Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 46. Ibu, Aku Rindu


__ADS_3

"Bu Guru!" Seru Bima saat melihat Nana dari kejauhan.


Nana mengulas senyumnya, ia melambaikan tangannya pada anak muridnya itu. Bima tampak tergesa-gesa, berjalan menghampiri Nana dengan tidak melepaskan genggaman tangannya pada Rania.


Rania hanya mengikuti kemana pria kecil itu membawanya. Untuk sementara waktu, ia sepertinya melupakan sang ayah dan tampak senang bersama dengan Rania.


Nana tersenyum menatap Rania, dan Rania pun membalas senyuman dari guru Bima tersebut.


"Bu Guru ... Bu Guru ... perkenalkan ini Bu Dokter yang tinggal di sebelah rumah kami," ucap Bima yang tampak antusias.


Nana mengulurkan tangannya, Rania langsung menjabat tangan Nana.


"Nana ...."


"Rania ...." Kedua wanita tersebut memperkenalkan diri masing-masing. Nana cukup lama menatap Rania. Paras ayu yang dimiliki oleh Rania, membuat Nana cukup terpukau. Nana mengalihkan pandangannya pada Alvaro yang baru saja bergabung bersama mereka.


"Senang sekali melihat Pak Alvaro yang menyempatkan diri untuk hadir disela-sela kesibukan," ujar Nana yang tersenyum ramah.


"Tentu saja. Aku ingin melihat anakku tampil," timpal Alvaro seadanya.


"Kalau begitu, mari silakan masuk! Acara sebentar lagi akan dimulai," ucap Nana yang mempersilakan kepada ketiga orang tersebut masuk ke dalam gedung sekolah. Gadis itu kembali mengembangkan senyumnya, menyambut para wali murid yang baru saja datang.


Alvaro dan Rania berjalan memasuki aula gedung. Sementara Bima telah bergabung bersama teman-teman yang lainnya, mempersiapkan diri untuk tampil di atas panggung nantinya


Alvaro mempersilakan Rania untuk duduk. Gadis itu pun menjatuhkan bokongnya di salah satu kursi yang telah disediakan di sana. Alvaro menempati kursi yang ada di sebelah kanannya, sementara kursi sebelah kiri Rania masih kosong.


Rania menatap ke depan, melihat semua orang yang tampak bersiap-siap hendak tampil. Sesekali ia melihat Alvaro yang menatap lurus ke depan. Bahkan dari samping, wajah pria itu terlihat sangat tampan.


"Ada apa?" tanya Alvaro menoleh, menyadari akan tatapan Rania ke arahnya.


"Hehe ... tidak apa-apa," ucap Rania yang tampak malu. Ia sedikit terkejut saat Alvaro langsung menatap ke arahnya.


Semua wali murid mulai memasuki aula gedung. Bahkan saat ini, kursi yang berada di samping Rania juga telah terisi. Rania mencoba mengarahkan pandangannya ke sisi kiri, betapa terkejutnya ia saat menyadari siapa yang ada di sebelah kirinya. Seorang pria yang pernah datang ke kliniknya beberapa hari yang lalu. Pria yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.


Pria yang ada di sebelah kiri Rania juga tampak terkejut. Ia tak tahu jika yang menempati kursi di sebelahnya itu adalah Rania.


Rania hendak beralih kursi, akan tetapi semuanya sudah terisi. Ia ingin bertukar tempat dengan Alvaro, tetapi gadis itu enggan untuk mengatakannya. Alhasil, ia hanya bisa memasang wajah kakunya, tanpa tersenyum, menatap lurus ke depan untuk menyaksikan acara pembukaan yang baru saja di mulai.


Pria yang ada di sebelah kiri Rania tampak mencuri-curi pandang. Ia bahkan mengabaikan sang istri yang ada di sampingnya.

__ADS_1


Rania yang sadar akan tatapan pria tersebut merasa risi. Ia mengepalkan tangannya, lalu kemudian menatap pria yang ada di sebelah kirinya dengan tatapan tak suka.


"Ada apa?" tanya Alvaro yang menyadari situasi tersebut. Ia melihat Rania tampak tak nyaman.


Alvaro mengarahkan pandangannya pada pria yang ada di sebelah Rania. "Kamu duduk di sini saja," ucap Alvaro.


Rania bersyukur karena Alvaro peka. Mereka berdua pun langsung bertukar tempat duduk. Setelah bertukar posisi, Rania merasa sedikit lega karena sedikit menjauh dari pria tersebut. Bersebelahan dengan pria masa lalunya, membuat hati gadis itu merasa sakit. Luka di masa lalu yang ia alami bersama dengan pria tersebut seakan kembali menganga.


Tanpa sadar, Rania menjatuhkan air matanya di saat salah satu siswa mempertunjukan sesuatu yang lucu dan membuat semua orang tertawa. Gadis itu dengan cepat menyeka air matanya. Ia tak ingin ada seseorang menyadari bahwa dirinya saat ini tengah menangis.


Namun, Rania membeku seketika, saat seseorang menyodorkan sebuah saputangan berwarna abu-abu. Dan orang tersebut tak lain adalah Alvaro. Pria itu tak menonton pertunjukan yang ada di depannya, ia sibuk menatap Rania sedari tadi, pandangannya tak terlepas dari gadis yang ada di sampingnya sedetikpun.


"Terima kasih," lirih Rania meraih sapu tangan yang diberikan oleh Alvaro. Menyeka jejak air mata membasahi pipinya.


"Aku terharu melihat penampilan mereka," ucap Rania yang mencoba menyembunyikan kesedihannya.


"Iya, aku mengerti." Alvaro menimpali ucapan gadis tersebut.


Tiba dimana waktu yang paling dinantikan. Tampilnya Bima bersama teman-teman yang lainnya. Mereka hendak menyanyikan sebuah lagu beramai-ramai, diiringi piano yang dimainkan oleh Nana.


Bima menatap ke arah ayahnya. Alvaro mengacungkan ibu jarinya membuat pria tersebut mengangguk seraya mengulas senyum.


Alvaro tersenyum melihat putranya yang tampak senang. Ia mengalihkan pandangannya pada Rania, menatap gadis tersebut, tampaknya ia telah melupakan kesedihan yang menghinggapinya beberapa detik yang lalu.


Alvaro mengarahkan pandangannya ke sisi kiri, melihat pria berwajah datar yang ada di sampingnya itu.


"Apa sebenarnya yang terjadi? Apakah mereka saling mengenal?" batin Alvaro bertanya-tanya.


Alvaro kembali memusatkan pandangannya ke depan. Menyemangati putranya yang saat itu tengah tampil bersama dengan teman-teman yang lainnya. Riuh tepuk tangan terdengar saat mereka mengakhiri lagu. Alvaro bertepuk tangan dengan begitu semangat setelah melihat penampilan putranya itu.


Saat semua anak-anak mulai turun dari panggung. Bima berdiri sendirian di atas sana. Kening Alvaro berkerut, batinnya bertanya-tanya.


Apakah putraku akan tampil lagi?


Tak lama kemudian, Nana kembali menekan tuts piano. Bima pun mulai menyanyikan lagu yang berjudul Ibu Aku Rindu.


Tak terbayang rintihan tangismu


Di saat melahirkanku

__ADS_1


Betapa besar pengorbananmu


Kasih sayangmu padaku


Oh ibu ... belaianmu aku rindu.


Mendengar bait pertama yang dinyanyikan oleh Bima, membuat semua orang terhanyut akan nyanyian dari pria kecil itu. Terutama Alvaro, matanya mulai berkaca-kaca melihat putranya membawakan lagu tersebut.


Demi anak yang kau cintai tersenyum bahagia


Harta benda, bahkan nyawa kau sudi memberikannya


Sungguh mulia jasamu, begitu agung cintamu


Aku malu dan tak mampu membalas pengorbananmu


Semua orang yang ada di sana mulai menitikkan air matanya. Tak terasa, bulir bening pun jatuh di pipi Alvaro. Lagu yang dibawakan oleh Bima seakan mengutarakan isi hatinya. Pria itu rindu, rindu sosok ibu yang tak pernah ia lihat.


Aku hanya bisa berdoa


Semoga engkau di sana tetap dalam lindungannya


Terhapus segala dosa


Nyanyian tersebut diakhiri dengan sempurna. Alvaro berdiri, pria tersebut melewati banyak orang, naik ke atas panggung dan memeluk putranya dengan erat.


Ia bangga melihat Bima yang sejauh ini berusaha tegar. Bima menghapus jejak air mata di pipi ayahnya.


"Papa jangan bersedih," ucap Bima yang terdengar nyaring karena saat itu pria tersebut tengah menggunakan microfon.


"Terima kasih, Nak. Terima kasih karena sudah bertahan sejauh ini," lirih Alvaro.


Semua orang langsung bertepuk tangan, bahkan lebih terdengar ramai dari sebelumnya. Melihat suguhan pemandangan Alvaro dan Bima di atas panggung, tentu saja membuat semua orang menitikkan air mata karena ikut terharu.


Rania, gadis itu mengulas senyumnya. Keinginannya semakin kuat untuk menjadi ibu pengganti bagi pria kecil itu.


Bersambung ....


Jujur, aku denger lagu ini iseng2 buka YT. Di sana aku liat anak kecil yang nyanyiin lagu ini. Aku nangis, aku keinget Bima. Ya udah, aku masukin aja ke sini🤧

__ADS_1


__ADS_2