Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 61. Huruf J Membawa Petaka


__ADS_3

Rania baru saja masuk ke dalam klinik. Tiba-tiba gadis itu dikejutkan dengan rekan kerjanya yang tengah menunggunya sembari menatapnya dengan tajam.


"K-kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Rania.


"Tidak biasanya Bu Dokter datang siang. Apakah tadi diculik sama tetanggamu?" tanya Hilda dengan sedikit menggoda.


"Diculik? Siapa juga yang diculik," timpal Rania mengulum senyumnya. Gadis itu memilih mengabaikan Hilda dan pergi ke ruangannya.


Hilda tak berhenti sampai di situ saja. Gadis tersebut masih mengekor di belakang Rania, menatap curiga Rania yang terlihat berbunga-bunga.


"Apakah tetangga yang ku benci sekarang berubah judul menjadi tetanggaku kesayanganku?" goda Hilda .


Rania meletakkan tasnya di atas meja. Mengenakan jas dokternya, sembari tersenyum simpul. "Ya ... begitulah." Gadis tersebut menimpali ucapan Hilda dengan wajah yang menunduk malu.


"Berarti kalian sudah resmi berpacaran?" tanya Hilda yang tampak antusias.


Rania menekuk bibir bawahnya ke dalam sembari menganggukkan kepalanya dengan pelan.


"Wah! Kalau begitu selamat ya Bu Dokter. Akhirnya Bu Dokter tidak menjadi wanita lajang seumur hidup."


Mendengar kalimat terakhir dari Hilda membuat Rania langsung menatap gadis tersebut dengan tajam.


"Seharusnya aku mengatakan hal itu untukmu. Segera cari pasangan jika tak ingin menjadi lajang selamanya," ucap Rania.


Hilda terkekeh geli. Gadis itu mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan cincin yang tersemat di jari manisnya.


"Sepertinya aku yang akan lebih dulu melepas masa lajang dibandingkan Bu Dokter," celetuk Hilda seraya terkekeh.


"Wah! Kenapa kamu tidak bilang padaku kalau kamu mau menikah," ujar Rania.


"Hehe ... tanggalnya belum ditentukan. Nanti pasti Bu Dokter aku undang. Jangan sampai tidak datang ya," ucap Hilda.


"Tentu saja aku akan datang," ujar Rania sembari mengembangkan senyumnya.


Tak lama kemudian, terlihat seorang pasien yang datang. Rania dan Hilda pun memulai pekerjaannya, menangani pasien yang memiliki masalah dengan giginya.


Di lain tempat, Alvaro tengah duduk di kursi kebesarannya. Pria tersebut memandang layar komputer, akan tetapi wajahnya tak henti mengulas senyum sedari tadi. Rona kemerahan di wajah Rania, masih terekam jelas dalam ingatannya.


Juni yang sedari tadi mengetuk pintu tak ditanggapi oleh atasannya. Pria tersebut membuka sedikit pintu, melihat Alvaro yang senyum-senyum sendiri membuat Juni sedikit bergidik ngeri.


"Pak Bos kenapa? Senyum-senyum sendiri seperti itu?" gumam Juni pelan.


"Hayo kenapa mengintip?" ujar Shinta yang berada di belakang Juni membuat sang asisten terlonjak kaget.


"Kamu mengagetkanku saja!" gerutu Juni sembari mengusap dadanya.


"Lagi pula kamu mengintip seperti ini. Jika Pak Alvaro tahu, mungkin dia akan marah," ujar Shinta.


"Sssttt ... pelankan suaramu," ucap Juni yang meletakkan jari telunjuk tepat di depan bibirnya.


"Kemarilah dan lihat!" lanjut sang asisten.


Shinta pun mendekat pada Juni. Dan benar saja, Alvaro masih tersenyum sesekali tertawa. Shinta mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu kemudian memandang Juni.


"Apakah Pak Alvaro kerasukan setan?" tanya Shinta.


"Entahlah. Aku juga mengiranya seperti itu," ucap Juni pelan.


"Siapa yang kerasukan setan?"


Suara lantang dari belakang kembali mengejutkan keduanya. Juni terjatuh di atas Shinta. Sementara Shinta, gadis itu tak dapat menahan bobot berat badan Juni dan tangan yang memegang pintu pun terlepas begitu saja, membuat kedua orang tersebut langsung tersungkur ke lantai.


Lamunan Alvaro langsung buyar seketika saat pintu terbuka lebar. Memperlihatkan ibunya yang tengah berdiri bersedekap sementara kedua pegawainya tersungkur di lantai.


"Ada apa ini?" tanya Alvaro yang langsung beranjak dari tempat duduknya.


"Eh, bukan mama pelakunya. Mereka sendiri yang jatuh di lantai. Mama tidak mendorongnya," ujar Arumi mengangkat kedua tangannya. Ia tak ingin putranya salah sangka mengira kedua pegawai tersebut di dorong olehnya.


"Kalian kenapa?" tanya Alvaro membantu Juni bangkit, lalu kemudian Shinta.

__ADS_1


Shinta memukul lengan Juni. "Dasar! Kamu pasti mencuri kesempatan dalam kesempitan kan?!" protes Shinta menatap Juni dengan tatapan tajam.


"Enak saja! Aku tak sengaja terjatuh karena Nyonya Arumi mengagetkanku," ucap Juni seraya menepis kemejanya yang sedikit kotor.


"Mama melihat mereka berdua mengintip. Mereka mengucapkan kata kesurupan. Ya ... mama langsung tanya, yang kesurupan siapa. Tapi mereka malah ambruk bersamaan," jelas Arumi sembari mengendikkan bahunya.


"Kenapa kalian mengintip?" tanya Alvaro.


"Sa-saya hanya mengikuti Juni, Pak." Shinta menjawab dengan terbata-bata.


"Tadi saya sudah mengetuk pintu. Tapi Pak Alvaro tak menjawab sama sekali. Saya memberanikan diri untuk mengintip, ternyata Pak Alvaro sedang senyum-senyum sendiri. Maka dari itu, kami mengira Bapak sedang kerasukan setan," jelas Juni.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri, Nak? Kamu sakit? Atau benar-benar kerasukan? Kerasukan cinta maksudnya," tukas Arumi dibarengi dengan sebuah dehaman kecil.


"Bagaimana mama ...."


"Aku ibumu, jelas aku tahu bagaimana sikapmu saat sedang berbunga-bunga," ujar Arumi yang langsung menyela ucapan putranya.


Shinta yang tadi sempat bertengkar dengan Juni, langsung berpandang-pandangan sembari menaik-turunkan kedua alisnya.


"Jangan lupa traktirannya Pak Bos," celetuk Juni.


"Pajak jadian," sambung Shinta.


"Traktiran? Pajak jadian? Lantas kesalahan kalian yang baru saja terjadi, bagaimana kalian ingin menyikapinya?" ujar Alvaro seraya berkacak pinggang.


"Maafkan kesalahan kami, Pak. Jangan potong gaji kami," ujar Shinta dan Juni bersamaan, seolah sudah tahu ancaman apa yang akan dilontarkan oleh atasannya itu.


"Ckckck ... Kesalahan seperti itu ancamannya gaji," celetuk Arumi sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Iya, Nyonya. Seharusnya jangan potong gaji kan?" ucap Shinta yang memberanikan diri membuka suara.


"Harusnya di pecat saja sekalian," gurau Arumi yang masih memperlihatkan ekspresi seriusnya.


"Jangan Nyonya," cicit Shinta.


Arumi melirik Alvaro, lalu kemudian tersenyum samar. Wanita itu memang sudah lama sekali tak mengerjai pegawai Alvaro.


"Sudah ... sudah ... tidak akan ada yang dipecat dan tidak akan ada yang dipotong gaji. Tapi, kalian harus janji jangan mengulangi kesalahan yang sama," ujar Alvaro.


Kedua pegawainya itu hanya menunduk dan mengangguk-anggukkan kepala pelan.


"Ya sudah, lanjutkan pekerjaan kalian!" titah Alvaro.


Juni dan Shinta pun melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat itu.


"Tunggu dulu!" cegah Alvaro.


Mendengar ucapan Alvaro, kedua orang tersebut kembali berbalik badan.


"Setelah pulang kerja nanti, ajak rekan yang lainnya kita makan-makan," ucap Alvaro.


Mendengar hal tersebut, wajah Shinta dan Juni pun langsung senang.


"Tapi ingat! Alasan apa aku mentraktir kalian, jangan sampai bocor!" ujar Alvaro memperingati dua pegawainya itu.


"Baik, Pak."


"Pergilah!"


Shinta dan Juni kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda. Meninggalkan Alvaro di dalam ruangan tersebut bersama dengan ibunya.


Baru saja menutup rapat pintu, Juni teringat kalau ada berkas yang harus ia berikan kepada atasannya itu.


"Astaga, aku lupa memberikan ini kepada Pak Alvaro," gumam Juni.


"Berikan nanti saja, takutnya ucapan yang baru saja ia lontarkan tadi akan ditarik kembali," tutur Shinta yang memberikan saran kepada Juni.


"Iya, kamu benar juga."

__ADS_1


Shinta pun kembali ke meja kerjanya, melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Begitu pula dengan Juni, melakukan hal yang sama dengan sekretaris tersebut.


Di dalam ruangan, Arumi menatap putranya dengan seksama. Wanita itu menjatuhkan bokongnya di salah satu sofa yang ada di tempat tersebut.


"Sejak kapan kalian memiliki hubungan?" tanya Arumi menginterogasi anaknya.


"Sejak kemarin," timpal Alvaro yang menjadi salah tingkah diberikan pertanyaan seputar kehidupan asmaranya.


"Kapan kamu akan menikahinya?" tanya Arumi lagi.


"Ma, aku baru saja sehari berpacaran dengannya. Sekarang mama tanya masalah pernikahan? Bagaimana mungkin secepat itu," protes Alvaro.


"Untuk apa pacaran lama-lama kalau ujung-ujungnya kandas di jalan. Empat tahun, lima tahun, cicilan motor sudah lunas, tapi hubungannya masih jalan di tempat," sindir Arumi.


"Tetap saja, Ma. Setidaknya butuh waktu untuk saling mengenal terlebih dahulu. Aku ingin memastikan kesiapan Rania nantinya. Dia bukan hanya siap menjadi istri saja, dia juga harus siap menjadi seorang ibu, karena gadis itu menikah denganku, seorang duda beranak satu," jelas Alvaro.


"Baiklah, untuk yang satu itu mama maklumi karena kamu mendapatkan seorang gadis," ujar Arumi.


Alvaro hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala menatap ibunya. Memang sedari dulu, Arumi selalu saja mendesak Alvaro untuk menikah. Dan sekarang, Alvaro baru menjalani hubungan belum sampai 24 jam, Arumi sudah menagih sebuah pernikahan untuk putra semata wayangnya itu.


....


Siang pun berganti malam. Alvaro memenuhi janjinya, mengajak para rekan kerjanya untuk makan malam. Pria tersebut membooking sebuah restoran, mengingat orang yang ada di kantornya tidak lah sedikit.


Sementara Bima, anak laki-laki itu memilih untuk menginap di tempat neneknya saja. Seolah mengerti tentang kesibukan ayahnya, meskipun itu hanya sekedar makan malam bersama rekan sekantor.


Semua orang yang ada di sana tampak senang. Berbincang sembari menikmati hidangan yang ada di hadapannya. Alvaro sedari tadi berbalas pesan singkat, siapa lagi jika bukan dengan kekasih hatinya.


Kenapa belum pulang, Ayank di mana?😭


Alvaro tersenyum samar membaca pesan singkat dari kekasihnya yang disertai dengan emotikon menangis tersedu.


Sedang di luar, ada acara dengan rekan-rekan di kantor.


Alvaro membalas pesan tersebut, mengirimkan pesan singkat itu kepada sang pujaan hati.


Di sana ada janda tidak?


Alvaro terkekeh membaca balasan dari Rania. Dengan cepat pria tersebut menormalkan ekspresinya saat salah satu bawahannya menatap ke arahnya.


Aku tidak tahu status mereka


Alvaro kembali mengirimkan pesan singkat tersebut kepada Rania. Berselang beberapa detik kemudian, Alvaro kembali mendapatkan pesan singkat lagi dari Rania.


Sebenarnya pria tersebut sangat tidak menyukai berbicara melalui ketikan, karena membuat jemarinya kelelahan. Ia lebih nyaman dengan sambut suara secara langsung saja. Namun, mengingat keadaan yang sekarang, sangat mustahil hal tersebut dilakukan. Alvaro membuka balasan dari Rania, membaca rentetan kalimat yang dikirimkan oleh gadis tersebut.


Terus sekarang lagi apa dan bersama siapa?


Baru saja tangan Alvaro mengetikkan balasan, tiba-tiba Juni meletakkan makanan di hadapannya. Pria tersebut terlihat sedikit menggoda atasannya.


"Jangan terlalu serius, Pak. Di bawa santai saja. Wanita memang seperti itu," ujar Juni, karena pria tersebut sama halnya dengan Alvaro, membalasi pesan singkat dari istrinya yang sedari tadi menanyakan keberadaannya.


Alvaro kembali melanjutkan ketikan yang sempat tertunda. Lalu kemudian mengirimkan pesan singkat itu kepada Rania.


Namun, saat mendapatkan balasan dari Rania, membuat Alvaro langsung membelalakkan matanya.


Dasar duda genit!



Alvaro mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia mencoba mencari tahu apa kesalahan yang ia perbuat hingga Rania marah seperti itu.


Setelah diperiksa, ternyata Alvaro salah mengetikkan satu huruf yang berakibat fatal.


Aku sedang bersama Juni, lagi berjanda. (seharusnya bercanda)


Bersambung ....


Nah loh Pak duda, panik kan sekarang🤭

__ADS_1


__ADS_2