
Alvaro beranjak dari kursi kebesarannya. Pria tersebut berjalan keluar dari ruangannya. Saat di luar, ia tak melihat keberadaan Shinta di meja kerjanya.
"Apakah dia sudah lebih dulu keluar? Tetapi biasanya sekretarisku menikmati makanannya di meja kerja," ujar Alvaro seraya menelengkan kepalanya.
Drrrttt ....
Ponsel Alvaro bergetar. Pria itu pun mengangkat panggilan dari sang istri, seraya berjalan melangkahkan kakinya.
"Iya, Sayang. Ada apa istriku?" tanya Alvaro menyambut telepon dari sang istri dengan kata-kata yang manis.
"Apakah Mas Sudah makan siang?" tanya Rania dari seberang telepon.
"Ini Mas baru saja ingin keluar mencari makan. Ada apa?" tanya Alvaro mengulangi pertanyaan tadi.
"Apakah Mas Varo ingin aku bawakan makan siang? Nanti aku suruh Pak Darman membawanya. Hari ini aku masak banyak, untuk menyambut kedatangan mama dan papa nanti," tawar Rania.
"Sepertinya tidak usah, Sayang. Lagi pula siang ini Mas berencana ingin makan di luar saja. Nanti malam baru Mas makan masakanmu," ujar Alvaro.
Saat tengah berbincang dengan sang istri, pria tersebut melewati pintu yang langsung terhubung ke tangga darurat. Pintu itu sedikit terbuka, membuat Alvaro pun memilih untuk menghentikan langkahnya tepat di depan pintu itu.
"Ya sudah, tidak apa-apa kalau Mas Varo ingin makan di luar," ujar Rania.
"Maafkan Mas ya, Sayang. Sepulang bekerja nanti, Mas janji akan makan masakanmu dengan lahap," ucap Alvaro mencoba membujuk sang istri agar tidak merasa tersinggung dan berkecil hati.
"Iya, tidak apa-apa, Mas. Kalau begitu aku tutup teleponnya ya. Mau tunggu di depan rumah sama Bima."
"Iya, Sayang."
Tak lama kemudian, panggilan telepon pun terputus. Alvaro kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku. Atensi pria tersebut teralihkan pada pintu yang sedikit terbuka. Tangannya meraih kenop pintu tersebut, berniat untuk menutupnya.
Namun, seketika ia mengurungkan niatnya. Indera pendengarannya menangkap ada orang di dalam sana seperti tengah berbincang-bincang.
Karena merasa sangat penasaran, Alvaro pun memutuskan untuk masuk ke dalam sana. Telinganya kembali mendengar suara seperti wanita dan pria yang tengah beradu argumen.
Alvaro merasa penasaran. Pria itu pun melangkahkan kakinya dengan cara mengendap-endap, berusaha untuk tidak bersuara, agar dia mendengar penuturan seseorang di bawah sana dengan jelas.
Setelah ia dengar secara seksama, Alvaro seolah menemukan kejanggalan. "Sepertinya aku mengenal suara mereka. Bukankah suara itu adalah suara Juni dan juga Shinta. Namun, untuk apa mereka berdua berada di tempat ini?" batin Alvaro.
__ADS_1
Merasa kurang puas mendengar perbincangan mereka, membuat Alvaro pun kembali melangkahkan kakinya, menuruni anak tangga. Karena ribut-ribut tadi terdengar di lantai bawah setelah tempat ia berada.
Semakin lama, suara tersebut terdengar dengan begitu jelas. Hingga Alvaro pun terhenyak saat mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Shinta.
"Apakah kamu merasa cemburu pada Pak Alvaro? Hingga kamu marah-marah tak jelas seperti ini?"
Brakkk ....
Tanpa sengaja, Alvaro menyenggol sesuatu yang ada di sekitarnya. Membuat benda tersebut jatuh begitu saja. Kaki ini, dirinya tertangkap oleh kedua orang yang ada di bawah sana. Memperhatikan Alvaro dengan mata yang hampir saja keluar dari tempatnya.
"Maaf, karena tak sengaja mendengar pembicaraan kalian," ucap Alvaro seraya menyunggingkan senyum. Ia juga merasa tidak enak, harus kedapatan menguping seperti ini.
"P-pak ... P-pak Alvaro, ...." Shinta terkejut bukan main.
Apalagi tadi baru saja ia menyebut nama Pak Alvaro dan mengatakan bahwa Juni cemburu pada atasannya itu. Membuat gadis tersebut merasa benar-benar malu dan kehilangan muka.
"Ehemmm ...." Alvaro berdeham sejenak, pria tersebut merapikan sedikit jasnya, agar terlihat lebih berwibawa. Berusaha untuk menghilangkan rasa gugupnya tadi dengan memperlihatkan wajah tegasnya.
"Iya, saya Alvaro. Ada apa? Kenapa kalian seperti terkejut?" tanya Alvaro berjalan menuruni anak tangga. Pria itu menghentikan langkahnya tepat di depan kedua orang tersebut.
"Sedang apa kalian di sini? Kenapa hanya berduaan saja di tempat ini?" Alvaro mulai menginterogasi kedua orang yang tengah tertunduk malu di hadapannya.
"Shinta, tolong jawab pertanyaan saya," ucap Alvaro melipat kedua tangannya di depan. Pria tersebut menyenderkan punggungnya di dinding.
"Sa-saya ...." Shinta sadar akan map yang ia pegang saat ini. Dan benda itu pun akan menjadi alasannya.
"Saya ingin memfotokopi berkas ini, Pak." Gadis itu memilih berbohong. Tidak mungkin ia mengakui semuanya, sedangkan pria yang ada di sebelahnya berusaha untuk menutupi hal ini mati-matian.
"Memfotokopi? Sejak kapan mesin fotokopi pindah ke sini?" tanya Alvaro lagi.
Jedderr ....
Lagi dan lagi Shinta tak mencari alasan yang cukup logis. Memang benar apa yang dikatakan oleh Alvaro. Sejak kapan mesin fotokopi dipindahkan ke tangga darurat.
Kali ini Shinta hanya bisa tertunduk. Ia mencoba mencari alasan lainnya akan tetapi seolah otaknya membeku. Ingin mengakui semuanya, mustahil rasanya bagi gadis tersebut. Karena pagi tadi Shinta langsung menyela ucapan Alvaro, mengatakan dirinya dan Juni tidak memiliki hubungan apapun.
Dan kini ... kecil peluang jika hubungan ini akan tetap disembunyikan. Toh, Alvaro juga sudah mendengar semuanya. Mustahil atasannya itu hanya mendengar setengah-setengah.
__ADS_1
"S-saya ... S-saya ....." Shinta tampak ragu-ragu. Saat ia kembali hendak membuka mulutnya, tiba-tiba pria yang ada di sebelahnya langsung menggenggam tangannya dengan erat. Shinta tertegun, menatap Juni dengan lekat.
"Sebenarnya kami berdua adalah sepasang kekasih," ucap Juni yang mencoba untuk mengakui semuanya. Mau bagaimana lagi, mereka sudah terlanjur ketahuan dan tak mungkin jika hendak ditutupi lagi.
"Mungkin ada beberapa aturan kantor yang menekankan untuk tidak boleh memiliki hubungan sekantor. Namun, maafkan kami, Pak. Hati kami tidak bisa dibohongi dan aku mencintainya," lanjut Juni.
Alvaro memajukan bibirnya sekitar dua centi. Bagaimana pun juga, ia sudah menebak semuanya dari awal. Dan ternyata, tebakannya selama ini sangat tepat sasaran.
"Iya, aku sudah mengetahuinya," ucap Alvaro seraya mengendikkan bahunya.
"Selama ini aku sudah menebaknya dan ternyata tebakanku tidak salah," lanjut pria tersebut.
"Juni, saya ingin bertanya." Alvaro memilih untuk sedikit mendekat dan berdiri di samping Juni.
"Ta-tanya apa, Pak?" Juni terbata-bata. Jujur saja, ia takut jika Alvaro akan murka dengan semua ini. Mengetahui bahwa pegawainya menjadi sepasang kekasih dalam satu atap.
"Apakah kamu pernah membaca larangan tentang berpacaran?" tanya Alvaro.
Juni mengingat-ingat kembali, dan ia pun menggelengkan kepalanya. "Seingat saya tidak pernah, Pak."
"Kalau tidak pernah, kenapa kamu berkata demikian? Seolah saya melarang kalian untuk menutup pintu jodoh kalian," tukas Alvaro.
"Saya sama sekali tidak masalah jika kalian ingin berpacaran. Namun, saya minta, saat kalian memiliki masalah entah itu tentang keluarga atau dari segi percintaan, kalau bisa jangan disangkut-pautkan dengan urusan kantor."
"Mau menjalin hubungan, ya silakan! Saya tidak melarang. Asalkan kalian mampu profesional dalam bekerja," tutur Alvaro panjang lebar.
Kedua orang tersebut menganggukkan kepala secara bersamaan. Seperti anak kecil yang patuh terhadap nasihat yang diberikan oleh orang tuanya.
"Aku yakin kalian setiap bertemu selalu di sini. Apa yang kalian lakukan di tempat sepi seperti ini?" tanya Alvaro penuh selidik.
Pria tersebut mengepalkan kedua tangannya dengan sedikit membentuk kerucut di bagian jemarinya. Lalu kemudian kedua tangan tersebut dipertemukan, dan bagian kerucutnya saling menyentuh satu sama lain. Seolah kedua pasangan yang saling mempertemukan bibir mereka.
"Tidak! Kami tidak melakukan apapun. Kami hanya mengobrol saja. Sungguh!" Shinta langsung membantah. Gadis tersebut memperlihatkan kedua jarinya membentuk huruf 'V'.
Alvaro memandangi kedua orang tersebut. Pria itu terkekeh sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ayo kita makan! Apakah kalian tidak lapar? Atau kalian sudah kenyang hanya karena cinta?" tanya Alvaro yang berlalu dari hadapan kedua orang tersebut.
__ADS_1
"Tidak, Pak. Aku masih membutuhkan nasi. Tidak cukup hanya melihat wajahnya saja," celetuk Shinta yang membuat Alvaro kembali tertawa mendengar ucapan sekretarisnya itu.
Bersambung ....