
Di rumah sakit, Rania tengah menangis menatap bayinya yang tengah berbaring di atas ranjang rumah sakit. Wanita itu merasa pilu melihat anaknya yang terkena demam tinggi. Setelah ditangani oleh dokter, Delani tak lagi menangis. Bayi itu tertidur meskipun kondisi napasnya tampak sesak.
"Cepat sembuh ya sayangnya mama," lirih Rania seraya menggenggam jemari mungil milik putrinya.
Alvaro datang menghampiri sang istri. Ia merangkul pundak istrinya, menenangkan Rania agar tak terlalu kepikiran karena telah ditangani oleh dokter langsung. Sebenarnya Alvaro juga khawatir, akan tetapi ia tidak ingin Rania terlalu banyak beban pikiran dan pada akhirnya terkena sindrom baby blues (perasaan sedih yang dialami banyak wanita di masa-masa awal setelah).
"Delani sudah ditangani oleh dokter, Ma. Besok pasti Delani akan sembuh. Mama jangan sedih ya, nanti Delani juga tidak punya semangat untuk sembuh jika mama terus menangis," ucap Alvaro.
Rania mengangguk, ia pun segera mengusap jejak air matanya seusai ditegur oleh sang suami.
"Pa, coba telepon dulu mama mertua. Aku ingin berbicara," ujar Rania.
Alvaro pun langsung mengeluarkan ponselnya. Saat panggilan tersambung, ia menyerahkan benda pipih itu pada Rania.
"Halo, Nak."
"Halo, Ma. Apakah Dilan sudah tidur?" tanya Rania dengan suara yang masih sedikit serak.
"Iya, Dilan baru saja tidur. Tadi belum lama kalian berdua pergi, tiba-tiba Dilan ikut menangis. Tetapi sekarang cucu mama yang tampan itu sudah tertidur pulas."
"Oh iya, bagaimana dengan Delani? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Arumi dari seberang telepon.
__ADS_1
"Delani saat ini sedang tertidur, Ma. Dia terkena demam tinggi dan telah ditangani oleh dokter," jelas Rania.
"Ya ampun, kasihan sekali cucuku yang cantik harus terkena demam. Semoga Delani lekas sembuh. Rania, kamu jangan banyak pikiran ya, Nak. Kamu harus tetap tenang dalam kondisi apapun," ujar Arumi menasihati menantunya.
"Iya, Ma. Maafkan Rania karena sudah merepotkan mama, harus membangunkan mama tengah malam dan meminta untuk menjaga Dilan," ucap Rania yang merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Sayang. Jika bukan dengan mama, lalu dengan siapa lagi kamu minta tolong. Ibumu jauh, jika kamu memintanya untuk menjaga Dilan. Mama akan tinggal di sini sampai Delani benar-benar pulih," ujar Arumi.
"Sekali lagi terima kasih ya, Ma."
"Iya, sama-sama. Lagian tidak perlu sungkan seperti itu. Mama sangat senang kamu menitipkan Dilan pada Mama," ujar Arumi.
"Iya, Nak."
Sambungan telepon terputus. Arumi mengembalikan ponsel milik Alvaro kepada pemiliknya. Wanita tersebut lupa membawa ponselnya. Yang ada dipikirannya hanyalah Delani, Delani, dan Delani.
Di lain tempat, Arumi kembali meletakkan ponselnya di atas nakas. Ia tersenyum memandangi Dilan yang sudah terlelap.
"Cucuku, kalian mengingatkanku pada Alvaro dan Alvira semasa kecil dulu. Saat Alvaro terkena demam, Alvira juga pasti ikut rewel. Begitu pula sebaliknya," gumam Arumi yang masih mengulas senyumnya.
Ia sedikit membenarkan posisi bantal Dilan, agar bayi tersebut lebih nyaman posisi tidurnya. Tak lama kemudian, Arumi menguap. Ia merasa benar-benar mengantuk dan bersiap untuk tidur di dekat cucunya itu.
__ADS_1
...****************...
Keesokan harinya, Bima terkejut mendapati neneknya berada di rumah. Ia mencari keberadaan kedua orang tuanya, akan tetapi anak laki-laki itu tak menemukannya.
"Nenek, kapan nenek ke sini? Terus di mana mama dan papa?" tanya Bima yang langsung melontarkan pertanyaan pada neneknya itu.
"Papa dan mama masih di rumah sakit. Semalam adik Delani terkena demam tinggi dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit," jelas Arumi.
"Apakah sakit adik parah?" tanya Bima yang terlihat sedih.
Arumi langsung mengusap rambut ikal Bima dengan lembut. "Tidak, Sayang. Mama dan papa sebentar lagi akan pulang," ucap Arumi.
Bima menunduk, ia kembali menitikkan air matanya. "Kenapa harus adik yang sakit. Seharusnya Bima saja," ujar anak laki-laki itu.
"Bima, kamu tidak boleh berbicara seperti itu, Sayang." tegur Arumi pada cucunya.
"Ini hari Senin, Nek. Jika Bima sakit, Bima bisa beralasan tidak masuk sekolah karena Bima malas ikut upacara," jelas Bima.
Mendengar hal tersebut, tentu saja membuat Arumi menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tingkahnya benar-benar fotokopian dari Alvaro," batin Arumi.
Bersambung ....
__ADS_1