Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 75. Ucapan Selamat Malam


__ADS_3

Alvira baru saja memberikan ASI untuk bayinya. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu yang baru saja dibuka. Arumi muncul dari balik pintu tersebut. Wanita itu membawa sebuah bingkisan dan menyerahkannya kepada Alvira.


"Tadi bibi menemukan bingkisan di depan rumah. Tidak tahu siapa pengirimnya," ujar Arumi.


Alvira menerima bingkisan tersebut, lalu kemudian membuka isinya yang merupakan beberapa keperluan bayi dan satu hal yang menjadi pusat perhatian Alvira. Sebuah surat dengan gambar bunga dandelion di depannya.


"Dari siapa? Apakah kamu mengetahuinya?" tanya Arumi yang merasa penasaran.


Alvira menimpali ucapan ibunya dengan sebuah anggukan pelan. Ponsel Arumi berdering, membuat wanita itu tak lagi bertanya lebih dalam tentang bingkisan tersebut.


"Mama tinggal pergi arisan dulu ya," ujar Arumi. Penelepon tersebut tak lain adalah salah satu dari kelompok arisannya.


"Iya, Ma." Alvira menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.


Arumi pun segera pergi meninggalkan putrinya. Sementara Alvira, gadis itu kembali menatap surat bergambarkan bunga dandelion yang ada di tangannya. Perlahan, ia pun membuka surat itu dan membacanya.


Hai Ra ...


Apa kabar? Aku sedikit canggung menyapamu secara langsung. Tapi, aku sangat senang saat kembali melihatmu lagi. Tak ku pungkiri, kamu terlihat semakin cantik saja. Sementara aku, terlihat semakin tua dan jelek.


Membaca satu paragraf ini, Alvira mengembangkan senyumnya.


Aku dengar, kamu sidah lahiran dan memiliki seorang bayi yang tampan. Maka dari itu, aku mengirimkan hadiah ini untuk si kecil, meskipun tak seberapa, tapi mohon diterima ya ...


Bersamaan dengan kabar gembira ini, aku juga mendengar kabar yang tidak mengenakkan. Aku turut prihatin atas apa yang telah menimpamu.


*Bagiku, kamu bak dandelion. Bunga yang berani tumbuh di hamparan bebas, membiarkan membiarkan serbuk yang mudah rontok tertiup angin, dan sesaat kemudian kembali tumbuh di permukaan tanah.


Semangat ya Ra* ...


Aku tahu, mungkin sekarang kita lebih menjaga jarak. Namun, asal kamu tahu, Ra. Aku masih tetap seperti dulu. Jika kamu membutuhkan bahu untuk bersandar, aku bersedia menjadi sandaranmu, tak peduli bagaimana pun kondisinya, aku akan tetap terima.


Alvira melipat kembali surat tersebut. Matanya berkaca-kaca, ia masih mengingat tulisan tangan dari pria yang ia tolak dulu.


"Kenapa kamu harus seperti ini, Juna? Kenapa kamu masih menungguku sampai saat ini," gumam Alvira sembari menitikkan air matanya.


"Sulit untukku menerimamu, Juna."


...****************...


Hari menjelang pernikahan pun semakin dekat. Saat ini, Alvaro tengah berada di sebuah butik bersama dengan Rania. Mereka mencoba busana pesanan mereka yang hendak dikenakan saat di hari besar nanti.


Alvaro menatap dirinya di cermin. Tuxedo berwarna putih melekat sempurna di tubuhnya. Pria tersebut terlihat lebih gagah dan berwibawa.


Sementara di kamar ganti yang berbeda, Rania tengah mencoba gaun pernikahannya. Rania tampak terpukau dengan gaun cantik yang melekat di tubuhnya.


"Ini benar-benar luar biasa," ucap Rania menatap dirinya dari pantulan cermin.

__ADS_1


Rania keluar dari kamar ganti tersebut. Ia memperlihatkan gaun yang dikenakannya dengan Alvaro. Semula Alvaro tengah mengotak-atik ponselnya. Saat ia dipanggil oleh Rania, pandangan mata Alvaro langsung tertuju pada gadis cantik yang ada di hadapannya. Rania begitu memukau dengan gaun tersebut.


"Sayang, gimana? Cantik tidak?" tanya Rania seraya mengembangkan senyumnya.


Alvaro langsung mengangkat kedua ibu jarinya, pertanda bahwa pria tersebut menyukai gaun yang dikenakan oleh Rania.


"Kenapa bidadari bisa turun dari khayangan? Apakah ada pelangi di depan sana?" celetuk Alvaro yang membuat Rania lagi dan lagi tersipu malu.


"Berhentilah mengatakan omong kosong. Lihatlah! Mereka menertawaimu," ujar Rania seraya menunjuk ke arah beberapa pelayan butik yang sempat mendengar ucapan Alvaro tadi.


Setelah mencoba gaun pengantin, keduanya pun memutuskan untuk langsung pulang. Raut wajah Alvaro tampak gembira mengingat beberapa hari lagi, mereka akan melangsungkan pernikahan.


"Kamu sudah mengundang semua teman-teman mu?" tanya Alvaro pada calon istrinya seraya melajukan mobilnya menuju ke jalanan.


"Sudah, aku tidak mempunyai banyak teman, maka dari itu, tidak banyak juga menghabiskan waktuku untuk menyebar undangan," celetuk Rania.


"Kenapa?" tanya Alvaro.


"Aku tipe orang yang pemilih dalam pertemanan. Entahlah, menurutku kebanyakan dari mereka menyenangkan saat mereka membutuhkan ku saja, tapi tidak saat aku sedang terpuruk," tutur Rania seraya mengulas senyumnya.


Alvaro dapat melihat gurat kekecewaan Rania dalam pertemanannya. Mungkin, dulunya ia pernah dikecewakan oleh makhluk yang pernah ia sebut sebagai teman.


Alvaro tidak ingin mengungkitnya lebih dalam lagi, takut nanti akan membuka luka yang sudah lama terkubur. Ia pun mencoba mencairkan suasana dengan mengalihkan ke topik pembicaraan yang lainnya.


"Bagaimana perasaan Nona Rania yang sebentar lagi akan menyandang status menjadi Nyonya Alvaro?" tanya Alvaro yang membuka topik pembicaraan lain.


"Emmm ... lumayan gugup, tapi aku sangat bahagia bisa mendapatkan seorang Alvaro dengan sejuta keahlian yang ia miliki," ujar Rania dengan kedua sudut bibir yang membentuk lengkungan.


"Banyak, tidak bisa aku sebutkan satu persatu. Dari memasak, merayu, seorang pemimpin yang baik, ayah yang hangat untuk anak-anaknya, dan menjadi pasangan yang sempurna, dan masih banyak lagi," ujar Rania menjelaskan.


"Satu hal yang belum kamu tahu, tapi nanti kamu akan segera mengetahuinya," ucap Alvaro menyunggingkan senyum devil-nya.


"Apa?" tanya Rania.


"Untuk sekarang ini, aku belum bisa mengatakannya," timpal pria tersebut yang tentu saja membuat kedua alis Rania bertaut.


"Apa salahnya memberitahunya sekarang," oceh Rania sembari memutar kedua bola matanya.


Melihat ekspresi Rania yang terlihat kesal, membuat Alvaro tak kuasa menahan tawanya.


"Apakah kamu marah?" tanya Alvaro seraya terkekeh.


"Tidak juga, hanya sedikit kesal," timpal gadis tersebut.


"Sudah, tidak usah memandangi ku terus-menerus seperti itu. Aku memang cantik," ucap gadis tersebut dengan begitu percaya diri. Ia melipat kedua tangannya ke depan, lalu kemudian memalingkan wajahnya seakan dia benar-benar marah.


"Dasar! Tukang merajuk!" Alvaro mencubit pipi Rania pelan.

__ADS_1


Setelah cukup lama berkendara, Alvaro tiba di apartemen. Keduanya pun berjalan bersamaan memasuki lift.


"Kapan mama dan papa akan ke sini?" ujar Alvaro menanyakan calon mertuanya.


"Mungkin tiga hari lagi. Papa masih ada kerjaan, sibuk mengurus kebun teh yang ada di sana," timpal Rania.


Pak Hendrawan, ayah Rania itu memang seorang juragan kebun teh. Hasil dari kebun teh itulah yang bisa mengantarkan Rania sekolah kedokteran.


"Di kebun teh biasanya sangat sejuk, bagus juga untuk tempat menghilangkan stres karena memang biasanya pemandangannya yang indah," ujar Alvaro.


"Kamu mau main ke sana?" tawar Rania.


"Apakah boleh?"


"Tentu saja! Banyak orang yang berkunjung ke sana untuk mengambil beberapa gambar dan mengabadikannya di akun sosial medianya," ujar Rania.


"Tetapi ke sana butuh perjuangan. Jalannya sedikit curam dan terjal. Kemarin, aku mau saja mengajakmu melihat-lihat kebun teh. Karena kamu sampainya sore, dan memilih langsung pulang bersama orang tuamu, maka dari itu, aku tidak menawarkan hal tersebut," ucap Rania.


Tinggg ....


Pintu lift terbuka, keduanya pun keluar dari ruangan sempit itu. Melangkah menuju ke unit masing-masing.


"Setelah menikah nanti, ajak aku ke sana. Meskipun jalannya terjal seperti yang kamu katakan, aku sanggup melewatinya," ujar Alvaro mengulas senyum.


"Oh iya, kamu tidak menjemput Bima?" tanya Rania yang baru saja teringat pada anak laki-laki tersebut.


"Dia memilih menginap di tempat neneknya. Ingin lebih banyak menghabiskan waktu dengan Abian," jelas Alvaro.


"Oooo ...." Rania menganggukkan kepalanya. Gadis itu memainkan kuku jarinya. Entah mengapa tiba-tiba ia merasa sedikit canggung saat di rumah, hanya mereka berdua saja tanpa keberadaan Bima. Meskipun tinggal berbeda unit, akan tetapi tetap saja kecanggungan itu selalu datang menghampiri.


"Kalau begitu, tidurlah! Kamu mungkin lelah hari ini," ucap Alvaro yang sadar akan kecanggungan calon istrinya.


"Iya. Kamu juga." Rania langsung membuka pintu, saat dirinya hendak menutup pintu, Alvaro datang dan menghalangi pintu tersebut agar tak tertutup.


"A-ada apa?" tanya Rania terbata-bata. Ia mulai takut dan berpikiran yang tidak-tidak tentang calon suaminya.


"Selamat malam, Sayang. Semoga mimpi indah," ujar Alvaro menyunggingkan senyumnya.


Mendengar hal tersebut, akhirnya Rania pun bisa bernapas lega. "Iya, kamu juga, semoga mimpi indah," ucap gadis itu yang kemudian menutup pintunya.


Rania menyandarkan dirinya di balik pintu. Debaran jantungnya tak beraturan, seakan hendak meloncat dari tempatnya saat itu juga.


"Untung hanya sebuah ucapan selamat malam, bukan yang lainnya," gumam gadis itu pelan sembari mengusap dadanya.


"Tunggu sebentar, kenapa aku tiba-tiba berpikiran seperti ini? Astaga!" ujar Rania memukul kepalanya dengan pelan.


Gadis itu pun memilih melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Baru saja ia merebahkan tubuhnya, tiba-tiba terdengar notifikasi pesan singkat dari ponselnya. Rania menebak, bahwa pesan tersebut merupakan pesan singkat dari calon suaminya. Saat mengusap layar dan membuka pesan tersebut, Rania langsung membelalakkan mata.

__ADS_1


Rania, aku sudah bercerai dari istriku.


Bersambung ....


__ADS_2