
Keesokan harinya, Bima sudah diperbolehkan untuk pulang karena luka yang dialaminya tidak terlalu serius.
Alvaro memilih untuk sedikit terlambat datang ke kantor hari ini karena harus mengantar putra semata wayangnya sampai ke rumah. Di perjalanan, seperti biasa, Bima selalu saja bercerita banyak hal. Bahkan, hingga saat ini anak laki-laki tersebut masih membahas tentang penyesalannya karena tak mendengar ucapan Rania sebelumnya.
"Ma, maafkan Bima ya. Pasti mama sangat kesusahan saat turun dari tangga untuk menolong Bima," ujar anak laki-laki tersebut.
"Tidak apa-apa, Sayang. Lagi pula hal itu sudah terjadi, dan tidak perlu disesali lagi. Untuk ke depannya, Bima harus mendengarkan ucapan mama ya, Nak." Rania menasihati putranya sembari mengulas senyum.
"Iya, Nak. Dengarkan apa kata orang tua. Kami melarangmu tentunya karena kami menyayangimu dan tidak ingin kamu celaka," sambung Alvaro seraya menatap lurus ke depan sembari mengendalikan setir.
"Iya Ma, Pa, Bima akan berjanji untuk tidak membuat mama dan papa bersedih lagi," ucap Bima.
"Nah, kalau begitu sekarang Bima juga tidak boleh bersedih lagi. Pulang nanti, Bima harus langsung makan, minum obat, lalu kemudian istirahat. Supaya luka Bima cepat sembuh," papar Rania.
"Iya, Ma."
Alvaro menatap Rania sekilas, lalu kemudian ia pun mengembangkan senyumnya. Kali ini, pria tersebut lebih berhati-hati membawa kendaraan, karena melihat perut istrinya yang memang sudah membesar.
__ADS_1
Berselang beberapa puluh menit lamanya, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Alvaro pun tiba di rumah. Pria tersebut menggendong Bima untuk membawanya masuk ke dalam.
"Bima tidak usah digendong, Pa. Bima pasti sangat berat," ucap anak laki-laki tersebut.
"Tidak apa-apa, punggung papa sangat kuat dan sehat. Sehingga berat Bima pun layaknya seringan kapas," ujar Alvaro.
"Papa, Bima makannya sangat banyak, bagaimana mungkin Bima hanya dianggap seringan kapas," ucap Bima.
Mendengar hal tersebut, tentunya memancing gelak tawa Rania. Meskipun dirinya dalam keadaan belum pulih total, akan tetapi sikap dan tingkah Bima cukup menggemaskan.
"Maka dari itu, Bima harus makan lebih banyak lagi supaya berat badan Bima bertambah," ucap Alvaro.
"Kalau begitu, Bima yang menggendong papa," balas Alvaro seraya menaiki anak tangga, ia sempat terhenti sejenak saat menimpali ucapan putra semata wayangnya.
"Baiklah, Pa. Bima akan menggendong papa, tetapi nanti ya, Pa. Setelah Bima dewasa. Bima akan menggendong kemana pun papa mau," ucap Bima.
Mendengar hal tersebut, tentu saja hari Alvaro merasa tersentuh. Ia tak menyangka, bisa membesarkan putranya dengan baik. Kata-kata yang keluar dari mulut Bima selalu saja manis dan mampu meluluhkan hati.
__ADS_1
"Iya, Nak. Maka dari itu, Bima harus sehat, harus kuat, supaya nanti papa minta gendong Bima," ujar Alvaro.
"Siap, Pa."
Alvaro tersenyum, hingga akhirnya ia pun mencapai anak tangga yang paling atas. Pria itu terhenti sejenak menarik napas, lalu kemudian menghembuskannya. Berat badan Bima tidaklah ringan seperti yang ia katakan sebelumnya. Apalagi Alvaro yang harus selalu berbalas ucapan dengan Bima, membuat tenaganya terkuras cukup banyak.
"Papa lelah ya?" tanya Bima.
"Tidak, Nak. Papa hanya ingin memasok banyak oksigen," ujar Alvaro.
"Memangnya selama ini oksigen ada di mana, Pa?" tanya Bima dengan begitu polos.
"Di dalam kantong kresek, Nak." Alvaro menimpali pertanyaan Bima dengan sedikit gurauan.
Sementara Rania, masih menaiki anak tangga karena jalannya yang terbilang lamban. "Untung saja Rania tidak mendengar ucapanku, mungkin dia akan marah besar karena menimpali Bima dengan asal," batin Alvaro.
"Ma, apakah mama kekurangan oksigen? Kata papa ambil di dalam kantong kresek!" seru Bima yang tentu saja membuat Alvaro langsung panik dan membelalakkan matanya .
__ADS_1
Bersambung ....