Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 193. Melepas Rindu


__ADS_3

Saat ini, Rania dan Bima berada di dalam kamar. Bima berbaring di samping ibunya sembari memeluk bantal guling yang ada di tengah-tengah antara anak laki-laki tersebut dan juga Rania.


"Ma, nenek sampainya nanti sore kan?" tanya Bima kembali menanyakan sang nenek.


"Iya, Sayang. Sekarang lebih baik Bima tidurlah," ucap Rania.


"Nanti kalau nenek sudah sampai bangunkan Bima ya Ma," ujar Bima.


"Iya, Nak. Nanti langsung mama bangunkan Bima," balas Rania.


"Ma, besok Bima harus sekolah ya?" tanyanya lagi. Tampaknya anak laki-laki itu belum merasa kantuknya, hingga beberapa kali ia melemparkan pertanyaan pada Rania.


"Kira-kira ... Bima sudah merasa sehat belum?" tanya Rania.


"Sudah agak mendingan, Ma." Anak laki-laki berambut ikal tersebut menimpali.


"Kalau Bima sudah merasa agak mendingan, sebaiknya besok Bima pergi ke sekolah," ujar Rania.


"Terus bagaimana dengan nenek? Bima berarti tidak bisa bersama dengan nenek sepuasnya," ucap Bima pelan.


"Nenek dan kakek akan cukup lama berada di sini, Nak. Mereka tidak akan pulang cepat karena ingin menunggui mama sampai lahiran," jelas Rania.


Seketika mata Bima pun langsung berbinar. Ia merasa sangat senang mendengar kabar tersebut dari Rania.


"Asyik! Berarti nenek dan kakek akan lebih lama tinggal di sini. Rumah tidak akan terasa sepi lagi. Bima sangat senang, Ma." Dengan nada yang bersemangat Bima mengucapkan kalimat tersebut.


Setiap kali ada yang datang, Bima selalu melarang untuk cepat-cepat pulang. Mungkin karena anak laki-laki itu merasa kesepian karena tidak memiliki teman bermain. Sedangkan Shinta dan Alvaro juga tidak memiliki banyak waktu untuk menemaninya bermain.


"Kalau begitu, sekarang Bima tidurlah dulu ya, Nak. Mama juga sudah mengantuk," ucap Rania yang memilih jujur. Sedari tadi ia mencoba menahan rasa kantuknya, menemani putranya menunggu kedua orang tuanya yang masih di perjalanan.


"Baiklah, Ma. Kalau begitu selamat tidur ya, Ma. Bima juga akan tidur."


Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Bima langsung memejamkan matanya. Anak laki-laki itu benar-benar mematuhi ucapan Rania tanpa membantahnya sama sekali.


Rania mengulas senyumnya. Ia merasakan rasa kantuk yang semakin menyerangnya, membuat matanya terasa sangat berat. Perlahan Rania pun memejamkan matanya dan mulai larut ke dalam alam mimpi. Anak dan ibu itu mendengkur halus, mereka telah terlelap setelah perbincangan tadi.


.....


Mobil yang dikendarai oleh Pak Darman akhirnya memasuki pekarangan rumah. Ia menghentikan kendaraan tersebut. Lalu kemudian langsung turun untuk membukakan pintu pasangan lanjut usia itu.


"Astaga, tidak perlu dibukakan pintu seperti ini. Kami bisa membukanya sendiri," ujar Bu Isna yang merasa tak enak pada Pak Darman.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Bu. Ini sudah tanggung jawab saya," timpal Pak Darman.


"Lain kali perlakukan kami seperti biasa saja ya, tidak usah berlebihan." Pak Hendrawan berucap seraya menepuk pundak Pak Darman.


Pak Darman hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Ia membawakan semua barang-barang Bu Isna dan juga Pak Hendrawan.


"Kemana orang-orang? Kenapa rumahnya sepi?" gumam Bu Isna seraya mengedarkan pandangannya.


Bu Isna dan juga Pak Hendrawan masuk ke dalam rumah tersebut. Beberapa pelayan langsung menyambut kedatangan mereka. Dan beberapa lagi bergegas menemui Rania, untuk memberitahukan pada ibu hamil tersebut bahwa kedua orang tuanya telah tiba.


Tokkk ... Tokkk ....


"Nyonya .... Nyonya ...," panggilnya sembari mengetuk pintu tersebut.


Rania pun mulai mengerjapkan matanya mendengar suara berisik dari arah luar. Ia mengumpulkan nyawanya yang masih berada di tempat lain, lalu kemudian berjalan membukakan pintu untuk pelayannya itu.


"Iya, Bi. Ada apa?" tanya Rania membuka pintunya. Wanita tersebut mengusap matanya beberapa kali.


"Itu Nyonya, ibu dan bapak sudah sampai," ujar pelayan tersebut.


Rania pun segera keluar dari kamarnya. Wanita tersebut langsung menyambut kedatangan ibunya dengan rambut yang masih sedikit berantakan.


"Mama ... Papa ...." Rania berjalan menghampiri kedua orang tuanya, menyalami mereka satu persatu.


"Iya sepertinya. Lihat saja air liurnya masih tertinggal di pipinya," celetuk Pak Hendrawan.


Spontan Rania langsung meraba pipi kanan dan kirinya, serta sudut bibirnya setelah mendengarkan ucapan ayahnya tadi.


Bu Isna dan juga Pak Hendrawan pun langsung tertawa melihat Rania yang tertipu oleh ucapannya tadi.


"Ih, Papa. Mana ada air liur," gerutu Rania sembari mencebikkan bibirnya.


"Di mana cucu kesayanganku? Sedari tadi selalu menanyakan keberadaan kakek dan neneknya?" tanya Pak Hendrawan.


"Itu Pa, ada di dalam, lagi tidur. Tadi dia bilang, kalau nenek dan kakek sudah sampai, bangunkan Bima ya, Ma."


"Dia juga hampir melewatkan makan siangnya karena menunggu mama dan papa," papar Rania panjang lebar.


"Ya sudah, kalau begitu biarkan papa saja yang langsung membangunkannya. Lagi pula, aku sudah lama tidak bertemu dengan cucuku." Pak Hendrawan langsung berjalan masuk menuju ke kamar tempat Bima berada.


Ceklek ....

__ADS_1


Pintu terbuka, Pak Hendrawan melihat Bima yang tengah tertidur pulas di bawah selimutnya. Pria lanjut usia itu pun menghampiri cucunya, lalu kemudian duduk di sisi ranjang seraya mengusap puncak kepala Bima dengan lembut.


"Bima ... jagoan kakek ... bangunlah sayang. Kakek sudah sampai," ujar Pak Hendrawan berbisik tepat di depan telinga Bima.


Bima pun akhirnya terbangun dari tidurnya. Saat membuka mata, ia mendapati kakeknya yang tengah mengulas senyum ke arahnya.


"Kakek!" Bima langsung mengubah posisinya menjadi duduk, lalu kemudian menghambur ke pelukan sang kakek.


"Iya, ini kakek, Cucuku." Pak Hendrawan membalas pelukan Bima dan menciumi kedua pipi gembul Bima secara bergantian.


"Kakek, Bima rindu sama kakek. Bima sudah lama tidak bertemu dengan kakek," ucap Bima yang masih memeluk Pak Hendrawan dengan erat.


"Iya, Sayang. Kakek juga merindukan Bima. Mendengar Bima terjatuh kemarin, membuat kakek sangat sedih. Apakah Bima terluka?" tanya Pak Hendrawan.


"Iya, Kek. Bima luka di sini." Bima menunjuk kepalanya yang dijahit. Dan luka itu hampir mengering.


"Sini kakek tiup supaya cepat sembuh," ujar Pak Hendrawan.


Bima menyingkap sedikit rambut ikalnya, membiarkan sang kakek meniup luka di kepalanya. Setelah meniup puncak kepala Bima, Pak Hendrawan pun mengusap kepala Bima dengan lembut.


"Jagoan kakek," ujarnya seraya tersenyum.


"Jangan lari-larian lagi ya," lanjut Pak Hendrawan.


"Iya, kakek. Nenek di mana?" tanya Bima yang tak melihat keberadaan neneknya.


"Tadi nenek bersama mama di luar. Mau bertemu nenek?" tanya Pak Hendrawan.


Bima menganggukkan kepala. Pak Hendrawan pun menyiapkan punggungnya, menyuruh cucunya untuk naik ke atas punggung tersebut.


"Ada apa, Kek?" tanya Bima heran melihat kakeknya menepuk punggung beberapa kali.


"Naiklah! Kakek akan menggendong Bima," ujar Pak Hendrawan.


"Jangan, Kek. Bima berat, pasti kakek tidak akan kuat menggendong Bima lagi. Biarkan Bima berjalan dengan kakek sambil memegang tangan kakek saja," ucap Bima.


Pak Hendrawan langsung berbalik, ia pun tersenyum melihat cucunya yang memiliki pemikiran dewasa. Bima turun dari tempat tidur, lalu kemudian menggenggam tangan sang kakek.


"Ayo Kek, kita pergi menemui nenek!" ajak Bima yang tampak sangat bersemangat. Ia benar-benar merasa bahagia, orang yang dinanti-nanti sedari tadi akhirnya tiba juga.


"Ayo!!" timpal Pak Hendrawan.

__ADS_1


Kedua pria berbeda generasi itu pun berjalan keluar dari kamar. Hendak menemui sang nenek yang saat ini tengah bersama dengan Rania. Wajah Bima tampak berseri-seri, bisa melepas rindu dengan kakek dan neneknya yang berasal dari kampung.


Bersambung ....


__ADS_2