Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 82. Kejujuran Bima


__ADS_3

Setelah menjalani pertempuran yang hampir membuat Rania menjadi kewalahan, kini keduanya tertidur di atas ranjang tanpa sehelai benang pun, hanya selimut yang menutup tubuh keduanya.


Masakan tadi? Lupakan! Mereka bisa melanjutkannya setelah bangun nanti. Yang lebih penting adalah menuntaskan hasrat yang telah terpendam, dan memperkenalkan pada Rania bahwa dia bukan hanya pasangan dan ayah yang baik saja, akan tetapi permainannya juga sangat luar biasa, membuat Rania tak henti-hentinya menjerit di bawah kungkungannya.


Hari sudah menunjukkan pukul 3 sore, akan tetapi kedua pasangan suami istri itu belum juga bangun dari tidurnya. Masih saling memeluk satu sama lain. Pertempurannya tadi, cukup menguras tenaga dan kini mereka melepaskan rasa lelahnya dengan larut ke dalam alam mimpi.


Waktu berjalan dengan begitu cepat. Hari sudah mulai malam. Rania mengerjapkan matanya perlahan. Hal yang pertama ia lihat saat membuka matanya adalah wajah suamimya yang sangat tampan.


Hidung mancung yang menjulang tinggi. Alis yang sedikit tebal, serta bibir merah muda yang terlihat begitu seksi. Bibir penuh itu memiliki warna yang bagus karena Alvaro bukanlah seorang perokok.


Rania memberanikan dirinya menyentuh bulu mata Alvaro, membuat pria tersebut mengernyitkan kening dan sesaat kemudian langsung menangkap tangan nakal istrinya.


"Kamu sudah bangun?" tanya Alvaro perlahan membuka matanya.


Rania menganggukkan kepalanya. Wanita itu masih menyentuh wajah suaminya, memainkan puncak hidung Alvaro dengan gemas.


"Hentikan atau aku akan membalasnya dengan ini?" ujar Alvaro, tangan nakalnya menyentuh area sensitif Rania membuat wanita tersebut terlonjak kaget dan mencubit pelan lengan Alvaro.


"Ck! Hentikan!" sergah Rania.


Tak lama kemudian, wanita tersebut memegang perutnya. Ia merasa lapar dan saat melihat ke arah jendela kaca dengan tirai yang masih terbuka, Rania cukup terkejut.


"Sudah malam?" ucapnya yang langsung bangkit dari pembaringannya.


"Wajar saja jika perutku sudah sangat lapar," lanjutnya.


"Kamu lapar?"


"Tentu saja. Sedari tadi pagi aku belum makan sama sekali dan kamu mengajakku bermain di sini," timpal Rania sembari mengerucutkan bibirnya.


Alvaro terkekeh, "Ya sudah, kalau begitu mari bersihkan diri dan setelah ini aku akan memasakkan makanan untukmu sebagai gantinya," ujar Alvaro.


"Membersihkan diri? Berdua maksudnya?" tanya Rania.


"Tentu saja. Jika sendiri-sendiri pasti akan memakan waktu yang lama lagi nantinya," timpal Alvaro.


"Tapi tidak akan ada ronde-ronde selanjutnya kan?" tanya Rania yang mewanti-wanti takut Alvaro kembali melahapnya saat berada di kamar mandi nanti.

__ADS_1


Alvaro pun langsung tergelak tawa mendengar ucapan istrinya, "Iya, aku tidak akan meminta ronde selanjutnya." Alvaro berucap sembari memperlihatkan kedua jarinya membentuk huruf 'V'.


Rania mulai beranjak dari tempat tidur. Ia pun meringis saat merasakan nyeri pada bagian inti tubuhnya.


"Ada apa?" tanya Alvaro panik.


"Sakit," ujarnya.


"Maafkan aku." Seketika rasa bersalah pun mulai menyelimutinya.


Rania memberikan kode dengan memperlihatkan ke lima jarinya, menandakan bahwa dirinya tidak apa-apa, "Ini akan segera membaik," ucap Rania.


Melihat istrinya berjalan dengan sedikit tertatih, membuat Alvaro pun langsung beranjak dan menggendong sang istri, berjalan menuju ke kamar mandi.


Setelah menyelesaikan ritual mandinya, kedua pasangan suami istri itu pun keluar dari kamar mandi . Keduanya langsung menuju lemari pakaian. Rania mengerucutkan bibirnya saat melihat koleksi baju yang ada di lemari.


"Aku ingin memakai piyama panjang saja. Jangan yang ini," ujar Rania menunjukkan baju tidur dengan belahan dada tersebut.


Alvaro menuju ke lemari pakaian yang satunya lagi. Ia memperlihatkan semua pakaian yang ada di dalamnya.


Rania tersenyum, ia pun berjalan menuju ke lemari pakaian tersebut. "Terima kasih, Mas." Rania mengembangkan senyumnya.


Alvaro membalas senyuman sang istri. Mereka pun segera mengganti pakaian mereka. Setelah itu, pergi ke dapur untuk memasak.


Di dapur, Rania membantu menyiapkan bahan-bahan yang hendak dimasak. Sementara Alvaro, pria itu sibuk memotong bawang dan bahan yang lainnya.


"Wah, Mas, kamu seperti koki yang ada di televisi," ujar Rania terkagum-kagum melihat Alvaro yang lihai memegang pisau dan memotong bawang yang ada di tangannya dengan cepat.


Alvaro mengulas senyumnya. Lalu memperlihatkan pipinya kepada sang istri. "Supaya tambah semangat, coba beri aku asupan," ucap pria itu mendekatkan pipi kanannya pada Rania.


Rania tersenyum, lalu kemudian ...


Cup!


Satu kecupan singkat mendarat di pipi Alvaro. Membuat pria itu tersenyum senang, lalu kemudian kembali menyiapkan makan malam tersebut dengan semangat.


Masakan dari Alvaro menusuk indera penciumannya, membuat perut Rania kembali berbunyi dan segera minta di isi.

__ADS_1


Tak lama kemudian, masakan pun tersaji di atas meja. Cumi cabe ijo, serta kepiting saus Padang yang membuat Rania ketagihan.


"Selamat makan," ucap Rania yang bersiap mencicipi masakan Alvaro.


"Hmmmm ... ini benar-benar sempurna. Aku sangat menyukainya," lanjut Rania saat makanan tersebut telah mendarat di lidahnya.


Alvaro tersenyum sembari mengunyah makanannya. Ia melihat kursi yang biasa di duduki oleh Bima kosong melompong. Seketika, ia pun merasa rindu lada putranya.


"Mas rindu Bima?" tanya Rania yang bisa membaca air muka sang suami.


Alvaro menganggukkan kepalanya pelan, membenarkan ucapan sang istri.


"Kalau begitu, besok kita jemput Bima. Aku juga rindu dengan Bima. Tiba-tiba rumah terasa sepi saat tak ada suara Bima," ujar Rania.


"Baiklah, besok kita jemput anak kita," ucap Alvaro.


Mendengar kata 'anak kita' membuat hati Rania menghangat. Ia benar-benar merasa bahwa dirinya sudah menjadi seorang ibu yang akan memberikan kasih sayang pada anak laki-laki yang sedari dulu meminta dirinya untuk menjadi sosok ibu untuknya.


Di lain tempat, Bima tertawa riang bermain bersama dengan kakeknya. Bima bersembunyi di belakang Arumi saat Fahri sudah bersiap menggelitiknya.


"Ampun, Kek. Ampun ...," ujar Bima sembari tertawa.


"Bima sayang nenek apa kakek?" tanya Fahri lagi. Saat Arumi membisikkan untuk menjawab 'nenek' , Bima langsung mendapatkan hukuman dari kakeknya. Fahri menggelitik cucunya membuat Bima tertawa dan merasa geli.


"Bima sayang kakek dan nenek, Bima sayang semuanya," ujar pria itu menyerah karena telah lemas akibat menerima gelitikan dari kakeknya.


"Nenek, apakah papa masih lama menjemput Bima? Papa buat adiknya lama ya?" tanya Bima pada Arumi.


Fahri tertegun mendengar ucapan Bima. Sementara Arumi, ia menyembunyikan wajahnya, karena sang suami telah menatapnya dengan tajam.


"Memang apa yang dikatakan nenek?" tanya Fahri yang merasa penasaran dengan apa yang diucapkan oleh Arumi pada anak laki-laki itu.


"Kata nenek, papa lagi sibuk buat adik untuk Bima bersama mama. Buat adiknya pakai tepung terigu," jawab Bima dengan wajah polosnya.


“Aduh, kenapa cucuku yang satu ini selalu jujur ​​jika ditanya oleh kakeknya,” batin Arumi sembari mengusap tengkuknya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2