Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 128. Retur!


__ADS_3

Setelah tiga hari menginap di kediaman Rania, mendapatkan telepon dari Pak Hendra berulang-ulang kali meminta istrinya untuk pulang karena Pak Hendra merasa sepi jika tidak ada Bu Isna. Dan akhirnya, hari ini Bu Isna pun memutuskan untuk pulang.


Alvaro, Rania, dan juga Bima mengantarkan kepulangan Bu Isna sampai ke depan. Mereka pun mencium tangan Bu Isna secara bergantian.


"Nek, sehari lagi saja menginap di sini ya, Nek?" bujuk Bima yang merasa berat melihat kepulangan neneknya.


"Nenek pulang dulu ya, Sayang. Kasihan sama kakek yang sedih karena ditinggal oleh nenek. Nanti nenek akan ke sini lagi," ujar Bu Isna.


"Janji ya, Nek. Bima sedih kalau nenek tidak datang ke sini lagi nantinya," ucap Bima yang memperlihatkan jari kelingkingnya.


"Iya, Nenek janji." Bu Isna pun menautkan kelingkingnya pada kelingking mungil milik Bima. Pertanda bahwa ia mengikat janjinya pada sang cucu.


"Nanti kita juga berkunjung ke rumah nenek ya, Nak. Tetapi tunggu dedek bayi yang ada di perut mama lahir dulu," ucap Rania sembari mengusap puncak kepala anaknya.


Bima hanya menimpalinya dengan anggukan pelan. Sementara matanya sudah memancarkan kesedihan. Ia sangat senang, selama tiga hari ini bersama neneknya. Namun, mau bagaimana lagi, kesenangan Bima hanya berlaku di tiga hari saja, karena sang nenek diharuskan untuk kembali ke kampung.


"Hati-hati di jalan ya, Ma." Alvaro membuka suara.


"Iya," timpal Bu Isna disertai dengan sebuah anggukan.


"Setelah sampai nanti, telepon aku ya Ma," ujar Rania.


Bu Isna kembali mengangguk. Ia pun langsung masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh Pak Darman, mengantarkannya menuju ke terminal. Menaiki mobil dari terminal tersebut untuk menuju ke desanya.


Mobil perlahan melaju. Bu Isna membuka jendela kaca, lalu kemudian melambaikan tangannya pada mereka yang ia tinggalkan. Bima membalas lambaian tangan tersebut bersama dengan yang lainnya. Hingga akhirnya mobil itu pun mulai mengecil dan hilang dari pandangannya.


Rania memahami kesedihan Bima. Selama ini, ia lebih banyak bermanja-manja dengan neneknya dibandingkan dengan Rania atau pun Alvaro.


"Bima merasa sangat sedih ditinggalkan oleh nenek," ucap Bima.


"Bima jangan sedih ya, Nak. Di sini kan ada papa dan mama. Nanti kalau Bima sedih, kami juga ikutan sedih. Lagi pula nenek pasti akan berkunjung ke sini lagi, atau kita yang akan berkunjung ke sana," ujar Rania memberikan pengertian pada putra sambungnya.

__ADS_1


"Baiklah, Ma." Bima mengusap air mata yang sempat membasahi pipi gembulnya.


"Maafkan Bima karena membuat mama dan papa juga ikut bersedih," ujar Bima yang merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, Sayang. Sekarang Bima jangan bersedih lagi ya, Nak. Mama dan papa akan selalu siap untuk menemani Bima kapan pun," sambung Alvaro.


Bima menganggukkan kepalanya, ketiganya pun kembali memasuki hunian mereka, memilih menghabiskan waktu pada siang hari tersebut di ruang keluarga.


Di ruang keluarga, mereka tengah menonton serial kartun Doraemon. Alvaro dan Bima tampak sangat fokus menonton televisi. Sementara Rania, wanita itu sibuk mengotak-atik ponselnya.


"Kamu sedang melihat apa?" tanya Alvaro yang langsung mendekat pada sang istri yang sedari tadi menatap layar ponselnya.


"Ini ... aku mau pesan timbangan berat badan. Ku rasa yang kemarin sudah rusak," jawab Rania yang tak mengalihkan pandangannya pada layar ponsel tersebut.


"Memangnya kamu yakin timbangan berat badan itu rusak?" tanya Alvaro lagi seraya menjengit.


"Iya, Mas. aku sangat yakin. Lagi pula angkanya bergerak sangat tidak normal. Timbangan itu memang benar-benar sudah rusak," ujar Rania.


Rania menetapkan pilihannya pada salah satu timbangan berat badan digital dengan memilih untuk membuat pesanan pada barang tersebut.


"Barangnya kapan sampainya?" tanya Alvaro melirik sang istri.


"Nggak lama, mungkin nanti sore juga sudah sampai," timpal Rania yang kembali menatap ke televisi. Sesekali wanita tersebut tertawa saat melihat adegan lucu yang ada di serial kartun itu.


Sore harinya, paket yang dipesan oleh Rania pun tiba di rumah. Rania tampak senang saat mendengar suara teriakan 'Paket!' yang diucapkan oleh kurir tersebut.


Wanita itu kembali ke kamar sembari memegang bungkusan dari timbangan berat badan tersebut. Ia seperti memperoleh sesuatu yang berharga, memeluk erat benda yang masih terbungkus rapi disertai dengan balutan bubble wrap.


Alvaro baru saja keluar dari kamar mandi seusai menuntaskan buang airnya. Pria itu melihat istrinya masuk ke dalam kamar sembari memeluk sebuah paket yang merupakan benda yang dipesannya siang tadi.


"Sudah datang?" tanya Alvaro berjalan menghampiri istrinya.

__ADS_1


Dengan cepat Rania pun menganggukkan kepalanya. "Iya Mas," timpal wanita itu seadanya. Ia mendudukkan dirinya di atas kursi, meraih gunting yang tak jauh dari jangkauannya itu dan mulai membuka paketan tersebut.


"Ck! Susah sekali. Apa guntingnya tumpul?" gumam Rania yang tampak kesusahan membuka paketan tersebut.


"Sabar, Sayang. Guntingnya bukan tumpul, hanya saja dia ingin menguji kesabaranmu yang selalu melakukan sesuatu dengan terburu-buru," celetuk Alvaro yang membantu sang istri membukakan paket tersebut.


"Berarti memang guntingnya yang tumpul," protes Rania sembari mengerucutkan bibirnya. Sementara Alvaro terkekeh geli melihat ekspresi kesal ia diperlihatkan oleh sang istri.


"Kamu marah?" tanya Alvaro.


"Pikir saja dengan Mas Varo sendiri," jawabnya sembari memperlihatkan wajahnya yang masam.


"Mas tidak bisa menebak hati orang lain. Jika memang benar kamu marah, kira-kira dengan siapa? Mas tidak bersalah, bukankah yang salah itu guntingnya?" ujar Alvaro yang sengaja meledek sang istri.


"Iya juga sih," timpal Rania membenarkan ucapan suaminya.


Beberapa detik kemudian, paketan tersebut telah berhasil dibuka. Mata Rania pun berbinar saat melihat benda tersebut dan langsung mencobanya saat itu juga.


Ia letakkan timbangan berat badan tersebut di lantai. Dan wanita itu pun mulai naik di atasnya. Saat angka mulai berjalan, Rania pun terkejut melihat hasilnya begitu pula dengan Alvaro yang sempat mengintip berat badan sang istri saat ini.


Rania segera turun dari atas timbangan tersebut. Memasukkan kembali benda itu ke dalam kotaknya.


"Ada apa?" tanya Alvaro yang heran melihat tingkah istrinya.


Wanita itu tak menimpali ucapan sang suami. Setelah berhasil memasukkan benda tersebut kembali ke dalam kotaknya, ia pun memilih untuk menghampiri kasurnya dan langsung merebahkan dirinya di atas benda empuk tersebut. Rania menutup dirinya menggunakan selimut.


"Retur saja, Mas. Timbangan itu juga sudah rusak!" ujar Rania sesaat kemudian.


Alvaro langsung terkekeh geli mendengar ucapan Rania, membuat wanita itu menyingkap selimutnya dan menatap sang suami dengan tatapan tajam.


"Tidak usah tertawa, Mas. Sama sekali tidak lucu!" tukas Rania yang kembali menutup wajahnya menggunakan selimut.

__ADS_1


Alvaro hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat Rania. "Apa itu tadi? Berat badannya hampir 70 dan dia terkejut sendiri?" gumam Alvaro sembari memegangi perutnya yang sakit akibat tertawa.


Bersambung ....


__ADS_2