh bibi di rumah untuk membawa pakaian salinan untuk Nyonya?" tanya Pak Darman dengan sangat hati-hati. Ia mengerti Rania tengah berduka, akan tetapi penampilan majikannya itu kali ini benar-benar kacau.
Rania mengoreksi dirinya, melihat baju yang ia kenakan terkena noda darah begitu pula dengan kedua tangannya.
Rania menyeka air matanya dengan punggung tangannya. Ia mencoba untuk tenang, tangannya tergerak mengusap perutnya yang buncit. Ia sadar, bahwa saat ini ada dua bayi yang tengah bergantung padanya juga.
"Duduk dulu saja, Nyonya." Pak Darman mempersilakan Rania duduk di kursi tunggu.
Pak Darman belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang ia ajukan tadi. Namun pak Darman mengerti dengan suasana hati majikannya.
"Tolong minta bibi untuk membawa pakaian ganti," ujar Rania yang berusaha tegar.
"Baik, Nyonya." Pak darman langsung melaksanakan perintah yang diberikan oleh majikannya itu.
Saat Pak Darman belum terlalu jauh melangkahkan kakinya, Rania kembali memanggil supir tersebut.
__ADS_1
"Pak Darman."
Mendengar namanya kembali dipanggil membuat pak Darman pun berbalik dan kembali menghampiri majikannya itu.
"Iya, Nyonya."
"Bolehkah saya pinjam sebentar ponsel Pak Darman? Ponsel saya tertinggal di rumah," ucap Rania menadahkan tangannya.
Pak Darman menganggukkan kepalanya. Ia pun langsung merogoh sakunya, memberikan benda pipih tersebut pada Rania.
"Saya pinjam sebentar ya, Pak."
"Pakai saja dulu, Nyonya. Kalau begitu saya permisi dulu hendak menjemput bibi di rumah," ujar Pak Darman.
Rania menganggukkan kepalanya. Ia langsung menekan angka yang merupakan nomor ponsel sang suami, karena Rania telah menghapal nomor Alvaro. Meskipun begitu, terlihat nama kontak yang telah tersimpan tersebut sebelum Rania menekan tombol dial.
Rania menempelkan benda pipih tersebut di salah satu telinganya. Mencoba untuk menghubungi sang suami dan memberitahukan kejadian ini pada Alvaro.
Rania mendecak sebal, ia benar-benar kesal karena di saat yang seperti ini, justru Alvaro sangat susah untuk dihubungi. Pria itu tak kunjung mengangkat panggilannya. Mungkin karena ia menggunakan nomor Pak Darman.
Di lain tempat, Alvaro tengah menghadiri pertemuan yang membahas tentang kerja sama dengan perusahaan lain. Proyek yang ia akan garap kali ini cukup besar. Dan jika, ia berhasil mengajak orang penting yang ada di hadapannya bisa bergabung dengannya, tentu akan mendapatkan keuntungan yang berlimpah bagi perusahaan.
Sedari tadi, Alvaro berusaha membujuk dan meyakinkan pria yang ada di hadapannya untuk ikut bekerja sama dengannya. Ia juga menyebutkan beberapa keuntungan yang nantinya akan mereka dapatkan setelah ini.
"Aku kurang yakin dengan ucapan Pak Alvaro," ucap pria tersebut dengan angkuh.
"Apakah Pak Tirta sedang meragukan kemampuanku?"Alvaro berbalik bersikap angkuh pula.
"Ya ... mau bagaimana lagi. Aryaduta Grup menurutku terlalu dini untuk menyatakan hal tersebut. Bagaimana jika hal tersebut tidak sesuai dengan yang diucapkan oleh Pak Alvaro?" pancing pria tua itu.
"Baiklah, jika memang Pak Tirta memang meragukan hal tersebut, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Namun, aku tidak akan menyerah dengan proyek ini. Dan akan ku pastikan jika Pak Tirta melihat bagaimana keberhasilan yang ku raih nantinya," ujar Alvaro.
Ia merasa terganggu dengan ucapan sombong pria yang ada di hadapannya. Dan satu lagi, Pak Darman yang juga sedari tadi meneleponnya.
"Saya permisi sebentar," ucap Alvaro beranjak dari tempat duduknya. Pria tersebut berjalan sedikit menjauh dari tempatnya.
Ia menatap layar ponselnya. Menghirup napas dengan dalam, berusaha untuk tidak mengumpat sang supir saat ini juga karena sedari tadi tak berhenti menghubunginya. Mengganggu pekerjaan Alvaro.
Tangan Alvaro mengusap layar ponsel tersebut. Menempelkannya ke daun telinga. "Pak Darman, jika saya ti ...."
"Mas, ini aku."
Ucapan Alvaro langsung terhenti saat mendengar suara wanita yang sangat ia cintai. "Kenapa kamu memakai ponsel Pak Darman?" tanya Alvaro.
__ADS_1
"Ponselku tertinggal di rumah, Mas. Saat ini aku sedang berada di rumah sakit," ucap Rania, terdengar suara sesegukkan dari seberang telepon.
"Ada apa? Kenapa kamu menangis? Dan kenapa kamu berada di rumah sakit?" Alvaro langsung menodong serentetan pertanyaan untuk Alvaro.
"Bima Mas ...."
"Bima? Kenapa Bima?" tanya Alvaro yang mulai mempunyai firasat buruk.
"Bima kecelakaan dan sekarang kami sedang berada di rumah sakit," jelas Rania.
Seketika sekeliling Alvaro tampak hening. Mendengar putranya kecelakaan tentu saja membuat Alvaro merasa hancur.
"Di rumah sakit mana?" tanyanya yang mulai gusar.
Rania pun menyebutkan rumah sakit tersebut. Alvaro langsung mematikan sambungan teleponnya. Pria itu berlari tanpa berpamitan ataupun berucap sepatah kata pun pada sang asisten yang masih berada di sana.
Juni menatap atasannya yang langsung berlari keluar begitu saja. "Loh, ada apa dengan Pak Alvaro," gumamnya.
Ucapan Juni terdengar oleh Pak Tirta. Pria tua itu pun mengikuti arah pandang Juni. "Apa ini? Kenapa tiba-tiba dia pergi begitu saja? Ck! Benar-benar tidak memiliki sopan santun sama sekali," ujarnya mencerca Alvaro.
Juni pun langsung membereskan dokumen yang ada di atas meja. Hendak menyusul atasannya.
"Atas nama Pak Alvaro, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya. Kalau begitu ... saya juga ikut permisi dulu," ujar Juni menyusul langkah Alvaro.
Selama di perjalanan, Juni pun mengoceh karena Alvaro yang meninggalkannya begitu saja dengan pria tua tadi.
"Tapi ... aku bisa pastikan, jika dia akan kembali lagi menemuiku setelah ini. Dalam hitungan ketiga, akan ku pastikan Pak Alvaro menghampiriku lagi," monolog Juni.
"Satu ... dua ... tiga ...."
Tap ... tap ... tap ...
Benar saja, Alvaro melangkah dengan lebar menghampiri Juni tampak tergesa-gesa.
"Berikan kunci mobilnya," ucap Alvaro meminta kunci mobil dari Juni. Juni menyerahkan benda tersebut. Alvaro pun kembali berlari.
Keduanya tiba di parkiran. Saat Juni hendak membuka pintu mobil, Alvaro langsung menghidupkan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan Juni begitu saja.
"Loh, Pak ... saya belum naik, Pak!" seru Juni.
Namun, mobil itu masih melaju hingga hilang dari pandangan Juni. "Ada apa dengan Pak Alvaro? Kenapa sepertinya dia terlihat terburu-buru seperti itu? Apakah ada sesuatu hal yang terjadi?" gumam Juni.
Bersambung ....
__ADS_1