Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 88. Imbalan


__ADS_3

Di sekolah, Bima baru saja bergabung bersama teman-temannya. Ada salah satu diantara mereka yang memang tidak menyukai Bima. Entah bagaimana ceritanya anak yang berumur sekitar lima tahun, malah memiliki sikap iri pada sesama temannya.


"Kenapa di sini sih," ujar anak perempuan itu memandang Bima tak suka.


Bima hanya tersenyum, ia mencoba mengabaikan tatapan perempuan tersebut dan memilih mengobrol bersama dengan temannya.


"Bima ... Bima ... sekarang kamu punya mama ya," ucap salah satu anak laki-laki diantara mereka.


Bima pun menjawabnya dengan antusias, "Iya, namanya Mama Rania, mamaku seorang dokter gigi, kalau gigi teman-teman mau di periksa, boleh datang ke klinik mamaku," tutur Bima.


"Wah, berarti kalau mau periksa gigi, kita ke rumah mamanya Bima saja," ujar teman Bima yang lainnya.


"Iya. Aku juga mau periksa," sahut yang lainnya.


Bima sangat senang, teman-temannya merespon baik dirinya. Kecuali satu orang, anak perempuan yang ada di ujungnya, memandangnya dengan tatapan tajam.


Anak perempuan itu pun langsung beranjak dari tempat duduknya. Menjauhi kerumunan orang-orang yang tampak nyaman berbicara dengan Bima.


Bima melihat kepergian anak perempuan yang diketahui namanya adalah Febby. Gadis cilik di kuncir satu itu pun pergi begitu saja.


Waktu pulang telah tiba. Bima menyalami guru dan keluar dari ruang kelasnya dengan penuh semangat. Begitu pula dengan anak-anak yang lainnya.


Bima memilih duduk di taman sembari menunggu jemputannya. Ia menjatuhkan bokongnya di salah satu ayunan yang ada di sana.


Dari kejauhan, Bima melihat Febby juga duduk sendirian di perosotan yang ada di taman kanak-kanak tersebut.


Bima mencoba memberanikan dirinya mendekati Febby. Ia ingin mengakrabkan diri pada anak perempuan itu agar gadis kecil tersebut tak lagi membenci Bima.


"Febby belum dijemput mama kamu ya?" tanya Bima menyibak rambut ikal yang sempat jatuh di keningnya.


Anak perempuan itu mengarahkan pandangannya ke sumber suara. Saat ia melihat Bima, gadis kecil itu pun langsung membuang muka.


"Kenapa kamu di sini? Aku tidak mau didekati kamu!" tukasnya yang memilih pergi dari sana dan duduk di ayunan.


Bima mengerjapkan matanya beberapa kali. Entah mengapa Febby begitu membencinya. Seharusnya, di usia yang seperti ini mereka berteman, akan tetapi Febby seolah tidak ingin berteman dengan Bima.


Tak lama kemudian, Rania pun datang menghampiri putranya. Ia mengulas senyum sembari berseru.


"Bima!" ujarnya seraya melangkahkan kaki menuju anak laki-laki tersebut.


"Mama, ..." Bima langsung berlari kecil menghampiri ibu sambungnya. Ia pun langsung menghambur ke pelukan Rania.


"Mama, Papa tidak ikut?" tanya Bima.


"Tidak, Sayang. Mama yang meminta Papa untuk tetap di rumah. Supaya mama bisa leluasa bersama Bima," ucap Rania sembari mencium pipi gembul anak laki-laki itu.


"Ayo kita pulang!" ajak Rania.


"Ayo!" Bima langsung menggandeng tangan Rania. Saat hendak melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu, Bima melirik sejenak ke arah Febby. Gadis kecil itu tampaknya sedari tadi memperhatikan Bima. Namun, saat Bima melihat ke arahnya, ia langsung membuang muka.


"Ada apa, Nak?" tanya Rania yang menyadari arah pandang putranya.


"Tidak apa-apa, Ma." Bima menimpali sembari mengulas senyumnya.


Mereka pun segera masuk ke dalam mobil. Rania memasangkan sabuk pengaman untuk putranya. Perlahan, BMW hitam milik sang suami pun melaju ke jalanan.


"Mama, kenapa papa tidak diajak menjemput Bima?" tanya anak kecil tersebut merasa penasaran.


"Papa sedang menyiapkan makan siang untuk kita, Nak." Rania menimpali.

__ADS_1


"Oh iya, tadi mama masak omelette. Nanti Bima cicipi ya," lanjut Rania lagi yang tampak antusias.


"Mama juga kasih sosis di omelette-nya," sambungnya.


"Asik! Bima suka sosis. Nanti pasti Bima makan omelette buatan mama banyak-banyak," ujar anak laki-laki tersebut berucap sembari memainkan gestur tubuhnya.


Rania senang, putranya sangat antusias mencicipi masakannya. "Semoga saja masakanku sesuai dengan lidah Bima," batin wanita tersebut takut jika nanti masakan Rania tidak sesuai dengan lidah Bima.


Rania dan Bima tiba di parkiran. Rania memarkirkan mobilnya, lalu kemudian turun dari kendaraan tersebut bersama dengan putranya.


Keduanya masuk ke dalam lift. Sesekali Bima memainkan jarinya sembari berhitung. Tak lama kemudian, pintu lift pun terbuka. Keduanya keluar dari ruangan sempit itu.


Saat Rania tengah membuka pintu apartemennya, Bima menatap apartemen yang dulu dihuni oleh ibu sambungnya itu.


"Ma, tempat mama sudah diisi orang lain ya?" tanya Bima.


"Iya, Nak. Ada penyewa baru," ucap Rania.


"Berarti kita mempunyai tetangga baru ya, Ma?" tanya Bima lagi.


Rania menganggukkan kepalanya, meng-iyakan ucapan putranya itu.


Rania dan juga Bima masuk ke dalam apartemen. Keduanya disambut dengan aroma lezat dari masakan yang dibuat oleh Alvaro.


"Eh, jagoan papa sudah pulang," ujar Alvaro yang baru saja meletakkan piring yang berisi makanan yang ia masak tadi.


"Iya, Papa." Bima berjalan menghampiri ayahnya.


"Eits! Ganti dulu seragamnya dan letakkan dulu tasnya ke kamar," tegur Alvaro sembari memainkan jari telunjuknya.


"Ayo, Bima. Biar mama temani ganti baju," ajak Rania.


Bima mengangguk, lalu mengikuti langkah Rania yang sudah berjalan lebih dulu. Alvaro mengulas senyum memperhatikan anak dan istrinya yang terlihat begitu kompak.


"Bima mau omelette buatan mama," ujar Bima dengan antusias.


"Ini omelette buatan mama," ucap Alvaro meletakkan omelette tersebut di atas piring putranya.


"Wah, sepertinya lezat, Ma. Ada banyak sosisnya," ujar Bima.


"Silakan dicicipi, Nak. Semoga suka ya," ucap Rania mengulas senyumnya.


Bima pun mulai memotong omelette-nya, lalu kemudian memasukkan sebagian omelette tersebut ke dalam mulutnya.


"Mmmm ...." Bima langsung mengangkat ibu jarinya, pertanda bahwa masakan Rania terasa lezat.


Rania senang, masakannya bisa diterima baik oleh putranya. Alvaro juga mengacungkan ibu jarinya, usaha Rania kali ini membuahkan hasil, tidak seperti sebelumnya.


Suasana terasa hangat, Bima bahkan banyak bercerita tentang kejadian di sekolah, dimana teman-temannya ingin berkunjung ke klinik ibunya untuk memeriksakan gigi mereka.


"Wah, mama sangat senang jika mereka datang. Katakan pada mereka, mama akan berikan potongan harga pada teman-teman Bima," ucap Rania.


"Baik, Ma. Nanti akan Bima sampaikan. Oh iya, Ma. Besok Bima sarapan omelette buatan mama lagi ya," ujar Bima yang berusaha membujuk Rania.


"Bima sangat menyukainya?" tanya Rania.


Bima menganggukkan kepala.


"Selamat, omelette mu kali ini berhasil membuat lidah Bima menjadi ketagihan," celetuk Alvaro.

__ADS_1


"Iya, Mas. Itu juga karena Mas yang mengajariku," ujar Rania. Mereka pun kembali melanjutkan makan siang mereka dengan tenang.


.....


Malam harinya, Rania berada di kamar Bima. Wanita itu menidurkan sang anak sembari membacakan buku cerita untuk anak laki-laki itu.


"Ma, kalau kita punya teman, tapi teman itu tidak menyukai kita, apa yang harus Bima lakukan, Ma?" tanya Bima di saat Rania membacakan buku cerita untuknya.


Rania pun terhenti sejenak, lalu kemudian mengarahkan pandangannya pada putranya itu.


"Jika dia menyakiti Bima, sebaiknya tidak usah dekat-dekat dengannya. Mama takut nanti Bima terluka," ucap Rania yang merasa khawatir.


"Dia tidak menyakiti Bima, Ma. Hanya saja dia sering melihat Bima dengan sinis," ujar Bima.


"Ya sudah, kalau memang seperti itu, Bima tanya ke dia. Apa alasannya membenci Bima. Teman Bima itu laki-laki atau perempuan?" tanya Rania.


"Perempuan, Ma."


"Nah, kalau anak perempuan, Bima bisa menanyainya dengan lembut ya, Nak. Jangan kasar," ujar Rania memberikan nasihat pada putranya.


"Baik, Ma."


"Ceritanya mau dilanjut baca atau Bima mau langsung tidur?" tanya Rania.


"Langsung tidur saja, Ma. Bima sudah mengantuk," ucap Bima sembari menguap.


Rania pun menutup buku cerita tersebut. Lalu meletakkannya di atas meja nakas. Wanita itu membenarkan selimut Bima, mengecup kening Bima dengan lembut.


"Tidur yang nyenyak ya, Sayang. Semoga mimpi indah. Mama sayang Bima," ujar Rania yang terdengar begitu tulus.


Bima menarik kedua sudut bibirnya, "Mama juga, Bima sayang Mama dan sayang Papa," ucapnya.


Rania mulai beranjak dari tempat tidur, ia mematikan lampu utama dan membiarkan lampu tidur menyala, sebagai penerang ruangan itu. Rania pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar Bima.


Rania berjalan menuju ke kamar, ia tak menemukan keberadaan sang suami di kamar mereka. "Kemana Mas Varo?" gumam Rania.


Wanita itu keluar dari kamarnya. Ia melihat ke arah ruang kerja yang pintunya sedikit terbuka. "Apa Mas Varo ada di dalam sana?" batin Rania.


Wanita itu pun berjalan menuju ke ruang kerja Alvaro. Rania mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia melihat Alvaro yang tengah duduk sembari menatap layar laptopnya. Alvaro terlihat tampan dan pintar dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.


"Aku kira Mas sudah tidur tadi," ucap Rania sembari melangkah mendekat ke arah Alvaro.


"Ada apa, Sayang?" tanya Alvaro melepaskan kacamatanya. Ia sedikit memijat keningnya seusai memakai kacamata itu.


"Mas masih sibuk ya?" tanya Rania.


"Tidak terlalu. Memang ada apa?" tanya Alvaro yang merasa penasaran dengan sikap sang istri.


"Anu, Mas. Aku berencana ingin membayar hutangku tadi siang, karena Bima menyukai makanannya, jadi aku perlu memberikan imbalan pada Mas Varo," ucap Rania sembari memainkan kuku jarinya.


"Oh itu ... Baiklah, ayo!" ujar Alvaro yang tampak bersemangat, pria itu pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Rania.


"Tapi Mas Varo sibuk, sebaiknya ditunda ya," ucap Rania.


"Tidak, tentu saja aku tidak akan sibuk kalau kamu menagih yang satu ini. Ayo!" Tanpa aba-aba, Alvaro langsung menggendong tubuh istrinya ala bridal style, tentu saja hal itu membuat Rania terkejut dan sedikit berteriak.


"Mas, turunkan aku!" pinta Rania.


"Nanti, menurunkanmu saat tiba di lokasi saja," ucap Alvaro seraya membawa langkah kakinya keluar dari ruangan tersebut, lalu berjalan menuju ke kamarnya.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan ditagih, Rania! Mana bisa nolak si Alvaro😂


__ADS_2