Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 226. Jangan Untuk Kedua Kali


__ADS_3

Saat ini Alvaro dan Juni tengah berada di jalan untuk kembali ke kantor pusat. Sesekali Alvaro melirik Juni, ia merasa tak enak mempertemukan Juni dan Shinta yang ternyata mereka sudah tak memiliki hubungan apa-apa lagi.


"Jun ...."


"Iya, Pak." Juni menimpali sembari melihat Alvaro dari kaca spion tengah.


"Maafkan aku. Aku sungguh tidak tahu jika kamu sudah tak memiliki hubungan lagi dengan Shinta," ucap Alvaro merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, Pak. Lagi pula Pak Alvaro memang tidak mengetahui hal ini sebelumnya," jelas Juni.


Setelah mengucapkan kalimat tersebut, keduanya pun kembali terdiam. Juni terlihat fokus menatap ke arah jalanan.


Di tempat yang berbeda, Shinta saat ini berada di ruangan Alvira. Keduanya tengah duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut sembari berbincang.


"Kamu serius sudah putus dengan Juni?" tanya Alvira yang seolah tak percaya dengan ucapan Juni sebelumnya.


Shinta tersenyum, perlahan ia pun menganggukkan kepalanya menimpali ucapan atasannya itu.


"Sejak kapan Shin? Apa sejak kepindahanmu ke sini?" tanya Alvira.


"Bukan, Bu. Semua ini tak ada hubungannya sama sekali dengan kepindahan saya ke sini," jawab Shinta. Ia tak ingin atasannya itu merasa bersalah.


"Jika kamu ingin pindah lagi ke kantor pusat, tidak apa-apa. Nanti aku akan membicarakan hal ini pada Alvaro," ucap Alvira yang merasa tak enak hati pada Shinta. Ia mengerti, mungkin alasan keduanya putus karena mereka yang tiba-tiba dipisahkan dengan jarak yang cukup jauh.


"Tidak usah, Bu. Masalah saya dengan Juni tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan," balas Shinta.

__ADS_1


"Kamu serius?"


"Iya, Bu."


"Ya sudah, kalau begitu kamu boleh kembali ke meja kerjamu. Namun, jika memang merasa tidak betah di sini dan ingin kembali ke kantor pusat, kamu boleh berterus terang padaku. Aku pasti akan mengembalikan mu," ujar Alvira.


Shinta menanggapi ucapan sang atasan dengan sebuah anggukan pelan. "Kalau begitu saya pamit undur diri dulu, Bu."


Shinta beranjak dari tempat duduknya. Menundukkan kepalanya sejenak, lalu kemudian berjalan keluar untuk kembali ke meja kerjanya.


Alvira memperhatikan Shinta. Ibu satu anak itu menghela napasnya, sembari menggeleng-gelengkan kepala.


"Cinta memang rumit. Ku harap, perjalanan cintaku dengan Arjuna tak begitu rumit seperti mereka. Cukup satu kali saja aku dipatahkan oleh laki-laki, jangan untuk yang kedua kalinya," gumam Alvira.


...****************...


"Masih ada PR yang belum dikerjakan?" tanya Alvaro.


"Tidak, Pa. Semuanya sudah selesai," timpal Bima.


"Baguslah kalau begitu. Sekarang cucilah kaki dan gosoklah gigi, Nak. Setelah itu langsung tidur karena besok Bima harus ke sekolah," ujar Alvaro.


"Sebentar, Pa. Bima mau cium adik dulu sebelum tidur," ucap Bima yang sudah beranjak dari tempat duduknya.


"Ayo Pa!" Bima sedikit menarik tangan ayahnya, berjalan menuju ke kamar ibunya.

__ADS_1


"Setelah ini Bima jangan lupa cuci kaki dan menggosok giginya ya, Nak. Mama akan marah kalau Bima tidak melakukan hal itu," tutur Alvaro.


"Siap, Pa!" Bima menimpali ucapan sang ayah dengan begitu bersemangat.


Sesampainya di depan kamar, Bima mengetuk pintu dahulu sebelum masuk. Rania pun membuka pintu kamar tersebut, tersenyum lebar saat mendapati putra sulungnya berada di depan pintu bersama dengan Alvaro.


"Masuk saja, Sayang. Tidak usah ketuk pintu segala," ujar Rania.


"Tidak sopan, Ma. Kata Bu Guru, sebelum masuk ada baiknya mengetuk pintu dan mengucapkan salam terlebih dahulu," balas Bima.


Rania langsung mengelus puncak kepala Bima dengan lembut. "Anak pintar!"


"Ma, Bima mau cium adik terlebih dahulu sebelum tidur," ucap Bima yang berjalan menuju ke atas kasur.


Rania terkekeh, ia dan Alvaro pun langsung menghampiri Bima yang tengah mencium kedua anaknya secara bergantian.


"Dek, nanti malam jangan nangis ya. Jangan buat mama kelelahan. Nanti kalau kakak sudah besar, kakak yang akan menjaga adik. Ingat pesan kakak ya, Dek."


Mendengar penuturan Bima, membuat Rania terharu. Meskipun Bima bukan darah daging Rania, akan tetapi Rania sangat menyayangi Bima dengan setulus hati, memberikan kasih sayang tanpa membedakannya dengan anak yang lainnya.


"Ma, Pa, Bima tidur dulu ya. Selamat malam Mama, Papa ...."


"Malam juga, Nak. Mimpi yang indah ya, Sayang." Rania kembali mengelus kepala Bima, hingga akhirnya Bima pun melangkah pergi dari sana.


Setelah pintu kembali tertutup, Rania memandangi sang suami yang memperlihatkan wajah kusutnya.

__ADS_1


"Ada apa, Pa? Kenapa wajahmu kusut seperti itu?"


"Papa sedang tidak baik-baik saja, Ma."


__ADS_2