Duren Mateng

Duren Mateng
Bab 42. Wanita Simpanan


__ADS_3

Alvaro baru saja meluapkan rasa kesalnya pada Andre, meskipun hal tersebut tidak setimpal dengan apa yang dilakukan oleh pria itu. Kening Andre mengeluarkan darah, ia hanya diam sembari menyeka darah yang mengucur di keningnya.


"Kenapa kamu datang menemui Shinta? Apakah kamu ingin mengancamnya karena Shinta yang memberitahukan kepada ku siapa istri simpanan mu sebenarnya? Benar-benar tidak tahu malu!" ketus Alvaro.


Andre mengacuhkan ucapan Alvaro. Pria tersebut tertegun menatap ke arah lain.Alvaro mengikuti arah pandang Andre. Ia melihat Alvira, saudara kembarnya tengah berdiri di belakangnya sembari menatap pria yang ada di balik jeruji besi tersebut.


Alvaro sedikit menyingkir saat Alvira melangkah maju. Pria tersebut memberikan ruang pada adiknya, memilih meninggalkan kedua pasangan yang belum resmi berpisah tersebut untuk berbicara empat mata.


Andre menatap Alvira. Entah mengapa tatapan itu seakan menyiratkan sebuah penyesalan yang mendalam. Dengan perut yang sudah membesar, Alvira menghampirinya. Namun, tatapan wanita itu telah berbeda, bukan menatapnya dengan memuja, akan tetapi dengan penuh kebencian.


"Kamu ... mendekamlah di penjara," lirih Alvira dengan nada yang bergetar. Suara yang menyiratkan rasa sedih, akan tetapi di tutupi oleh rasa dendam yang paling mendalam.


"Maafkan aku. Aku ...."


"Sudah terlambat! Tidak ada maaf lagi untuk pria sepertimu." Alvira langsung menyela ucapan Andre, tak membiarkan pria tersebut berucap apapun.


"Jika kamu mengharapkan sebuah rasa cinta yang tersisa dariku, jawabannya adalah tidak ada yang tersisa lagi untukmu. Semuanya berubah jadi kebencian yang tak bisa termaafkan."


"Aku yang melaporkanmu dan aku bersyukur kamu tertangkap seperti ini. Apa yang kamu tanam itulah yang kamu tuai. Sekarang, nikmatilah itu!" tukas Alvira.


"Setelah ini, aku akan melayangkan gugatan perceraian. Aku sangat berharap, tidak melihat wajahmu lagi, dan jangan pernah muncul di hadapanku sampai kamu mati!"


Setelah melontarkan semua uneg-unegnya, Alvira memilih untuk pergi meninggalkan suaminya. Ia tak ingin mendengar penjelasan apapun, bahkan sekalipun itu adalah kata maaf.


Mata Alvira berkaca-kaca, air matanya jatuh begitu saja. Namun, dengan cepat ia menyeka bulir bening yang sempat membasahi pipinya. Wanita itu menghirup oksigen dengan rakus, dan menghembuskannya secara perlahan. Mencoba menguatkan dirinya sembari memegangi perutnya yang kian membuncit.


"Kita kuat ya, Nak. Kita bisa menjalani semuanya meskipun tanpa sosok seorang papa. Sejak kamu hadir, tak sedikit pun papamu itu mempedulikanmu. Dia hanya sibuk mengurusi jallangnya saja," ujar Alvira.


Alvira membawa langkahnya dengan gontai. Ia melihat saudara kembarnya tengah menunggu di depan.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Alvaro yang mengkhawatirkan keadaan Alvira.


Alvira tersenyum miring, lalu kemudian menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Aku tidak apa-apa. Lagi pula waktuku terlalu berharga hanya untuk memikirkan pria itu," ucap Alvira.


"Syukurlah jika kamu berpikir seperti itu," ujar Alvaro yang merasa lega akan jawaban saudara kembarnya itu.


"Aku sempat mendengar pembicaraanmu dengannya di dalam tadi. Berarti ... selingkuhan Andre bukanlah


sekretarisnya?" tanya Alvira yang menatap Alvaro dengan serius.


"Bukankah barusan kamu berkata bahwa waktu terlalu berharga hanya untuk memikirkannya. Jadi, sebaiknya kamu lupakan semua itu dan uruslah perceraianmu," ujar Alvaro yang tak ingin membahas lebih jauh masalah perselingkuhan Andre. Pria itu tidak ingin membuat saudara kembarnya kembali bersedih.

__ADS_1


"Setidaknya aku harus mengetahuinya terlebih dahulu, setelah itu baru aku merasa lega," kata Alvira yang kekeuh untuk mencari tahu.


"Suatu saat nanti, kamu akan tahu kebenarannya. Namun, satu yang aku pinta. Kamu kuatkan hatimu setelah nanti kamu mengetahuinya," ujar Alvaro.


.....


Hilda memperhatikan Rania sedari tadi. Gadis itu terlihat beberapa kali menghela napasnya berat, seolah ada sesuatu membebani pikirannya.


"Ada apa? Aku perhatikan sedari tadi seperti ada yang mengganggu pikiranmu," ujar Hilda.


"Entahlah. Aku benar-benar kesal saat ini," ucap Rania.


"Kesal karena apa? Apakah karena cinta?" pancing Hilda.


"Bagaimana kamu mengetahuinya? Apakah kamu dukun?" Rania menatap temannya itu dengan seksama, mengerjapkan matanya beberapa kali.


Hilda terkekeh melihat Rania. Gadis yang saat ini tengah bersamanya sangat mudah ditebak. "Aku bisa menerawang isi kepalamu," ujar Hilda seraya tertawa kecil.


"Terserah kamu saja!" ucap Rania.


Gadis itu ingin sekali bercerita jika dirinya sangat cemburu karena kedekatan Alvaro dengan sekretarisnya. Namun, ia malu untuk mengutarakan hal tersebut.


"Ada apa? Ceritakan saja. Aku akan mendengarkannya, numpung kita lagi santai," ujar Hilda melihat Rania yang ingin membuka mulut, akan tetapi sesaat kemudian mengurungkan niatnya.


"Bicaralah!" Hilda mendekatkan telinganya, telah siap mendengarkan apa yang hendak diceritakan oleh Rania.


"Temanku memiliki tetangga. Tetangganya itu cukup tampan dan banyak dikagumi oleh wanita, termasuk temanku ini. Jadi, tadi malam tetangganya membawa seorang gadis, gadis itu adalah sekretarisnya." Rania tampak serius menceritakan hal tersebut pada Hilda. Sementara Hilda hanya tersenyum karena sudah bisa menebak siapa uang diceritakan oleh Rania.


"Sekretaris tersebut memiliki postur tubuh yang bagus dan juga terlihat sangat seksi. Berbanding terbalik dengan temanku tadi. Nah, si sekretaris ini selalu saja berusaha mencari muka di depan atasannya, membuat temanku ini merasa kesal karena kedekatan mereka. Kira-kira bagaimana temanku ini menyikapinya? Maksud ku, apakah dia menyerah saja karena sekretaris tetangganya itu lebih seksi," papar Rania menceritakan semua tentangnya, dengan berpura-pura kalau cerita tersebut merupakan kisah temannya.


"Yang kamu ceritakan tadi, itu dirimu kan? bukan temanmu. Mengakulah!" goda Hilda yang membuat Rania langsung menggerakkan sepuluh jarinya, mengelak hal tersebut.


"Bukan! Itu temanku dan dia meminta pendapatku, tapi aku tidak tahu harus memberikan saran yang bagaimana," ujar Rania yang masih mempertahankan kebohongannya.


"Baiklah kalau memang itu temanmu." Hilda tersenyum penuh arti.


"Menurutku, akan lebih baik jika dia tidak menyerah dan tetap mengejarnya. Kita tidak tahu, kedepannya entah si tetangga itu akan luluh kepadanya, bukan?" ucap Hilda yang memberikan saran.


"Benar juga, seharusnya aku tidak usah menyerah." gumam Rania yang keceplosan.


"Ah itu, maksudku adalah temanku. Terima kasih atas sarannya. Aku akan menyampaikannya pada temanku," ujar Rania yang langsung meninggalkan Hilda, memilih untuk mencari kesibukan lainnya. Ia takut jika kembali keceplosan lagi.

__ADS_1


Sementara Hilda, gadis itu hanya tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu tidak bisa berbohong, Bu Dokter. Ekspresi wajahmu mengatakan segala kamu tutupi," gumam Hilda.


.....


Alvira baru saja tiba di rumahnya sepulang dari kantor polisi. Ia melihat seorang wanita yang sedari tadi menatap pagar besi tersebut, tampak ragu untuk memencet bel yang ada di depan gerbang pintu.


"Turunkan saya di sini saja, Pak." Alvira memberi perintah pada supirnya. Sang supir pun langsung memberhentikan mobilnya, bergegas turun untuk membukakan pintu Alvira.


Alvira turun dari mobil, menghampiri wanita yang tengah membelakanginya itu. "Cari siapa?" tanya Alvira.


Saat wanita itu berbalik badan menatap ke arahnya, mata Alvira pun langsung berbinar. "Yeni, ... Ayo silakan masuk!" ajak Alvira yang menyuruh teman sekolahnya itu masuk ke dalam rumahnya.


Setelah menikah, Alvira memang sangat jarang bertemu dengan temannya itu. Pertama kali mereka bertemu kembali, saat di pusat perbelanjaan. Saat Alvira tengah memilih peralatan untuk anaknya nanti.


Yeni datang bersama putranya yang tengah berada di gendongannya. Wanita itu tersenyum, lalu mengikuti langkah Alvira.


Alvira mengajak temannya ke ruang tengah. Meminta pada pelayan untuk membuatkan minuman serta menghidangkan beberapa camilan.


"Tidak usah repot-repot," ucap Yeni.


"Tidak apa-apa. Lagi pula kamu tidak pernah berkunjung ke rumah lagi. Dan aku merasa senang karena kamu main ke rumahku lagi," ujar Alvira yang begitu gembira dengan kehadiran Yeni.


"Sebenarnya kedatanganku ke sini, aku ingin membicarakan sesuatu," ucap Yeni.


"Membicarakan apa?" tanya Alvira yang siap mendengarkan ucapan temannya itu.


Yeni bangkit dari tempat duduknya, lalu kemudian bersimpuh di hadapan Alvira, membuat Alvira langsung terkejut.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Alvira terkejut.


"Maafkan aku, maafkan aku karena telah menghancurkan rumah tanggamu," ucap Yeni yang membuat Alvira langsung tercengang.


"A-apa maksudmu? Aku tidak mengerti," ujar Alvira yang menganggap bahwa ucapan temannya itu hanyalah sebuah candaan saja.


"Aku ... Aku adalah istri simpanan suamimu, Andre."


Mendengar hal tersebut, Alvira menutup mulutnya tak percaya dengan ucapan yang baru saja dilontarkan oleh temannya itu.


Bersambung ....


Jangan lupa untuk memberikan dukungannya berupa like, komen, serta votenya ya.

__ADS_1


Terima kasih❤️


__ADS_2