
Rania tengah bercermin, menyapu blush on yang ada di area tulang pipi menggunakan brush. Hampir satu jam lamanya ia di dalam kamar merias dirinya. Ingin tampil cantik di acara pernikahan Hilda.
Setelah menggunakan make up nya. Rania pun berdiri, menatap dirinya di cermin secara keseluruhan. Gaun yang ia kenakan agak longgar karena mengingat bahwa wanita tersebut tengah hamil. Di tambah lagi dengan ukuran badannya yang semakin membesar.
Namun, semua itu tak menghilangkan kecantikannya. Rania justru terlihat lebih imut dengan kedua pipi yang terlihat chubby.
"Sayang, sudah selesai?" tanya Alvaro yang muncul dari balik pintu.
Sudah satu jam lamanya ia menunggu sang istri di bawah hingga membuat pria tersebut merasa sedikit bosan. Namun, semua itu terbayarkan saat melihat penampilan istrinya yang seperti bidadari dari khayangan.
"Sepertinya kita tidak usah pergi," celetuk Alvaro tak berkedip menatap sang istri.
"Kenapa?" tanya Rania mengerutkan keningnya.
"Aku takut banyak yang jatuh cinta pada istriku. Aku tak bisa membiarkan hal itu terjadi," ujar Alvaro.
Rania menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sang suami. Ia pun menunjuk perutnya yang buncit.
"Mungkin pria-pria itu akan seribu kali berpikir setelah melihat perut buncitku," ucap Rania yang mengundang gelak tawa dari Alvaro.
"Aku hanya bercanda, Sayang." Alvaro mencium pipi sang istri dengan gemas.
"Kalau begitu, ayo kita berangkat!" ajak Alvaro yang telah menyiapkan lengannya untuk digandeng.
Rania pun mengangguk seraya mengulas senyum. Ibu hamil itu langsung menggamit lengan sang suami, berjalan menuju ke mobil.
Alvaro memperlakukan Rania dengan manis. Ia membukakan pintu dan meletakkan tangannya berjarak 5cm dari atas kepala Rania, takut jika badan mobil tersebut membentur kepala sang istri.
Setelah Rania masuk, Alvaro juga masuk ke dalam mobil. Menghidupkan mesin mobil tersebut dan mulai melakukannya ke jalanan.
Berselang tiga puluh menit lamanya, mobil yang dikendarai oleh Alvaro tiba di tempat tujuan. Alvaro bergegas turun, membukakan pintu untuk istrinya.
"Sepertinya Hilda banyak mengundang tamu," gumam Alvaro.
"Hilda tipe orang yang mudah bergaul. Tidak heran jika dia memiliki banyak teman. Berbeda seperti aku yang hanya nyaman dengan beberapa orang saja," ucap Rania yang kembali menggandeng lengan sang suami.
"Tidak apa-apa, sebaiknya memilih teman yang senyamannya saja," ujar Alvaro mengembangkan senyumnya.
Mereka pun mulai memasuki aula gedung. Banyak para undangan yang berdatangan memenuhi tempat tersebut. Namun, tiba-tiba Rania merasa sakit perut. Wanita itu pun meminta izin pada sang suami untuk ke toilet.
"Mas, kamu duluan saja masuk. Aku mau ke toilet dulu," ujar Rania.
"Ya sudah, kalau begitu Mas antar kamu," ucap Alvaro menawarkan diri.
"Tidak usah, Mas. Lagi pula aku bukan anak kecil lagi yang harus diantar jika hendak ke toilet. Kamu duluan masuk saja, nanti aku menyusul," ucap Rania yang langsung pergi meninggalkan Alvaro.
Alvaro pun menatap sang istri yang tampak tergesa-gesa menuju ke toilet. Alvaro tersenyum menatap kelakuan Rania yang menurutnya benar-benar lucu. Ia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam ballroom.
Di dalam sana, ia melihat ada banyak orang yang telah menduduki kursi. Alvaro menatap ke arah pintu masuk sejenak, sebelum menduduki kursi tersebut. Ia menantikan sang istri yang belum juga kembali.
__ADS_1
Tanpa Alvaro sadari, tak jauh darinya ada sosok wanita yang pernah bertemu dengannya di kedai mie ayam waktu itu. Gadis yang bernama Dita tersebut tiba datang dan duduk satu meja dengan Alvaro.
"Kenapa sendirian? Apakah istrimu tidak ikut?" tanya Dita yang masih menatap Alvaro dengan rasa kekagumannya.
Alvaro mengernyitkan keningnya. Tampaknya pria tersebut sudah lupa akan sosok Dita yang pernah bertemu dengannya di kedai mie ayam kemarin.
"Dita, yang pernah sempat mengobrol denganmu di kedai mie ayam kemarin," jelas Dita yang kembali memperkenalkan dirinya.
"Oh ...." Alvaro hanya menganggukkan kepalanya. Ia teringat dengan gadis yang membuatnya risi. Dan sampai sekarang, gadis itu sangat mengganggu baginya.
"Kenapa kamu datang sendirian? Katanya sudah punya istri," ujar Dita sembari mencebikkan bibirnya.
"Istriku masih di ...."
"Sudahlah! Tidak usah mengelak. Kamu pasti berbohong kan kalau kamu sudah mempunyai istri," ucap Dita menyela perkataan Alvaro.
"Sungguh! Aku tid ...."
"Dit, ini siapa? Pacarmu?" tanya Sintia yang menjatuhkan bokongnya di sana, satu meja dengan Alvaro dan juga Dita.
Dita tampak berpikir keras, karena rasa gengsi yang teramat besar mendominasi membuat wanita itu pun mengakui Alvaro sebagai kekasihnya.
"Iya, dia pacarku." Dita mengatakannya dengan penuh percaya diri membuat Alvaro terkejut dan membelalakkan mata.
"Aku bu ...."
"Sayang, tidak usah malu-malu. Perkenalkan ini temanku namanya Sintia." Lagi dan lagi Dita menyela ucapan Alvaro, membuat pria tersebut seolah-olah adalah pacarnya sungguhan.
Namun, ia tampaknya salah melemparkan umpan. Pria yang diakuinya adalah pria beristri, akan tetapi karena tingkat percaya diri Dita yang terlalu tinggi, menganggap bahwa pengakuan Alvaro kemarin hanyalah bualan belaka.
"Sintia," ucap gadis yang ada di seberang kursi mengulurkan tangannya. Alvaro benar-benar jengah dengan suasana yang seperti ini. Pria itu bahkan menunjukkan secara terang-terangan ketidaksukaannya dengan cara tak membalas jabatan tangan dari Sintia.
Sintia merasa malu, ia pun perlahan menarik kembali uluran tangannya. Di dalam lubuk hatinya, ia mengumpat sikap pria yang ada di hadapannya, terkesan sangat arogan.
"Untung tampan, jika tidak sudah ku siram wajahnya dengan air itu," batin Sintia seraya mengarahkan pandangannya pada segelas air yang ada di depannya.
"Emmm ... maafkan pacarku, memang dia agak seperti ini orangnya karena terlalu malu," ujar Dita yang mencoba menutupi semuanya. Ia ingin bersaing dengan Sintia, bahwa nantinya ia juga bisa menikah dengan pria yang berlimpah harta.
Sintia hanya mengendikkan bahunya, merasa harga dirinya sedikit diinjak-injak oleh pria yang tak dikenal. Sementara Dita, berulang kali memberikan kode pada Alvaro agar mau mengikuti sandiwaranya sejenak, akan tetapi Alvaro tetap menolak hal tersebut. Bagaimana pun juga Alvaro menolak, saat ia hendak membuka suara, tiba-tiba Dita langsung menyela ucapannya. Tak ingin jika Alvaro berkata sejujurnya.
Di lain tempat, Rania baru saja keluar dari bilik toilet. Wanita itu merasa lega karena telah selesai memenuhi panggilan alam. Rania menatap dirinya di cermin yang berukuran besar, Merapikan sedikit rambutnya, setelah semuanya cukup, barulah ia keluar dari toilet tersebut.
Rania menuju ke ballroom, ia menatap ke sekeliling, mencari keberadaan suaminya yang sudah lebih dulu masuk. Wanita tersebut membuka sling bag-nya, lalu kemudian mengeluarkan ponsel yang ada di dalam tas tersebut untuk menghubungi sang suami.
Rania menempelkan ponsel ke telinganya. Matanya ke sana dan kemari mencari keberadaan sang suami. Hingga akhirnya, ekor matanya pun menangkap keberadaan suaminya yang saat ini tengah bersama dengan dua wanita.
"Siapa mereka? Lagi pula kenapa Mas Varo ke sana? Seharusnya mencari kursi yang lain gerutu Rania.
Rania memilih mengakhiri panggilannya, ia pun berjalan mendekat ke arah sang suami. Melihat kedua wanita yang ada bersama Alvaro tengah menyamping sembari mengulas senyum, membuat Rania langsung menghentikan langkahnya dan menyipitkan matanya.
__ADS_1
" Itu kan Dita dan Sintia. Apakah mereka mengenal Mas Varo?" gumam ibu hamil tersebut.
Rania kembali melangkahkan kakinya mendekat pada mereka. Hingga akhirnya, telinganya pun menangkap jelas jika Dita menyebut Alvaro adalah kekasihnya.
"Sayang, tidak usah kaku begitu. Rileks dan senyum!" titah Dita yang melihat wajah masam dari Alvaro.
"Apa aku tidak salah dengar? Sayang?" gumam Rania.
Rania pun tak sabar lagi untuk segera sampai ke arah ketiganya. Bahkan wanita itu sedikit menyingkap gaun yang menghalang jalannya. Hingga mata Dita pun bertemu pandang dengan Rania.
"Bukankah itu Rania? Lihatlah dia sendirian tidak di dampingi oleh suaminya. Berarti benar dugaan kita, bahwa pria itu menikah hanya untuk memperalat Rania saja," ujar Dita.
"Ya ... bisa jadi. Lagi pula dia selalu update di media sosialnya, bagaimana keharmonisan dan kemesraan rumah tangga mereka. Namun, dengan menutupi wajah suaminya menggunakan stiker," sambung Sintia.
"Bisa jadi karena suaminya jelek," ujar Dita, hingga keduanya pun tampak memegangi perut untuk menahan tawanya.
Alvaro tercengang dengan pembicaraan dua wanita yang berada satu meja dengannya. Ia tak terima akan ucapan yang mereka lontarkan terhadap istrinya.
"Awas saja kalian! Aku akan pastikan kalian mendapatkan ganjarannya setelah ini," batin Alvaro. Dari kejauhan, ia melihat sang istri tengah berjalan ke arahnya. Alvaro membiarkan istrinya bertindak terlebih dahulu. Bagaimana cara Rania menyikapi temannya yang sedikit bersifat benalu.
"Hai ...." Rania mengangkat tangannya, menyapa orang-orang yang ada di meja tersebut. Sintia dan Dita membalas sapaan tersebut, akan tetapi dengan cara yang sedikit acuh. Dari raut wajah mereka, terlihat jelas bahwa mereka keberatan jika Rania berada satu meja.
"Boleh aku duduk di sini kan?" tanya Rania menarik kursi yang ada di samping Alvaro.
"Ehhh ... jangan di situ. Aku tidak menyetujuinya," tolak Dita.
"Loh, kenapa? Memangnya siapa pria ini?" tanya Rania yang berusaha memancing kedua wanita tersebut.
"Dia pacarnya Dita. Lagi pula kamu kan sudah punya suami, jangan terlalu genit pada pacar orang lain," tukas Sintia yang memperlihatkan raut wajah tak suka secara terang-terangan.
Rania tertawa mendengar penuturan keduanya. "Sungguh wanita tak tahu malu," batinnya mengumpat kedua wanita yang berhati serigala berbulu monyet tersebut. ( Wkwkw sengaja ya, soalnya kalo domba terlalu bagus buat mereka😂)
Rania tak mengindahkan ucapan keduanya. Wanita hamil itu tetap memaksakan diri untuk duduk di sebelah Alvaro. Ia tak menggubris sama sekali cercaan dari kedua temannya yang mengatakan bahwa dirinya adalah wanita genit.
"Kamu ... bukankah aku sudah bilang kalau dia adalah kekasihku!" tegas Dita yang tampaknya geram menghadapi Rania. Namun, ibu hamil itu memperlihatkan ekspresi sebaliknya. Ia sangat santai dan masih memperlihatkan senyum di wajahnya.
"Kamu yakin dia kekasihmu?" balas Rania terkekeh geli.
"Maaf, tapi aku adalah istrinya." Rania berucap tegas dengan mata yang menyalang menatap kedua wanita yang ada di hadapannya.
"Jangan mengada-ada kamu." Dita meneguk air yang ada di depannya. Ia merasa gugup dan takut jika rahasianya akan terbongkar. Tujuannya mengaku Alvaro adalah kekasihnya karena ia tertarik dengan ketampanan Alvaro dan juga untuk memamerkan pada Sintia, bahwa ia juga bisa mendapatkan suami yang kaya raya.
Dita dapat menilai Alvaro adalah pria yang kaya dari segi pakaian, serta jam tangan keluaran limited edition yang tengah melingkar di pergelangan tangan kiri pria itu.
Alvaro benar-benar geram dengan tingkah wanita yang terlalu pandai berbicara. Bahkan menganggap bahwa Rania berbohong. Padahal, ia sendirilah yang membohongi temannnya.
"Yang dikatakan dia benar adanya. Saya adalah suami dari Rania, wanita yang baru saja kalian jelekkan sedari tadi," tukas Alvaro.
Sintia langsung membelalakkan matanya dengan sempurna. Sementara Dita, air yang baru saja masuk ke dalam mulutnya langsung tersembur begitu saja setelah mendengar ucapan dari Alvaro.
__ADS_1
Bersambung ....